
"iya udah nggak apa-apa nangis aja disini sampai besok!" Tegas Rumi. Ia lalu mendorong motor Rafka beberapa menit sampai ia menemukan tempat tambal ban.
Rafka juga dengan tidak malunya menyetir motor milik Rumi. Saat sampai mereka berdua duduk menunggu.
"Waduh ini bannya minta di ganti soalnya parah ini." Kata tukang tambal ban.
"Eum bagaimana ini? Tolongin." Ucapnya lagi pada Rumi.
Rumi berdecak,"Beli bannya di mana pak? Disini ada kan?"
"Iya ada."
"Iya udah ganti aja pak."
"Eh," Rafka menyentuh lengan Rumi. "Tapi kan mahal."
"Iya udah nggak apa-apa biar lo bisa ke kelas gue buat gantiin uang gue, hehehe." Ucapnya sambil tersenyum lebar.
Beberapa menit kemudian
"Terima kasih, saya duluan kak." Pamitnya sangat sopan.
"He'em. Bye." Bagitu Rafka sudah pulang Rumi melompat-lompat dan memukuli kepalanya.
"Arghhh apa gue gila? Bisa-bisanya gue jahat gitu tadi... Arghhh gila! Gila! Gila!" Rumi mengacak-acak rambutnya, ia merasa tidak karu-karuan dengan keadaan kali ini. Mungkin ini takdir.
"Eh neng kenapa?"
"Arghh, bapak... Saya sudah gila." Ucapnya sambil duduk di tanah dan menangis. "arghhh tolongin bagaimana saya besok pak? Huhuhuhuhuhu".
Bapak penunggu tambal ban itu membantu Rumi berdiri yang terlihat sangat frustasi. "Kenapa atuh neng, udah sini duduk. Mau minum? Udah lama nggak pernah mampir kesini, ehh pas mampir nangis." Ucapnya menggoda.
Tukang tambal ban itu adalah teman ayahnya. Rumi sering mampir dulu ketika ia sedang membantu teman-temannya yang ban motornya bocor. "Bapak bagaimana ini? Cowok tadi adalah cowok yang saya sukai. Arghhh." Ucapnya lagi dan lagi sambil mengacak-acak rambutnya.
"Oh jadi itu cowoknya. Tampan lohh! Iya nggak apa-apa atuh neng kan neng udah bantuin dia, gitu aja dia pasti udah nyes aja dan bisa jadi jatuh cinta sama eneng." Kata bapak aji, tukang tambal ban itu.
"Pak aji, terima kasih. Saya harus pulang sudah mau maghrib." Pamitnya.
"Iya neng hati-hati ya..."
Mungkin Rumi akan selalu frustasi dengan apa yang ia lakukan. Ia akan selalu teringat dengan kesalahannya. Ia merasa malu sekali. Ia memang benar-benar harus melupakan cowok itu.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam,"
"Loh. Irfan? Ada apa? Udah lama? Waduh adikku ada kan?" Berondongnya saat baru sampai di depan pintu.
__ADS_1
"Tenang aja. Adik lo tadi udah nyuruh gue masuk. Btw ngerti loh adik lo padahal menurut gue masih kecil banget."
Rumi berjalan dan duduk di ruang tamu bersama irfan. "Ada apa? Gue kaget banget beneran sumpah!"
Irfan tertawa,"Main aja."
"Ohhh." jawabnya ber oh ria.
"Berantem yuk?"
"Lo ada masalah ya? Lo nggak nyesel kan berantem sama gue?"
"Awas aja deh entar bakal kebalik."
"Oke setuju. Kalau gue menang gaji gue harus di banyakin!"
"Iya deh iya..."
Di ruang tamu mereka berdua bersama dengan adik laki-laki Rumi menatap televisi di depannya dengan fokus. Rumi dan Irfan sedang bermain play station.
"Kiri kak, kanan kanan. Argh baguss!" Ucap adiknya.
"Arghhh!" Desah irfan karena lagi-lagi ia kalah.
"Apa gue bilang."
"Sekali lagi please!" Pinta irfan.
Sambil melepas seragamnya, "hmm ada apa irfan ya... Nggak biasanya dia kayak gitu. Kalau ngajakin berantem berarti dia ada masalah." Gumamnya.
***
"Yakin nih, rencana ini bakalan berhasil?" Tanya Rafka kepada Andrea yang masih duduk di jok belakang di motor milik Rafka.
