Why Does Rafka Hate Rumi?

Why Does Rafka Hate Rumi?
14. Patah Hati


__ADS_3

Suasana Cafe milik Irfan hari ini ramai sekali, diisi dengan seorang cowok yang sedang bernyanyi. Ia adalah Edgardo, teman Rumi juga. Rumi dan Edgardo mengisi acara cafe secara bergantian setiap hari. Edgardo melambaikan tangan ketika melihat Rumi dan Irfan dengan muka yang lesu datang. Irfan mengajak Rumi ke sebuah ruangan untuk ia ajak curhat.


Begitu sampai Rumi melepas tas ransel miliknya,"Gimana bisa lo kepikiran gue sampai-sampai harus datang ke sekolah?"


Irfan memegangi kepalanya yang pusing sambil menyeruput es kopi yang baru saja datang."Gue butuh temen buat curhat. Nggak ada orang lain."


Rumi bersedekap,"hmm, itu acaranya kapan? Lo nggak tahu gitu kabar dia sama sekali?"


Hening sejenak,"Dia seperti biasanya, tapi yang nggak biasa kemarin gue, sumpah ini pertama kalinya gue ciuman sama Katara. Dan gue nggak sadar kalau itu tanda perpisahan dari Katara. Dia datang ke cafe gue kemarin sore terus langsung ngajak gue kesini, dia kunci pintu langsung nyerang gue."


Rumi terkejut karena Irfan sangat terbuka padanya,"Hmm, gimana ini gue nggak bisa nenangin elo." Ucapnya kecewa.


Irfan menggebrak meja.


'brakkk'


"Ada apa kenapa?! astaga gue minta maaf! Emang gitu, lo tahu kan gue jomblo dari awal masuk SMA." Irfan berdiri.


"Gue mau lo bantuin gue, lo kan nggak pernah ketemu sama Katara, kebanyakan saat Katara pulang lo baru dateng atau sebaliknya. Jadi, besok elo harus ikut gue ke nikahan dia."


"Kenapa harus gue?! Karyawan lo kan cantik dan seksi kalau mereka bisa kenapa harus gue?" Ucapnya tidak terima.


"Kalau mereka bisa, lo juga harus bisa. Udah pokoknya besok lo harus dandan yang cantik. Elo punya gaun kan?"


Rumi mengacak-acak rambutnya,"GUE NGGAK MAU!!!" Bantahnya tetap tidak mau.


Irfan mengeluarkan amplop coklat yang tebal dan memberikannya pada Rumi,"Lo beli gaun pakai uang ini, nanti sisanya buat elo."


Rumi mengambilnya sambil tersenyum,"Oke deh!"


"Giliran pake uang langsung setuju, dasar elo. Harus cantik pokoknya sampai bikin gue jatuh cinta sama lo. Hati gue harus sembuh." Ucap Irfan tetapi Rumi hanya diam.


***

__ADS_1


Rafka sedang mengikuti futsal bersama teman sekelasnya. Keringatnya sudah mengucur deras tetapi ia tetap semangat dan bahagia sebab futsal adalah penghilang stres berat.


Saat permainan sudah selesai, ia mengusap keringatnya menggunakan handuk berwarna biru yang lembut. Rafka membuka ponselnya, ada begitu banyak notifikasi,


27 panggilan tak terjawab dari BELLA❤


556 pesan masuk dari BELLA❤


Rafka tersenyum, karena mendapat boom chat dan boom call dari Bella pacarnya. Rafka langsung menelpon Bella balik, karena khawatir mungkin terjadi sesuatu.


"Hallo sayang, ada apa? Aku habis futsal." Seperti tidak ada kejadian apa pun saat di sekolah tadi. Rafka sekarang bahkan lupa tentang Bella yang tadi memutuskan pesannya secara sepihak. Sekarang hatinya berdebar-debar karena Bella.


"Huhuhuhuhuhu." Terdengar suara isakan yang keras.


Rafka langsung berdiri dari duduknya mendengar Bella pacarnya menangis. "Hah? Bella kamu dimana? Jawab! Kamu kenapa sayang?"


Tidak ada jawaban hanya suara tangisan.


Rafka mengeraskan suaranya karena terlalu khawatir,"BELLA KAMU DI MANA? NGOMONG DONG! AKU KHAWATIR TAHU! JANGAN BIKIN AKU TAMBAH KHAWATIR!"


