Why Does Rafka Hate Rumi?

Why Does Rafka Hate Rumi?
27. First kiss


__ADS_3

Rumi langsung berdiri dari duduknya, lalu Rafka mengambil alih laptopnya. "Jangan berusaha buka ini, nanti kamu nyesel, aku juga akan marah kalau kamu berani buka ini." Ancamnya dengan wajah yang sangat serius.


"Serius amat sih, serem tahu kalau wajah kamu gitu. Iya udah maaf, aku pulang aja deh kalau gitu." Rumi menyambar tas ranselnya yang tergeletak pada kasur kamar Rafka. Tetapi, Rafka menolak. Ia lalu menutup dan mengunci pintu kamar miliknya. "Jangan pulang. Nanti aja yang..." Pintanya dengan wajah yang benar-benar melarang seseorang untuk pergi.


Rumi berusaha menahan tawanya. "Bercanda kali. Aku mau masukin ponselku yang,"


Karena kesal Rafka mengejar Rumi. Berputar-putar, hingga Rumi terjepit di antara dinding dan Rafka. "Kamu nggak bisa kabur lagi." Ucapnya dengan napas yang tersengal-sengal. Jantung Rumi berdebar-debar dengan posisi seperti ini.


Rumi berusaha keluar dengan menarik tangan Rafka yang mengunci dirinya dengan dinding. "Mau ngapain?" Tanpa menjawab pertanyaan itu bibir Rafka sudah menempel dengan bibirnya. Rumi bingung. Sebenarnya ia sudah pernah melakukan ini tetapi saat Rafka yang melakukannya. Berbeda jauh sekali. Rafka mencium bibir Rumi hingga mengeluarkan suara decakan. Cukup lama, sampai napas mereka benar-benar tidak teratur. Saat Rafka akan melakukannya lagi dengan menyentuh kedua pipi gadis itu, Rumi menoleh, sehingga Rafka menghentikan aksinya.


"Aku harus pulang."


***


Mata pelajaran matematika peminatan di pagi ini sangat santai, tidak seperti biasanya yang selalu tegang dan senam jantung. Dengan berjalannya pelajaran yang sangat santai ini, banyak murid yang bebas mengobrol. Dengan berani dan percaya Rumi menanyakan sesuatu yang benar-benar tidak seharusnya ia tanyakan pada Kresna.


"Kres, apa lo pernah ciuman? Ehh, di bibir." Jelasnya dengan berbisik-bisik.


Kresna mengangguk. "Sering. Eh, kenapa lo tanya kayak gitu?"


Rumi menggeleng. "Wajar ya kalau pacaran begitu?"


"Wajar sih, masih batas wajar, tapi kalau terlalu berlebih-lebihan nggak wajar."


Rumi mengerutkan dahi. "Berlebihan dalam hal?"


Kresna berbisik. "Anak kecil nggak boleh tahu!" Rumi mendesah kesal karena perkataan Kresna.

__ADS_1


"Gue nanya beneran!" Sergahnya.


"Iya kalau sampai lo tidur sama pacar lo itu namanya berlebihan." Begitu Kalimat itu terucap, Rumi benar-benar terkejut. "Iya nggak lah!!!" Cetusnya langsung.


Ada perasaan yang berbeda saat Rafka menciumnya kemarin. Perasaan bingung, takut, malu dan ingin lagi. Yang paling kentara adalah perasaan malu. Ia sangat malu mungkin karena umur Rafka dan dirinya berbeda satu tahun lebih muda dari dirinya maka dari itu Rumi merasa malu. Bahkan setelah Rumi pulang kemarin sejujurnya setelah ia sampai rumah, ia benar-benar lompat-lompat kegirangan dan di sisi lain ia juga merasa sangat malu. Tetapi, beruntungnya kemarin ia tidak memakai lipstik, karena kalau begitu bisa-bisa gawat. Rumi belum tahu bagaimana kalau ciuman memakai lipstik.


Rafka merasa bersalah karena mencium Rumi kemarin, tetapi akhirnya setelah sekian lama ia menginginkan ini terjadilah kemarin. Meskipun Rumi langsung malu dan meminta untuk pulang sendiri. Pagi ini ia memaksa Rumi untuk pulang dengan dirinya. Karena ia ingin membahas kelakuannya kemarin dan menanyakan kenapa Rumi merasa malu.


"Yang, kemarin—"


Rumi menyela. "Jangan membahasnya sekarang, aku—"


"Jangan menyelaku, aku benar-benar penasaran kenapa kamu tiba-tiba ingin pergi?"


