
Bagaimana caranya mereka semua tahu, bahwa ia memiliki perasaan dengan Zeyn? Padahal Clora yakin sudah menyembunyikannya dengan baik. Ditambah sifat naturalnya yaitu pemarah, seharusnya tidak akan ada yang bisa menebaknya.
Dan sekarang di hadapannya, Kei menyuruhnya untuk menghampiri Zeyn dan menyatakan cinta. Pria itu sedang bersedih karena gadis manusia yang bernama Clara itu tak kunjung siuman.
"Kau gila ya, Kei?" Clora menggeleng-geleng kepalanya. "Aku gak akan melakukannya," gumamnya agak ragu.
"Yahh," Kei mendesah. "Ayolah, Clora. Apa ini semenjak kau menjadi anggota kelompoknya? Atau semenjak ada kehadiran dua manusia itu?"
Dua-duanya salah. Sebenarnya Clora sudah menaruh perasaan saat ia pertama bertemu dengan Zeyn. Bukan saat ia memasuki kelompoknya, namun saat ia masih menjadi murid di sekolah khusus kaum Fae, yaitu Faedemy.
Setiap Fae yang baru lahir tidak bisa langsung menggunakan sayapnya. Seperti burung, mereka harus dilatih, baru bisa terbang secara mandiri. Tak sampai disana, masing-masing Fae harus mencari bakatnya sendiri.
Fae seperti dirinya, Kei, dan Zeyn, adalah golongan pemanggil alam, yaitu angin. Mereka masing-masing mendapat warna abu pada sayap mereka setelah mereka lulus menjalani semacam ujian di Faedemy.
Zeyn adalah pria yang berhasil mendapat warna pada sayapnya di usia yang masih sangat muda. Ia sangat cerdas dan terampil, maka ia dipercaya sebagai Ketua Ventus.
Sedangkan Kei, temannya sendiri, baru mendapat warna sayap tahun lalu. Itulah sebabnya ia telat masuk ke dalam kelompok Zeyn. Mereka bahkan baru saling mengenal sebelum pergi ke wilayah manusia dan mencari Clara.
Clara. Setiap kali nama itu muncul di pikirannya, semakin bertambah bencinya ia dengan kaum manusia. Dan sekarang, gadis itu malah semakin mengusik kehidupan Zeyn.
"Aku gak akan memaksamu, Clora." Clora tak sadar dirinya sedang melamun. Temannya itu sedang memperhatikannya dengan tatapan khawatir. "Itu hakmu. Tapi setidaknya, isi perutmu dengan makanan. Kau tak lelah dua hari mengurung diri?"
Clora memasang ekspresi datar. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia sudah melangkah keluar, menuju ruang dapur seperti biasanya.
Ia hanya melongo saat melihat kondisi dapur kesayangannya yang sudah seperti kapal pecah. Piring-piring tidak pada tempatnya. Krim susu dan manisan bertumpahan di meja. Sisa-sisa makanan bahkan tidak dibersihkan. Dan kompornya-
"KEI!!" Teriaknya hingga melengking. "Apa yang terjadi dengan dapurku?!"
"Ah! Itu!" Temannya sudah berada di belakangnya, dan mulai gelagapan. Dilihat dari mimik wajahnya, Clora tahu Kei lah penyebabnya. "Tadi... aku lagi...eh! Umm...iya-"
"Apa yang sudah kau perbuat, Kei?!"
"Duh," Kei memasang tampang memelas. Gadis itu mati-matian menyembunyikan rasa gugupnya, sesekali menggigit bibir bawahnya. "Jangan marah, Clora, tadi aku-"
"Dia ingin menghiburmu."
__ADS_1
Saat melihat Zeyn yang tiba-tiba muncul di balik pintu, Clora tak mampu menahan perasaan rindu yang seketika meluap-luap dari dalam dirinya. Sudah lama sekali ia tidak melihat wajah pria itu. Meskipun kantung hitam menghiasi kedua matanya, pria itu tetap terlihat tampan saat ia tersenyum kepadanya.
***
Jon melihat pria yang bernama Zeyn itu memasuki ruang dapur. Meskipun Kei sudah menarik-narik lengannya agar memberi Clora dan Zeyn waktu sendiri, ia tetap penasaran dan ingin melihat, kira-kira apa yang mau dibicarakan.
"Jangan kesana, Jon!" Bisik Kei tak sabaran. "Kehadiranmu hanya akan menambah suasana menjadi canggung!"
"Apa Clora mau memberitahu perasaannya kepada Zeyn?" Tebak Jon, padahal ia sendiri sudah tahu jawabannya.
Kei mendesah. "Tidak tahu. Kuharap sih begitu. Gadis itu memang susah ditebak."
Entah kenapa hatinya tidak setuju jika perasaan Clora akhirnya diterima oleh Zeyn. Bukannya Zeyn sudah menjadi milik Clara? Mungkin itu sebabnya ia tidak merestui mereka.
