Why Does Rafka Hate Rumi?

Why Does Rafka Hate Rumi?
23. kamu terbaik dari yang baik


__ADS_3

Rafka membuka tas gitarnya yang ia bawa tadi, Rumi kini sudah bisa duduk. Ia bersiap melihat pacarnya bernyanyi. Senyumannya sumringah bahagia. Rafka duduk di kursinya tadi namun, sedikit ia undurkan. Kemudian, ia memulainya.


🎵Kau boleh acuhkan diriku


Dan anggap ku tak ada


Tapi takkan merubah perasaanku


Kepadamu


Kuyakin pasti suatu saat


Semua kan terjadi


Kau kan mencintaiku


Dan tak akan pernah melepasku


Aku mau mendampingi dirimu


Aku mau cintai kekuranganmu


Selalu bersedia bahagiakanmu


Apapun terjadi


Kujanjikan aku ada


Kau boleh jauhi diriku


Namun kupercaya


Kau kan mencintaiku


Dan tak akan pernah melepasku


Aku mau mendampingi dirimu


Aku mau cintai kekuranganmu

__ADS_1


Selalu bersedia bahagiakanmu


Apapun terjadi


Kujanjikan aku ada


Aku mau mendampingi dirimu


Aku mau cintai kekuranganmu


Aku yang rela terluka


Untukmu selalu


"yeay," Rumi bertepuk tangan. "Aku baru tahu kamu bisa nyanyi sama main gitar, kukira kamu sangat pendiam dan anti sosial jadi, pasti nggak main begitu an."


Rafka menaruh kembali gitarnya. "Enak aja anti sosial. Aku ini suka bergaul temanku kan di mana-mana."


Rumi meminta gitar itu,"Siniin gitarnya. Aku juga mau nyanyi. Kan udah enakan."


Rumi meraih gitarnya. Sebelum itu, ia menanyakan sesuatu kepada Rafka. "Emang kamu bener, mau mencintaiku meski aku gundul begini?"


Rumi hanya diam dan memetik-metik gitarnya. Ia lalu menyanyikan lagu Sheila on 7-Anugerah terindah yang pernah kumiliki. Persis seperti di mimpi Rafka minggu lalu. Suara indah Rumi. Dan petikan gitarnya yang sangat cocok dan persis. Ia bertopang dagu melihat pacarnya yang manis sedang bernyanyi. Rumi sesekali tersenyum melihat Rafka yang menggila.


Tanpa sadar, ternyata lama kelamaan Rafka tertidur. "Jadi, ceritanya aku lagi me-nina bobo-kan kamu nih?" Rumi mengelus rambut Rafka yang bervolume, dulu saat masih pertama kali melihat Rafka, ingin rasanya ia menyentuh rambutnya yang tebal ini. Rumi ingin mencium pipi Rafka tetapi, tidak bisa karena badannya masih sakit. Ia akhirnya kembali tidur pelan-pelan. Lalu sambil menggenggam tangan Rafka yang hangat. Hangat sekali.


Saat terbangun, Rafka tidak sadar ternyata ia sudah tidur selama 3 jam. Ia bisa melihat Rumi yang masih pulas dan menggenggam tangannya erat. Rafka tersenyum lalu melepas tangan itu perlahan. Rafka mencium dahi Rumi. "Sayang, aku pulang dulu ya, aku nggak mau bangunin kamu. Nanti kamu jadi nggak bisa tidur lagi."


Rumi tidak tidur, ia berusaha menahan air matanya yang hampir jatuh. Hingga ia mendengar suara pintu tertutup kembali, ia berani membuka matanya dan meneteskan air matanya. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia tidak bisa hidup kembali. Ia harus melawan penyakitnya meskipun bahayanya sangat besar.


Banyak teman dan orang-orang yang menunggu kehadirannya kembali. Ia tidak mau membuat teman-temannya bersedih. Semua harus kembali seperti semula.


Sesekali kamu harus berani untuk melawan mara bahaya, demi seseorang yang kamu cintai. Mengingat dirinya yang menyukai Rafka sangat lama juga membuatnya tidak mau menyerah begitu saja. Ia lalu mengusap air matanya yang mengalir deras. Tetapi, pintu tiba-tiba terbuka. Itu Rafka. "Loh kok nggak tidur?" Ucapnya.


Rumi berusaha tersenyum, tetapi tetap saja terlihat kentara karena matanya yang memerah. "Kebangun yang."


"Oh, kunci motorku ketinggalan jadi aku balik lagi." Rafka meraih kunci motor yang berada di atas meja. "Kamu kok nangis?" Tanyanya.


"Siapa? Ini kelilipan debu."

__ADS_1


"Bohong! Rumi apa yang kamu sembunyikan dariku?"


