
Warning! Mengandung konten dewasa, untuk 18+ !
Hari ini matahari bersinar sangat cerah. Seperti biasa, aku hendak menemui Jon di kamarnya saat Zeyn tiba-tiba menghalangiku.
"Aku ingin membawamu ke suatu tempat," katanya sebelum aku sempat bertanya.
"Kemana?" Tanyaku kebingungan, namun ia tidak menjawabku.
Zeyn tiba-tiba sudah melingkarkan lengannya di pinggangku, kemudian terbanglah kami ke luar pondok. Aku masih belum terbiasa melakukan hal ini, jadi aku terus berteriak. Sementara Zeyn mengeluarkan desahan tawa.
Angin berembus dengan kencang, menghantam langsung wajahku. Aku semakin mempererat dekapanku dengan Zeyn, takut melihat ke bawah sedetikpun.
"Kemana kau membawaku?!" Teriakku, namun angin membawa pergi suaraku. Tahu-tahu, tenggorokanku sudah terasa kering.
Aku tidak tahu sudah berapa lama diriku dibawa terbang, dan saat akhirnya kami mendarat, perutku sudah mual dan aku praktis memuntahkan sarapan pagiku di tanah.
"Pelan-pelan," kata Zeyn sambil menepuk pundakku. Aku langsung merasa malu karena pria itu sudah melihat genangan muntahanku.
"Maaf. Aku belum terbiasa dengan ini semu-" Aku lagi-lagi memuntahkan isi perutku.
"Tidak apa-apa," katanya sambil tersenyum. Kemudian ia memutarkan jarinya, dan genangan menjijikan itu sudah menghilang.
"Te...terima ka-"
Aku tak mampu melanjutkan ucapanku karena terpana dengan pemandangan yang disuguhkan di hadapanku. Laut berwarna biru jernih yang gemerlapan di bawah sinar matahari.
"Waa...Aku hanya pernah melihat Laut Hidup sekali, waktu itu dari kejauhan," ucapku, masih sambil ternganga. Mataku masih sibuk menelan keindahan warna biru yang lembut.
"Mau coba ke sana?"
"Apa maksudmu?" Aku menoleh kepadanya. "Bukannya kita memang sudah berada disini sekarang?"
Zeyn tertawa. "Maksudku, ke tengah lautan."
"Kau gila?!" Hardikku. "Aku tidak mau berenang di laut sedalam itu! Bisa-bisa aku dimakan oleh hiu atau paus! Atau... karena ini dunia Fae, mungkin aku bisa diserang oleh putri duyung!"
"Putri...apa?" Zeyn menatapku penuh kebingungan.
"Eum, bukan apa-apa." Mungkin putri duyung memang tidak nyata, bahkan di dunia Fae sekalipun.
Zeyn menarik lembut tanganku, dan sudah menuntunku semakin dekat ke lautan luas yang terbentang di hadapanku.
"Kau telah mengalami banyak hal akhir-akhir ini, Clara," katanya. "Aku ingin meringankan kesedihanmu, setidaknya."
Ia menggandeng tanganku, dan tak lama berselang kakiku sudah menginjak air. Aku panik, dan membuka mulut untuk berteriak. Namun suara yang keluar hanyalah lirihan karena ternyata aku sedang mengambang di atas permukaan air.
"Aa...ini... bagaimana bisa?"
"Berkat mereka." Aku mengikuti arah tatapan Zeyn, dan melihat beberapa Fae lainnya yang sibuk terbang di kejauhan. Saat aku menyipitkan mata, aku melihat warna sayap mereka adalah biru muda.
"Fae Aqua," katanya. Sekarang ia menarikku lagi, semakin dekat ke tengah lautan. Aku berusaha rileks dan memberanikan diri untuk mengambil langkah lagi. Sekarang aku sudah berjalan dengan santainya.
Fae Aqua itu ternyata masih sangat muda. Mereka terlihat masih kecil, dan mungkin lebih muda daripadaku. Anak-anak itu tertawa, dan saling bermain air.
Aku menangkap cahaya biru dari mataku, dan tersadar bahwa sihir mereka pasti terkait dengan air.
"Anak-anak, dimana orangtua kalian?" Tanya Zeyn kepada mereka. Mereka langsung berhenti tertawa, dan pupil mata mereka membesar. Aku tidak yakin kenapa. Mungkin mereka mengenal Zeyn sebagai seorang Ketua, maka mereka wajib menghormatinya sebagai seseorang yang berpangkat tinggi.
Tapi bukan ini reaksiku saat aku bertemu dengan seorang presiden, pikirku sambil menatap wajah mereka. Ekspresi mereka lebih terlihat seperti...
