
"Rio," Bisikku sambil memejamkan mata, tidak berani melihat mayat yang ada di depanku.
"Tidak," gumam pria disampingku. Ia menggeleng-geleng kepalanya berulang kali, merasa terpukul atas hal mengerikan yang menimpa kakaknya. "A-aku hanya meninggalkannya sebentar. Tapi ti...tiba-tiba-"
"Rio, ini semua tak nyata," bisikku lagi, berusaha menenangkannya. Ia masih tak menatapku, namun kutahu ia pasti mendengarkanku. "Ini semua adalah bagian dari mimpiku. Ini bohongan."
"Apa maksudmu, Clara?" Barulah ia menatapku, kali ini dengan rasa jijik. "Mimpi? Kau sebut ini bohongan?!" Ia mencengkeram kerah bajuku, dan memutarkan kepalaku ke arah samping. "Lihat baik-baik! Dain! Kakakku! Kau masih berani sebut ini bohongan?!"
"Bukan begitu!" Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Aku sendiri tak mengerti situasi yang sedang kuhadapi ini. "Rio, ini hanya mimpi-"
Aku merasakan tamparan yang luar biasa pada pipiku. Dunia serasa berhenti. Aku tak lagi mendengar suara rintikan air hujan. Aku tidak lagi merasa kedinginan. Aku hanya menyentuh daerah pipiku yang terasa sakit.
"Manusia gila," bisik Rio sebelum ia bangkit berdiri. "Jangan mentang-mentang kau mempunyai kemampuan itu, kau jadi tak bisa membedakan mana yang kenyataan mana yang bukan."
Aku tetap mematung, tidak bergerak dari tempatku sedikitpun. Kutatap mayat yang ada di hadapanku. Dain yang malang, Dain yang sudah menjadi korban peristiwa pembantaian.
Aku harus segera terbangun dan menceritakan semua yang kulihat pada Zeyn, pikirku keras. Kalau ini visi masa depan, artinya Dain berada dalam bahaya.
Aku menghembuskan napas, kemudian memusatkan pikiranku pada keheningan yang tengah melanda. Sambil memejamkan mata dan meremas bajuku sendiri, aku memaksakan diriku untuk segera terbangun ke dunia nyata.
***
Wajahku seperti ketumpahan oleh air dingin. Lampu penerangan membuat mataku sakit, tapi aku akhirnya membuka mata. Walau hanya samar-samar, aku sudah bisa melihat Zeyn.
"Clara!" Pria itu langsung memelukku sekuat tenaga. Tapi saking eratnya, aku sampai meringis kesakitan.
Zeyn menyadarinya dan segera melepaskan dekapannya. Tak lama, aku menangkap pergerakan sosok lainnya dari ekor mataku. Tak biasanya Clora memasang ekspresi datar saat ia melihatku. Aku sedikit terkejut saat melihat matanya tidak lagi memandangku dengan rendah.
"Syukurlah kau sudah sadar," lanjut Zeyn lagi. Ia tersenyum bahagia dan memegang tanganku erat-erat. "Adakah yang kau butuhkan sekarang? Seperti makanan, atau apapun?"
"Umm, tidak Zeyn. Aku baik-baik saja," balasku dengan rasa terima kasih. Itu benar. Meskipun kepalaku masih terasa sedikit pusing, kembali tersadar ke dunia ini sudah melegakan perasaanku.
Tapi di benakku, ada suatu memori yang rasanya tidak asing. Ternyata aku mengingatnya. Ternyata aku mengingat isi mimpiku, bahkan setelah aku terbangun.
"Zeyn," aku buru-buru menahan jubahnya. Ia langsung menoleh kepadaku, menatapku dengan kebingungan. "Ada yang harus kusampaikan kepadamu."
"Oh ya? Apa itu?" Ia sudah menarik bangkunya lebih dekat ke arahku, kemudian menopang dagunya di atas tangan. "Silahkan, Clara."
Aku tidak tahu harus memulai darimana. Saat aku hendak menggaruk kepalaku, aku merasakan tangan kiriku yang sedang memegang suatu benda yang keras.
__ADS_1
Aku membuka kepalan tanganku dan terkesiap saat melihat tubuh Krilie yang sekarang sudah mengeras.
Clora sudah berdiri disampingku, kemudian merampas Krilie dari tanganku begitu saja. "Krilie?! Kenapa kamu bisa memilikinya?!"
Aku menoleh ke arah Zeyn, dan pria itu juga memperlihatkan ekspresinya yang kebingungan. "Kamu berhasil menangkapnya, Clara."
"Iya," jawabku sambil mengangguk.
"Kapan?" Tanyanya sambil memberikanku tatapan tajam.
"Umm...aku tidak tahu pasti..." Jawabku dengan jujur. "Sepertinya saat aku hendak terbangun dari mimpiku sewaktu di gua Taman Musim Dingin."
