Why Does Rafka Hate Rumi?

Why Does Rafka Hate Rumi?
26. Ganteng adeknya


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian, rambut Rumi sudah kembali seperti semula. Hanya tersisa beberapa bulan untuknya lulus dan meninggalkan SMA. Ia merasa bahagia karena segera lulus, tetapi ia juga merasa sedih karena akan sedikit jauh jarak antara Rafka dengan dirinya. Rafka hampir setiap hari menghampiri dirinya di depan kelas Rumi, menunggu gadis itu.


Rumi menguncir rambut pendeknya dengan ikat gelang yang memutar di pergelangan tangannya. Ikat gelang itu berwarna pink. Ia merapikan poninya lalu meranselkan tas ranselnya. Hari ini pulang pagi. Dua hal yang membuat siswa-siswi bahagia yaitu pulang pagi dan jam kosong.


"Jadi, ya?" Tanya Rumi. Mereka akan pergi ke rumah Rafka untuk bertemu dengan keluarga Rafka tentunya dan yang kedua yaitu bermain game.


Rafka mengangguk. "Butuh waktu yang lama untuk kita ke rumahku, hehehe." Rafka langsung menggandeng tangan Rumi erat-erat.


Begitu sampai Rumi langsung di peluk oleh ibu Rafka, akhirnya gadis yang selalu di ceritakan oleh Rafka telah bertemu dengannya secara langsung. "Gimana sudah sembuh?" Biasanya yang di ucapkan oleh ibu mertua adalah 'wah kamu cantik banget' tetapi tidak dengan Rumi.


"Insyaallah, sudah tante. Hanya tinggal satu kali lagi kontrol."


Rumi langsung di tuntun untuk masuk ke dalam rumah Rafka. "Seneng dengernya, rambut kamu sudah sedikit panjang, ya? Sakit banget kah?"


"Ibu..." Rafka mengingatkan ibunya yang terus menerus bertanya mengenai penyakit yang di derita Rumi.


Rumi hanya tersenyum dan mengangguk. "Udah, nggak apa-apa." Ia lalu menolehkan wajahnya pada ibu Rafka. "Iya tante, rambut saya sebelumnya segini memang, syukur juga sudah balik lagi. Kalau sakit sudah pasti. Hehehe." Jawabnya.


Ibunya memeluk Rumi lagi. Rumi bersyukur orangtua Rafka tidak membencinya—belum tahu bapaknya—terkadang seseorang juga bisa berubah.


Akhirnya, sesi bermain PS telah di mulai. Bermain game online sama pacar saja membahagiakan, sekarang bermain PS, keduanya sama-sama membuat bahagia. Tidak lama, adik laki-laki Rafka datang dan langsung melihat mereka berdua dengan sangat antusias. "Wah, pacar mas, ya?" Tanyanya kepada Rumi.


Rumi tertawa. "Iya, ganteng banget adeknya kalau dilihat langsung. Hehehe." Ucapan itu langsung membuat Rafka menoleh sinis kepadanya.


"Nikahin dia mas!!! Nikahin pokoknya!" Teriak adik laki-laki yang berlari masuk ke dalam kamarnya.


Rumi langsung terkejut dan Rafka tertawa. "Astaga." Tawa Rafka adalah tawa kebahagiaan. "Pasti gue nikahin." Batinnya.


Rafka mendekati Rumi hingga pundak mereka menempel. "Kenapa kaget gitu mukanya?" Rumi hanya menggeleng.

__ADS_1


"Bukannya kamu mau aku nikahin?" Tanyanya sambil menatap Rumi dan menghiraukan game yang terus berjalan.


Rumi jadi malu-malu. "Iyasih, tapi jangan di bahas sekarang. Masih terlalu dini btw."


Rafka lalu menarik tangan kanan Rumi, sehingga ia melepaskan stick ps. Rafka mencium tangan Rumi berkali-kali. "Kenapa tangan ini selalu harum, sih? Harum banget."


Rumi menarik tangannya. "Jangan, nanti ibu kamu lihat kan malu aku-nya."


Rafka mendekatkan wajahnya ke telinga Rumi. "Ibu nggak ada di rumah."


"Heh?! Kemana?" Karena terkejut, Rumi berteriak.


Rafka menutup mulut Rumi. "sssttt. Nanti adik denger lagi, ibu ke pasar, beliau belanja, mau masakin sesuatu buat kamu."


"Kenapa kamu nggak bilang sih? Aku kan bisa ikut buat bantuin ibu kamu."


