
"Clara." Ia mencengkeram tanganku. Di matanya sekarang terpancar ketakutan. Belum pernah aku melihatnya seperti itu.
"Bawa temanmu pergi dari sini secepatnya."
Apa maksudnya? Aku hendak menanyakannya, tapi gadis itu lagi-lagi bergumam dengan aneh.
Brak! Pintu tiba-tiba dibuka dengan kasar. Pria Ventus itu langsung menarik tanganku jauh-jauh dari Clora.
"Apa kau baik-baik saja?" Ia sampai memutarkan kepalaku, membuatku semakin jengkel saja.
Ia membelalakkan matanya saat aku menepis tangannya. "Bisa tidak, Zeyn? Aku bukan bocah kecil yang 24 jam harus diperhatikan."
Wajahnya menjadi datar, tapi aku bisa melihat otot nadi tangannya. "Tentu saja harus. Apa kau lupa bahwa kau sudah menjadi milikku?"
Ia kemudian memelukku. Dia pasti sengaja melakukan ini didepan Clora.
Aku buru-buru mendorong tubuhnya, namun lengannya terlalu kuat. "Le...pas...kan...aku Zeyn!"
"Tidak!" Sedetik kemudian, bibirnya sudah mendarat dengan keras di bibirku. Aku tak suka diperlakukan seperti ini, maka aku melakukan cara yang sama setiap kali aku dipaksa bercumbu dengan pria.
"Akh!" Aku menendang alat kelaminnya, sekaligus menggigit bibir bawahnya. Tak menunda waktu, aku sudah berlari ke luar ruangan, menuju kamar Jon.
Braak!
"Siapa disana?!"
"Jon! Ayo, kita pergi dari sini!" Aku melingkarkan lengannya di leherku, kemudian sudah menariknya untuk berdiri. Temanku itu tampak sangat terkejut, tapi aku tetap tak melepaskannya.
"Kena-"
"Jangan banyak tanya! Tempat ini berbahaya!" Saat kami sudah berada di ambang pintu, sosok Zeyn tiba-tiba muncul di hadapanku.
"Mau kemana kau?" Ia masih terlihat kesakitan, namun itu tak menghambatnya untuk membuka telapak tangannya dan mengarahkannya kepadaku.
Ia hendak menyerang kami dengan sihirnya.
"Ke mana saja asal bukan bersamamu," kataku untuk mengulurkan waktu.
__ADS_1
Ia terlihat geram. Pupil matanya membesar dan ia menggerakkan tangannya dengan cepat.
Bruukk!
"Ahhh!" Aku berteriak. Tulangku serasa meremuk, dan aku tak mampu bangkit berdiri. Tubuhku terkapar di lantai, sedangkan Jon sudah terpisah dariku.
"Apa maumu?!" Jeritku murka. Ia menghentakkan kakinya dengan keras, dan menaikkan daguku.
"Hanya satu hal, yaitu kamu." Ia kembali merampas ciumanku, namun aku memalingkan muka. Itu memancing emosinya, sehingga ia menampar wajahku.
Aku menangkap pergerakan dari sudut mataku. Jon sudah mengangkat kursi yang berada di dekatnya, kemudian melemparnya ke arah Zeyn.
"Beraninya kamu!" Zeyn kembali menghantamnya ke dinding. Bunyi yang dihasilkan sangat keras. Aku takut Jon bisa kenapa-napa.
"Zeyn! Kumohon, jangan lukai dia!"
"Atau apa?!" Ia masih menahan pergelangan tanganku. "Dia hanya manusia, Clara."
Aku tertawa lirih. "Kalau begitu aku apa? Kenapa tidak kau membunuhku juga?"
"Karena aku mencintaimu."
"Bohong!" Teriakku lagi.
"Bohong?" Ia menyeringai, membuat bulu kudukku naik. Tak pernah aku melihat sisi dirinya yang seperti ini.
"Kalian manusia perlu pengakuan cinta yah? Perlu bukti bahwa aku benar mencintaimu?"
Ia bangkit berdiri. "Kalau begitu aku punya buktinya. Semua ini...aku melakukannya demimu."
"Semua apa?!"
Ia tak sempat membalasku karena seseorang menyerangnya dengan sihirnya. Kei.
"Aku tak percaya kau melakukan ini pada mereka," bisiknya. "Meskipun kau Ketuaku, aku tetap tak segan menyerangmu karena sudah melukai temanku."
Zeyn tertawa keras. Ia dengan tenang melangkah ke arahnya. "Seharusnya aku tahu ketertarikanmu dengan kaum manusia. Rupanya kau sangat setia dengan mereka, ya? Perlu kujelaskan kepadamu bahwa manusia itu cuma makhluk sampah?"
__ADS_1
"Diam!" Kei menyerangnya lagi. Kali ini Zeyn mampu menghindar. Tubuhnya seperti melakukan tarian yang gesit, kemudian tahu-tahu ia sudah berada tepat di hadapan gadis itu dan mencengkeram lehernya.
"Zeyn, jangan lakukan ini!" Aku bersusah payah bangkit berdiri. "Aku tak akan pergi dari sini kalau kau melepaskan teman-temanku!"
Tangan Zeyn langsung terlepas dari leher Kei. Gadis itu jatuh berlutut, sambil menstabilkan pernapasannya.
"Jangan, Clara," kata Jon dari seberang ruangan. "Huh! Harusnya aku memercayai firasatku bahwa dia bermaksud jahat."
"Bagaimana caranya aku bisa memercayai ucapanmu?" Zeyn mendekatiku, kemudian memandangku tanpa rasa bersalah.
"Kau...kau bisa melakukan apa saja padaku," bisikku sambil gemetaran. "Kau bebas melakukan apa saja. Kau boleh me...ngunciku. Kau boleh mengawasiku. Hanya saja, ada syaratnya."
"Coba katakan."
"Biarkan Jon kembali ke kota manusia."
"Clara!" Jon berusaha mendekatiku, namun Zeyn menghalanginya dengan sihirnya.
"Hanya itu?" Tanya Zeyn sambil mendengus. "Oke. Tapi kau perlu ingat, bahwa selanjutnya sampai selama-lamanya, kau adalah milikku."
Aku terdiam. Perutku langsung mual begitu mengingat apa yang sudah kami lakukan di Laut Hidup. Betapa bodohnya diriku untuk memercayai pria seperti Zeyn.
"Kau, antar pria manusia itu kembali ke wilayah manusia," perintah Zeyn pada Kei. Gadis itu menurut dan tidak berkata apa-apa.
"Jangan sentuh aku!" Jon meronta-ronta. "Clara! Kau sedang apa sekarang?!"
"Tentu saja sedang bernapas, bodoh," ujarku kepadanya. Air mata mulai keluar, membasahi pipiku. Aku memandang mata Jon untuk yang terakhir kalinya. Mata yang dulunya sangat kukagumi. Mata yang sekarang sudah terhias oleh warna abu Ventus.
"Rawat Stef baik-baik, Jon," bisikku. "Dan lupakan aku."
.
.
.
Karena ini lagi minggu ujian, jadi update ada kemungkinan lebih lama dari biasanya yah
__ADS_1