Zeyn tak berkata apa-apa lagi. Kali ini aku tak dapat membaca ekspresinya.
"Jadi, apa itu artinya kau dapat mengingat isi mimpimu sekarang?" Tanya Clora, yang membuatku terkejut karena tak biasanya gadis ini tertarik dengan kemampuanku.
"Ya, dan sebenarnya, aku harus menceritakan sesuatu kepada kalian. Terkait dengan isi mimpiku selama dua hari ini."
***
Beberapa saat sebelumnya...
Zeyn tertawa saat melihat kondisi dapur miliknya itu. Ia berjongkok di dekat kabinet dan menyentuh cairan manis yang mengotori dinding. "Apa ini?"
"Salah satu makanan manusia, sebenarnya," jawab Clora sambil berjalan menghampirinya. "Seingatku, Kei pernah bilang ini untuk membuat kue."
"Hmmm." Zeyn sudah menjilat ujung jarinya, ingin merasakan betapa manisnya cairan itu. Clora langsung memalingkan wajah, tak berani melihat tingkah laku pria itu dengan mata kepalanya sendiri.
"Kau kelihatan ingin mengatakan sesuatu," kata Zeyn lagi. Ia menepuk-nepuk tangannya dan menaruhnya di belakang punggung seperti biasa. "Jadi?"
"Jadi apa?" Tenggorokan Clora tercekat, dan ia langsung kehabisan kata-kata saat pria itu berjalan mendekatinya sambil tersenyum.
"Sudah berapa lama aku tidak melihatmu?" Gumam Zeyn, sekarang sudah berada di hadapannya. Clora sampai menabrak dinding. Jantungnya sedang berolahraga mati-matian.
Sial, kenapa napasnya harus mengenai wajahku? Rasanya ia ingin memejamkan matanya saja.
"Kau sangat cantik," Zeyn sudah menyentuh pipinya dengan jemarinya. Clora tak mampu menahan dirinya lagi. Rasanya saat berada sedekat ini dengan Zeyn akan membuatnya semakin bertambah gila. Matanya tak bisa lepas dari bibir Zeyn yang begitu menggoda. Bibir yang sangat lembut dan semakin lama semakin dekat-
Senyum Zeyn sirna dan ia menjatuhkan tangannya dari pipinya. "Maaf, Clora."
__ADS_1
"U-untuk apa?" Rasanya ia baru saja ditampar dengan keras oleh rasa kekecewaan. "Zeyn-"
"Aku tahu apa yang mau kau katakan," kata Zeyn, tidak melihat langsung ke wajahnya. Pria itu lalu membenarkan poni rambut coklatnya. "Aku benar-benar minta maaf, Clora."
Clora hanya terdiam. Rasanya ia ingin kabur dan kembali mengurung diri di dalam kamarnya. Bukan gara-gara sudah dipermalukan, namun ia tidak ingin Zeyn melihat wajahnya yang pastinya sudah memancarkan kesedihan dari matanya sendiri.
Clora hendak berjalan pergi meninggalkan Zeyn saat pria itu menghalangi jalannya.
"Clora, kau yakin... tak ada yang ingin kau sampaikan kepadaku?"
"A-apa maksudnya?" Clora dibuat heran dengan pertanyaan semacam itu. Bukannya dia bilang dia sudah tahu apa yang mau kukatakan?
Zeyn menatapnya lekat-lekat. Entah apa yang sedang diprosesnya dalam otak.
"Kau menyukaiku."
Kali ini Clora tak mampu menyembunyikan ekspresinya. "Aku..."
Zeyn tersenyum manis. "Aku sudah tahu sejak aku pertama bertemumu. Saat malam pesta perayaan murid baru di Faedemy, aku melihat sesosok gadis yang sukses menarik perhatianku."
Pipi Clora merona, walau ia tidak yakin gadis yang dibicarakannya adalah dia sendiri.
"Dan sekarang, dia hadir di depanku."
Clora tak mengingat apa-apa lagi selain tubuh Zeyn yang memeluknya, kemudian bersinarlah harapan baru di hatinya. Mungkinkah akhirnya perasaannya terbalaskan-
Suara teriakan dari luar ruangan sontak memisahkan mereka. Tanpa menoleh ke arahnya lagi, Zeyn berlari keluar ruangan.
Namun di luar, ia tidak melihat Zeyn. Entah kemana pria itu pergi, Clora tidak mau memikirkannya. Karena sekarang di hadapannya, Kei sedang menahan pria manusia yang bernama Jon itu.
.
.
.
Halo readers! Udah lama gak menyapa kalian :D Kalau suka sama ceritanya, boleh like atau vote ya 🥰 Jangan lupa tinggalkan komen. Saran kritik sangat dibutuhkan karena tanpa itu semua, cerita ini tidak akan berkembang. Makasih udah mampir dan...
See you on next eps~
__ADS_1