
"Apa kau yakin, Clara?"
"Kita tak punya banyak waktu!" Balasku sambil berteriak. "Aku yakin itu tempatnya!"
Tanpa berkata apa-apa lagi, Sana mengangguk, kemudian menarik tangan Clora yang sudah tak lagi melawan, dan memasuki rumah sempit itu. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya lagi, dan menoleh ke belakang.
"Clara, apa kau butuh bantuan?"
Aku menggeleng dengan cepat. Sekarang aku sedang memapah Chrys yang masih tak sadarkan diri, dan kakiku sekarang bergetar hebat karena tak mampu menahan berat badannya.
"Tak usah pedulikan aku," kataku di sela-sela hembusan napasku. "Zeyn bisa menyusul kita kapan saja. Kita harus cepat sebelum ia menangkap kita."
Klik! Untungnya, rumah kecil milik Chrys tak terkunci. Sana buru-buru mengikat ujung tali yang mengekang tangan Clora ke ujung sebuah meja, kemudian kembali lagi untuk membantuku.
Setelah pintu terkunci, kami segera membaringkan Chrys ke atas ranjangnya. Wanita itu lalu kembali menyelimuti tubuh Chrys dengan cahaya putihnya, kembali bekerja agar pria itu bisa segera siuman.
Untuk beberapa saat, tak ada satupun yang berbicara, termasuk Clora. Perempuan itu sedari tadi menggerakkan bola matanya, sibuk memperhatikan isi rumah. Dinding yang bercat hitam kelam, yang sekarang memiliki aura yang benar-benar berbeda dibanding sebelumnya.
Tak ada lagi bintang kecil yang gemerlapan, yang biasanya tersebar bagaikan serbuk cahaya pada permukaan dinding. Seolah-olah kehangatan dan kenyamanan rumah lenyap begitu saja, bersamaan dengan kondisi sang pemilik rumah yang masih tak ada kemajuan.
"Ini... rumahnya?" Gumam Clora sambil menggeleng-geleng. "Aku tak menyangka. Aku tak pernah menyangka-"
"Tak pernah menyangka apa?" Potongku sambil menyilangkan tangan. "Tak pernah menyangka akan sesuram ini?"
"Bukan," katanya sambil menggeleng-geleng. "Aku tak akan terkejut lagi kalau suasananya memang suram. Apa yang kau harapkan dari Chrys? Hanya saja..." Clora mendesah. "Bagaimana cara menjelaskannya? Aku... tak menyangka dia bisa bertahan hidup selama ini. Pasti ia sangat kesepian."
Andai kau ada disini pada saat itu, pikirku. Saat Chrys menciptakan cahaya di tengah-tengah kegelapan. Waktu itu suasananya benar-benar berbeda dibanding sekarang.
"Apa yang membuatmu berkata seperti itu?" Tanyaku lagi. Aku ikut duduk di atas lantai, kemudian meluruskan kedua kakiku yang mulai kram.
Bahkan lantainya saja dingin, seolah-olah tak pernah ada cahaya matahari yang menghangatkan tempat sesak ini.
Aku menggigil dan memeluk diriku sendiri.
"Maksudmu kenapa ia bisa bertahan hidup sampai sekarang?"
"Bukan," balasku. "Maksudku, cara kau mendeskripsikan Chrys. Kesepian. Setahuku, ia memang tak suka bergaul dengan orang lain."
"Kau benar-benar tak tahu apa-apa, ya?" Clora menggeleng-geleng. Sekarang yang tergambar di wajahnya bukan lagi rasa kebencian terhadap Chrys. Bukan lagi amarah atau murka karena kami sudah seenaknya menyeretnya sampai ke sini. Yang ada hanyalah kedukaan, dan rasa penyesalan yang mendalam.
"Chrys... Sebenarnya dia anak yang baik." Clora mulai menjelaskan semuanya. Ia masih tak berani memandang wajahku. Entah apa yang dipikirkannya sekarang.
"Dia adalah temanku saat aku masih bersekolah. Kami berlatih bersama-sama, walau golongan sihir kami berbeda. Bisa dibilang, ia teman pertamaku. Kau pasti akan terkejut, karena Chrys itu anak yang paling populer," jelas Clora lagi. "Ia petarung yang paling hebat. Tak ada yang mampu mengalahkan kemampuannya."