Rafka menatap Rumi, tatapan itu adalah tatapan mengintimidasi. Tidak ada senyuman sama sekali di wajahnya. Kenapa gadis ini selalu membuatnya khawatir. Kenapa harus menyembunyikan masalahnya, padahal jelas-jelas sekarang ini Rafka adalah seseorang yang ia butuhkan untuk segera sembuh.


"Rum, jawab aku. Aku ini pacar kamu, jangan sembunyikan apa pun dariku. Kamu harus tahu satu hal, masalahmu adalah masalahku juga, Rum."


"Aku tidak menyembunyikan apa pun dari kamu." Rumi nampak berpikir sejenak. "Aku hanya menangisi diriku sendiri yang malang."


Rafka menghembuskan napas panjang. Lalu, ia memeluk Rumi, karena Rumi sedang duduk. "Kamu akan segera sembuh, oke? Buktinya sekarang kamu udah bisa duduk. Besok aku bawakan sesuatu untuk kamu, sepulang sekolah." Rumi membalas pelukan pacarnya dan mengangguk, Rafka mengusap wajah Rumi yang masih basah oleh air mata. Ia lalu mengecup lagi dahi Rumi dan pamit untuk pulang.


"Bye, sayang." Rafka melambaikan tangannya.


"Bye."


"Rafka kamu cowok terbaik dari yang baik. Terima kasih sayang," batinnya.


***


Perasaan yang Rafka rasakan adalah ia sudah sangat jatuh cinta kepada Rumi. Jadi, bagaimana pun Rumi akan menyuruhnya untuk pergi, mungkin Rafka tidak bisa. Rasa nyaman itu seperti saat kita menyukai satu baju, pasti baju itu akan kita pakai berkali-kali sampai ada orang bilang—bajunya gitu-gitu aja—ya mau gimana, rasa nyaman emang semudah itu.


Sampai detik ini, ketika bertemu dengan Rumi. Jantungnya berpacu sangat cepat. Hingga ia selalu menggila. Rafka mengembuskan napas, mengeluarkan kunci sepeda motor dan karcis parkir. Lalu, memakai helmnya dan keluar dari rumah sakit ini.


Dengan kecepatan 20km. Rafka menikmati suasana jalanan yang lenggang sambil mencari sesuatu yang benar-benar ia butuhkan untuk saat ini. Hingga sampai di depan rumahnya, ia bahkan tidak menemukan sesuatu yang ia cari. Kemudian, ia mempunyai sebuah ide sebab, ia tahu siapa orang yang paling tepat untuk ini. Ia adalah ibunya. Rafka meminta ibunya untuk membuatkan sebuah topi rajut berwarna pink.


"Memangnya untuk siapa?" Tanya ibunya dengan mengeluarkan buah-buahan yang akan ia potong-potong untuk di buat es segar.


Rafka menaruh helmnya di atas almari. "Untuk pacarku ibu, dia sedang sakit."


Buah semangka jatuh tepat di meja menimbulkan suara 'bukkh' tangan lincah ibunya langsung meraih semangka yang akan menggelinding tanpa melihat semangka itu. "Hah? Sakit apa? Kok nggak bilang ibu? Pacarmu baru lagi?"


Rafka menarik kursi meja makan, lantas ia duduk di situ. "Iya, baru lagi. Dia kecelakaan ibu, baru sekitar tiga hari kita pacaran terus dia kecelakaan, waktu hari pertama kecelakaan, ia benar-benar dalam keadaan kritis. Tetapi, sekarang tuhan memberikan ia kehidupan kembali."


Semangka yang sudah siap dihidangkan itu, ibu Rafka menelannya sampai mulutnya penuh. Lantas ibunya langsung menunjukkan jari jempol—tanda beliau mau.


Keesokan harinya, ia membawa topi wol buatan ibunya itu ke rumah sakit, sambil membawa beberapa buah-buahan dari ibunya untuk calon menantunya nanti. Beberapa menit kemudian, saat ia sampai di depan pintu. Ia mengintip pada kaca pintu kamar Rumi. Rumi sedang di pakaikan akat bantu pernapasan, lalu pengaman pada lehernya agar tidak patah. Serta seorang perawat menambah satu kantong darah untuk Rumi. Rumi tidak sadarkan diri. Rafka tidak bisa tahu, kenapa dan ada apa dengan pacarnya. Lantas, ia langsung masuk ke dalam dan menemani Rumi yang tengah berjuang untuk hidupnya. Rafka meneteskan air matanya sebutir-sebutir tanpa terasa menjadi sangat deras. "Dok, mohon dijawab? Pacar saya kenapa?"


Dokter yang tengah sibuk tetap bisa menjawabnya. "Kami masih belum menemukan masalahnya, karena ia sudah tidak sadar cukup lama. Keluarga anak tersebut mengira anak ini sedang istirahat tetapi ternyata—" dokter tidak menjawab lagi karena kembali sibuk.


  *

__ADS_1


__ADS_2