Wings & Dream

Wings & Dream
Fragmen Memori


__ADS_3

Peri-peri kecil bersayap capung ini adalah Krilie. Mereka terus mengusikku, mengisi pikiranku dengan halusinasi suara bisikan mereka.


"Jangan takut, kami hanya ingin menyentuhmu," kata salah satu dari mereka. Aku tak mengerti. Kei ataupun Rio tak pernah memperingatiku akan bahaya jika bertemu dengan mereka. Aku juga tidak tahu apa yang harus kulakukan saat bertemu dengan mereka.


Apa aku harus menangkap salah satunya? Rio berkata bahwa kita memburu mereka untuk sayap-sayap indahnya. Mungkin aku bisa menculik salah satu dari mereka, atau-


"Dasar! Manusia memang makhluk egois!" Salah satu monster itu terbang ke arahku. Sayapnya hampir membutakan mataku. Aku mengumpat karena lupa mereka bisa membaca pikiranku.


"Inilah kenapa kami benci dengan manusia."


"Makhluk bodoh!"


"Aaa!!" Aku berteriak, sambil melindungi mataku dengan tangan. Lenganku jadi tergores karena sayap mereka.


Bagaimana ini? Jangankan menangkap tubuh kecil mereka. Pandanganku sudah terhalang dan aku kehilangan arah. Meskipun ini hanya mimpi, aku tidak tahu kapan lagi aku akan terbangun.


Tiba-tiba suara siulan terdengar dari atas. Aku bersusah payah menengadah dan terkesiap saat melihat Zeyn.


Pria itu sudah membawa busurnya, dan ia segera mengarahkannya ke belakangku. Saking cepatnya panah terbang, aku tak sempat menoleh untuk melihatnya. Makhluk kecil itu berteriak sangat nyaring, kemudian sudah terpental ke tanah.


Aku menumpukan tanganku ke lutut, sambil mengatur napas. Beberapa diantara mereka sudah tumbang karena panah yang mendarat sempurna.


Saat napasku sudah kembali normal, aku menoleh kembali ke arah Zeyn. Namun aku sudah tidak lagi melihatnya. Angin meniup rambutku. Rasanya yang tadi itu hanya halusinasiku saja.


Apa aku masih berhalusinasi? Entah kenapa aku menatap kedua telapak tanganku. Pandanganku tidak buram dan masih jelas.


Suara semilir angin membuyarkan konsentrasiku. Tiba-tiba perasaan familiar kembali muncul. Kepalaku sakit berat, dan otot-otot tubuhku tertarik, seperti diangkat oleh angin topan.


"Tidak," bisikku. Aku akan segera terbangun, pikirku tersadar. Tapi aku belum sempat menemukan Fae yang mirip sekali dengan Zeyn itu.


Tak mampu menahan rasa sakit, aku jatuh berlutut ke tanah, masih memegangi kepalaku yang berdenging. Aku tak bisa melihat apa-apa selain cahaya yang begitu terang. Sekuat tenaga, aku memaksakan diriku dan merentangkan tanganku, meraba-raba tanah sampai akhirnya aku menggenggam salah satu tubuh makhluk itu.


Tak lama, aku sudah terbangun ke dunia nyata.


***

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja?"


Aku membuka mata perlahan dan melihat bayangan Kei. "Iya," suara yang keluar dari tenggorokanku terasa asing didengar.


"Ini, minumlah." Kei menyodorkanku sebotol air bersih, dan aku buru-buru merebutnya dan meminumnya. Aku mendesah lega saat tenggorokanku tidak lagi kering.


"Jadi..." Rio menatapku dengan khawatir di sampingku. Ia sudah membawa semacam kain dan membantuku mengeringkan wajahku karena keringat. "Mimpi apa kau?"


"Aku..." Aku memutar otak dan memejamkan mata, memaksakan diriku untuk mengingat. Namun aku tak dapat mengingat apa-apa.


"Gak usah dipaksakan." Kei tersenyum. "Yang penting kau kembali dengan selamat."


"Kembali dengan selamat?" Aku hampir menyemburkan air di dalam mulut. "Memangnya aku pergi kemana?"