"Namun semuanya mulai berubah saat Zeyn hadir ditengah kehidupan kami. Pria itu bisa dibilang saingan Chrys. Ia sosok yang dikagumi oleh semua orang. Ia memiliki ide yang cemerlang. Ia lemah lembut, apalagi terhadap perempuan. Selain itu dia juga-"
"Stop." Aku langsung memotongnya. "Kau tak perlu menjelaskan semua hal positif yang dimiliki Zeyn. Kecuali kau ingin aku muntah didepanmu sekarang."
__ADS_1
Aku tak menyangka Clora akan tersenyum. Ia mengangguk, kemudian melanjutkan penjelasannya. "Aku jadi tertarik dengan Zeyn, walau aku tahu aku tak akan memiliki kesempatan dengannya. Aku masih ingat dengan jelas saat ia akan memilihku sebagai salah satu anggota kelompoknya. Aku sempat berpikir kalau itu hanyalah mimpi."
"Setelah itu, apa yang terjadi dengan Chrys?" Tanyaku. Aku tak ingin lagi mendengar penjelasan Clora terkait dengan Zeyn. Aku hanya penasaran dengan masa lalu Chrys, kenapa sekarang ia dikucilkan dari masyarakat. Kenapa semua orang takut kepadanya.
"Suatu hari, kedua orangtua Chrys mati secara mengenaskan. Rumah mereka terbakar. Tapi tak ada seorangpun yang mengetahui siapa pelakunya."
Aku terbelalak. "Dan? Semua orang menyalahkannya?"
"Awalnya Chrys hanya dimasukkan ke dalam daftar tersangka. Tapi pada akhirnya ia ditangkap dan dipenjara."
"Kenapa?" Amarah mulai mengalir dalam diriku. "Yang benar saja! Mereka menangkapnya begitu saja tanpa bukti?"
"Itu karena Chrys tak ada di dalam rumahnya pada saat itu. Jadi hanya ia satu-satunya tersangka."
Kepalaku mulai pusing, dan aku menoleh ke belakang. Wanita itu masih sibuk mengeluarkan sihirnya, berusaha keras agar Chrys bisa segera terbangun.
Mungkinkah itu alasannya kenapa ia sangat membenci cahaya matahari? Karena itu mengingatkannya dengan hari itu? Saat rumahnya terbakar habis tak bersisa?
"Terlalu terang. Aku gak suka." Chrys pernah berkata seperti itu. Setelah itu ia menarik gorden jendela untuk menghalangi sinar matahari.
"Tak ada batasan waktu untuk pergi ke luar, kan?"
Waktu itu, ia sengaja keluar rumah saat matahari tak lagi menampakkan diri. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Kupikir itu karena ia sudah terbiasa mengurung diri di dalam rumahnya sendiri.
"Kenapa kau baru menceritakan ini kepadaku?" Bisikku pada Clora. Aku lalu mengangkat kepala dan menatapnya lekat-lekat. "Aku tak paham. Sebenarnya kau itu berpihak pada siapa?"
"Waktu itu jelas-jelas kau memandang Chrys sebagai sosok yang... entahlah. Seperti seorang iblis yang tak akan bisa diampuni."
Clora tertawa geli. "Dia memang berbahaya, Clara. Kau hanya belum mengenalnya dengan baik. Ia bahkan sempat meledakkan seisi gedung sekolah agar para penjaga tidak dapat menangkapnya. Ia membuat semua orang terluka. Bahkan ada yang terenggut nyawanya akibat ulahnya."
Deg! Ini jelas bukan hal yang mau kudengar darinya. Aku tak percaya Chrys pernah melakukan hal itu.
Clora kembali berbicara dengan ekspresi datar. "Kau tahu berapa lama ia dipenjara?"
Tepat di saat itu, terdengar suara batuk yang keras. Aku langsung menoleh dan bangkit berdiri.
"Chrys? Chrys!" Aku menyentuh kedua bahunya. Pria itu sempat membuka kelopak matany, tapi tak lama kemudian matanya kembali terpejam. "Bagaimana kondisinya, Sana?"
"Semakin parah," jawab Sana gelisah. "Clara. Sebaiknya kau jelaskan apa yang terjadi waktu itu. Tak pernah aku bertemu dengan pasien yang kekuatannya selemah ini. Ia bisa mati kalau dibiarkan seperti ini."
