
Hari sudah tengah malam, namun aku masih belum tidur. Zeyn memaksaku untuk menceritakan apa yang sudah terjadi. Karena tatapan khawatir dari semua orang lah, akhirnya aku mengangkat bicara.
"Jon telah salah paham dan mengira bahwa aku..." Aku hampir terceguk saat melirik Rio. Lelaki itu sepertinya mengerti maksudku. Lagipula, semua orang disini pasti mengerti hubunganku dengan Jon.
"Apa?" Tanya Clora tak sabaran. Mengikuti arah lirikanku, ia tertawa tak percaya. "Kamu? Dengan Rio? Mustahil."
"Diam, Clora," kata Kei, yang dibalas dengan tatapan tajam Clora. "Huh!" Clora menyilangkan tangannya. "Ini gak penting, Zeyn! Cuma masalah rumit hubungan manusia!"
"Tapi aku perlu mengetahuinya." Tak kusangka, Zeyn justru membelaku. "Kalau kau segitu bencinya dengan manusia, kusarankan agar kau tetap menutup mulutmu."
Ekspresi Clora langsung berubah. Gadis itu jelas tak menyangka akan mendapat perlakuan tak menyenangkan seperti itu. Aku melihat tangannya yang mulai gemetar. "Aku..." Ia bangkit berdiri, dan tanpa mengatakan apa-apa lagi langsung pergi meninggalkan ruang tamu.
"Dan kalian," Zeyn berganti pandangan ke arah Rio dan Dain. "Ini sudah pukul berapa? Kalian mau bermalam disini?"
Rio melepas pandangannya dariku, kemudian beranjak dari sofa. "Huh! Kalau kau tak mau melihatku, tinggal bilang saja." Kemudian, ia sudah menarik tangan kakaknya. Tak lama, terciptalah keheningan diantara kami bertiga.
"Kei, kau sudah bisa pergi dari sini," bisik Zeyn dengan halus. Pria itu lagi-lagi melempar senyuman ke arahku. "Aku harus berbicara empat mata dengan Clara."
"Baik," Kei membungkuk sedikit tanda hormat, kemudian memberikanku senyuman tanda semangat.
Entah apa yang mau dibicarakan. Zeyn hanya menatapku lekat-lekat, membuatku semakin gugup dan bermandikan keringat. Apakah aku seharusnya tak boleh keluar dari pondok? Atau apakah ia marah kepadaku karena sudah pulang terlalu malam? Aku lalu berpikir bahwa itu ide yang konyol. Zeyn kan, bukan nenekku. Ia tak akan melarangku karena sudah pulang malam.
"Santai saja," katanya sambil menuangkan teh yang sudah disajikan di meja, kemudian ia memberikannya kepadaku. "Teh kembang. Bagus untuk kesehatan."
"Maksudmu, kesehatan manusia?" Kataku sambil menyeruput teh itu. Aku langsung tersedak karena ternyata teh itu masih panas. Zeyn sudah berada di belakangku, kemudian menepuk-nepuk punggungku. "Pelan-pelan. Tehnya masih panas."
"Ukh," aku benar-benar merasa bodoh. Tiba-tiba kepala Zeyn sudah berada sangat dekat denganku. Aku mematung, tidak habis berpikir. Untungnya ia hanya bermaksud untuk meniupkan tehku dengan angin dari mulutnya.
"Umm..." Ini benar-benar situasi yang aneh. "Tidak apa-apa, Zeyn. Sebenarnya aku bisa meniupkannya sendiri."
__ADS_1
Zeyn tersenyum lagi. "Aku harus melakukan itu, agar tehnya tidak lagi panas." Pipiku merona. Zeyn membuka telapak tangannya, kemudian sulur-sulur angin mulai tercipta, meniupkan poni rambutku. "Hanya sihir Ventus yang mampu melakukan itu."
"Oh," balasku sambil menundukkan kepala, menghindari tatapan bola matanya. Dalam hati, aku berharap agar ia segera menyadari tindakannya. Mukanya berada sangat dekat denganku, sampai-sampai aku bisa merasakan napasnya.
Seolah-olah bisa membaca pikiranku, Zeyn langsung berdeham dan kembali duduk ke tempatnya semula. "Jadi ada yang mau kutanyakan kepadamu."
"Apakah ini tentang..."
"Ya, tentang apa yang sudah kau lakukan bersama teman-teman Kei."
Aku menelan ludah. Lelaki di hadapanku ini sudah seperti bapak-bapak kepala sekolahku. Ini juga membuatku teringat dengan wawancaraku dengan Bu Lucy. Bagaimana aku dibuat ketakutan setengah mati.
