
Zeyn memasuki kamarku dengan ekspresi girangnya seperti biasa. Aku sampai harus pura-pura tersenyum. Jangan sampai ia melihat buku itu! Batinku.
"Jadi, sudah tidur nyenyak?"
"Eum, iya," jawabku dengan nada normal. Sekarang ia hanya menatapku lekat-lekat, dan aku tiba-tiba berkeringat dingin.
Apakah ia mengingat saat kemarin? Atau ia sudah terbiasa melakukan itu dengan banyak wanita?
"Clara," ia memegangi tanganku. "Kau harus tahu, bahwa di saat itu, aku benar-benar serius."
Rupanya ia bisa membaca pikiranku. Aku mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
"Omong-omong, Zeyn..."
"Ya?"
Haruskah aku menanyainya? Bagaimana hubungannya sekarang dengan Clora? Tapi itu bisa merusak segalanya.
Seseorang tiba-tiba memasuki kamarku, dan aku terbelalak saat melihat Clora. Tak biasanya ia akan mengunjungiku dan memasuki kamarku seenaknya.
Langkah kakinya terhenti saat melihat tangan kami yang saling menyentuh. Raut wajahnya berubah drastis. Ia sampai mengepalkan tangannya dan menatapku penuh kebencian.
Zeyn bahkan tidak memperdulikannya. Ia hanya melepaskan tanganku dengan lembut, kemudian menoleh ke arahnya. "Clora? Ada apa?"
"Bu-bukan apa-apa." Sedetik kemudian, ia sudah keluar dari ruangan.
Aku melongo. "Zeyn, sebenarnya..."
"Apakah ini tentang Clora? Karena aku tak mau membahasnya." Ia sudah bangkit berdiri, kemudian menaruh kedua tangannya di belakang punggung.
Aku susah payah menelan ludah. Apa yang harus kukatakan padanya sebenarnya? Aku bahkan masih tidak memahami perasaanku padanya.
Aku tak ingin membohonginya dan memberi harapan palsu.
"Tapi aku perlu tahu. Hubunganmu dengannya."
"Sudah kukatakan sebelumnya, aku tak mau membahasnya."
Aku bangkit berdiri. Entah kenapa emosiku mulai tak stabil. Apa aku mengasihani Clora? Sepertinya iya.
"Mau kemana kau?" Zeyn sudah menaruh salah satu pajangan di meja, kemudian segera menyusulku.
"Ke kamar mandi. Jangan ikuti aku." Tanpa membalikkan badan, aku terus berjalan.
***
Setelah bermenit-menit mencarinya aku malah mendapati Clora di kamar Jon. Dengan muka heran aku menyelonong masuk.
__ADS_1
Jon langsung mengangkat kepalanya. "Siapa di pintu?"
"Clara?!" Clora sudah menghampiriku. "Mau apa kau kesini? Apa kau ingin menertawakanku karena sudah berhasil merebut Zeyn dariku?!"
"Clora, aku memahami perasaanmu," kataku dengan rasa bersalah. "Percayalah, aku tidak bermaksud untuk-"
"Keluar." Katanya dengan tegas. "Aku benar-benar muak denganmu."
"Kau sungguh ingin mengusir Clara dari kamarku?" Kata Jon dari belakang.
"Memangnya kenapa?!" Kata gadis itu setengah berteriak. Mukanya sampai memerah saking kesalnya. Ia menarik-narik rambutnya sendiri. "Aku akan mengaku, oke? Kau menang, Clara. Kau sudah menang, dasar manusia j*lang."
Rasanya bagaikan tersambar petir. Aku tak mampu berkata-kata.
"Clora."
Tubuhku terpental karena angin. Gadis itu kemudian menggerakkan tangannya lagi, membuat leherku tercekik. Rasanya seperti tidak ada oksigen yang mengalir di tenggorokanku.
"Clara!" Zeyn menghampiriku, kemudian menyerang balik Clora. Gadis malang itu mendapat perilaku yang jauh lebih tak mengenakan. Tubuhnya sampai mengenai kaca jendela, mengakibatkannya retak.
"Hei, hei! Jangan bertengkar disini!" Jon sudah berusaha berdiri, namun karena matanya tak mampu melihat apa-apa, ia malah merangkak di lantai.
