
Rafka menjemput Rumi malam harinya tanpa memakai Hoodie yang Rumi janjikan. Sikap Rafka benar-benar netral dan berusaha biasa-biasa saja. Ia akan mengajak Rumi tetap pada tujuan utama yaitu menonton.
Saat Rumi memakai helm, ia bertanya. "Kamu belum buka kadonya?" Rafka menggeleng. Rumi benar-benar memakai Hoodie kembaran mereka. "Tumben kok kamu rada aneh, biasanya kamu suka pake in aku helm, hehe." Rafka hanya meliriknya.
Rumi menaiki jok belakang, dan melingkarkan tangannya pada perut Rafka. Biasanya Rafka akan menyentuh tangan Rumi tapi sekarang tidak. "Rafka, kamu kenapa? Ada masalah?" Rumi terus bertanya seperti itu, tetapi Rafka terus menggeleng. Rumi lalu melepaskan pelukannya. Ia tidak akan memeluk Rafka, sampai nanti. Jika Rumi seperti ini, Rafka biasanya menarik tangannya untuk memeluknya terus tetapi sekarang tidak.
Jdukk
Jdukk
Helm Rumi terus menerus bertabrakan dengan helm Rafka saat mereka melewati polisi tidur. Rafka berhenti dan memarkirkan motornya di depan mall.
"Waduh, kamu mau ajak aku nonton?" Rumi sangat bersemangat dengan wajahnya yang lucu. Hari ini Rumi terlihat cantik dengan Hoodie itu, bahkan Rafka yang tengah marah dan geram kepadanya akan luluh sedikit lagi. Tetapi, tidak.
Rumi sejak berada di parkiran berjalan paling dulu karena terlalu bersemangat. Ia menunggu Rafka menjemput tangannya lalu, menggandengnya. Tetapi, cowok itu tidak cepat-cepat menyusulnya. Rumi menoleh ke belakang dan melihat Rafka malah fokus dengan ponselnya sambil berjalan. "Kamu kenapa sih?" Ucap Rumi yang saat ini berjarak 2meter dengan Rafka.
"Kamu beli tiket aja dulu, terserah kamu film apa."
"Kok terserah?" Rumi menghampiri Rafka. "Baru kali ini kamu bilang terserah ke aku. Sebenarnya kamu kenapa sih? Jangan di emin aku gini dong... jahat banget sih? Aku ada salah ya?"
"Kamu beli tiket dulu aja nanti telat." Pertanyaan-pertanyaan Rumi tidak di hiraukan. Rumi dengan terpaksa menaiki lift menuju gedung bioskop yang ada di lantai tiga.
Rumi menunggu Rafka di depan bioskop. Ia sudah membawa makanan, karena baru pertama kali menonton bersama Rafka, ia ingin membeli makanan ringan.
"Kursinya nomor berapa?" Tanya Rafka, saat ikut duduk di tempat menunggu.
"D7 sama D8. Aku nggak mau aneh-aneh takutnya nanti kamu tinggalin."
"Tinggalin kemana? Iya nggak lah. Kamu nonton apa?"
"Film horror pokoknya."
Rafka berdeham. "Kamu masuk dulu aja deh, nanti aku susul. Aku mau ke toilet."
__ADS_1
"Kenapa nggak barengan aja sih? Hari ini kamu berusaha ngindarin aku mulu. Kalau emang nggak mood ya udah nggak usah ke rumah."
Rafka menjawab. "Karena aku tahu, kamu lagi nungguin aku." Rafka memundurkan kursinya lalu pergi.
Rumi lalu bergumam. "Katanya belum buka kadonya, tapi bisa sampai ke rumah. Kamu kira aku goblok apa?"
Rumi akhirnya masuk seorang diri hanya dengan membawa makanan. Rasanya seperti ia adalah seorang jomblo, padahal ia ingin masuk dan nonton bioskop bersama pacarnya. Sampai film di mulai Rafka belum juga datang. Firasatnya benar. Terjadi sesuatu sama pacarnya, Rafka pasti marah dengan dirinya yang memberikan nomor telepon ke sembarang orang. Rumi mengerti kesalahannya. Sekarang dirinya terjebak menontonnya sendiri, film horror.
Bahkan saat filmnya sudah selesai, lalu Rumi keluar dari tempat itu. Rumi malah tidak menemukan Rafka sama sekali. "Rafka, kenapa kamu jahat banget sama aku?"
*
Rumi meneteskan air mata di tempat yang ramai ini. Ia membuka tasnya, mengeluarkan masker hitam dan topi berwarna hitam. Ia lalu memakainya, sekarang Rumi seperti orang yang benar-benar mencurigakan. Ia menangis di balik maskernya. Ia membuka ponselnya untuk meminta tolong kepada Irfan. Irfan benar-benar seorang malaikat.
"Irfan..."
"Hmm? Ada apa? Minta jemput kah? Di mana? Baru juga pulang dari bali udah kelayapan nggak jelas! Mending ke sini nyanyi entar dapet duit."
"Hehehe, duit sini gue mau. Gue nggak ada ongkos buat pulang. Jemput gue di mall. Btw, bawa motor aja dong. Gue pengen peluk elo nih. Wkwkwk."
