Wings & Dream

Wings & Dream
Ch.11 - Berangkat Berburu


__ADS_3

Keesokan harinya, aku sudah berdiri di depan rumah. Kali ini aku harus mengenakan baju pelindung - baju untuk berburu. Belati kecil tergantung di sisi bajuku. Kata Zeyn, aku harus mempunyai senjata, untuk berjaga-jaga jika aku tersesat dan bertemu bahaya.


"Aku penasaran jika Zeyn ikut berburu dengan kami," kata Rio dengan suara pelan, agar Zeyn tidak dapat mendengarnya. "Maksudku, aku tahu dia itu hebat... ya, mungkin lebih hebat sedikit dariku."


"Kau segitunya membenci Zeyn, ya?" Tanyaku tiba-tiba. Rio langsung menaruh telunjuknya di bibir, mengisyaratkanku untuk tetap diam. Aku menoleh ke belakang dan memerhatikan Zeyn. Pria itu ternyata sedang menatapku. Dilanda oleh rasa malu dan gugup, aku menelan ludah susah payah dan memalingkan wajah.


"Maksudku, aku tak pernah sekalipun berburu dengannya." Rio membuka telapak tangannya dan api mencuat keluar, membuatku ternganga.


"Kau-"


"Bagaimana? Ingin menyentuhnya?" Rio mendekatkan api itu ke batang hidungku. Sontak aku mendelik dan memukul lengannya.


"Aku cuma manusia. Bisa-bisa hidungku terbakar nantinya."


"Kau bisa tinggal menyuruh Fae Healer untuk menyembuhkan luka bakarmu."


"Pernah dengar pepatah bahasa inggris, an apple a day keeps the doctor away? Artinya lebih baik menghindari daripada mengobati."


"Wow." Rio berhenti memainkan apinya dan menoleh kepadaku. "Sepertinya aku harus mempelajari bahasa manusia lebih dalam."


Aku tertawa mendengar ucapannya. Kami terus berjalan memasuki Taman Musim Dingin. Setiap kali Rio bercanda denganku, aku merasa waswas, seperti sedang diperhatikan oleh Zeyn dari belakang. Maka aku sebisa mungkin menahan tawa.


Aku memfokuskan pendengaranku untuk mendengar percakapan Zeyn dan Kei.


"Jadi apa kata Clora sebelum kita berangkat?" Tanya Zeyn kepadanya. Kei mendesah, kemudian mengatakan bahwa gadis itu marah dan mengunci diri dalam kamarnya.


Clora. Gadis pemarah itu sudah sangat kesal karena Zeyn tidak mengajaknya untuk berburu. Biar bagaimanapun, ia salah satu orang kepercayaan Zeyn. Wajar untuk merasa cemburu denganku yang baru mengenalnya.

__ADS_1


"Sedang memikirkan apa?" Aku tak menyadari Zeyn yang sudah berada di sampingku. Kei sampai menarik Rio jauh-jauh, mungkin agar ia tidak lepas kendali saat Zeyn berada di dekatnya.


"Bukan apa-apa," balasku. Tapi ia dapat membaca ekspresiku dengan jelas. "Aku hanya akan mengawasimu dari jauh, jadi jangan merasa tak enak hati. Kau bebas melakukan apa saja asal bisa menjaga diri."


"Aku tahu," gumamku. Pergelangan tanganku tiba-tiba digenggam olehnya. "Clara..." Ia tersenyum dan membenarkan rambutku yang beterbangan. Aku mematung, masih tidak biasa dengan semua sentuhannya.


"Iya, Zeyn. Aku tak akan bersedih lagi," balasku, kemudian melangkah menjauhinya. Jantungku sebenarnya berdegup kencang, entah karena apa.


Sesampainya di dalam taman, tiba-tiba aku merasakan angin yang berembus kencang. Aku sampai harus membenarkan tudung jubahku.


"Uhh, dingin sekali," kata Kei yang berjalan di sampingku. "Sini, Clara." Akhirnya kami saling berpelukan, saling berbagi kehangatan tubuh.