Zeyn tersenyum dan menepuk pundak salah satu bocah. "Pulanglah. Jangan terlalu lama bermain di tengah lautan."
__ADS_1
"Tapi ini rumahku," bisik salah satunya, namun tampaknya Zeyn tidak mendengarnya. Ia hanya terus tersenyum, sampai akhirnya satu persatu menuruti keinginannya dan pergi.
"Kenapa kau mengusir mereka?" Tanyaku.
"Mereka tidak boleh bermain lama di Laut ini."
"Kenapa? Apakah ada makhluk berbahaya yang tinggal di dasar laut?"
"Bukan begitu," jawabnya. "Lebih tepatnya, mereka tidak boleh bermain di luar terlalu lama. Karena kasus pembunuhan yang sudah banyak terjadi."
Aku jadi teringat dengan visiku tentang Dain. Kemarin, aku sudah berusaha untuk bertemu dengan dua kakak beradik itu, namun mereka tidak nampak. Bahkan Kei tidak mengetahui keberadaan mereka.
"Menurutmu..." Tenggorokanku tercekat. Aku tak sanggup membahas soal ini. "Apakah visiku, bisa terjadi nanti?"
Zeyn meremas tanganku. "Kita bisa mencegahnya untuk terjadi, Clara. Kau bisa melakukannya."
Aku menoleh kepadanya. Angin sepoi tiba-tiba berembus, menerbangkan rambut kami. Jantungku tiba-tiba berdegup saat melihat wajahnya yang tersenyum seperti biasa.
"Aku? Bagaimana caranya?"
"Kalau itu sih, tergantung kamu," katanya sambil tertawa. Namun tawanya langsung mereda begitu melihat wajahku yang masih murung. "Clara, aku percaya padamu. Kamu pasti bisa memecahkan semua masalah ini. Namun sekarang aku tidak ingin membahas mengenai hal ini."
Ia kembali menggandeng tanganku, kemudian menarikku ke bawah air.
Aku berteriak, namun bukan suara yang keluar, melainkan gelembung. Saat aku pikir aku akan mati karena tenggelam, aku bisa merasakan udara yang memasuki lubang hidungku.
Aku bisa bernapas di bawah air.
Zeyn merentangkan tangannya serta sayapnya, berenang ke dasar laut. Aku tercengang melihat keindahan Laut Hidup. Sesuai namanya, laut ini benar-benar hidup. Banyak jenis ikan dan makhluk yang berenang bebas. Masing-masing mempuntai bentuk, ukuran dan warna yang berbeda. Ada yang mirip seperti pukulan bisbol. Aku tersenyum melihat cara berenangnya yang sangat cepat.
Kami menghabiskan banyak waktu di bawah sini. Selain bisa bernapas, aku juga bisa berenang lebih cepat. Mungkin tekanan udara disini berbeda dibanding di wilayah manusia.
"Faeries Hydrollus."
"Yang benar saja," semburku. "Itu nama Latinnya?"
"Nama apa?"
"Bukan apa-apa." Kami kembali menjelajahi lautan yang luasnya sudah seperti samudera saja. Aku bisa melihat beberapa Fae yang juga sibuk berenang. Sebagian besar dari mereka bersayap biru.
"Laut ini juga merupakan tempat tinggal utama para Fae Aqua," jelas Zeyn kepadaku. Sekarang kami sedang duduk di atas pasir halus. Di sampingku terdapat bebatuan yang berwarna-warni.
Aku mendesah. "Ini...aku benar-benar tak bisa mendeskripsikan keindahannya. Aku tak ingin ini semua lenyap."
"Tentu saja tidak akan," kata Zeyn. "Semua hal di wilayah Fae bersifat kekal, termasuk Fae itu sendiri."
"Ya... tapi, aku benar-benar benci dengan siapapun yang sudah membunuh Fae-Fae malang itu," kataku geram. "Hanya untuk sayap? Apa yang dipikirkan dalam otak mereka?"
Zeyn terdiam. Beberapa detik kemudian, ia baru melanjutkan perkataannya. "Aku juga benci dengan siapapun pelakunya."
"Menurutmu siapa pelakunya?" Gumamku. "Aku masih mengingat visi mimpiku. Sayapnya dipotong dengan rapi, jadi sepertinya itu bukan ulah monster atau makhluk lain."
"Jadi kamu berspekulasi bahwa pelakunya adalah seseorang?"
"Ya," aku mengangguk. "Kalau perkataanmu benar bahwa itu bukan ulah Fae, artinya itu manusia. Tapi memangnya pernah ada manusia lain disini?"
