Wings & Dream

Wings & Dream
Ch.14 - Dunia Paralel


__ADS_3

Butir serbuk Fae? Pikir Kei tak percaya. Tapi kalau ini berwarna abu-abu, artinya ini serbuk sayap Ventus.


Merasakan hal yang sama, wanita Healer yang berada di sampingnya juga ikut memerhatikan bola mata Jon. Ia lalu terkesiap dan menutup mulutnya.


"Sana," kata Kei, berusaha untuk menenangkan dirinya. "Bawa dia ke ruang kesehatan."


Tanpa memprotes, wanita itu sudah menggunakan sihirnya dan menyelimuti tubuh Jon dengan cahaya putihnya. Tak butuh waktu lama sampai akhirnya pria itu terlelap karena efek sihirnya.


Kei hanya perlu menggunakan satu jarinya untuk menciptakan cahaya abu-abu miliknya. Itu membuat tubuh Jon melayang, jadi Sana tak perlu bersusah payah menggendongnya.


"Sana," Kei memanggil wanita itu untuk memberinya perintah terakhir. "Menurutmu, siapa yang menaruh serbuk itu ke matanya?"


Sana menggeleng-geleng.


"Ini semakin rumit," Kei mengacak-ngacak rambutnya sendiri. "Untuk sementara, sembuhkan dia. Jangan sampai dia kenapa-kenapa."


"Pasti, Kei," katanya sebelum menghilang bersama Jon.


***


Dua hari. Sudah dua hari aku tak sadarkan diri. Mata ini masih terpejam, dan aku masih ditelan oleh kegelapan.


Aku sudah bersusah payah menggapai apapun. Apapun, agar aku bisa segera terbangun dari dunia asing ini. Namun, tak ada seorangpun yang dapat membebaskanku dari kegelapan tak berujung ini.


Splash! Air dingin membasahi wajahku, dan aku segera tersadar dari lamunanku.


"Clara." Lagi-lagi, pria misterius itu memanggilku. Kupingku berdengung. Aku tak dapat mengenali pemilik suara tersebut. Jangankan mendengar, seluruh indera tubuhku terkunci dan aku tak bisa bergerak.


Ya? Aku ingin memanggil pria itu. Siapapun dia, aku tahu aku harus segera bertemu dengannya. Ia selalu berada dekat denganku, tidak peduli di dunia nyata ataupun di dunia mimpi.


Rasanya seperti ia satu-satunya orang yang mungkin dapat memahami kemampuan anehku dalam bermimpi.


Adegan tergantikan. Aku tak lagi berada di kegelapan tak berujung, melainkan di sebuah tempat. Hujan sedang turun, dan aku mengenali tempat ini.

__ADS_1


Jalanan desa yang pernah kukunjungi bersama Kei waktu itu.


Anak-anak Fae sibuk bermain di tanah. Beberapa sedang main kejar-kejaran, sedangkan yang lain saling menyerang dengan sihirnya masing-masing. Mereka tampak sangat bahagia.


Jalanan ini memang selalu ramai, namun karena adanya hujan yang membasahi mereka, mereka terpaksa berteduh.


Tubuhku pun jadi menggigil karena terkena air hujan.


Aku harus segera berlindung, pikirku sembari menoleh ke sana kemari. Aku menggunakan kedua tanganku untuk melindungi kepala dan berlari. Tanpa sengaja aku memijakkan kakiku di lumpur. Alhasil, celana ketatku jadi basah karena cipratan air.


"Clara!" Aku melihat Rio di ujung sana. "Sini! Cepat!"


"Iya!" Teriakku, dan berlari menghampirinya. Ia memperlihatkan barisan giginya yang putih kepadaku. "Kau mau main basah-basahan di tengah hujan ya?"


"Bukan begitu," kataku sambil tertawa. "Aku tadi tiba-tiba muncul di tengah jalan."


Rio mengerutkan dahinya. Aku pun merasa bingung kenapa tiba-tiba berkata demikian.


"Maksudku... tadi aku datang dari-"


"A-aku... aku sedang bermimpi..." kataku putus-putus, namun ia tak mendengarku.


"Clara!"


"Clara!"


"Clara."


Kepalaku tidak lagi berdengung. Aku menengadah dan tidak lagi melihat Rio. Air hujan tidak lagi menyentuh tubuhku, namun sulur-sulur kegelapan kembali merambatiku.


Pria itu lagi.


"Mau apa kau?!" Hardikku kepada pria di depanku. "Tunjukkan dirimu! Jelaskan apa yang kau lakukan kepadaku!"

__ADS_1


"Kau harus mengerti, Clara," kata pria itu. "Temanmu dalam bahaya. Lebih tepatnya, kedua temanmu-"


Pria jangkung itu terhuyung, dan ia sampai menggunakan kedua tangannya untuk menyeimbangkan dirinya sendiri.


"Aku tak punya banyak waktu," katanya lagi. "Pria itu pasti sudah mengetahui keberadaanku-"


"Pria itu?! Siapa?!" Teriakku lagi. "Dan siapa kedua temanku yang kau maksud?!"


Pria itu tak menjawab pertanyaanku, karena aku sudah kembali memasuki alam mimpi.


Aku lagi-lagi berada di desa Recalla. Masih di tempat yang sama, aku berlutut di pinggir jalan.


Bedanya aku tak melihat tanda-tanda keberadaan Rio.


Merasa panik, aku bangkit dari tanah dan mulai mencarinya. Tak peduli dengan hujan yang membasahi tubuhku, aku terus berlari, meneriaki namanya. Aku gak tahu kenapa aku melakukannya. Aku gak tahu kenapa aku tiba-tiba mendapat firasat buruk.


"Rio!" Teriakku. Sekarang jalanan kosong melompong. Anak-anak yang semula bermain di pinggir jalan sudah tidak terlihat. Mungkin mereka sudah dimarahi oleh orangtua mereka, dan akhirnya terpaksa berlindung di rumah masing-masing.


"Rio! Dimana kau?!" Aku berkedip karena air hujan mulai memasuki mataku. Sial, kalau dia sampai kenapa-kenapa-


Suara teriakan yang sangat nyaring sontak menghentikan langkahku. Setelah aku membiarkan otakku berproses, barulah aku tersadar itu suara teriakan Rio.


Aku segera berlari ke sumber suara, hingga tibalah aku di sebuah jalan buntu tak berpenghuni.


Pria itu berlutut, tubuhnya membelakangiku. Punggungnya sampai bergetar, dan aku sampai meningkatkan kewaspadaanku.


"Rio?" Bisikku kepadanya. Ia tetap tak menoleh, masih berteriak, sesekali mengeluarkan suara isakan.


Aku menyentuh sedikit bahunya, dan mengintip di balik bahunya.


Di depannya, tampak seorang Fae yang terkulai tak berdaya di atas tanah. Pria yang kukenali sebagai kakaknya Rio. Ia dalam keadaan mengenaskan. Tubuhnya bersimbah darah, sedangkan wajahnya pucat pasi.


Dan yang membuat tungkaiku melemas adalah keadaan sayapnya. Punggungnya berdarah hebat. Kelihatannya seperti ada seseorang yang sudah memotong habis sayapnya.

__ADS_1


"Dain," bisikku pelan.


__ADS_2