Tanpa memprotes aku langsung menjelaskan semuanya secara singkat. Bagaimana tubuh Chrys bisa tiba-tiba lemah setelah ia membawaku untuk berlatih. Aku juga menjelaskan soal bayangan hitam yang sempat merasukiku.
"Itu ulah Chrys sendiri. Ia sengaja melakukan itu agar aku bisa mendapat pengalaman," jelasku.
Sana menggeleng-geleng. "Pria itu sudah kehilangan akal. Seharusnya ia masih terbaring dan beristirahat, bukannya pergi ke rumah Clora dan mencarimu."
"Mencariku?! Siapa yang bilang-"
__ADS_1
Chrys tiba-tiba mengerang. Aku kembali panik. "Sana! Tolonglah!"
Sekarang aku bisa melihat kedua kantung mata yang menghiasi wajah wanita itu. Mana sihirnya pasti sudah terkuras banyak. Itu membuat harapanku menurun drastis.
"Apa yang bisa kita lakukan sekarang?" Bisikku dengan tenggorokan yang tercekat. Aku memandangi wajah pria malang itu dengan perasaan iba dan sedih, kemudian menyentuh dahinya dengan punggung tanganku.
Hangat.
Ucapan wanita itu benar. Kondisinya malah semakin parah.
"Untuk kasus seperti Chrys, seseorang harus mentransfer kehangatan pada tubuhnya. Biasanya Fae dengan golongan sihir yang sama bisa mendonorkan sihirnya kepadanya. Tapi karena disini tak ada satupun yang memiliki sihir yang sama dengan Chrys, maka..." Sana mendesah pelan. "Maafkan aku, Clara."
Tidak. Dadaku tiba-tiba sesak. Aku tidak tahu kenapa aku begitu peduli dengan kondisi Chrys. "Pasti ada cara lain. Pasti ada."
Aku terisak, kemudian mencengkeram kuat lengan baju Chrys. "Sana? Kenapa kau diam saja? Kau kan, seorang Fae Healer..."
"Apa kau tak dengar ucapannya barusan?" Kata Clora dari belakang. Ia hendak bangkit, tapi tersadar bahwa tangannya masih terikat dengan tali. "Tak ada yang bisa dilakukan lagi. Relakan saja."
"Relakan?" Aku menoleh secara perlahan ke arah perempuan yang duduk tenang di atas lantai. "Semudah itu?"
Dalam sekejap mata, tanganku sudah mencengkeram kerah baju Clora. "Kau tidak tahu apa-apa soal dia! Kau pikir ini mudah?!"
Aku terus berteriak, melampiaskan amarahku langsung ke wajahnya. Tapi Clora hanya terdiam, menutup mulutnya dengan rapat.
"Semua hal yang pernah kalian katakan soal Chrys. Itu salah." Aku menggeleng-geleng. "Aku yakin pasti ada salah paham. Kurasa ia tak pantas menjadi tahanan selama bertahun-tahun."
"Clara... Chrys itu memang berbahaya-"
"Tidak. Cukup sudah." Aku melepaskan kerah bajunya dengan kasar. "Aku tak mau mendengar apa-apa lagi."
"Tapi ini ada kaitannya denganmu."
Rasanya seperti ada es yang mengalir di peredaran darahku, membuat tubuhku mematung.
"Mungkin kau belum pernah melihat Chrys, tapi ia pernah memasuki rumahmu saat kau masih kecil."
Kali ini aku kembali memandangi mata bulat Clora. Tentu saja aku tahu hal itu. Chrys adalah Fae pertama yang kutemui secara langsung saat masih kecil. Tapi pertanyaannya sekarang, darimana ia bisa tahu hal itu?
"Aku melihatnya secara langsung. Chrys juga pernah meledakkan rumahmu dengan sihirnya."
Aku mengepalkan tanganku dengan geram. "Jangan bohong."
"Aku tidak berbohong," kata Clora dengan percaya diri dan tanpa ragu. "Kalau kau tak percaya, coba tanyakan saja sendiri seandainya Chrys siuman."
Bagaimana visualnya? Apakah cocok dengan Clara dan Chrys?😆
__ADS_1