
Aku mengerjapkan mata, dan langsung menghalangi pandanganku karena sinar matahari dari jendela yang menusuk.
Dimana ini? Aku tak ingat apa-apa. Hal pertama yang kulihat adalah dinding rumah yang berwarna hitam kelam, lalu furnitur kamar yang kutempati sangat minim dan hanya terbuat dari kayu.
Aku menangkap seseorang dari sudut mataku. Saat aku menoleh, aku mendapati Chrys yang sedang mengamatiku.
"Ah!" Teriakku, lalu refleks melempar bantal ke arahnya. "Apa yang kau lakukan disini?!"
Ia tertawa geli melihatku. "Santai. Aku gak melakukan apa-apa padamu."
Aku mengerutkan dahi. Di saat itulah aku merasakan sakit dan pegal pada punggungku. Perlahan aku mulai mengingat kejadian yang telah menimpaku. Aku telah melindungi Chrys dari serangan Zeyn.
Chrys berdecak. "Lihat dirimu. Langsung memasang muka kecewa begitu mendengar aku tidak melakukan apa-apa padamu."
Aku tak menghiraukannya dan berusaha bangkit dari kasur, tapi ia langsung membaringkanku lagi.
"Jangan sentuh aku." Aku menepis tangannya. "Dimana aku? Apa kau sedang menculikku? Bagaimana dengan Zeyn?"
"Whoa, satu per satu." Ia mengambil sebuah mangkuk yang ternyata isinya adalah makanan. "Kau mungkin membutuhkan ini."
"Apa itu? Bukan seleraku."
"Kau pemilih juga ya." Ia langsung menyuapiku dengan sendok tanpa aba-aba. Aku membelalak dan langsung terbatuk-batuk.
"Makan. Kecuali kau ingin aku membunuhmu."
Huh. Dia serius? Walau begitu, aku masih sayang nyawa, jadi aku menurutinya.
Baru beberapa sendok, aku sudah merasa tak nyaman karena tatapannya yang bertumpu padaku. "Bisa beri aku sedikit privasi?"
Ia merapikan rambutnya. "Memang ya. Aku ini terlalu tampan sehingga kau-"
__ADS_1
"Omong kosong," ucapku gerutu, sedangkan ia menyengir tanpa rasa bersalah.
Sesudah makan, barulah ia menjelaskan semuanya kepadaku. "Kau tak sadarkan diri selama tiga hari."
"..."
"Kenapa?"
"Hanya itu yang bisa kau jelaskan kepadaku? Lalu, tempat apa ini? Dimana aku?"
"Aku terpaksa membawamu pergi jauh-jauh darinya."
"Darinya? Maksudmu Zeyn? Kenapa kau melakukan itu?"
Ia pergi ke arah jendela dan menyilangkan tangannya. "Terlalu terang. Aku gak suka."
Aku tak memahami perkataannya. "Jadi kapan kau mau membunuhku?"
"Kau kan, jahat."
"Heh!" Ia memukul dahiku. "Dengar ya! Siapa yang lebih jahat, orang yang sudah membuatmu pingsan selama tiga hari atau orang yang sudah merawatmu selama sekian lama?"
"Kau merawatku?" Aku tercengang. "Katanya kau tak melakukan apa-apa padaku."
Ia berdeham. "Memang tidak. Buat apa aku merawatmu?"
Uh. Aku memegang dahiku yang mulai pusing. "Dengar ya. Aku mau kembali ke tempat tinggalku yang semula." Ketika aku bangkit berdiri, rasa sakit mulai menghantamku lagi. Aku hanya menggigit bibir, tidak ingin menunjukkan bahwa aku ini lemah.
"Memangnya kau punya tempat tinggal?"
"Diam dan-" Lagi-lagi punggungku terasa nyeri. Mukaku pasti sudah semerah kepiting rebus.
__ADS_1
"Sakit?" Tanyanya tanpa ekspresi khawatir.
"Huh." Untungnya aku sudah mampu berdiri. Tanpa menoleh ke arahnya lagi, aku sudah berjalan ke arah pintu. Benar dugaanku. Pintunya terkunci.
"Chrys, buka pintunya sekarang."
"Kenapa aku harus melakukan itu?"
Aku berbalik badan, tapi tak melihatnya.
Sial. Dia lagi-lagi menggunakan sihirnya agar tak terlihat.
"Keluar kamu, Chrys. Aku sedang tak main-main."
"Kenapa aku harus menurutimu?"
"Kau ini benar-benar!" Aku sudah tak tahan lagi. "Buka pintunya! Jangan kunci aku disini!"
"Ini rumahku, Clara." Cahaya kuning hampir saja membutakan mataku. Ia muncul kembali tepat di hadapanku. "Kau yakin ingin kembali ke rumah itu dengan kondisi seperti itu?"
Aku mengepalkan tanganku. "Bukan urusanmu."
Ia menutup mulutnya dan menatapku dengan tajam. "Oke kalau begitu."
Tak kusangka. Ternyata semudah itu aku menyuruh pria jahat ini membukakan pintu untukku. Ketika terdengar suara klik pada gagang pintu, aku langsung berlari keluar, tak peduli jika aku tersesat atau tidak.
Yang penting aku sudah tidak lagi bersamanya, pikirku tenang. Aku masih berlari, mengabaikan rasa sakit pada seluruh tubuhku.
Aku melewati pohon-pohon tinggi yang asing. Kaki telanjangku membawaku mengitari sebuah arus sungai kecil. Sepertinya aku berada di tengah hutan.
Setelah cukup lama berlari tanpa arah, akhirnya aku beristirahat sejenak dan merebahkan diri diatas hamparan rumput hijau. Tak ada tanda-tanda lelaki itu disekitar sini.
__ADS_1
Kalau begini, ia tak bisa menemukanku lagi kan?