Wings & Dream

Wings & Dream
Ch.23 - Bahaya


__ADS_3

"Aihh!!"


Berkat jeritanku, burung-burung yang semula hinggap di dahan pohon jadi beterbangan. Pasalnya sekarang ini aku sedang sial. Kakiku tersandung batu dan sekarang wajahku jadi kotor karena lumpur.


"Uhh!!" Aku menggunakan sikuku untuk bangkit, kemudian merapikan rambutku yang berantakan. Masih sambil memejamkan mata, aku bisa merasakan lumpur yang lengket di wajahku.


"Kamu kenapa sih?" Gumamku kesal. "Padahal kau sudah terbiasa tinggal di tengah hutan. Kenapa malah jatuh?"


Kkak! Kkakk! Aku dikejutkan oleh suara koakan burung gagak di atas sana. Alhasil siku tangan serta lututku jadi nyeri. Aku meringis kesakitan.


Sudah berjam-jam aku kehilangan arah. Seharusnya aku berpikir dua kali saat mau kabur dari Chrys.


Sepertinya lebih baik ditahan di ruangan gelap itu dibanding tersesat di alam liar.


Nenek tentu pernah mengajarkanku cara bertahan hidup di alam liar. Aku sudah sering berkemah di hutan, karena Desa Norlata memang terletak dekat sekali dengan hutan.


"Lapar..." Gumamku sambil mengusap-ngusap perut. Aku berjalan dengan pincang, sementara tangan kananku menahan pinggangku yang masih belum sembuh. Aku sudah seperti Nenek-nenek saja.


Nenek. Dimana kau? Sudah lama aku tak melihatmu.


Terakhir kali aku melihatnya dalam mimpi. Hanya mimpi biasa, bukan mimpi fantastis yang sampai bisa melihat masa depan. Aku masih ingat pesan Nenek kepadaku, yaitu kehadiran seseorang yang akan sangat mencintaiku.


Apa orang yang dimaksud adalah Zeyn?

__ADS_1


Tapi itu mustahil, aku menggeleng-geleng. Rasanya seperti aku sudah dikhianati. Ia penyebab aku terpisah dengan Jon. Ia juga yang mengekangku, dan memperlakukanku seolah-olah aku ini barang berharga miliknya.


Benar. Setelah kupikirkan, itu bukan bentuk cinta yang mau kudapatkan. Pria macam apa yang tega mengikat kekasihnya sendiri, sampai nyaris melukainya? Dia juga pria yang sama yang sudah mematahkan hati temanku, yaitu Clora.


Lalu ada Rio. Aku sekarang mulai mengerti kenapa pria itu membenci Zeyn. Rupanya ia adalah pria bermuka dua.


Tapi bagaimana kalau aku salah? Pikirku. Kau gak boleh menghakimi orang lain berdasarkan pemikiranmu sendiri. Bisa saja kau salah, Clara.


Suara ranting pohon membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke sumber suara, namun masih tak melihat siapa-siapa.


Apa Chrys sudah menemukanku? Pikirku panik.


Pepohonan lebat tiba-tiba bergoyangan. Padahal angin tidak sedang bertiup. Tak lama, aku merasakan getaran pada tanah. Aku terkesiap dan kehilangan keseimbangan.


"Manusia! Manusia!" Aku mendengar suara teriakan seorang perempuan. "Teman-teman, lihat!"


Oh tidak. Aku lupa kalau aku ini incaran para Fae. Karena aku tidak lagi berada dalam jangkauan Zeyn ataupun Chrys, aku malah semakin membahayakan diri sendiri.


"Oh! Dia bukannya gadis itu?" Bisik temannya. Saat aku ingin melarikan diri, aku sudah terkepung. Aku melihat tiga Fae, dan semuanya masih sangat muda.


"Hehe." Salah satu laki-laki sudah menodongkan pisau tajam ke arahku. "Rupanya kita tak sia-sia berburu di Hutan Greensia, meskipun kita tak berhasil mendapatkan setidaknya tanduk rusa."


"Benar, benar!" Timpal teman gadisnya.

__ADS_1


"Hei!" Yang satu malah memarahi kedua temannya. "Kalian ini! Sudah kubilang, kita tak boleh berburu hewan Fae! Kalian mau dijatuhkan hukuman?!"


"Peraturan dibuat untuk dilanggar," kata lelaki itu lagi. "Jangan sok alim. Kalian berdua, cepat tangkap dia."


Secepat kilat, kedua tanganku sudah ditahan.


"Lepaskan aku, dasar bocah-bocah bandel!"


"Apa katamu?!" Plaakk!!


"Kau hanya makhluk kotor! Kau tak pantas berucap demikian!"


Ya ampun. Apa aku baru saja dihina oleh anak-anak?


Lelaki tadi yang paling nakal kembali memainkan pisaunya. Aku tahu apa yang mau diperbuatnya. Aku malah semakin panik saat menyadari ia memiliki sayap hitam.


Hitam?! Dia Fae apa?!


"Bingung, ya?" Tak sampai sedetik, lenganku sudah dihunuskan oleh pisaunya. Darah keburu menetes keluar sebelum aku sempat berkedip.


Kepalaku tiba-tiba berkunang. Oh, sensasi apa ini? Aku menutup luka lebar pada lenganku, kemudian terbelalak saat melihat cairan aneh berwarna hitam.


"Ka...lian...te...ga..."

__ADS_1


Bruukk!! Aku jatuh pingsan karena teracuni.


__ADS_2