Why Does Rafka Hate Rumi?

Why Does Rafka Hate Rumi?
22. Rahasia


__ADS_3

"Btw, kalian berdua kan suka game? Kenapa nggak mabar aja. Dari pada bosan? Aku mau istirahat, hehe. Jagain adek aku juga ya..."


Rafka langsung mengeluarkan ponselnya. "Ayo kalau berani!" Ajaknya langsung kepada Irfan. Akhirnya, mereka duduk di sebuah kursi dan memiringkan ponselnya.


Tidak lama, pintu terbuka. Datanglah Cia dan Kresna. Ternyata mereka berdua menjenguk Rumi bersama-sama.


"Hey sob." Sapa Kresna kepada Rafka, Kresna tidak mengenal Irfan.


Cia langsung menemui Rumi. "Ihh Rum, sakit ya?" Tanyanya begitu duduk dan menggenggam tangan Rumi.


Rumi tersenyum, "Cia, gimana kabar kamu?"


"Iiihhh Rum, aku kan tanya... Hari ini kita panggilnya aku-kamu aja. Aku nggak mau kasar sama kamu Rum." Rumi mengangguk. "Kamu baik-baik aja, bukan?"


"Iya, cuman kepalaku masih sakit terus penglihatanku sedikit kabur seperti mata minus, tapi bukan minus."


"Itu yang terluka yang mana Rum?"


"Cerebelum, otak kecil."


"Bahaya kan? Itu materi semester 2 loh mata pelajaran lintas minat biologi." Ucapnya sambil mengingat-ingat.


"Sssttt, iya aku tahu. Kamu jangan bilang-bilang sama pacarku ya? Aku nggak takut meninggal dunia, aku cuma mau dia nggak khawatir sama aku. Saat ini aja, aku nggak bisa bangun berdiri."


Cia meneteskan air matanya. "Kenapa?" Cia melihat Kresna yang ikut fokus bermain game.


Rumi tersenyum,"Kamu kan cewek Ci... Kalau tahu gini, aku nggak bakalan mau pacaran sama Rafka, takutnya dia terluka saat melihat aku pergi."


Cia mengusap air matanya. "Udah jangan putus asa dong, mungkin ada keajaiban yang terjadi padamu nanti, Rum."


Rumi meneteskan air matanya,"AAMIIN. Aku harap juga begitu."


Cia mengusap air mata Rumi, "Udah sstt jangan nangis, nanti pacarmu tahu."


"Oh iya, mungkin kalau aku emang beneran nggak ada nantinya. Berikan ini sama temen aku Deya, Jiyan dan Jihan ya..." Di berikannya satu kotak terbungkus koran. Bungkusnya kecil sehingga bisa di masukkan ke dalam tas. "Terus ini, buat Rafka." Rumi memberikan satu kotak lagi berbentuk hati.


"Gimana bisa lo nyiapin ini? Takdir bisa berubah Rum." Ucapnya.


"Udah nggak apa-apa buat jaga-jaga aja. Kalau saat masuk kelas 12 aku masih ada. Iya itu aku minta lagi Ci," ucapnya sambil tertawa.


Cia benar-benar menyimpannya.


"Kamu juga, jangan sia-siain Kresna loh. Dia pinter banget kamu tahu kan."


Cia mengangguk dan mencium tangan Rumi.


Rafka melirik mereka berdua yang saling menangis. "Kenapa mereka nangis?" Gumamnya sambil fokus terus pada gamenya.


***


"Putri ayah cepet sembuh, ya?" Ucap ayah Rumi sambil mencium dahi Rumi.


Rumi sedang tidur.

__ADS_1


"Ya tuhan, jangan ambil anakku sekarang. Aku hanya takut ia tidak akan bangun lagi," ucap ayahnya sambil berbicara dengan istrinya yang tengah memangku anaknya yang nomor 2.


Ibu Rumi menangis,"iya yah."


***


"Rafka,"


Rafka yang sedang duduk di sebuah taman menoleh.


"Aku mau nyanyi buat kamu," Rumi membawa gitar. "Kamu harus rekam ini, Raf."


Rafka menyiapkan kamera ponselnya. Ia bisa melihat gadisnya yang sangat cantik dengan rambut se-bahu dan gaun berwarna putih. Sedang berdiri di depannya. Senyuman indah terukir pada wajah Rumi yang berseri-seri. Rumi berputar-putar menikmati air mancur di belakangnya sambil membawa gitar. Rafka memandangnya terus seakan-akan tidak bisa melihat senyuman itu lagi.