"Tumben sekali. Biasa hawanya tidak sedingin ini," kata Dain kepada kami. "Tapi jangan khawatir. Rio, hangatkan kita semua dengan apimu."


"Cih." Rio mendengus dan mengangkat kedua tangannya. Seketika cahaya merah menyelimuti kami, melindungi kami dari angin kencang. "Kenapa harus selalu aku? Kamu kan juga bisa melakukannya, Dain."


Kami terus berjalan di atas rumput putih, melewati pepohonan kurus nan tinggi. Tubuhku menggigil dalam dekapan Kei. Gadis itu berteriak ditengah-tengah terjangnya angin keras. "Kita harus cari tempat berlindung! Cuacanya semakin parah!"


"Begitukah?" Rio berbalik badan dan hendak menghampiriku, namun Zeyn sudah lebih dulu membungkus tubuhku dengan jubahnya.


"Pakai ini agar lebih hangat," katanya. Aku mengangguk, tiba-tiba merasa bersalah kepadanya.


"Tak apa-apa. Kau yang lebih butuh ini." Setelah itu, ia menoleh kepada Rio. "Tetap gunakan sihirmu untuk mereka. Aku hanya akan mengawasi Clara dari kejauhan."


Kei menghentikan langkahnya. "Apa maksudmu, Zeyn? Katanya kau ikut kami untuk berburu?"


"Kalau aku terus membuntuti Clara, ia jadi terikat dan tidak bebas untuk melakukan apa saja," balasnya, yang membuat kepalaku tertunduk. "Lagipula aku tak gemar berburu monster. Kalian saja."

__ADS_1


"Baguslah," gumam Rio, yang dapat kudengar. "Akhirnya bebanku berkurang satu."


Zeyn hanya menyipitkan mata, kemudian sudah menghilang di balik pepohonan.


***


"Sudah pergi berapa lama mereka?" Tanya gadis itu dari dalam kamarnya.


Jon menghentikan langkahnya, dan kembali berhadapan dengan pintu kamar Clora. "Tidak tahu. Seharusnya kamu yang lebih tahu, kan?"


"Huh! Aku gak peduli dengan mereka!" Teriak gadis itu. Kemudian, hening.


"Umm, Clora?" Jon menggedor-gedor pintu. "Kamu marah ya?"


"Gak sama sekali!" Teriaknya dari dalam. "Pergi dari pintuku!" Seketika terdengar suara angin yang menghantam pintu. Itu membuat Jon merinding, namun usaha gadis itu tidak membuatnya beranjak dari pintu.


"Masih disini?! Aku bisa mencium baumu tahu!"


"Kenapa kau mengunci diri di dalam sana?"


"Siapa bilang aku mengunci diri?! Aku lagi sibuk... mengerjakan sesuatu!" Teriaknya lagi. "Kalau kamu baik hati, pergi dari sini!"


"Lebih tepatnya, kemana ya?"


"Kau bodoh atau apa?!" Terdengar suara hentakan kaki, kemudian pintu sudah terbuka. Jon bisa melihat dengan jelas ekspresi gadis itu. Rambutnya berantakan, dan wajahnya merah dan kusut. Matanya sembap, seperti habis menangis.


"Pergi!" Tangan Clora menegang, kemudian ia sudah menciptakan angin. Tubuh Jon terpental ke dinding. Ia menggunakan tangannya untuk melindungi wajahnya dari hantaman angin.

__ADS_1


Pintu lagi-lagi dikunci. Jon tidak bergerak. Ia hanya menaikkan kedua lututnya ke dada, menatap pintu kamar gadis itu. Clora marah karena pria itu pergi meninggalkannya, ia baru terpikir hal ini. Lebih tepatnya, pergi membawa Clara juga.


Entah kenapa, Jon tidak ada nafsu makan. Ia hanya duduk di depan pintu kamar Clora selama berjam-jam. Detak jam dinding dan isakan tangis gadis itu lah yang menemaninya.


__ADS_2