Wings & Dream

Wings & Dream
Tidak Bersemangat


__ADS_3

Sudah seharian Zeyn mengikutinya, namun gadis manusia itu masih dalam kondisi yang sama. Wajahnya murung dan lesu dan ia tidak banyak berbicara. Gadis itu juga tidak macam-macam. Ia bahkan tidak beristirahat di kamarnya sekalipun. Mungkin Clara takut ia akan tetap mengikutinya, atau semata-mata masih takut menggunakan kemampuannya saat terlelap.


Sekarang, mereka sedang berada di ruang kerjanya, alias tempat perpustakaan kecil. Gadis itu sedang sibuk membaca buku tebal miliknya yang bersampul coklat.


"Sedang membaca apa?" Tanya Zeyn, meskipun ia sudah tahu jawabannya. Buku Faepedia. "Kau terlihat sangat serius," katanya, mencoba untuk memeriahkan suasana. Namun yang didapatkannya hanya anggukan sesaat. Kepala gadis itu sudah terkubur kembali di dalam buku.


"Clara," ia mendesah dan menghampirinya. "Aku sedang berbicara kepadamu."


"Ha? Oh, iya, maaf. Tadi, apa katamu?" Gadis itu memberikannya tatapan polos. "Aku gak sempat mendengarnya."


"Kau jelas tidak memperhatikanku," gumamnya, lalu duduk disampingnya. "Hari ini kau tampak lesu."


Clara terdiam, pura-pura membaca isi buku tersebut. Zeyn menggerakkan sedikit jarinya sehingga halaman buku tertiup oleh angin.


"Hei! Apa yang kau lakukan?!"


"Kau tadi mengabaikanku."


"Aku sedang ada banyak pikiran!" Balas gadis itu, kemudian bangkit berdiri. "Aku mau mandi. Jangan ikuti aku." Setelah itu, ia pergi keluar ruangan begitu saja.


***


"Dasar, sudah seperti stalker saja," gumamku sambil menggosok punggungku. Kepulan asap dari air panas yang sedang mengalir membantuku menenangkan pikiranku, sekaligus merileks tubuhku.


Padahal belum sehari, namun aku sudah tak tahan dengan perilakunya. Ini membuatku semakin frustasi. Aku tak pernah berpikir bahwa memiliki penjaga yang selalu berada di sisiku akan terasa seburuk ini.


Setelah mandi, aku memakai kembali bajuku dan sudah menemukan Kei di kamarku.


"Mau apa, Kei? Aku tak ingin diganggu, aku lelah," ucapku tanpa memandangnya. Ia mendecakkan lidahnya. "Setelah ditolak oleh Clora, kini kau juga menjauhiku. Aku masih tak mengerti apa salahku kepada kalian semua."


"Kau tak ada salah," jawabku dengan lesu. Kei masih menatapku penuh curiga. "Mungkin, ada salahnya, yaitu membocorkan kemampuanku kepada teman-temanmu."


"Aku harus melakukan itu, Clara. Lagipula, aku memercayainya."


"Tapi aku tidak." Aku menatapnya tajam. "Aku bukannya membenci temanmu. Aku suka sifat Rio yang jahil seperti itu, dan juga Dain yang kalem dan tenang, tapi aku tidak mengenal mereka."


"Kalau begitu, cobalah mengenal mereka," kata Kei santai.


"Bagaimana caranya? Kau tak lihat aku diikuti terus oleh Zeyn?" Aku membaringkan diriku diatas kasur yang empuk, lalu merentangkan otot-otot tubuhku. Aku sangat merindukan nyamannya kasur.

__ADS_1


"Tapi kau tidak dilarang untuk pergi keluar. Cobalah menawar. Mungkin ia akan berubah pikiran saat menyadari bahwa Rio dan Dain orang yang bisa dipercaya." Setelah itu, Kei sudah keluar kamarku.


Aku memutuskan untuk berbaring di atas kasur sampai hari berganti, namun tetap saja, rasa kantuk tak kunjung datang. Perutku juga mulai berbunyi karena belum makan apa-apa. Akhirnya kupaksa kedua kakiku untuk membawaku keluar kamar.


Di ruang makan aku dikejutkan dengan kehadiran Jon.


"Apa yang kau-"


"Jangan ribut dulu," potongnya, menatapku dengan kebencian. "Pria berbadan besar yang tadi sudah memperbolehkanku untuk berkeliaran di rumah."


"Pria? Maksudmu Zeyn?"


"Siapapun namanya." Aku menoleh dan mendapati Zeyn. Pria itu lagi-lagi membuatku salah tingkah dengan senyuman manisnya. "Bagaimana Clara? Aku sengaja melakukan ini agar suasana hatimu membaik."


"Membaik? Ini malah makin kacau!" Aku mendengus. Jon hanya memutar bola matanya dan hendak berjalan ke luar ruangan. "Aku juga tak ingin melihatmu, Clara. Jangan salah paham. Aku kesini bukan untuk melihatmu, melainkan untuk mengisi perutku."


