Why Does Rafka Hate Rumi?

Why Does Rafka Hate Rumi?
36. pengganggu


__ADS_3

Rumi hanya tersenyum saat Rama mengatakan itu. "Pakai kantong plastik?" Rama bertanya. Namun, Deya dan Jihan bingung sebab melihat seorang kasir mengatakan hal aneh kepada salah satu temannya.


Deya lalu mengangguk, karena terlalu lama akan terlalu canggung mereka berada di sini.


Jihan membuka ponsel lalu menanyakan sebuah kata sandi. "Password  Wi-Finya apa ya?"


Rama lalu meminta ponsel milik Jihan, setelah di kembalikan WI-FI sudah tersambung. Dengan terpaksa Rumi juga memberikan ponselnya. Karena Rumi yang terakhir, saat ia meminta ponselnya kembali, Rama mengajaknya mengobrol. "Gimana kabarmu? Lagi liburan ya?"


Wajah itu membuatnya muak, Rumi langsung menyambar ponselnya. "Kabarku baik sekali, sekarang aku udah punya pacar yang lebih, lebih, lebih baik dari kamu dulu."


Rama tertawa. "Aku nggak peduli kamu punya pacar atau nggak, karena kamu masih cantik banget untuk aku miliki lagi. Tenang aja tunggu beberapa hari lagi, aku akan pulang dan menganggu hidupmu lagi."


Rumi mengumpat dan langsung keluar dari lattemart. "BODO AMAT ANJING!"


Setibanya ia di depan dan ikut duduk bersama dengan teman-temannya, Jihan dan Deya menanyakan siapa orang aneh itu. "Orang di kasir itu siapa, Rum?"


"Mantan."


Setelah mendengar itu, Jihan dan Deya langsung bungkam.


***


Sepulang dari Bali, Rafka menjemput Rumi pagi-pagi buta, ini semua karena Ayah Rumi menyuruh Rafka untuk menjemput putrinya. Rumi langsung mengembalikan ponsel Rafka saat mereka sudah berada di rumah.


Ibu Rumi menyambut Rumi di depan, lalu menjemput Rafka untuk sarapan di rumah. "Ayo sarapan dulu, le." Rafka tidak menolak.


Di meja makan terdapat banyak sekali makanan. Lengkap pula dengan Ayahnya, Ibunya, adiknya, pacarnya dan dirinya yaitu Rumi. Rumi sepertinya sangat kelaparan, karena ia memakan banyak makanan. Ayahnya mengobrol dengan Rafka tentang masa depan Rafka, seperti kejadian Rumi dengan Ayah Rafka. Masa depan memang benar-benar penting untuk di bahas ketika bertemu calon mertua.


"Kamu mau lanjut kemana, le?"


"Sekolah kepolisian, pak."


"Wah, hebat ya. Semoga tercapai."


"Aamiin." Rumi tersenyum menatap Rafka yang ada di depannya.

__ADS_1


"Ayo dihabisin ya, leee..." Pinta ibu Rafka.


"Iya tante."


Seperti biasa, Rafka tidak langsung pulang. Ia berada di kamar Rumi untuk mengobrol. "Beli apa aja kamu, yang? Buat aku apa?"


"Aku takut, kalau aku beliin kamu baju, mitosnya nih, semakin sering kamu pake baju itu, kan jadi sering di cuci, nah cintanya ikut luntur entar. Kamu kan bilang nggak perlu beli apa-apa gimana sih."


Rafka tertawa. "Percaya gitu sama mitos? Masa sih nggak beli apa-apa?"


"Ini aku beliin daster, sama sarung buat Ibu sama Ayah kamu. Btw ini kembar sama orang tua aku." Rumi memberikan bungkus plastik kresek besar berisi 2 buah daster dan 2 buah sarung.


Rafka mencari-cari isi di tas Rumi. "Anying, aku beneran nggak di beliin apa-apa?" Rafka merasa sedih.


"Nah, ini." Rumi memberikan satu kotak kado. Kotak tersebut cukup besar.


Rafka menerimanya. "Apa ini?"


"SELAMAT ULANG TAHUN, Yeay." Rumi bertepuk tangan sendiri.


Rumi mengangguk. "Iya nggak apa-apa kali. Udah coba buka sekarang, nggak apa-apa. Ini udah aku siapin sebelum ke bali."


Rafka menggeleng. "Nggak, nanti aja di rumah. Aku malu hehe. Aku pulang aja deh, kamu lelah kan? Istirahat yaa..." Rafka berdiri, mencium kening Rumi.


"Tunggu-tunggu." Rumi berdiri di atas kasur membalik tubuh Rafka menghadap dirinya. Sedangkan, Rafka berdiri di lantai. "Nakalan tahu, kamu mulu yang cium kening aku." Rumi lalu mengecup singkat kening Rafka, lalu pipi kanan Rafka dan tak luput juga pipi kiri. Lengkap sudah.