"Yakin udah! Hari ini kesempatan yang bagus, kapan lagi coba. Udah ah gue udah mikirin ini beberapa minggu pas liburan. Lo jangan sia-siain." Ucap Andrea berusaha meyakinkan. "Udah kita tunggu beberapa menit dulu. "
Andrea sambil melihat ke arah selatan terus menerus. "Woi udah... Turun gih. Awas aja lo kalau nyia-nyiain ini. Ajak ngobrol dia! Dan yang penting cari nama dia! Gue nggak bisa ngasih tahu elo. Elo harus cari tahu sendiri." Rafka mengangguk mengerti.
Andrea berencana untuk membuat Rafka bisa ngobrol dengan gadis yang selalu memperhatikan Rafka sepanjang hari. Dan Rafka menyetujuinya. Sebenarnya, cukup mudah untuk Andrea bisa tahu nama Rumi tetapi, harga diri Andrea sangat tinggi jadi ia benar-benar tidak berani untuk bertanya. Padahal, ia bisa menanyakan itu kepada Agnes.
Dan rencananya adalah merusak ban motor Rafka, mereka berdua hanya berdo'a semoga gadis itu benar-benar seseorang yang peduli.
Sebenarnya Rafka benar-benar malu dengan rencana bodoh Andrea, tetapi ia harus menjalani ini tetapi apa yang terjadi? Bahkan Rafka saja tidak berani mengajak bicara Rumi. Bahkan untuk menanyakan nama. Dan lagi, jantungnya berdebar.
Saat Rafka pulang, sebenarnya dia tidak langsung pulang. Ia turun lagi dari motornya dan mengintip apa yang Rumi lakukan dan ia tertawa melihat kelakuan gila gadis itu. "Astaga, kenapa malu sih? Gue seneng kok, hmm ternyata bener lo suka gue. Tapi, dia sok jahat banget hahahaha. Ehh tunggu. Kenapa gue ketawa? Woi inget lo masih punya pacar." Rafka memukul kepalanya sendiri yang untungnya masih terpakaikan helm.
***
__ADS_1
Pagi tiba, seperti biasa Rafka selalu datang tepat waktu. Dan hari ini jadwal shalat duha kelas 11 jadi, tidak akan ada yang melihat wajahnya lagi. Bukan takut, tetapi rasanya seperti malu. Sama aja apa beda?
Rafka menaruh tasnya dan menghampiri Andrea yang pagi-pagi sudah melamun."Woi." Panggilnya sambil menepuk pundak Andrea.
"Eh, gimana rencana lo? Lancar?"
"Arghh nggak usah dibahas!" Tolaknya.
"Why?"
"Gue... Eh, nggak tahu kenapa jantung gue berdebar-debar dan gue bener-bener nggak berani ngelihat atau ngajak ngobrol dia."
"APA?!" Andrea menggebrak meja dan berdiri. "Lo."
"Santai dulu. Tenang aja gue bakal usaha sendiri aja deh lo nggak usah bantu."
"Hmm iya udah, padahal kemarin yang terbaik." Ucapnya terdengar kecewa.
"Andre! Gue lupa! Gue ada hutang sama dia..."
"Itu emang dari bagian rencana tapi kali ini gue nggak mau bantu."
"Hah? Kenapa?"
"Sibuk."
"Balikin sendiri aja deh, kata siapa gue nggak berani. Tapi masalahnya, gue... Nggak tahu nama dia. Lo tahu dia ikut klub apa?"
Andrea berpikir sejenak. "Eum... Kalau nggak salah sih, paskibraka."
"Argh sial! Di kelas ini nggak ada yang ikut paskib."
"Yang sabar." Andrea mengelus punggung Rafka.
"ADA GURU!!!" teriakan itu membuat Rafka bergegas kembali ke bangkunya.
Saat istirahat kedua, Rafka memberanikan diri untuk pergi ke kelas 11. Intinya dia akan izin masuk lalu mencari bangku gadis itu. Begitu ia akan masuk.
"Sopo? Kate lapo?" (Siapa? Mau ngapain?) Tanya seorang cowok yang tinggi dan jangkung sedang di depan pintu.
"Gue mau ketemu seseorang." Katanya.
"Siapa?!"
"Gue nggak tahu namanya bang."
"Iya udah masuk aja!" Rafka langsung masuk ke dalam kelas. Satu kata untuk kelas ini 'Berisik' ia terus berjalan dan menemukan bangku yang ada di tengah-tengah. Ia melihat, seorang cowok dan gadis yang kemarin sedang makan bersama-sama-berbagi makanan-tetapi, kenapa harus sekotak berdua?
__ADS_1
"Arghh kenapa gue kesel ya?" Batinnya.
Perlahan ia menghampiri gadis itu dan memanggilnya. "Kak?"