Wings & Dream

Wings & Dream
Posesif


__ADS_3

Satu jam sebelumnya...


Aku berjalan pulang bersama ketiga Fae itu. Matahari sudah digantikan oleh bulan, yang berarti aku sudah berada di Hutan Musim Dingin selama berjam-jam. Jalanan sudah jauh lebih sepi dibanding sebelumnya, dan lampu kerlap kerlip menyala dari dalam pondok melalui jendela. Tampak rumah yang terdapat beberapa meja yang tersusun rapi di luar. Mungkin itu semacam tempat makan.


Rio tetap tertawa ria. Fae itu sangat periang, dan ia memang suka memberi afeksi yang berlebihan kepada semua orang, salah satunya merangkul leherku, yang dilakukannya sekarang.


"Kau pendek sekali," katanya sambil tertawa. Aku memutar bola mataku, semakin menarik tudung agar bisa menyembunyikan wajahku. Tawanya langsung terhenti. "Omong-omong, aku belum melihat wajahmu dari dekat."


"Tidak akan terjadi," kataku sambil mempercepat langkah. Aku akhirnya bisa melihat pondok familiar dari kejauhan. Kami sudah hampir sampai.


"Jadi, kenapa kamu masih disini, Rio?" Tanya Kei tiba-tiba. Gadis itu berbalik badan dan memberi tatapan curiga. "Jangan bilang kau mau mengikuti Clara."


"Aku sebenarnya ingin melihat pria yang kau sukai itu," semburnya sambil tersenyum. Tapi aku bisa melihat kekesalan di matanya. "Pria yang bernama Zeyn itu, sudah lama sekali aku tidak melihatnya."


"Jangan macam-macam kau," Kei mulai melototinya. "Terakhir kali kau bertemu dengannya, kau hampir merusak pilar-pilar di Faedemy."


"Kei benar," Dain menggeleng-geleng. "Kau selalu lepas kendali setiap kali bertemu dengannya."


"Aduh," Rio menggaruk-garuk kepalanya karena frustasi. Ia lalu menghela napas karena resah. "Aku janji tidak akan macam-macam. Aku tidak akan lepas kendali dan menyerangnya dengan api."


"Api?" Tanyaku kebingungan. Rio tersenyum dan menaikkan dagunya. "Sihirku, sebagai seorang Fae Fire." Fae Fire? Pantas, sayapnya berwarna merah.


"Ha, pintar sekali kau," Kei tertawa, mengejek Rio. "Tidak akan menyerang dengan api, tapi cuma pakai tinjumu kan?"

__ADS_1


"Kau mengenalku sangat baik." Rio melipat tiga jarinya dan membentuk pistol, menembakkannya kepada Kei. Tanpa kusadari, aku tertawa karena tingkah lakunya.


Perjalanan sekarang terasa lebih enak dan tenang. Aku terus tertawa melihat perdebatan Rio dan Kei. Perasaanku langsung berubah 180 derajat saat kembali memasuki pondok dan mendapati Jon di ruang tamu.


***


"Jadi kau baru mengenalnya setengah hari?!" Hardik Jon kepadaku saat aku sudah berada di kamarnya. Setelah pengenalan singkat yang kemudian disusul oleh tatapan maut Clora dan ketidaktertarikan Rio, aku langsung menarik tangan Jon dan membawanya pergi jauh sebelum terjadi keributan antaranya dan Rio.


"Ya," jawabku singkat. Jon mendengus tak percaya. "Kau gila, Clara. Belum sehari dan sudah mendapat pacar baru...tak kusangka."


"Apa?!" Aku sontak berdiri. "Pa-pacar? Jon, aku-"


"Stop, Clara." Jon mengangkat tangannya, memotong pembicaraanku. Lelaki itu mengusap-ngusap wajahnya karena stres. "Aku tak mau mendengar alasan dari mulutmu lagi."


Aku ternganga. Lagi-lagi aku dibuat diam olehnya. Sebetulnya aku ingin menceritakan semua hal yang telah terjadi, terkait oleh kemampuanku dalam bermimpi, kemudian Fae jahat yang pernah melukainya.


"Clara!" Terdengar suara teriakan Rio. "Clara? Kau bisa kesini sebentar?"


Aduh, waktunya tidak tepat, batinku panik. Aku menoleh ke arah Jon, dan ia hanya mengawasiku dengan tajam. "Ayo, silahkan saja keluar," sarkasnya. Ia mengarahkan dagunya ke arah pintu. "Bilang padanya kalau kau tidak mau ia pergi. Mohon padanya kalau kau mau ditemani malam ini sampai kakimu lemas. Mungkin lebih asyik lagi kalau kau sampai tak bisa bangkit dari kasur."