"Bukan itu maksudku!" Kei menahan kedua bahuku. "Setiap kali kau tertidur, kau akan kembali lagi seperti kepiting rebus."


"Mungkin aku sedang kepanasan. Atau aku sudah bermimpi mandi di dalam ketel beruap."


"Kau tahu bukan itu maksud Kei," desah Rio. "Baiklah, karena waktu kita sudah habis dan salju sudah mereda, kita sebaiknya melanjutkan perjalanan kita."


"Aku dan Kei sudah membahasnya saat kau tertidur," jawabnya sambil menyilangkan tangan. "Kita harus menggunakan cara lama."


"Cara lama? Apa itu?" Aku menggaruk-garuk kepala, masih tidak mengerti atas penjelasannya.


"Biasanya aku yang melacak mereka saat kami berburu Krilie," balas Rio dengan santai dan tanpa ragu. "Kita tinggal ikuti jejak bunga. Mereka suka berkumpul diantara hamparan bunga."


Aku mengangguk mengerti. Ternyata Rio memang sudah pernah memberitahuku bahwa mereka menyukai bunga. Entah kenapa ingatanku kembali muncul.


Tunggu. Memangnya aku pernah melupakan ucapan Rio ya?


Tanpa kusadari, aku memegang kepalaku yang kembali berdenyut-denyut.


Apa ini? Apa yang sudah kulupakan, dan apa yang sudah kuingat kembali? Aku tak bisa membedakannya.


"Clara? Ada apa?" Kei sudah melingkarkan lenganku ke lehernya, sedangkan Rio juga membantu menopang tubuhku. "Kau butuh istirahat. Jangan paksakan dirimu."

__ADS_1


"Iya," aku mengangguk, namun keringat masih bercucuran dari dahiku. Otakku semakin memanas. Rasanya seperti aku ingin menangis. Aku tak bisa berpikir jernih lagi.


Kami terus melanjutkan perjalanan. Aku sudah tak memerhatikan kemana teman-temanku membawaku, karena aku sibuk berdebat dengan diri sendiri.


Krilie itu pencuri bunga. Aku ingat Rio pernah mengatakannya kepadaku. Kita tinggal ikuti jejak bunga untuk menemukan sarang mereka.


Aku terkesiap dan tiba-tiba saja sudah terhuyung.


"Clara!" Kei menggerak-gerakkan tubuhku, namun aku masih melawan dengan pikiranku sendiri.


"Clara!" Terdengar suara teriakan seseorang. Aku tak perlu menoleh untuk melihat siapa itu. Zeyn sudah menghampiriku, dan menaruh punggung tangannya pada keningku.


"Kita harus hentikan perburuan ini. Bawa dia kembali ke pondok."


"Tidak, aku...masih...bisa-"


"Kau mau mati, ya?!" Teriakan Zeyn menggelegar, membuatku merinding ketakutan. "Mukamu sudah sangat pucat! Aku akan membawamu pulang, tak peduli kalau kau menolak atau tidak!"


"Zeyn, biar aku saja-"


"Diam, Rio!" Zeyn menghunuskan tangannya ke arah lelaki itu, dan angin tercipta, membuat tubuhnya terpental beberapa meter ke belakang.


"Rio!" Kei sudah berlari menghampirinya. "Apa yang kau-"


"Kalian lihat apa yang sudah kalian perbuat kepadanya?!" Zeyn sudah mengangkat tubuhku dengan kedua lengannya yang besar. "Mulai hari ini, jangan sekalipun bertemu dengannya!"


Aku masih terdiam, dan mengedipkan mataku berkali-kali agar pandanganku bisa kembali fokus. "Zeyn... ja...ngan-"


Tanganku terlepas dari cengkeraman jubahnya.


"Clara!"


Aku tak mendengar apa-apa lagi pada saat itu. Tepat sebelum kegelapan benar-benar menghancurkan diriku dan menelan batinku secara total, aku dapat merasakan tanganku yang berkedut-kedut.


Telapak tangan kiriku.

__ADS_1


Aku menutup jari-jariku dan merasakan bobot tubuh Krilie di telapak tangan kiriku.


__ADS_2