"Aku belum pernah melihat manusia lain di wilayah Fae selain kau dan Jon," katanya dengan nada datar.
__ADS_1
"Mungkinkah... aku sendiri?"
Zeyn langsung menoleh kepadaku. "Ka...mu?"
Nafasku jadi tak beraturan. "Ma-maksudnya, selama ini kan aku selalu melupakan mimpiku. Kalau jangan-jangan aku sedang membunuh seseorang..."
"Bisa jadi."
"Apa?!" Aku berdiri dari pasir, dan langsung menjauhinya. "Zeyn..."
Ia mematung, masih tidak menatapku. "Perkataanmu masuk akal juga."
Dadaku jadi sesak. Jadi selama ini... aku pembunuhnya?! Aku menjatuhkan tungkaiku ke atas pasir. Memori mengenai mayat Dain masih menghantuiku. Apakah benar aku yang akan membunuhnya? Membunuh temanku sendiri?
"Clara..." Aku tak sadar sudah menangis. Aku menengadah, dan melihat Zeyn yang sudah berada di hadapanku. Ia juga berlutut, kemudian menghapus air mataku.
"Jangan menangis lagi."
"Tapi ini semua mulai masuk akal... Zeyn," kataku, masih sambil terisak. "Kemampuan anehku ini, aku tak dapat memahaminya. Semuanya jadi terkesan menyeramkan."
Tak kusangka, Zeyn justru memelukku, dan membelai rambutku.
"Tidak apa-apa, Clara."
"Tidak apa-apa?! Kau sedang memeluk seorang gadis yang bisa jadi seorang pembunuh, Zeyn..."
"Apapun yang kau lakukan dalam mimpimu, aku yakin bukan hal itu." Ia melepas sedikit dekapannya. Wajahnya sekarang sudah berada sangat dekat denganku.
"Zeyn..." Wajahku pasti sudah memerah dan terlihat menyedihkan. Namun, ia tak memandangku jijik sedetikpun. Ia tetap memasang senyumnya yang biasa.
Kemudian, aku lupa lebih tepatnya kapan, bibirnya sudah mengecup bibirku.
Aku mematung. Merasa terkejut. Kutatap mata coklatnya yang indah. Wajahnya yang semakin hari semakin terlihat tampan.
"Ke...napa?" Bisikku lirih.
"Aku percaya padamu, Clara," katanya lagi, kemudian menyatukan bibir kami lagi.
Setiap kali aku berpapasan dengan pria ini, aku tak menyadari perasaan aneh yang selalu kurasakan. Perasaan yang selalu muncul setiap kali melihat senyumannya. Pantas saja banyak gadis yang jatuh cinta dengannya, karena ia baik hati dan tak mudah marah.
Waktu itu, ia berusaha sangat keras untuk melindungiku dari siapapun yang akan berbuat jahat kepadaku, misalnya Chrys. Ia sampai menjadi pengawalku, dan berkali-kali menyelamatkanku dari bahaya. Aku tak menyangka bahwa selama ini ia juga menyimpan perasaan yang sama sepertiku.
"Aku menyukaimu, Clara," bisiknya. Lalu, ia membuka mulutku dengan lidahnya.
Aku hanyut dalam setiap sentuhannya. Aku tak yakin apa yang terjadi kemudian, karena semuanya terasa begitu cepat. Tubuh kami sudah tidak berbalut apa-apa lagi.
Dan pada saat itu, oh! Di saat puncaknya, aku mengerang hebat, belum pernah merasakan sensasi dahsyat yang seperti ini. Aku sekarang bisa merasakan otot-otot perutnya serta lengannya yang kekar, kemudian ujung sayapnya yang berwarna abu.
"Zeyn..." Ia kembali melakukan itu. Aku berteriak, bahkan sampai menggigit lidahnya. Namun ia terus menerobos pertahananku, membuatku tak berdaya.
"Kau spesial bagiku, Clara," katanya, kemudian tangannya sudah menjelajahi seluruh tubuhku. Aku mendesah saat akhirnya kami beristirahat sebentar. "Kau pemberani."
Saat tubuh kami lagi-lagi menyatu, aku tidak memikirkan kesucianku lagi, namun betapa luas cintaku untuknya.
.
.
.
Terima kasih karena kalian sudah membangkitkan semangatku lagi 😁 Kemarin sempet down sampe buat pengumuman, tapi semuanya pengen aku lanjutin aja. Dan kabar baik, author akan melanjutkan cerita ini, dan mungkin setiap chapter isinya bakal lebih panjang, kayak chapter ini misalnya.
__ADS_1
Oh ya! Ada yang kangen sama Chrys? Karena sebentar lagi, dia akan muncul 😆