"Clara." Zeyn sudah menghampiriku. "Apa kau baik-baik sa-"
"Jangan sentuh aku, Zeyn." Aku menepis tangannya, kemudian bangkit berdiri tanpa bantuannya. Tanpa memperdulikannya, aku berlari ke arah Clora.
Tanpa memperdulikan kata-kata ancamannya, aku membantunya berdiri. Ia sampai mencakar wajahku, tapi aku tak mau melihat temanku sendiri dengan kondisi yang seperti ini.
"Apa yang kau lakukan, Clara?" Tanya Zeyn yang sudah menghampiri kami.
"Kalau kau gak mau membantu, diam saja," balasku sambil melotot.
"Dan satu hal lagi," lanjutku saat aku sudah memapah Clora. "Jangan suka gunakan sihirmu untuk menyerang orang lain. Aku benci melihatnya."
***
Clora dirawat di ruangan yang sama dengan Rio. Pria itu masih terlelap, mungkin karena efek sihir Healer. Saat wanita penyembuh itu sibuk merawat Clora, aku malah menghampirinya.
"Rio." Aku membenarkan rambut hitamnya yang menusuk mata. Ia terlihat seperti anak polos saat tertidur. "Kau harus bangun. Aku perlu mendapat penjelasan darimu."
Pria itu bernapas dengan sangat pelan.
Aku mendesah. "Maafkan aku, Rio, karena tak mampu menyelamatkan kakakmu." Aku lalu bangkit berdiri dan hendak memutarkan badan saat melihat pria itu.
Deg! Di sudut ruangan. Pria berjubah hitam. Pria misterius yang selalu muncul dimana-mana.
"Clara!" Seseorang memanggilku. Aku berkedip dan pria misterius itu sudah menghilang.
__ADS_1
"Bantu aku rawat dia," kata Sana sebelum pergi meninggalkan ruangan.
Akhirnya aku terpaksa menemani Clora. Punggung gadis itu sekarang berbalut kain putih. Sayapnya terbungkus total.
Keheningan tercipta diantara kami. Akhirnya ia mulai mengangkat bicara dengan suara serak.
"Kenapa... kau membantuku?"
"Tentu saja. Aku tak akan membiarkanmu mati."
Ia hanya menatap kosong ke arah jendela.
"Clora," kataku lagi. "Bisakah kita membicarakannya baik-baik?" Karena kita selalu bertengkar.
"Apa yang mau dibicarakan?" Kali ini ia tidak meninggikan suaranya. Ia hanya merasa lelah, aku tahu itu. "Dia tidak menyukaiku. Seharusnya aku menyadarinya lebih awal."
"Aku benar-benar minta maaf. Seharusnya aku mengerti."
Ia menggeleng-geleng. Sepertinya ia sudah bosan untuk menyerangku. "Waktu itu, aku sudah menyatakan perasaanku padanya."
"Dan?"
"Dan ia berkata sudah menyukaiku sejak dulu."
"Artinya ia menerimamu." Tapi kenapa ia berbuat seperti itu kepadaku? Sebenarnya apa maunya?
Clora mengernyitkan dahinya. "Clara... kau. Apa yang sudah kau lakukan dengannya kemarin?"
Jantungku mulai bekerja tak normal. Ini seperti tertangkap sedang berduaan bersama kekasih. "Bukan apa-apa."
Ia menangkap pergelangan tanganku. "Kalian... sudah-"
"Ya."
Matanya kembali memancarkan amarah. Kali ini aku tidak menghalanginya untuk menyerangku, tapi ia hanya melepaskan tanganku begitu saja.
"Hati-hati Clara." Ia malah menasehatiku.
"Maksudnya?"
"Zeyn." Clora mulai menyadari sesuatu. Ia lalu menggeleng-geleng dan bergumam sendiri.
"Clora, ada apa?!" Aku menaruh punggung tanganku di dahinya. Hangat.
"Kau harus beristirahat-"
"Clara." Ia mencengkeram tanganku. Di matanya sekarang terpancar ketakutan. Belum pernah aku melihatnya seperti itu.
__ADS_1
"Bawa temanmu pergi dari sini secepatnya."