***


Sepulangnya Rafka dari mengantarkan Rumi, ia langsung membuka kado yang di berikan oleh pacarnya ini. Rafka membukanya pelan, yang ia temukan pertama kali adalah surat. Surat itu dibungkus amplop pink, amplop itu bertuliskan 'Dari Rumi untuk Rafka'. "Ada ya amplop pink?" Tanyaya kepada diri sendiri.


Selamat ulang tahun Sayangkuh,


Rafka Gyatama Wardhana.


Semoga di berikan umur yang panjang agar selalu mencintaiku, semoga selalu bersemangat untuk menimba ilmu, semoga di berikan kemudahan dalam segala urusan kamu. Rafka, aku sayang kamu lebih dari apapun. Aku mohon jaga hati kamu, aku juga akan menjaga hati aku. Bila mungkin nanti kita akan di pisahkan lagi, aku harap kita di pertemukan lagi dengan cara yang indah.

__ADS_1


Aku sayang kamu, Rafka.


Seusai Rafka membacanya, ia menyimpan baik-baik surat itu. Ia mulai membuka kadonya. Kadonya berisi pigora foto mereka berdua, lalu album foto yang full mereka berdua. Kemudian, bagian paling bawah adalah Hoodie berwarna hitam bercorak salah satu YouTubers dari Indonesia yang nomor satu di Asia. Rafka tidak menyangka bahwa Rumi menyukai YouTubers yang satu ini.


Saat Rafka membukanya ada kertas kecil berwarna hijau, bertuliskan.


"Nanti malam jalan yuk? Pakai Hoodie ini ya... Emang sih nggak musim hujan, malah musim panas. Tapi nggak apa-apa pakai aja, masalahnya aku juga pakai wkwkwk:v"


Rafka tertawa saat membaca bagian paragraf terakhir. Padahal nantinya ia akan pergi mengajak Rumi, tapi ternyata Rumi mengajaknya duluan, ia akan megajak Rumi, menonton film. Sepertinya ide yang bagus.


Tidak lama setelah ia memandangi Hoodienya. Ponselnya berbunyi, ia ditelepon oleh nomor tidak dikenal.


"Hallo Rumi, gimana kabar kamu? Udah pulang? Btw, makasih yah udah baik ngasih nomor kamu. Hari rabu kan masuk nih buat gladi bersih acara graduation, kamu masuk kan? Gimana pas pulang kita jalan-jalan?"


Rafka mengepalkan tangan, berani-beraninya Rumi memberikan nomor telepon kepada cowok lain. Beruntung ini nomor telepon dirinya.


"Maaf, Rumi. Mungkin kamu bingung. Aku Guntur anak jurusan Sosial, mungkin lupa. Hey, ngomong dong?"


"Maaf karena saya sudah tidak sopan! Tapi, Rumi adalah pacar saya! Ponsel yang di bawa waktu itu adalah ponsel saya. Jika tidak terima silahkan cari saya Rafka kelas 11 Mia 2."


"Heh, wah, nantang ya? Ya abis pacar lo ngasih kode! Iya udah salah sendiri."


Rafka semakin geram. "Kode apa?"


"Buktinya di ngasih nomornya gitu aja, ya meskipun setiap gue minta foto dia pergi gitu aja sih. Emang apa enaknya pacaran sama adek kelas, paling elo cuma buat mainan sama dia."


"PUNYA MULUT TUH DI JAGA!"


"Woss, selow boss, lo punya berapa temen emang? Besok gue cari lo!"


"Silahkan, gue nggak takut sama sampah kayak lo!" Rafka langsung mematikan ponselnya. Ia benar-benar menjadi geram. Ia lemparkan ponselnya pada kasur, karena jika ia lemparkan di lantai akan rusak.


Rafka merasa pusing, ia memegang kepalanya sambil duduk menunduk. Ia menatap album di depannya, Rumi yang sedang tersenyum, bersama dengan dirinya. Kali ini, masalah muncul lagi karena kecerobohan Rumi. Lagi dan lagi ponselnya berbunyi. Itu adalah sebuah panggilan video. Kamera ia alihkan ke kamera belakang, lalu ia mengangkatnya. Ini lagi-lagi nomor tidak di kenal. Rafka menunggunya mengobrol. Cowok ini beda lagi.


"Hey Rum, masih inget aku kan? Ini liat kamu inget ini tempat apa? Ini kamar aku. Btw kamu nggak pengen kesini lagi? Entar kita main. Kamu nggak lupa janjiku bukan? Aku akan merusak dan menghancurkan hubungan kalian. Aku akan mendapatkan kamu lagi. Demi apapun aku menyesal telah menyia-nyiakan kamu yang nurut banget, demi cewek lain yang kalau di ajak main ngeyel banget."

__ADS_1


  *


__ADS_2