Rumi berhenti melangkah sehingga Rafka-pun menghentikan langkahnya. "Aku malu!!!" Ucapnya dengan wajah yang memerah, lalu ia menutupinya dengan kedua tangannya.


Rafka langsung tertawa begitu melihat tingkah menggemaskannya seorang Rumi. Ia langsung memegang kedua pundak Rumi lalu menatap gadisnya. "Coba buka."


Rafka memaksa. "Buka, dong. Nanti kalau kamu malu, aku akan semakin sering melakukannya." Begitu mendengar kalimat itu Rumi langsung membuka wajahnya. Tetapi, wajahnya menjadi sangat manyun. "Senyum, dong..." Pinta seorang Rafka.


Kali ini Rumi berusaha bersikap seperti tidak ada apa-apa di antara mereka berdua, agar tidak lagi ada sikap canggung pada dirinya sendiri. Meskipun sesekali ia teringat adegan tersebut.


***


Karena mulai saat ini sudah ada bus trans yang bertransportasi, jadi Rumi berangkat sekolah menggunakan bus trans tersebut, selama perjalanan ia bertemu banyak teman-teman kelas lain. Bus tersebut juga berhenti tepat di halte depan sekolahnya yang belum lama ini sudah selesai pembangunannya. Rumi duduk di kursi bus yang berisi dua orang. Ia duduk bersama Anya Marina—salah satu temannya, yang kelasnya berada di sebelahnya.


Anya yang jarang sekali mengobrol dengannya namun cukup akrab. "Btw, lo pacaran sama brondong?" Rumi langsung mengangguk.

__ADS_1


"Dengar-dengar nih ya, gosip ini udah lama sebelum lo kecelakaan. Tetapi, gosip ini tiba-tiba berhenti ketika lo kecelakaan dan baru-baru ini lagi rame." Jelasnya.


Rumi mengerutkan dahi. "Gosip apa'an?"


Anya mendekat sehingga tidak ada yang mendengar dirinya. "Gue minta maaf nih sebelumnya, tapi gosipnya Rafka itu baru putus belum satu hari penuh, udah pacaran sama elo, dan katanya, Rafka pacaran sama elo cuma buat pengalihan, buat ngelupain mantannya yang ketahuan berbuat mesum itu." Jelasnya.


"Sebelumnya gue nggak tahu kalau putusnya belum satu hari, tapi emang dia bilang kalau mantannya itu selingkuh, berhubung gue bener-bener ngebucin dia banget jadi pas dia nembak ya langsung gue terima." Jawab Rumi menjelaskan.


"Dasar bucin!!! Tapi itu gosipnya bener nggak kalau Rafka cuma menggunakan elo buat ngelupain mantannya?" Tanya Anya.


Rumi menekan-nekan pelipisnya. "Gue nggak tahu, tapi kalau emang bener, gue harus gimana dong? Gue udah ngerasa dia bener-bener tulus sama gue, buktinya dia selalu datang setiap hari ke rumah sakit buat nemenin gue. Dia juga nangis pas gue berada di ambang kematian."


Anya merangkul pundak Rumi. "Lo temen gue, percaya aja sama dia, kalau menurut gue dia nggak main-main sih. Tapi, btw mantannya kan udah nikah. Pas ke nikahannya dia meluk cowok lo nggak? Atau sebaliknya?"


Rumi mengangguk.


"Waduh, dia ngajakin elo kah?"


Rumi mengangguk lagi.


Anya memperjelas kalimatnya. "Dia ngajak elo ke nikahan mantannya?"


Rumi lagi-lagi mengangguk.


"Rum, coba bayangin, dia ngajakin elo ke nikahan mantannya itu karena dia nggak tahu nantinya mau ngajakin siapa jadi dari awal saat dia putus, dia langsung menetapkan elo sebagai pacarnya. Maaf nih ya, mungkin juga lo cuma buat status doang." Penjelasan itu membuat Rumi semakin berpikir, dari awal memang ada yang salah dengan hubungannya, seperti terlalu di paksakan, tetapi saat ia melihat Rafka. Di mata Rumi, Rafka benar-benar seorang cowok yang baik dan tulus.


Saat turun dari bus, Rumi berpisah dengan Anya. Rumi tidak langsung masuk ke sekolah, karena ia tahu jam masuk masih lama. Ia hanya duduk melamun di halte sendirian. Ia kepikiran oleh semua perkataan Anya temannya. Dan gara-gara itu semua hatinya menjadi dilema.

__ADS_1


"Eh, Rum ngapain ngelamun di situ kayak jomblo?!" Dari kalimatnya sudah bisa ditebak bahwa lontaran pedas itu keluar dari mulut tidak sopannya seorang Kresna.


  *


__ADS_2