Why Does Rafka Hate Rumi?

Why Does Rafka Hate Rumi?
29. Rafka aku mencintaimu


__ADS_3

Rumi memeluk erat Rafka dan menangis di dada cowoknya. Ia tidak bisa meraih pundak cowoknya untuk menangis, karena tingginya yang tak seimbang. Rafka terus mengelus rambut Rumi menciumnya berkali-kali, agar gadisnya ini merasa tenang. "Tenanglah, maafkan aku, jangan menangis, jangan membuat hatiku terasa sakit melihatmu bersedih. Rum, aku menyayangimu, aku tidak akan melepaskanmu, meskipun kamu berusaha pergi, aku tidak akan melepaskanmu!!! Tidak, tidak!"


Rumi melepaskan pelukannya. Ia lalu mengusap air matanya yang mengalir tiada henti. "Besok saja kita bicara." Bus tiba-tiba datang, Rumi langsung menaiki bus itu dan meninggalkan Rafka. Meskipun tangannya sempat di genggam oleh cowok itu, tetapi Rumi berusaha menepisnya. Sejujurnya, hatinya terasa sangat sakit. Ia benar-benar tidak berniat meninggalkan pacarnya yang memeluknya tadi, menenangkan dirinya. Tapi, harus bagaimana untuk membuat Rafka menjauh darinya, bahkan saat ini Rafka terlihat sangat mencintainya.


Rumi melanjutkan aksi menangisnya begitu mendapatkan kursi di bus. Jika ditahan akan terasa sakit pada hatinya dan jika tetap mengeluarkan air mata terus menerus, itu bisa membuat matanya benar-benar besar. Ia membenci hari ini. Hari yang sangat sial untuknya. Tidak di sangka-sangka. Saat Rumi menatap keluar jendela bus, Rafka berada di samping busnya. Ia mengikuti Rumi. Sesekali Rafka melihat dirinya sambil tersenyum, tapi maaf saat ini mode senyum Rumi sama sekali tidak bisa dinyalakan. Sampai depan halte dekat rumahnya, Rafka mengikuti dirinya. "Naiklah, akan aku antar sampai rumahmu." Rumi menggeleng, sambil terus berjalan.


"Sayang, jangan dengarkan apa kata ayahku. Jangan pergi dariku hanya karena ayahku melarang kamu yang..." Ucap Rafka masih terus mengemudikan motornya dan berusaha mengejar Rumi.


"Tinggalkan anak saya. Tinggalkan anak saya. Tinggalkan anak saya. Kurang jelas apa lagi ucapan ayah kamu." Rumi berhenti berjalan.


Rafka mengentikan motornya, lalu mematikan mesin.


"Aku bingung, masalah pertama belum tuntas, tetapi ada lagi masalah. Dalam hubungan kita terlalu banyak masalah. Ayah kamu benar, aku membawa dampak buruk untuk kamu. Sepertinya kita memang harus ber—"


Rafka menyela karena mengerti apa yang akan Rumi ucapan selanjutnya. "RUMI!!! JANGAN DENGARKAN APA KATA AYAHKU!"


Rumi menangis. "Kenapa kamu mengeraskan suaramu? Aku juga bingung dengan ini semua. Itu memang bukan satu-satunya cara, tetapi secara langsung Ayah kamu sudah dengan jelas mengatakan 'TINGGALKAN ANAK SAYA!' katakan apa yang harus aku lakukan selain tidak mendengar apa kata beliau?" Ucap Rumi sambil menangis. Rafka turun dari motornya, lalu menarik Rumi menggendong gadis ity hingga naik motornya. Lalu Rafka mengantarkan Rumi pulang.


"Aku memang tidak tahu apa jalan yang terbaik untuk kita, tapi aku mohon jangan pergi dariku. Aku sudah mencintaimu, aku tidak mau melepaskanmu, Rum." Rafka melanjutkan pembicaraan itu saat Rumi sudah sampai di depan rumahnya.


"Kisah cinta kita seharusnya memang tidak pernah terjadi." Ucap Rumi.


"Tolong jangan katakan hal-hal yang menyakiti hatiku, rum."


"Aku harus menuruti apa kata ayahmu," Rumi mendekatkan wajahnya hingga tersisa beberapa cm dari wajah Rafka. Rumi lalu mencium Rafka di depan rumahnya. Rumi menyentuh kedua pipi Rafka, mencium bibirnya seperti terakhir kali Rafka menciumnya. Dengan air mata yang mengalir. Ciuman itu sangat singkat. Sebelum Rumi mengatakan sesuatu yang benar-benar membuatnya juga terluka. "Kita putus saja."


 "Rumi, selesaikan masalahnya, bukan hubungannya." Rafka menahan tangan Rumi. Rafka meneteskan air mata saat ini. Ia berusaha mengusapnya berkali-kali. "Aku sudah bilang, jangan pergi dari hidupku. Itu semua bukan salah kamu. Anggap saja semua ini angin lalu. Jangan putuskan aku!"