"Mereka mengajakku untuk berburu Krilie," jawabku dengan jujur. Zeyn langsung terbelalak. "Krilie?! Buat apa?!"
"Kata Rio, sayap mereka bisa dijual dengan harga tinggi."
"Tapi kamu cuma manusia!" Zeyn menepuk meja sangat keras, sampai angin menghantam wajahku. "Itu berbahaya! Kau bisa mati!"
"Jadi kau yang melacaknya?!" Zeyn geleng-geleng kepala. "Ini tak bisa diterima. Kau bahkan tak memiliki bakat kemampuan seperti Fae, kenapa mereka-" Zeyn tak melanjutkan ucapannya. Aku hanya terus menunduk.
"Ini pasti ada kaitannya dengan kemampuan meramalmu," bisiknya. Bulu kudukku mulai naik saat mendengar suara beratnya. Aku mengangguk perlahan.
"Gak boleh," Zeyn meremas jubah panjangnya. "Tak boleh lagi ada Fae yang mengetahui kemampuanmu."
Sontak aku mengangkat kepala. "Ma-maksudmu?"
"Ini berbahaya, Clara." Zeyn masih menatapku tajam. "Apa kau sudah lupa dengan Chrys? Apa yang sudah diperbuat olehnya agar bisa menculikmu? Temanmu pun sampai terluka. Kau ini sangat rentan untuk diserang, Clara."
Tentu saja aku tidak lupa dengan Fae jahat itu. "Kalau begitu, kau tidak akan mengizinkanku untuk ke-keluar rumah?"
__ADS_1
Zeyn mengatupkan bibirnya. Ekspresinya kali ini tak terbaca. "Aku harap kau bisa memahamiku, Clara," katanya dengan suara lembut. Ia menghampiriku, dan menyentuh pipiku dengan jemarinya yang kasar. Aku terbelalak. "Aku tidak akan membebanimu."
Apa maksudnya? Jadi aku ditahan di pondok ini? Aku membuka mulut dan hendak menanyakan pertanyaan tersebut, namun jari Zeyn sudah ditempelkan ke bibirku.
"Tentu saja tidak." Zeyn tersenyum manis. Ini membuat wajahnya semakin tampan. "Kau bebas kemana saja, asal menutupi identitasmu."
Syukurlah. Aku menghela napas lega, namun Zeyn ternyata belum selesai berbicara. "Asal aku harus tetap disisimu dan mengawalmu."
"Mengawal?!" Kataku setengah berteriak. Zeyn berjalan menjauhiku, dengan kedua tangan di belakang punggungnya. "Iya, mengawal. Aku akan pastikan kau terlindungi, dan agar tidak ada lagi Fae yang mengetahui rahasiamu."
***
Malam itu, aku tak bisa tidur. Aku terus menatap langit-langit kamarku. Apakah aku sudah membuat keputusan yang tepat saat aku bertemu dengan para Fae ini? Apakah hidupku akan bahagia?
Aku membalikkan tubuhku ke samping, dan menaruh kedua tanganku di bawah pipi. Perkataan Zeyn masih terngiang-ngiang dalam pikiranku.
Zeyn akan mengawalku, artinya aku akan diikuti kemanapun aku pergi.
Sebenarnya kenapa ia sangat memperdulikanku? Kenapa aku ini diperlakukan spesial olehnya?
Kepalaku sudah terasa pusing. Batinku sudah lelah, namun fisikku berkata lain. Aku memejamkan mata, menunggu sampai mimpi datang kembali dan aku bisa terlelap.
"Nenek..." bisikku. "Aku rindu."
Malam itu, aku kembali bermimpi. Bukan mimpi tentang Chrys, tiada satupun mimpi terkait dengan Fae. Hanya mimpi biasa, mimpi yang pernah dialami oleh manusia normal.
Mimpi dimana kamu bisa bertemu dengan orang-orang yang kamu cintai, tanpa takut merasa kehilangan. Mimpi dimana segala sesuatunya dapat terjadi, termasuk bertemu kembali dengan Nenek.
"Jangan bersedih, nak," bisik Nenek sambil membelai rambutku. "Sebentar lagi, kau akan dipertemukan kembali."
__ADS_1
"Dipertemukan? Dengan siapa?" Aku menatap wajah Nenek. Wajah yang tampak bersinar. Tidak ada tanda keriput, yang ada hanyalah wajah bersih seorang wanita muda.
"Dengan orang yang akan sangat mencintaimu," bisiknya lagi. "Dia sudah pernah muncul di hadapanmu, namun kau belum mengenalnya."