
"Kak?"
Rumi lantas langsung mendongak,"eum lo... Ada apa?" Rumi kemudian mengambil botol minumnya yang berada di samping Kresna. Ia minum air sebentar.
"Kres, habisin deh. Tapi, pindah dulu." Kresna langsung membawa kotak makannya bersama dengan botol hijau milik Rumi—ia harap Rafka mengerti kenapa botol miliknya berwarna hijau.
"Duduk."
"Arghh, nggak cuma bentar."
"Iya nggak apa-apa dari pada berdiri hehehe." Sarannya.
Rafka kemudian duduk di bangku yang tadinya di duduk i Kresna. "Yang kemarin, berapa?"
"Kemarin?" Rumi mencoba mengingat-ingat. "Oh, 35.000." bagaimana pun mahalnya, Rumi tidak bodoh dan tidak mau memanfaatkan uang itu untuk cowok yang disukainya.
"Wah...Huwah." Ucap Jiyan yang baru datang. Mendengar itu, Rumi mengode dengan keras untuk Jiyan agar diam.
"Eum, ternyata uangnya masih kurang 15.000." ucapnya malu-malu.
"Iya nggak apa-apa, biar besok bisa ngobrol sama lo lagi." Kata Rumi, jujur sejujurnya.
"Hem?" Rafka mengulang pertanyaan, sepertinya dia pura-pura tidak mengerti.
"Nggak! Udah, katanya cuma bentar?" Sekarang Rumi ada pada mode judesnya.
Rafka tersentak dan langsung berdiri pamit untuk kembali ke kelasnya. "Oke, bye bye."
Rumi tersenyum,"Bye."
"Apaan tadi woiii?!!" Teriak Kresna saat kembali ke bangkunya. Padahal, Rafka masih berada di dalam kelas ini dan pastinya ia mendengar.
"KRESNA!!! *** lo diam!" Akhirnya kata umpatan pun keluar.
***
Saat Rafka mendengar kata bahwa gadis itu ingin ngobrol dengannya lagi besok rasanya Rafka ingin gadis itu mengulangi kalimatnya, entah mengapa itu membahagiakan. Tetapi, mengapa Bella pacarnya gadis yang sangat ia cintai tidak pernah bilang begitu bahkan ketika mereka belum berpacaran.
Saat akan sampai di pintu Rafka sedikit memelankan jalannya, "Apa itu tadi? Pacarnya marah?" Gumamnya langsung pergi begitu saja.
"Gadis yang punya pacar kenapa harus suka sama gue apakah dia player? Dasar gadis gila!!! Gue harus menjauhkan diri darinya." Geramnya sambil terus berjalan menuju kelasnya.
"Bagaimana?" Tanya Andrea yang sedang menunggu temannya di depan pintu.
"GUE BENCI BANGET SAMA DIA!" Teriaknya begitu sampai.
Andrea mengerutkan keningnya,"Lah, labil amat cuy. Ada apa?"
"Sikap dia kayak suka gue tapi tadi, dia makan se kotak berdua! Bahkan minum pun di botol yang sama! Terus pas gue mau pergi. Si cowok nanya 'Apaan tadi woi' kayaknya dia marah. Jadi intinya gadis itu player."
__ADS_1
"Apa alasan lo manggil dia player Raf?"
"Dia udah suka gue kan? Dan ternyata dia punya pacar terus kalau udah punya pacar kenapa masih ngelirik yang lain? Berengsek itu cewek!" Geramnya lalu menendang pintu kelasnya hingga berbunyi.
*BRAKKK
Rafka tidak mengerti kenapa ia begitu marah kepada kenyataan itu. Intinya ini sangat menyebalkan dan ia tidak akan mau terlibat dengan gadis itu lagi.
Keesokannya hari Jumat. Selesai Rafka olahraga, Rafka menemui kakak kelas yang mencegatnya kemarin. "Bang,"
"Ada apa?" Tanyanya sambil mengunyah makanan.
"Tolong berikan kepada gadis yang aku temui kemarin. Tau kan bang?"
"Ohh si J, oke."
"J? Arghhh gue nggak perduli." Batinnya. "Oke bang makasih ya..." Pamitnya.
"Assiiappp."
Rafka segera berlari, takutnya nanti gadis itu melihatnya. "Huh! Player selamat tinggal! Gue udah tahu kedokmu. Jangan melihatku lagi."
Setelah shalat Jumat, ada ekstra wajib Pramuka. Hari ini hanya menulis tugas yang di berikan oleh kakak-kakak pembina. Tugasnya yaitu menulis 25 keinginan.