__ADS_1


"Raf, apa kamu punya solusinya?" Tanya Rumi masih terus menangis.


"Jangan lakukan apa pun tetaplah bersamaku. Aku mohon, aku memang tidak tahu solusinya apa, tapi kita bisa pikirkan bersama-sama." Rafka berdiri, menarik tangan Rumi dan memeluknya. Menciumi rambutnya berkali-kali.


"Jika seperti ini, mana bisa aku pergi meninggalkanmu?" Batin Rumi.


"Kita kembali, oke? Tidak ada kata putus hari ini dan seterusnya, oke?"


Rumi mendorong tubuh Rafka. "Sudah, aku sudah bilang kita putus saja. Jika kamu punya solusinya tunjukkan padaku, aku harus menuruti apa kata ayahmu, kamu juga harus belajar dengan rajin dan raih cita-cita kamu tanpa adanya diriku. Kumohon jangan membuatku semakin berat untuk meninggalkanmu..."


"Aku yakin kamu terpaksa kan melakukan ini? Kamu masih mencintaiku, kan? Rum, gimana bisa kamu melupakan aku, aku yakin kamu tidak akan bisa melupakanku. Jangan pergi dariku, aku janji tidak akan begadang dan aku akan belajar dengan rajin agar ayahku tidak menyalahkanmu, Rum. Kamu sangat mencintaiku, kamu sangat mencintaiku, Rum..." Rafka terduduk lemas dengan memegang tangan Rumi.


"Sangat. Rafka aku mencintaimu, dengan ribuan waktu." Batin Rumi.


Rumi melepas tangannya dari genggaman Rafka lalu, mengusap air matanya. "Bicaralah yang sopan kepada kakak kelasmu!" Rumi langsung berbalik dan masuk ke dalam rumahnya, ia langsung menutup pintu.


Malam harinya Rumi men-scroll  story aplikasi chating WhatsApp miliknya. Ia tidak menghapus nomor Rafka, nomor itu masih tertera indah dengan nama 'Sayangkuhh' sangat alay memang. Namun, Rumi sangat menyukai cowok itu, mencintainya beribu-ribu waktu bahkan jutaan waktu akan ia habiskan untuk mencintai cowok tersebut. Rafka Gyatama Wardhana. Rafka membuat story foto bersama dengan dirinya. Foto itu ia ambil beberapa waktu yang lalu, Rumi yang memaksanya berfoto menggunakan ponsel milik Rafka. Disitu Rafka mencubit pipi Rumi dan sebaliknya, kemudian ada banyak story Rafka yang semua isinya mereka berdua. Awal-awal foto semua tanpa caption. Namun, story yang terakhir, Rafka menuliskan. 'i love you with millions of time, sekeras apapun kamu berusaha pergi, aku tetap akan mengejarmu karena kamu sudah membuatku jatuh hati sejatuh-jatuhnya' Rumi menangis begitu selesai membaca kalimat tersebut. Akhirnya, Rumi membuat story sebuah foto yang ia ambil diam-diam ketika Rafka bermain game saat menunggunya di rumah sakit. Di story tersebut ia tuliskan sebuah caption 'Aku minta maaf.'


Beberapa detik story itu terkirim Rafka langsung nge-boom chat dirinya. Tetapi, Rumi hanya membacanya.


-----------------------------------------------------------


🐯 Sayangkuhh


Aku tidak akan memaafkanmu.


Kamu harus kembali kepadaku!

__ADS_1


Kamu harus tanggung jawab dengan perasaanku!


Kamu yang membuat aku jatuh cinta kepadamu, kenapa sekarang kamu menyuruhku pergi?


Tolong abaikan saja apa yang dikatakan ayahku...


Sayang, aku mencintaimu. Aku merindukanmu. Belum satu hari kita berpisah, tetapi hatiku terasa sangat sakit menahan rindu.


Aku janji setelah kita kembali, aku tidak akan melepaskan tanganmu seperti kamu melepaskanku dengan mudahnya.


Kamu kira aku bodoh? Aku bisa pintar setelah kita balikan!


Aku akan mengganggu kamu, seperti kamu menggangguku dulu.


Kamu tahu? Setiap hari jantungku berdebar-debar saat melihat kamu dari kejauhan


Aku tidak bisa mengabaikan kamu begitu saja


Rumi! Balas! Aku merindukanmu.


Panggilan tidak terjawab 19:37


Ajarkan aku seperti dirimu yang bisa mengabaikanku dengan begitu mudahnya. Katakan padaku kamu mencintaiku!


-----------------------------------------------------------


Rumi membacanya, lalu menangis. Ia juga sama dengan Rafka, hatinya terasa sakit melebihi apa pun. Ia tidak bisa membayangkan hari esok yang pastinya akan membuat hatinya terasa sakit saat melihat wajah Rafka, wajah yang ia sukai dulu, bahkan untuk berpapasan dengan Rafka pasti sangat sulit ia lakukan. []

__ADS_1


*


__ADS_2