Jon akhirnya menyerah dan membiarkan dirinya ditarik oleh Kei. Sebenarnya ia sudah tidak mempunyai tujuan hidup. Apa yang harus dilakukannya disini? Sudah lama sekali ia tidak melihat rumah apartemennya. Sudah lama ia tak bertemu dengan teman-teman kantornya.
Apalagi Stef.
"Kei."
"Kurasa...aku tak bisa lagi tinggal disini."
"Apa maksudmu?"
Jon menarik kembali lengannya yang sudah bertanda merah karena cengkeraman kuat Kei. "Sudah berhari-hari aku tinggal disini. Berapa lama lagi hingga aku diperbolehkan untuk pulang?"
Kei menghentikan langkahnya dan membalikkan badan untuk menghadapinya. "Untuk pertanyaanmu itu, jawabannya adalah, aku tidak tahu."
"Bukannya kalian hanya membutuhkan kemampuan Clara?" Jon langsung menyesal berkata demikian. Meskipun ia tak lagi menjalin hubungan dengan gadis itu, ia sudah terlanjur membuatnya membencinya.
Kei melipat tangannya. "Seumur hidup aku tak memercayai sifat natural manusia itu egois. Tapi kau membuatku kembali memercayainya."
Jon dibuat marah karenanya. Ia tak mengingat kapan, namun tangannya sudah mencekik leher gadis itu.
"Ukh!" Kei terbelalak, merasa terkejut. Ia buru-buru menggunakan sihirnya untuk melepaskan cengkeraman Jon. Bukh! Tubuhnya sudah terhempas ke dinding, dan darah mengucur keluar dari lubang hidungnya.
__ADS_1
"Kamu! Uhuk! Dasar gila-"
"Kamu yang gila, Jon!" Kei berdiri di hadapannya. Kedua tangannya masih dikelilingi oleh pusaran angin. "Kenapa kau tiba-tiba mencekikku?!"
Jon bangkit berdiri, menggunakan bantuan dinding untuk menopang tubuhnya sendiri. Kepalanya tiba-tiba berkunang. Ia dapat merasakan otot-otot tangannya yang mengepal, kemudian ia kembali menyerang gadis di hadapannya itu dengan tinju.
"Hah!" Kei berhasil menghindar dari serangannya. Ia mengepakkan sayapnya, dan menggerakkan tangannya untuk menyerang Jon.
Jon berteriak, rahangnya menegang. Tulang-tulangnya serasa meremuk, tapi ia tak akan menyerah. Ia memusatkan seluruh perhatiannya kepada gadis di depannya itu. Lalu, ia mengerang dan menggunakan kepalanya untuk mendorong tubuh kecil gadis itu ke dinding.
***
Buukk!! Suara hempasan tubuh Kei ke dinding membuat suasana semakin menegangkan. Sebenarnya ia bisa menciptakan angin yang lebih dahsyat, yang akan membuat manusia ini menderita. Tapi ia tak akan melakukannya, karena ia sudah bersumpah dengan dirinya sendiri untuk tidak melukai seorang manusiapun.
Ia tak mengerti kenapa Jon terus-terusan melampiaskan amarahnya kepadanya. Untungnya pria ini tak ahli dalam bela diri, jadi Kei dengan mudahnya menggunakan lututnya dan menyikut perut Jon.
Untuk beberapa saat pria itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai. Tapi Kei tak memberi kesempatan sedetikpun. Ia buru-buru merentangkan tangannya, dan mengunci kedua pergelangan tangan dan kaki pria itu ke lantai.
Pria itu meronta-ronta, mencoba melepaskan diri dari ikatan yang membelenggunya. Aksinya ini membuat Kei teringat dengan monster pemarah.
"Sadarkan dirimu!" Kei berlutut di sampingnya, tapi tidak terlalu dekat untuk memberinya jarak. Pria ini bisa saja menyerangnya jika ia berada terlalu dekat dengannya.
"Kalian semua gila," katanya sambil meludah ke lantai. Rambutnya sudah sangat berantakan dan matanya memancarkan api amarah. "Lihat saja! Aku akan keluar dari tempat ini bagaimanapun caranya!"
Kei membuka telapak tangannya, sengaja menunjukkan angin kecil yang menari-nari di atasnya. Namun pria itu tidak merasa takut.
"Kei?" Ia menoleh dan melihat wanita penyembuh itu di ujung lorong. "Apa yang terjadi?!" Ia segera menghampirinya dan terbelalak saat melihat Jon yang terbelenggu di atas lantai.
"Pria ini gila, kau harus mengecek kondisinya," jelas Kei, masih tidak melepaskannya. Ia melirik mata Jon. Pupil matanya membesar, dan ia berkali-kali mengedipkan matanya.
Sana ingin mengangkat tubuh Jon, namun Kei menghentikannya.
"Kenapa Kei?"
"Tunggu sebentar," kata Kei sambil menghalanginya dengan rentangan tangannya. Ia menyipitkan matanya dan memfokuskan pandangannya, sampai akhirnya ia menyadari adanya suatu hal yang janggal.
__ADS_1
Di kedua bola mata Jon, terdapat satu butir serbuk Fae yang berwarna abu.