"Jon..." aku bahkan tak sanggup mengeluarkan suara. "Kenapa kau berkata begitu?" Kataku dengan suara kecil. Tak pernah sekalipun aku melihatnya marah besar, kecuali waktu itu, saat aku mendapati ekspresi yang sama yang diarahkan ke Stef.


Stef, temanku yang masih berada di Ratterdam. Ia pasti panik karena tidak dapat menemukan keberadaan kami. Mungkin sekarang ia sudah melapor hal ini kepada polisi, dan poster-poster foto wajahku dan Jon pasti sudah tersebar.

__ADS_1


Mungkinkah mereka bertengkar karena hal yang sama? Mungkinkah Jon merasa cemburu dan salah paham, sama seperti yang kualami sekarang?


"Clara! Zeyn mau berbicara denganmu!" Teriak Rio lagi. "Cepat kembali sebelum aku ditendang keluar olehnya!"


"Zeyn?" Jon tertawa tanpa rasa humor. "Wah, Clara. Kau menang banyak hari ini." Kemudian ia merebahkan diri di kasur dan memejamkan matanya. "Sebenarnya aku mau mengajakmu pulang, Clara. Gadis seksi berambut hitam itu sudah mengizinkanku. Tapi kalau kamu menolak..." Jon melirikku. "Mungkin aku bisa belajar hidup disini sepertimu. Mencari gadis-gadis Fae berdada besar yang akan kutiduri."


"Cukup," aku sudah muak mendengar perkataannya. Hatiku sudah ditancap berkali-kali, dan rasanya sangat menyakitkan. "Kau sudah salah paham. Aku tidak akan pernah-"


"Apa? Mengkhianatiku?" Jon lagi-lagi tertawa. Tawanya lenyap dan kemudian pupil matanya membesar. Ia mengamati telinga palsuku, kemudian menelan bentuk tubuhku dari atas sampai bawah. Biasanya aku akan terjatuh oleh tatapan laparnya, namun kali ini rasanya lain. "Kalau begitu buktikan cintamu kepadaku. Lepaskan bajumu."


"Tidak!" Aku langsung menolak tanpa berpikir. "Kita belum pernah melakukan hal itu, Jon! Aku tidak mau kehilangan kesucianku!"


"Sungguh polos dirimu ini," Jon menjilat bibirnya sendiri. Dalam sekejap ia sudah menyentuh pinggulku. "Aku sudah beri kamu kesempatan, dan kau sudah membuangnya." Suara gedebuk keras mengisi ruangan. Tubuhku sudah menghantam dinding, dan rasa sakit tak tertahankan mulai terasa pada punggungku. Tak lama tangan Jon sudah berada di leherku.


"Ukh! Jon! Aku-" Aku berusaha melepas cengkeramannya, namun ia terlalu kuat untukku. "Kau pembohong, Clara. Aku sudah mencoba untuk sabar, namun kau hanya-"


Pintu kamar tiba-tiba didobrak, dan aku melihat Zeyn yang sedang merentangkan kedua tangannya. Matanya terbelalak saat ia melihatku terpojok di dinding. Ia menggerakkan lengannya, dan tubuh Jon langsung terpental, dihantam oleh angin keras ciptaannya.


"Clara! Apa kau baik-baik saja?!" Zeyn langsung mengecek kondisiku, sama sekali tidak memperdulikan Jon. Tersirat ekspresi khawatir di sana. "Apa yang sudah ia lakukan kepadamu?!"


"Bukan apa-apa," kataku sambil mengatur pernapasanku. Tenggorokanku tercekat, namun aku menyembunyikan rasa sakitku. "Kami hanya bertengkar biasa."


Zeyn tidak memercayai ucapanku, ia hanya terdiam. Kemudian diboponglah tubuhku ke luar kamar. Saat aku menoleh untuk melihat kondisi Jon, Zeyn langsung membanting pintu kamar menggunakan sihirnya, lalu terdengar bunyi klik pada gagang pintu.

__ADS_1


Aku hendak memprotes, namun ia sudah berkata duluan. "Biarkan dia di dalam. Jangan coba-coba masuk lagi."


Biasanya aku akan menyangkal. Biarpun begitu, aku ini teman terdekatnya. Tapi sebuah bisikan di telingaku berkata hal lain. Kamu tidak lagi memiliki perasaan yang sama terhadap Jon, Clara.


__ADS_2