Awalnya Rafka sangat malas untuk mengerjakan tugas ini. Ia akhirnya keluar kelas untuk mencari angin bersama kedua temannya. Tetapi, Andrea tidak ikut karena dia anak baik. Dan saat tahu gadis itu sedang di depan kelas, ia benar-benar tidak peduli dan mengabaikannya termasuk mengabaikan jantungnya yang berdebar-debar saat gadis itu melihat Rafka.
"Udah ayo ke kantin aja." Ucap Zainul temannya.
Akhirnya, mereka hanya berkeliling di sekitar sekolah lalu kembali lagi ke kelas. Dan saat ini sangat intens, gadis itu benar-benar melihat Rafka dari ujung timur hingga masuk ke dalam kelasnya, saat akan masuk ke kelas ada yang memanggilnya tetapi itu bukan suara gadis itu.
"RAFKA." Rafka pura-pura tidak mendengar suara itu dan mengabaikannya. Begitu ia masuk kelas langsung disuguhi dengan tugas membuat 25 keinginan, cukup mudah. Rafka langsung mengerjakannya.
Saat bel pulang berbunyi, anak-anak lain tergesa-gesa karena klub yang menekan mereka untuk disiplin. Sedangkan, Rafka hanya geleng-geleng kepala dan langsung pulang karena ia tidak mengikuti klub apa pun. Ia pun terkejut karena gadis yang ia tahu mengikuti paskib—klub yang sangat disiplin—ia hanya duduk-duduk bersama teman-temannya dan tidak tergesa-gesa untuk berganti baju dan yang paling penting, ia memegang sebuah kertas. Gadis itu tersenyum sedikit dan tertawa ketika membaca kertas itu, dan entah mengapa Rafka tiba-tiba tersenyum saat melihat itu.
"Apaan sih gue ini."
"Raf, ayo pulang!" Teriak temannya. Rafka langsung menyusul temannya itu berjalan beriringan menuju tempat parkir.
***
"RAFKA." Jihan berteriak.
"Lo gila?! Gimana kalau dia denger?" Rumi terkejut.
"Iya biar lo seneng BEGO!"
"Biasa aja gausah ngegas, iya-iya gue seneng banget oke, puas Lo?"
Ia melihat Rafka yang masuk ke dalam kelas, melihatnya saja sudah cukup. Beberapa menit kemudian Rumi masuk ke dalam kelas untuk mengambil tas nya hari ini ia tidak akan masuk klub. Rumi mengikuti klub radio. Ternyata Andrea salah mengenai Rumi.
__ADS_1
"Rumi." Teriak Hani temannya yang mengikuti klub ambalan. "Ini." Ia mengulurkan kertas putih bergaris biru dan bertuliskan keinginan.
"Apa ini."
"Punya doimu."
"ASTAGA ASTAGA ASTAGA!!!" Teriak Jiyan histeris sedangkan Rumi hanya tersenyum.
-----------------------------------------------------------
Aku ingin jadi anggota polisi
Aku ingin pergi ke Arab
Aku ingin pergi ke Jepang
Aku ingin pelihara iguana
Aku ingin beli pesawat
Aku ingin ketemu Mr. Bean
Aku ingin jadi orang sukses
Aku ingin ketemu presiden
Aku ingin bertarung melawan Rindaman
Aku ingin melihat singa bertarung melawan ikan cupang
Aku ingin membangun masjid
-----------------------------------------------------------
"Ya ampun ketemu Mr, Bean. Hahahaha." Deya yang membaca itu tertawa.
"Uwaw ternyata dia mau menyusul bapaknya ya jadi polisi," ucap Jiyan.
"Rindaman itu siapa?" Rumi bertanya.
"Gue juga nggak tahu,"
Rumi membacanya berulang-ulang kemudian tersenyum dan tertawa. Entah mengapa ini sangat menyenangkan dan tentunya ia sangat bahagia. Apalagi ketika ia membaca 'Aku ingin melihat singa bertarung melewan ikan cupang' ia bisa tertawa terbahak-bahak ketika mengingat itu. Semuanya tentang Rafka membuatnya bahagia.
Tiba-tiba Deril menyambar kertas itu dan membacanya dari awal. "Aku ingin jadi anggota polisi." Ia membaca dengan suara yang tinggi. "Hah? Siapa ini? Amin, Amin."
__ADS_1
Rumi berkata. "Aamiin."