Wings & Dream

Wings & Dream
Ch.27 - Behind The Mask


__ADS_3

Setelah membaringkan Chrys di atas tempat tidurnya, aku segera mengambil air hangat dan mengompresnya. Wajahnya benar-benar berkeringat sekarang, dan pipinya memerah. Kelopak matanya terbuka sedikit, dan kerjaannya hanya menatap wajahku sementara aku bekerja.


"Tidak bisa begini," gumamku sambil menyeka keringat di dahinya dengan pelan. "Kau butuh seorang Fae Healer. Aku bukan seorang dokter, jadi tak akan mengerti-"


"Clara." Chrys mencengkeram pergelangan tanganku. Itu langsung membuatku diam.


Sebuah senyuman lemah tercipta pada wajahnya yang pucat. Dengan perlahan ia membuka kepalan tanganku, kemudian menaruhnya pada dadanya.


Deg! Aku bisa merasakan detak jantungnya yang memompa amat lemah. Saking larutnya dalam pikiranku sendiri, aku tak menyadari mulut Chrys yang sudah terbuka.


"...saja."


"Apa?" Aku berkedip, kemudian menatap wajahnya lekat-lekat.


Ia tersenyum miring dan memutar jarinya ke dalam, mengisyaratkanku untuk maju mendekatinya agar bisa mendengar lebih jelas. Kuturuti saja kemauannya.


"Peluk aku."


Aku langsung memukul dadanya dengan keras dan bangkit berdiri. "Ini bukan bercandaan, Chrys! Lebih baik kau mengambil waktu untuk beristirahat, daripada beromong kosong sepanjang hari!"


Aku mendengarnya memanggil namaku, tapi aku tak lagi menoleh. Setelah mengambil salah satu pedang miliknya, aku langsung membuka pintu masuk dan pergi meninggalkannya.


Aku akan mencari bantuan untuk menyembuhkannya.


***


Rumah ini masih tampak sama persis. Atap yang terbuat dari jerami, serta dindingnya yang sudah lapuk.


Setelah semua yang sudah terjadi, bangunan ini masih tetap bertahan, pikirku. Aku lalu menarik napas dalam-dalam dan membuka gagang pintu dengan pelan.


Seperti biasa, lampu penerangan tak dinyalakan dan rumah ini dibiarkan tak terurus begitu saja. Aku tak melihat siapa-siapa, bahkan setelah aku menutup kembali pintu dengan rapat. Sambil mencengkeram pedang milik Chrys, aku terus berjalan tanpa rasa takut.


Jantungku berdegup kencang saat aku merapatkan diri ke dinding. Ya, sekarang aku sudah kembali ke rumah kecil ini. Pondok milik Clora, sekaligus tempat tinggal Zeyn dan juga Kei.


Aku harus cepat mencari Sana, wanita penyembuh itu, agar ia bisa segera mengobati Chrys. Meskipun aku tak sempat berpikir bagaimana caranya aku membujuk wanita itu.


Apakah ia bisa dipercaya? Bersediakah ia untuk menutup mulut mengenai keberadaanku? Bagaimana kalau aku menjelaskan semua kepada Sana mengenai sifat asli Zeyn? Akankah ia memercayaiku?


Tiba-tiba terdengar suara pecahan gelas kaca di balik dinding. Seseorang jelas sedang berada di ruang dapur.


"Ugh!" Terdengar suara perempuan yang familiar. Clora.

__ADS_1


"Bodoh sekali." Berkali-kali gadis itu mengumpat dan mengutuk dirinya sendiri. Sebetulnya aku ingin mengintip dan melihat apa yang sedang dikerjakan olehnya, tapi aku tidak bisa mengambil resiko.


"Sana! Tolong aku!" Teriak Clora lagi. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari lorong di sebelahku.


Aku langsung membulatkan mataku. Ini gawat. Aku harus segera mencari tempat untuk bersembunyi. Tapi keadaanku sekarang tak memungkinkan. Apa yang harus kulakukan-


"Clora?"


Aku mematung, tidak berani mengeluarkan suara. Tubuhku sekarang bergemetar. Bagaimana tidak? Yang kulihat di hadapanku sekarang bukanlah Sana, melainkan Zeyn.


Matilah aku. Pria itu jelas-jelas sudah berada di hadapanku. Ternyata ialah yang berjalan di lorong tadi. Aku bisa melihat fitur wajahnya secara detil saat berada sedekat ini dengannya. Rambut coklatnya sudah lama tak terurus, sampai menutupi lehernya. Sedangkan kantong mata menghiasi wajahnya. Sudah berapa lama ia berusaha keras untuk mencariku selama ini?


Tapi ada yang aneh. Kenapa matanya tidak melirik ke arahku? Seperti seolah-olah aku ini tak kasat mata.


Keadaan menjadi semakin hangat ketika pria itu berjalan melewatiku begitu saja. Ia langsung menghampiri gadis itu dan menanyakan kondisinya.


Ini kesempatanku. Meskipun aku masih tidak tahu kenapa Zeyn tak dapat melihatku, aku harus segera mencari Sana dan pergi dari rumah ini secepatnya.