šŸŽµMelihat tawamu


Mendengar senandungmu


Terlihat jelas di mataku


Warna-warna indahmu


Menatap langkahmu


Meratapi kisah hidupmu


Terlihat jelas bahwa hatimu


Anugerah terindah yang pernah kumiliki


šŸŽµSifatmu nan s'lalu


Redakan ambisiku


Tepikan khilafku


Dari bunga yang layu


Saat kau disisiku


Kembali dunia ceria


Tegaskan bahwa kamu


Anugerah terindah yang pernah kumiliki


Rumi mendekatkan dirinya pada Rafka.


šŸŽµBelai lembut jarimu


Sejuk tatap wajahmu


Hangat peluk janjimu

__ADS_1


Belai lembut jarimu


Sejuk tatap wajahmu


Hangat peluk janjimu


Anugerah terindah yang pernah kumiliki


Belai lembut jarimu


Sejuk tatap wajahmu


Hangat peluk janjimu


Belai lembut jarimu


Sejuk tatap wajahmu


Hangat peluk janjimu


Anugerah terindah yang pernah kumiliki


Semuanya terasa sangat nyata. Bahkan suara Rumi yang masih bernyanyi terngiang-ngiang di kepalanya. Ia bangun dari tidurnya. Mimpinya terasa aneh. Rafka memegangi kepalanya yang seakan mau pecah. Ia mengacak-acak rambutnya kacau. Ia ingin menyanyikan sebuah lagu untuk Rumi, tetapi bermain gitar saja Rafka tidak bisa. Ia harus belajar, ia ingin membuat Rumi bahagia dan tersenyum saat ini. Dengan bersemangat ia mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.


Sesampainya di sekolah ia berbeda dengan hari biasanya. Ia berangkat sangat siang dan hampir terlambat. Ketika di kelas ia langsung menenangkan teman-temannya dan menanyakan sesuatu. "GAESS, DIAM BENTARAN AJA, GUE MAU NGOMONG!" Disitu kelas langsung diam dan hening. "OKE, DISINI GUE MAU NANYA, ADA YANG BISA MAIN GITAR?"


Dengan bersemangat salah satu teman perempuannya mengangkat tangan dengan bersemangat dia adalah Erta—dari awal masuk kelas Rafka tidak pernah sama sekali berbicara dengan gadis itu. "Gue!"


Rafka tersenyum lalu menghampiri Erta. "Ta, ajarin gue dong." Pintanya, Erta langsung mengangguk setuju.


"Lo punya gitar untuk belajar gitar?" Tanyanya.


Rafka mengangguk.


"Iya, besok bawa gitarnya, oke?" Rafka mengangguk lagi. "Oke."


Karena Rafka sangat berniat untuk belajar gitar, dalam kurang waktu dari seminggu ia sudah bisa bermain gitar. Dengan sangat lancar. Meskipun sedikit lupa nada.


Seminggu kemudian saat sekolah, Rafka membawakan hadiah untuk rasa terima kasihnya kepada Erta yang baik. Erta menerimanya dengan senang hati. Saat itu juga ia langsung menemui Rumi yang masih belum pulang, Rumi juga masih menggunakan alat bantu pernapasan. Gadis itu masih membutuhkannya. Saat Rafka sampai gadisnya sedang istirahat sangat lelap. Rafka menyentuh dahi Rumi dan kepala yang kini sudah gundul karena operasi, Rafka mengecupnya. "Cepat sembuh ya? Aku pengen jalan-jalan sama Rumi loh." Karena Kalimat itu Rumi terbangun dari tidurnya.


"Hm, Rafka, ada apa? Jangan kesini tiap hari, kamu nggak sibuk, apa?"


"Besok kan bagi-bagi rapot, jelas dong jam kosong, jadi nggak sibuk. Habis ini kamu naik kelas 12, aku juga naik kelas 11. Kita kejar cita-cita kita bareng-bareng ya... Kamu harus berjuang sayang. Btw kamu mau jadi apa?"


"Sebenarnya, aku pengen jadi guru sejarah Indonesia. Tetapi, peluangku kecil karena anak IPA, jadi mungkin aku bakal ambil kedokteran—meskipun aku nggak pinter-pinter amat—hehehe."


Rafka mengangguk dan tersenyum sambil mencium telapak tangan Rumi. "Emang kamu bisa kimia sama fisika? Aku aja mata pelajaran itu sulit."


"Iya usaha dong, cuy gimana sih! Aku kali ini mengerti kenapa aku harus hidup dan bahagia in orang tuaku. Jadi, jika aku ada kesempatan buat hidup lagi. Aku nggak akan nyia-nyiain sekolahku dan waktuku."


Rafka mengerutkan dahinya. "Kok ngomong gitu? Kan kamu masih hidup? Udah jangan ngomong aneh-aneh sayang. Oh iya, aku mau menyanyikan sesuatu untuk kamu."[]


Ā  *

__ADS_1


Ā Ā 


__ADS_2