"Aku... Di kantor polisi. Tolong aku."


***


"Maaf nak, gadis ini kami tangkap karena terpergok melakukan hubungan asusila dengan anak laki-laki ini. Jadi, jika kamu ternyata pacarnya. Kami tidak bisa melepaskannya kecuali kamu adalah pihak orang tua."


Rafka menangis begitu mendengar penuturan polisi tersebut, beruntung ia tidak membawa ayahnya. Jika iya maka Rafka akan hancur terkena amarah ayahnya. Untuk menatap Bella—gadis yang sangat ia sayangi saja ia sekarang menjadi sangat benci. Bagaimana bisa bocah SMP melakukan hal seperti itu padahal ia juga sudah mempunyai pacar yang sangat baik, dewasa dan setia yang bahkan tidak berani merusak orang yang sangat disayanginya.


"Aku benar-benar kecewa sama kamu Bel." Ucap Rafka kepada Bella yang jaraknya delapan langkah jauhnya dari dirinya.


Bella menatapnya kaku tanpa ekspresi, Bella memakai masker untuk menutupi wajahnya. Sedangkan, laki-laki di samping Bella—Rafka sama sekali tidak mengenalnya—saat ini hanya ketakutan yang dirasakan Bella. Entah hatinya untuk siapa yang terpenting nama Rafka sudah hilang dari hatinya. Bella sudah lama berselingkuh dengan laki-laki lain yang seumuran dengannya. Jika ditanya lebih jujur Bella tidak menyukai laki-laki yang lebih tua, lalu kenapa ia menerima Rafka sebagai kekasihnya, waktu dulu?


Rafka berjalan gontai keluar dari kantor polisi. Sungguh memalukan bila ternyata Rafka yang ada di posisi itu dan sangat tidak mungkin. Selama pacaran sama Bella saja, Rafka sama sekali tidak terpikirkan hal yang di luar nalar.

__ADS_1


***


Rumi tengah berdandan rapi di depan cermin. Ia menatap tubuhnya yang gempal tapi sangat imut. Memuji diri sendiri itu perlu. Rambut se-bahu ia gerai, ia tambahi pita berwarna merah. Rumi memakai gaun berwarna merah se-lutut. Lalu memakai high heels berwarna merah pernak-pernik. Dan membawa tas selempang wanita berwarna merah. Semua serba merah. Wajahnya memakai make up hasil dandannya sendiri. Kini ia hanya menunggu kedatangan Irfan.


Ayahnya yang ada di depan rumah bertanya kepada putrinya yang sudah cantik. "Eh, mau kemana? Kok cantik anak ayah?"


Rumi tertawa,"Udah cantik ayah dari dulu, itu mau nganterin temen ke kondangan."


"Kok minta anterin?" Ucap ayahnya heran.


"Karena itu dia... Eum, nggak punya pacar. Jadi dia pinjem aku hehe." Timpalnya tersendat-sendat.


"Bisa ae anak jaman sekarang, ngomong aja itu pacar kamu."


Rumi mendengkus,"iya deh iya pacar aku."


Tidak lama Irfan datang dengan membawa mobil Ferrari merah. Oke hari ini ceritanya serba merah. Irfan keluar dari mobilnya, ia hanya memakai kemeja putih dan celana berwarna coklat susu, tampan.


Tidak lupa Irfan menyapa dan meminta izin untuk membawa putrinya keluar. "Selamat malam, om."


"Oh, malam." Balas ayahnya sambil menerima salaman dari Irfan.


"Saya mau izin keluar sama putri om."


"Oh iya, nggak apa-apa. Jangan pulang malem-malem ya... Kembalikan putri om dengan selamat."


"Iya om."


Rumi berpamitan kepada ayahnya,"Yah, Rumi berangkat ya..." Ayahnya mengangguk.


Begitu berada di dalam mobil hanya keheningan di antara mereka berdua. Padahal biasanya mereka terlihat akrab. Sangat canggung untuk malam ini.


Tiba-tiba Rumi celetuk mengucapkan sebuah kata untuk mengawali pembicaraan ini. "Btw, lo ganteng juga." Ucapnya sambil menahan senyuman pada wajahnya.

__ADS_1


Irfan tersenyum sambil fokus menyetir. "Padahal gue mau ngomong lo cantik banget,"


__ADS_2