"Sepertinya manusia memang mudah lapar, ya?" Zeyn sudah mengobrak-abrik lemari kabinet, kemudian mengeluarkan satu botol makanan kaleng. "Kalau begitu sekalian saja. Kita makan bersama."


***


Hanya bertiga. Tanpa kehadiran Kei dan Clora. Ini malah membuatku semakin frustasi.


Aku menghela napas dan meletakkan kembali sendok dalam genggamanku.


"Jangan seperti itu, Clara. Kau membuatku tak nyaman," kata Zeyn dengan entengnya.


"Justru aku yang merasa tak nyaman."


"Gak nyaman karena bersamaku atau bersama teman manusiamu itu?" Zeyn melirik ke arah Jon, yang sedang berpura-pura tidak mendengarkan pembicaraan kami.


"Dua-duanya."


"Clara." Wajah gembira Zeyn mulai tergantikan dengan ekspresi khawatir. "Maaf kalau aku buat kau tak nyaman. Aku hanya ingin menunjukkan kepadamu bahwa kau pantas untuk merasa diterima disini. Jadi, jangan sungkan-sungkan kepadaku dan ceritakan semua masalahmu."


Aku terdiam. Sebetulnya aku tidak merasa bahwa aku ini tidak diterima. Lebih tepatnya, akulah masalahnya disini. Mungkin aku yang sengaja menjaga jarak dengan Zeyn karena sudah berpikiran macam-macam. Mungkin saja pria baik hati ini memang bermaksud untuk menolongku.


"Jadi kau bersedia mendengar keluh kesahku tentang kemampuanku?" Ucapanku ini membuat Jon sedikit terganggu. Ia hanya terdiam dan menunduk. Tangannya sibuk memutar-mutar isi sup yang disajikan di hadapannya.


"Tentu saja, Clara," katanya dengan suara lembut. Kemudian ia meletakkan tangannya diatas tanganku. Aku bergidik dan hendak menepisnya, namun ia sengaja menahan tanganku erat-erat.

__ADS_1


Aku mulai berkeringat dan sudah memberikan tatapan peringatan kepada Zeyn, namun ia tidak peduli. Jon mengepalkan tangannya, berusaha menyembunyikan perasaan cemburunya.


"Kalau be-begitu..." Sial. Aku jadi gugup. "Izinkan aku berburu Krilie, sekali saja dengan Kei dan teman-temannya."


"Tidak boleh!"


"Apa?!"


Dua laki-laki ini langsung bereaksi. Jon berdeham, kemudian bangkit berdiri dari kursi. "Aku pamit."


"Jon-"


"Jangan pedulikan dia, Clara." Zeyn semakin mempererat genggamannya. Aku menatapnya tak percaya. "Dia temanku, dia-"


"Dia sudah menyerangmu waktu itu. Kau lupa?"


Aku menyerah dan memegangi jidatku yang mulai pusing. "Tentu saja tidak."


"Aku tak akan melarangmu, kau tahu itu kan?" Katanya sambil mengelus tanganku dengan punggung jarinya. "Aku hanya khawatir, tidak ingin kau terluka."


Aku memandangnya. Pria dengan warna rambut coklat, kemudian mata hitamnya yang indah. Pria berwajah tampan dengan tubuh kekar.


Dan pria yang sedang melemparkan senyum ke arahku. "Berjanji kepadaku bahwa ini dapat membuat suasana hatimu membaik."


"I-iya," jawabku ragu-ragu.


"Dan apakah kau berjanji tak akan terjerumus ke masalah, dan dapat melindungi dirimu sendiri dengan baik?"


"Tentu saja," kali ini kujawab dengan percaya diri. "Aku bisa melindungi diriku sendiri."


"Aku tahu aku bisa mengandalkanmu." Zeyn kemudian berdiri dan menghampiriku, masih menggenggam tanganku. Aku menengadah untuk melihat wajahnya, dan tiba-tiba ia sudah menyentuh pipiku dengan jemarinya yang halus.


"Clara..." gumamnya dengan suara beratnya. Jantungku tiba-tiba berpacu, dan aku dengan susah payah mengontrol diriku agar tak salah tingkah.


Zeyn menatap langsung mataku, kali ini dengan tatapan yang membuatku tak bisa berpaling darinya. Setelah berbagi pandangan kurang lebih beberapa detik, akhirnya ia tersadar dan mengedipkan matanya.


"Kalau begitu aku akan mengizinkanmu besok pagi. Aku akan ikut berburu dengan kalian."


Ini sudah lebih baik daripada diawasi di dalam rumah ini. Aku mengangguk dan membalas, "Jangan khawatir, Zeyn. Aku tak akan mengecewakanmu."

__ADS_1


"Aku puas denganmu." Ia mengelus pipiku, kemudian menaruh kecupan singkat di dahiku, yang membuatku merona. Akhirnya saat aku tidur malam harinya, wajah Zeyn terus membuatku sadar.


__ADS_2