Wings & Dream

Wings & Dream
Ch.17 - Cahaya


__ADS_3

Aku sudah pernah terbaring di kasur selama dua hari, tapi aku tidak pernah merasa selemah ini. Mungkin waktu itu aku mendapat infus dari rumah sakit, jadi tubuhku masih kuat.


"Memangnya wanita penyembuh itu tidak menyembuhkanku?" Tanyaku saat kami sedang makan bersama. "Maksudku, selama dua hari aku tidak sadarkan diri."


"Tentu saja iya," balas Clora dengan nada ejekannya seperti biasa. "Kalau tidak, kamu pasti sudah mati."


Kalau begitu kenapa aku merasa tak enak badan? Aku menaruh telapak tanganku di dahiku sendiri, dan benar saja. Hangat. Aku pasti masih demam.


"Clara." Zeyn lagi-lagi sudah menyelesaikan makanannya. Mungkin karena ia seorang pria yang membutuhkan banyak energi, sekaligus seorang Fae. Aku tak yakin ia harus makan berapa kali seharinya.


"Wanita itu sudah melakukan semampunya. Mungkin karena kau kelelahan dalam mimpimu, jadi itu menguras tenagamu juga."


"Ah," aku mengangguk dan melanjutkan makananku. Perutku memang sudah berbunyi sejak aku terbangun ke dunia ini.


"Omong-omong, dimana Kei?" Aku ingin menambahkan Jon, tapi aku tahu temanku itu pasti sedang menghindariku.


Lagi-lagi Zeyn dan Clora bertukar pandang, seperti ada arus listrik tersembunyi saat mereka saling menatap. Zeyn kemudian berdeham, sementara Clora mulai salah tingkah.


"Kei ada di-"


Belum sempat Zeyn menjawab, aku sudah mendengar suara pintu yang terbuka. Aku buru-buru bangkit dan berlari.


Betapa terkejutnya aku saat melihat Kei yang sibuk membopong Jon.


"Jon..." Penampilannya membuatku melongo. Aku menyipitkan mataku dan melihat kondisi matanya yang membuatku mual. Warna bola matanya telah berubah menjadi warna abu, sedangkan tangannya melakukan gerak gerik yang tidak biasa. Ia terlihat seperti seorang-


"Jon! Apa yang terjadi padamu?!" Aku berlari terbirit-birit. Temanku itu bahkan tak menatap langsung wajahku.


"Clara?"


"Apa yang terjadi padanya, Kei?!"


Aku dibuat semakin panik saat melihat ekspresi wajah Kei. "Ada sebuah kesalahan. Serbuk Fae membuat saraf matanya melemah, dan lama kelamaan ia akan buta secara total."


Aku menutup mulutku yang ternganga, kemudian menarik lengan Jon. Barulah aku mengerti maksud ucapan Kei saat melihat lebih jelas kondisi matanya.


"Kapan...ini terjadi?" Kataku mulai kehabisan kata-kata.


"Sepertinya baru-baru ini. Sana pun juga baru melihatnya."


***


Selama satu hari, aku terus menemani Jon, meskipun ia sudah berkali-kali menolak bantuanku.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri," katanya saat aku ingin menyuapinya makan siang. Aku langsung mengusir semua orang yang sibuk memerhatikan kita berdua, agar Jon tidak merasa risih.


"Tapi kau tak bisa lagi melihat dengan jelas," aku memprotes.


Jon menoleh ke arahku, meskipun matanya tidak langsung menatapku. "Menjadi buta bukan berarti menjadi lemah. Aku bisa makan sendiri."


Akhirnya aku menyerah dan membiarkannya melanjutkan aktivitasnya.


Tapi aku kembali membantunya saat ia sudah selesai dan hendak berjalan. Aku masih belum terbiasa melihatnya menggunakan dinding sebagai bantuan, jadi aku melingkarkan lengannya di pundakku.


"Clara-"


"Jangan banyak protes. Diam saja."


Anehnya temanku itu terdiam dan membiarkanku membawanya.


"Mau kemana kau?"


"Kamar, tentu saja. Memangnya aku bisa kemana lagi selain terkurung di pondok ini?"


Aku menafsirkan perkataannya sebagai sindiran buatku. Biar bagaimanapun, aku alasannya ia masih berada disini.


Setelah bersusah payah membawanya kembali ke kamar, aku ingin menemaninya lebih lama lagi, namun ia sudah mengusirku.


"Tapi kau butuh seseorang di sampingmu."


Jon sudah memejamkan matanya, bersiap untuk tidur. "Memangnya aku butuh bantuan jika ingin tertidur? Aku bukan manusia aneh sepertimu yang bisa melakukan hal hebat dalam mimpiku."