Rumi menunggu Irfan di trotoar, sambil berdiri. Sekarang sudah malam, ia benar-benar sakit hati karena Rafka tega meninggalkannya begitu saja. Ia terus meneteskan air matanya. Ia duduk berjongkok menyandarkan kepalanya sampai ia menunggu seseorang datang menjemputnya.
"Bangun!"
Rumi mendongak. "Rafka?" Rumi langsung berdiri. "Huhuhu... Kenapa kamu jahat banget ninggalin aku gitu aja?" Rumi memukul-mukul dada Rafka.
"Sekeras apapun aku berusaha pergi, tetapi hati aku benar-benar nggak bisa."
"Kamu mau pergi dari aku? Kenapa? Kamu ada masalah apa sih? Kalau ada apa-apa itu ngomong dong." Rumi menangis terisak-isak di trotoar jalan menghadap kekasihnya.
Rafka lalu memeluknya. "Kamu mau tinggalin aku sama Irfan kan? Kamu mau peluk Irfan buat bikin aku sakit hati ya? Kenapa sih kamu deket banyak cowok. Kamu udah ada aku, kamu seharusnya nelepon aku, bukan Irfan."
"Entar aku nelepon kamu, kamu nggak mau angkat."
__ADS_1
Saat Irfan tiba tidak jauh dari keberadaan mereka berdua, ia melihat mereka lalu tersenyum. Irfan memutar balik motornya. Irfan benar-benar manusia yang baik.
"Iya sih. Tapi seenggaknya kan pastikan aku dulu."
Rumi melepaskan pelukannya. "Kamu sebenarnya ada apa? Ngomong lah." Pintanya. "Hah? Ini kenapa?" Rumi melihat luka di lehernya. "Hah? Ini cupangan? Sama siapa?! Kamu selingkuh?"
Rafka hanya diam, Rumi *** lengan Rafka. "Ayo bilang dari siapa? Aku bahkan nggak pernah terpikirkan untuk selingkuh dari kamu, eh sekarang aku yang di selingkuhin. Kenapa kamu jahat sama aku? Kamu mau pisah? Iya udah." Rumi meninggalkan Rafka begitu saja.
Rumi bingung melihat sikap aneh Rafka yang tidak mau berbicara sama sekali. Rumi lalu mengorder ojek online, untuknya pulang.
"Hari ini benar-benar buruk untuknya." Rumi menonton video ketika ia menemani Rafka bermain game. Seharusnya, ia tertawa saat melihatnya, tetapi hatinya terlalu sakit untuk tertawa.
Hari Rabu saat Rumi selesai mengikuti gladi bersih wisuda. Ia duduk di depan Lab sambil mengawasi Rafka yang tengah bergurau dengan teman-temannya. Kisah yang mereka rajut telah selesai lagi tanpa adanya kata perpisahan. Seharusnya, saat kita berpacaran kita belajar saling mendewasakan diri. Bukan malah bersikap egois.
Namun tiba-tiba, ia bisa melihat dengan jelas Guntur datang dengan gerombolan teman-temannya menyerang Rafka tanpa aba-aba.
"Bentar," Rumi pamit dengan keempat temannya. "Panggil guru." Titahnya.
Rumi langsung berlari sambil menangis menghampiri Rafka yang di hajar tanpa ia melawan balik. Sedangkan, teman-temannya hanya diam tidak berani melawan. "Guntur!" Teriaknya. Membuat aksinya dan teman-temannya berhenti. Rumi menolong Rafka yang tergeletak di lantai, lalu ia meminta tolong teman-temannya. "Bawa dia."
"Kemana kak?" Tanya teman-temannya.
Rumi menoleh saat teman-teman Rafka bertanya. "Ke UKS."
Begitu semua teman-teman Rafka mengantarkan Rafka, banyak anak-anak cewek teman Rafka melihat mereka. "Eh, *** ada masalah apa sama pacarku?" Tanya Rumi dengan tegas.
Guntur mendekat lalu mengangkat dagu Rumi. "Cewek cantik kayak lo, kenapa bisa sama dia sih?"
Rumi menepisnya. "Dengerin baik-baik ya, gue yang suka Rafka duluan, gue ngejar-ngejar dia sampai berbulan-bulan. Lah lo, orang sikap gue ke elo udah jelas-jelas nggak ngasih harapan kenapa nggak ngerti juga? Gue kasih nomor gue ke elo itu cuma karena nggak enak aja, dan lo tahu sendiri kalau itu ternyata nomor pacar gue, Kalau lo suka gue kenapa nggak dari dulu-dulu aja? Jangan ganggu gue lagi deh kalau niatan lo cuma buat macarin gue apalagi buat ngerusak kebahagiaan gue."
Guntur merasa geram, ia menunjuk Rumi. Mendorong kepalanya hingga poninya terbang. Rumi tidak terima karena seorang cowok telah merusak kesucian kepalanya. Ia langsung berlari mengejar Guntur dan meraih kerah kemeja cowok itu membaliknya lalu menamparnya sangat keras, sampai tangannya merasa panas. Rumi benar-benar terkesan karena ia belum pernah mempraktekkan ini. Hanya menontonnya lewat drama Korea.
Guntur menahan rasa sakit di pipinya. "Gue nggak balas karena lo cantik. Hahaha." Ia langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
*