Rafka semakin mendekatkan tubuhnya tetapi Rumi menggeser badannya. "Entar aku nggak bisa berduaan sama kamu dong?" Tanyanya sambil mendekat lagi hingga ia menggandeng lengan Rumi dengan manja.


"Tante, biar saya aja yang cuci piringnya."


Ibu Rafka tersenyum miring. "Eh, nggak perlu. Kamu harus sembuh total dulu buat bantuin tante. Ini semua biar Rafka aja yang cuci, iya, kan Raf?" Pertanyaan itu seakan-akan memaksa Rafka untuk menjawab iya.


"I—ya ibu."


Rumi tertawa kecil.


Ibu fiastine mengobrol dengan ibu-ibu arisan yang tengah berkumpul di ruang tamu. Sedangkan adik laki-laki Rafka sudah pergi bermain bersama teman-temannya. Dan Rumi menemani Rafka mencuci piring. Rumi memaksa membantu, tetapi Rafka terus menolak, jadi ia hanya menonton. Menonton idolanya yang sedang mencuci piring. Jiwa bucinya telah kembali.


"Raf, kamu emang ganteng banget gituloh haduh," ucap Rumi sambil menutup mulutnya, ia tidak bisa menahan jiwa bucinnya. Sedangkan Rafka malah menebarkan pesonanya dengan tersenyum.

__ADS_1


Seusai kegiatan mencuci piring. Rumi membantu Rafka mengerjakan tugasnya, karena ia merasa kesulitan. Tetapi semua percuma karena Rumi dulu juga tidak terlalu peduli dengan pelajaran ini. "Aku nggak pernah ngerti ini, yang. Biasanya aku nyontek Kresna. Soalnya dia pinter tapi pemalas."


"Susah emang kalau udah nggak ada yang ngerti." Rafka menutup bukunya, lalu mendekatkan kursinya pada Rumi. "Iya udah sekarang kita berdua pacaran aja." Ucapan itu membuat Rumi tersenyum malu.


"Mau mimisan rasanya kalau lihat wajah kamu terlalu dekat kayak gini." Kata Rumi.


Rafka berdiri. "Coba berdiri dulu. Kemarin kursi ini mau patah, loh." Rumi langsung berdiri melihat kursi yang ia duduki. Sambil menunggu Rafka mencari kerusakan yang ada Rumi bersandar di dinding sambil bermain ponselnya. Ia tidak mau melihat Rafka terlalu lama, karena ia menjadi sangat bucin dan salah tingkah.


"Rum, di belakang kamu banyak semut tahu." Rafka datang dan langsung menarik tubuhnya hingga ke pelukan Rafka.


"Sebenarnya ini benar-benar ada semut atau hanya modus."  Batin Rumi.


Rafka tersenyum menang. Ia memeluk Rumi dengan kedua tangannya. "Udah lama banget nggak pelukan. Hehehe." Bisik Rafka.


"Tinggal bilang aja kalau mau peluk, kenapa harus bohong ada semut segala, sih?"


Rafka melepaskan pelukannya, lalu membalikkan badan Rumi. "Itu lihat kalau nggak percaya." Memang benar banyak sekali semut.


Tinggi Rumi yang se pundak Rafka membuat mereka kelihatan sangat serasi. Semoga mereka benar-benar berjodoh. Rumi membalikkan badannya lagi, lalu memeluk Rafka yang belum siap untuk di peluk. Tidak lama Rafka tersenyum, lalu mencium kening Rumi. Terakhir kali ia mencium kening Rumi kalau tidak salah saat mereka baru jadian.


"Sayang, aku punya drama baru, loh." Kata Rafka sambil membuka laptop miliknya. Rumi yang di belakangnya melihat.


"Minta dong, untung tadi aku bawa flashdisk."


"Iya udah ambil," Rumi langsung mengambil flashdisk yang ia masukkan ke dalam tasnya.


"Kamu copy sendiri aja ya... Aku mau ke kamar mandi dulu." Kata Rafka, lalu Rumi menjawab dengan anggukan.


Banyak sekali koleksi Drama Korea pada laptop milik Rafka. Hingga ia menemukan sebuah file folder yang terkunci. Itu membuatnya sangat penasaran. Rumi berusaha membuka dengan berbagai kata kunci namun, tidak berhasil. Lalu, ia terkejut saat Rafka langsung berbisik. "Ngapain hayo..."

__ADS_1


   *


__ADS_2