Aku mengabaikan perkataannya. "Kalau kau sudah terbangun, kau akan butuh bantuan."


"Kalau begitu bawakan aku tongkat atau apalah. Setidaknya aku butuh itu nantinya."


"Aku akan memintanya kepada Sana. Tapi untuk sekarang..." Aku menghela napas dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Apa yang kira-kira dibutuhkan oleh Jon saat ini?


Sesuatu berdenyut di kantung celanaku, dan aku segera menyentuhnya. Benda familiar yang keras. Krilie.


"Hmm?" Penasaran, aku segera mengeluarkannya, dan takjub saat melihat sayapnya yang kini sedang bersinar sangat terang.


"Aku melihat sesuatu," gumam Jon di sampingku. "Cahaya apa itu?"


"Sayap Krilie." Walau tubuhnya sudah busuk dan gosong seperti mayat, sayapnya tetap bercahaya dengan indah. Aku tidak tahu artinya, tapi aku tahu jika aku mencabuti sayapnya seperti saran Rio dan menjualnya di pasaran, cahaya ini tidak akan bersinar lagi.


"Kurasa... ini untukmu." Aku meletakkan mayat Krilie itu di atas telapak tangannya. Ia sempat menghindar, namun lama kelamaan ia juga tertarik dengan benda asing di tangannya itu.

__ADS_1


"Aku tak melihat manfaatnya untukku."


"Simpan saja. Anggap saja senter. Untuk menerangi jalanmu."


Jon sudah meraba-raba tubuh Krilie itu. Jemarinya mengelus rambut panjang Krilie itu yang sekarang sudah mengeras seperti lidi. "Maksudmu untuk menerangi masa depanku?"


Aku memukul lengannya. "Anggap aja mainan, atau apalah. Untuk menemanimu." Agar tidak larut dalam kesedihan, pikirku.


***


[Author: Ada yang kangen sama Stef? Nih, author tunjukkin seperti apa kehidupannya sekarang.]


Ratterdam, 2008


Stef memasuki sebuah gedung yang ramai dipadati oleh orang-orang. Ia sudah menghafal denah gedung ini, gedung kantor polisi yang rasanya bisa menjadi rumah keduanya karena ia menghabiskan sebagian besar waktunya disini.


Ia menyeka keringatnya, dan sambil mengabaikan pandangannya yang tidak terfokus, ia akhirnya sampai juga di depan sebuah ruangan.


"Masuk," ujar suara di dalam setelah ia mengetuk pintu.


Tampak seorang pria yang sebenarnya lumayan tampan. Namanya Oswald dan ia adalah Kapten Kepolisian di wilayah pusat Ratterdam. Umurnya lebih tua setahun dibanding Jon.


"Kau lagi," katanya sambil menggeleng-geleng khawatir.


"Oswald, adakah kabar terbaru mengenai keberadaan teman-temanku?" Tanya Stef setelah ia terduduk di atas sofa kecil.


Oswald tidak menjawab pertanyaannya.


Stef menunduk. "Belum ada kemajuan, ya?"


"Steffany..." Katanya. Ia lalu menghampirinya dan duduk disebelahnya. "Jangan terlalu khawatir. Mereka pasti bisa ditemukan."


"Ini sudah hari ke-berapa?" Bisiknya, masih menutupi wajahnya dengan tangannya. "Lagipula kita tak bisa menemukannya. Yang menculik mereka itu bukan manusia."


"Aku harap kau masih bisa berpikir jernih setelah apa yang sudah terjadi, Stef," gumam pria disampingnya itu sambil mengelus-ngelus punggungnya. "Kamu teman lamaku. Aku sudah mengenalmu berpuluh-puluh tahun, dan tahu bahwa kau susah menghilangkan pikiran burukmu itu."


"Setelah memikirkannya selama berhari-hari, kurasa aku memercayai Clara," bisik Stef. "Aku masih mengingatnya dengan jelas, Oswald. Bagaimana cahaya aneh keluar dari tangan mereka. D-dan juga di punggung mereka terdapat sayap-"


"Stef." Pria itu sudah tidak tahan mendengar keluhannya. Ia sudah berusaha menenangkannya selama berhari-hari, namun gadis ini semakin hari semakin gila. Tingkat kewarasannya makin menurun.


"Lihat aku." Oswald menaikkan dagu perempuan itu, dan terlihatlah dengan jelas keletihan di matanya. "Timku masih berproses mencari mereka. Besok, kau akan menemui mereka. Di saat itu, kau harus bisa menjelaskan semuanya yang sudah kau lihat. Mengerti, Steffany?"


Stef membuka sedikit mulutnya, merasa sedikit lega karena pria ini masih mau membantunya. "Ya. Aku tak akan menyerah sampai bisa menemukan Jon dan Clara."

__ADS_1


__ADS_2