Wings & Dream

Wings & Dream
Halo, Gadis (2)


__ADS_3

Chrys sontak menepis tangannya. Ia belum pernah disentuh oleh seorang manusia sebelumnya. Ia belum memiliki gambaran jelas bagaimana sifat asli manusia. Berdasarkan ilmu yang diajarkan oleh kaumnya, manusia itu hanya makhluk egois dan serakah. Tidak ada yang pernah menyebutkan bahwa mereka penolong dan baik hati.


Chrys tak menghiraukan wanita itu dan langsung menerobos masuk ke rumahnya. Tapi karena jejak tetesan darahnya, ia pasti akan segera tertangkap.


Tak ada cara lain. Chrys menarik napas, dan memusatkan seluruh energinya. Akhirnya cahaya kuning tercipta dari tangannya, menyembunyikan jejaknya untuk sesaat.


Wanita itu linglung. Jelas sekali ia merasa heran melihat cahaya yang entah muncul darimana.


"Pak! Dimana Anda?! Jangan asal menerobos rumahku begitu saja!"


Untungnya penerangan di dalam rumah tidak dinyalakan. Berkat penglihatannya yang lebih tajam sebagai seorang Fae, ia bisa dengan mudah bersembunyi diantara tumpukan barang-barang. Rumah kecil ini ternyata masih memiliki tempat sembunyi.


"Pak. Aku tahu kau ada disana."


Chrys menahan napasnya. Nenek tua itu tak bisa melihatnya, namun dapat merasakan keberadaannya. Ketika ia yakin ia akan segera tertangkap, suara tangisan pecah, membuyarkan fokus nenek itu.


"Clara? Clara!" Nenek itu langsung berlari ke arah berlawanan. Chrys mengerutkan dahinya. Siapapun Clara itu, ia sudah membantunya.


Namun Chrys masih tetap bersembunyi di tempat persembunyiannya. Ia melirik ke jendela besar di sampingnya. Badai semakin ganas, tapi ia tetap melihat dua sosok bayangan itu.


"Bagaimana kondisi Clara?" Kata pria itu. Chrys mematung, tidak yakin jika telinganya itu berfungsi dengan baik. Jelas-jelas itu suara Zeyn.


Apa yang sedang mereka lakukan? Mengintip lewat jendela? Dan sejak kapan Zeyn tertarik dengan para manusia?


"Buruk, seperti biasa." Balas satunya lagi yang ternyata seorang perempuan. "Zeyn. Aku bisa mengurusnya. Kau kembalilah. Sebentar lagi semua orang akan mencarimu."


"Apa maksudmu, Clora?"


Chrys memasang telinganya, namun tangisan gadis kecil di seberang ruangan malah mengganggunya.


"Sebentar lagi Pangeran Dexter dan tunangannya akan segera menikah di Taman Musim Semi. Kau ini Ketua Ventus. Mereka pasti akan mencarimu kalau kau menghilang."

__ADS_1


"Kau benar, Clora." Setelah itu, pria itu terbang meninggalkannya.


Gadis yang bernama Clora itu menghembuskan napas. Namun saat ia hendak berbalik badan, matanya terbelalak saat ia melihat Chrys yang sedang bersembunyi.


Sial. Chrys tak memberinya kesempatan sedetikpun. Ia meledakkan cahaya dari dalam dirinya, membuat seisi rumah gaduh karena cahaya terang yang tiba-tiba muncul. Ia dapat mendengar suara hentakkan kaki beberapa orang, beberapa diantaranya adalah pria berbadan besar.


Maaf. Chrys tahu. Berkat sihirnya, para manusia itu jadi terbangun. Ia terpaksa melakukan ini agar Clora tak dapat melihatnya.


Rengekan gadis itu semakin menjadi-jadi. Chrys tak mampu menahannya lagi. Akhirnya ia keluar dari tempat persembunyiannya.


"Pindahkan dia. Sekarang." Wanita itu memerintahkan dua pria tadi. Chrys menarik napas lagi, dan menggunakan sihirnya untuk membuat dirinya tak terlihat.


Ia melihat gadis kecil itu. Wajahnya sampai memerah, dan ia sedang meronta-ronta. Hatinya langsung merasa iba. Ia tahu ini kesalahannya, karena sihirnya yang tadi ternyata melukainya.


Gadis itu terluka parah. Tidak, lebih tepatnya, ada luka pada bagian kepalanya karena cahaya kuningnya.


"Tidak." Chrys tanpa sadar menitikkan air mata. "Maafkan aku, Clara. Maafkan a-"


"Cepatlah, kalian!" Neneknya malah semakin panik. "Cucuku sedang terluka! Bawa perlengkapan obat-obatannya!"


Berjam-jam mereka melakukan itu. Chrys masih terus memperhatikan gadis kecil itu. Ia sibuk bergumam pada diri sendiri. Ia pasti merasa syok dan tak mampu berproses apa yang sedang dilakukan oleh orang-orang ini.


"Panggilkan dokter."


"Tapi, Bu. Ini tengah malam, dan badai salju masih-"


"Kubilang, panggilkan dokter!"


"Ba-baik!" Salah satu pria itu langsung berlari, bahkan melewati Chrys yang saat itu sedang berdiri di ujung ruangan.


"Clara, ada apa denganmu?" Nenek itu sekarang mengelap dahi gadis kecil itu yang basah karena keringat. "Aku tahu kau suka sekali bermimpi, tapi tadi..."

__ADS_1


"Tadi ada yang aneh," sahut pria lainnya. "Cahaya apa tadi?! Petir-kah?! Kita beruntung karena tak terluka, namun kepala Clara sekarang berdarah-darah!"


"Ini masih bisa diobati," jawab Nenek itu dengan tenang. "Tapi lihatlah kondisinya sekarang-"


"Aku tahu, Bu," potong pria itu. "Aku bisa lihat luka pada kepalanya."


"Bukan itu maksudku." Nenek itu menatap pria itu dengan tajam. "Dia sedang bergumam sendiri. Keringat bahkan tak berhenti keluar. Apa cucuku menjadi gila?"


Tubuh Chrys tiba-tiba merasa lemah. Ia sudah terlalu banyak menggunakan mana sihirnya. Sekarang cahayanya meredup.


"Tidak. Jangan sampai mereka melihatku," bisiknya pada diri sendiri. Aku harus segera keluar.


"Chrys." Terdengar suara bisikan gadis itu. "Jangan tinggalkan aku."


"Clara?! Kau sudah sadar kah?" Nenek itu langsung memeluk cucunya. "Bangun, nak! Nenek sungguh khawatir denganmu!"


Ia membalikkan badan, kemudian menggunakan bantuan dinding untuk berdiri. Dilihatnya lah gadis itu. Gadis berambut ikal coklat dengan wajahnya yang imut.


"Fae." Gadis yang sedang terbaring di ranjang itu melihatnya. Ia tersenyum, tak memperdulikan Neneknya sendiri yang sedang mengkhawatirkan kondisinya.


Chrys tidak memahami perasaannya sendiri pada saat itu. Jantungnya berdebar-debar tak karuan. Baru kali ini seseorang memanggilnya dengan lembut, tanpa ada unsur kebencian atau rasa jijik.


Ia juga tersenyum. "Halo, gadis."


.


.


.


Halo guysss 😆😆 Bagi yang bertanya-tanya sendiri dalam hati. Iya, ini adegan di prolog. Kalo udah agak lupa, bisa baca ulang lagi Eps Prolognya yah...

__ADS_1


Tetap setia sama kisah ini, karena untuk selanjutnya, bakal dibintangin sama Chrys 🤭


__ADS_2