Sambil menggenggam pedang seerat mungkin, aku berlari menggunakan ujung kakiku dan pergi menaiki tangga. Tanpa berpikir panjang aku langsung menerobos masuk kamar pasien, ruangan yang pernah menjadi tempat untuk merawat Clora dan juga Rio.


Sesampainya di dalam sana, aku menjumpai sosok yang familiar. Pria berambut hitam itu sedang duduk di atas ranjang, dengan punggung yang membelakangiku. Rio tak mengenakan apa-apa untuk menutupi dadanya. Ia langsung menoleh ke belakang, tapi matanya tak kunjung mendarat ke arahku.


Apa-apaan ini?! Kenapa Rio juga tak dapat melihatku?


"Sana? Apakah itu kamu?" Ia menggaruk kepalanya. Di saat itu aku baru melihat siku lengannya yang dililitkan kain, kemudian tubuhnya yang tampak lebih kurus dibanding biasanya.


"Cepat datang. Aku sudah lapar," kata Rio lagi.


Dadaku jadi sesak saat melihat kondisinya yang seperti ini. Aku jadi mengingat kembali, masa-masa saat aku pertama bertemu dengannya. Ia adalah pria baik dan humoris.


Tapi sekarang, semuanya sudah berubah akibat ulahku.


Aku kembali menggenggam erat pedang di tanganku. Ya, semenjak aku hadir ditengah-tengah mereka, segalanya menjadi kacau balau. Tapi, kita sudah tak bisa memutar kembali waktu, kan?


Braak!! Pintu kembali dibuka, dan muncullah wanita bersayap putih itu. Saat melihat Sana, perasaan lega langsung memenuhi pikiranku. Akhirnya aku telah menemukannya.


"Ini, makanlah." Sana menaruh nampan makanannya disamping ranjang Rio. Secepat kilat pria itu langsung menyambar makanannya.


Sementara Rio sibuk mengisi perutnya, Sana meletakkan kedua tangannya pada bahunya. Seberkas cahaya miliknya langsung menyelimuti tubuh pria itu. Ia sedang melakukam sihirnya sebagai seorang Fae Healer.


Aku hendak berjalan mendekati mereka saat rasa nyeri langsung menghantamku di bagian lengan. Untungnya aku langsung menggigit bibir bawahku agar tidak berteriak.

__ADS_1


Aku terbelalak. Pedang yang sedang kugenggam sekarang menyala-nyala bak lentera dalam kegelapan. Aku langsung menyadari sinar yang dihasilkan olehnya. Ini cahaya yang sama yang selalu diciptakan oleh Chrys.


Mungkinkah pedang ini memungkinkanku untuk membuat diriku tak terlihat? Sepertinya itu alasan yang paling memungkinkan.


Bagus. Aku tersenyum puas. Kalau begini, pekerjaanku jadi mudah.


Aku memusatkan pandangan pada Sana. Sekarang aku sudah berada tepat di belakangnya. Tinggal menunggu waktu saja sebelum aku 'menculik'nya dan membawanya bersamaku.


"Berapa lama lagi aku bisa keluar dari rumah ini?" Tanya Rio pada Sana. Wanita itu langsung menjawab. "Besok."


Rio menegangkan rahangnya. "Sudah berapa minggu aku tinggal disini?! Aku tidak sudi melihat wajah Zeyn setiap kali aku pergi ke dapur untuk mengambil minuman!"


"Sabar saja," balas Sana dengan letih. Wanita itu tanpa sadar sudah menyeka keringatnya sendiri. Pasti tak mudah bekerja sebagai seorang penyembuh, batinku.


"Bagaimana dengan Clara?"


Jantungku serasa terjatuh ke dasar perutku begitu aku mendengar pertanyaan itu dari mulut Rio.


"Maksudmu?" Sana mengangkat sedikit alisnya.


"Sudah lama aku tidak melihatnya," kata Rio. "Dan sudah lama juga aku tidak melihat keberadaan Kei."


Benar juga. Bagaimana kabar Kei sekarang? Seharusnya sekarang ia sudah kembali setelah mengantarkan temanku yang bernama Jon itu kembali ke Dunia Manusia.


"Kupikir kamu membencinya," balas Sana tanpa ada unsur menyindir.


"Siapa? Clara?"


"Siapa lagi kalau bukan dia?" Sana menggeleng-geleng. "Kau harus lihat ekspresi wajahnya waktu itu saat kau menyerangnya. Ia benar-benar terluka perasaannya. Aku bisa tahu bahwa ia tak bermaksud untuk membuatmu marah."


"Ya ya." Rio memutar bola matanya. "Waktu itu aku memang tak bisa mengendalikan diri."


Untuk sejenak ruangan menjadi hening. Masing-masing sedang larut dalam pikirannya sendiri. Hingga akhirnya Rio kembali berbicara.


"Kurasa Zeynlah yang menjadi penyebab utamanya."


Aku dan Sana langsung mendongak untuk menatapnya secara bersamaan.


"Setelah kupikirkan, mungkin Clara memang tidak bersalah. Ia hanya seorang manusia yang terjerat dalam kemampuan bermimpinya," lanjut Rio lagi.


Sana mengerutkan dahinya. "Jadi yang mau kau coba jelaskan adalah...?"

__ADS_1


Rio menatap lekat-lekat mata wanita itu. "Zeyn adalah pelakunya."



__ADS_2