Wings & Dream

Wings & Dream
Ch.16 - Mulai Curiga


__ADS_3

Kei masih berada di dalam kamar Jon. Ia sudah bersiap siaga, kalau-kalau pria itu kembali menyerangnya seperti saat itu. Tapi karena kondisi matanya yang sudah hampir buta, Jon tidak akan bisa menyentuhnya sehelai benang pun.


"Jelaskan kepadaku!" Teriaknya untuk yang ke seratus kalinya. "Kenapa aku tak bisa melihat apa-apa!"


"Huft," desah Kei. "Aku akan menjelaskannya kalau kau duduk manis dan berjanji tidak akan menyerangku."


"Kenapa tidak?! Kalian kan, pantas untuk diserang!"


"Oh ya?" Kei sengaja menciptakan angin dari telapak tangannya, kemudian melemparnya ke arah Jon. Rambut hitamnya jadi tertiup angin, dan pria itu seketika menggigil.


"Kau lupa apa yang bisa kuperbuat kalau kau berani menyentuhku?"


Jon terdiam sambil mengepalkan tangannya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera meraba dinding dan mencari jalan, dan akhirnya kembali duduk di ranjang.


"Ada serbuk Fae di matamu."


"Ser... serbuk apa?" Ia segera menyentuh matanya yang terbuka, dan tanpa sengaja mencoloknya. "Aw!"


"Dasar bodoh," gumam Kei sambil menggeleng-geleng. "Serbuk Fae. Fae Ventus. Itu melemahkan saraf matamu."


"Ventus?! Kalau aku tidak salah ingat, itu sebutan untuk Fae seperti kalian, kan? Jadi kalian memang sengaja melakukan ini kepadaku?!"


"Bukan aku!" Kata Kei setengah berteriak. Ia lalu menghembuskan napas. Sabar, Kei. Jangan sampai darah tinggi karena manusia bodoh ini.


"Tapi tenang saja," katanya untuk menenangkannya. "Anggap aja itu sebagai debu biasa. Mungkin kau hanya akan menjadi buta."

__ADS_1


"BUTA?!" Jon meremas rambutnya sendiri. "Hanya akan menjadi buta?! Kau berkata seperti itu bukan masalah besar!"


Mungkin untuk dirinya sebagai seorang Fae, menjadi buta bukanlah masalah besar. Karena makhluk seperti dirinya masih bisa mengandalkan pendengarannya yang tajam.


"Memangnya seburuk apa penglihatanmu?"


Jon mengedipkan matanya berulang kali, lalu sengaja membelalakkannya. Tapi pandangannya masih buram. Ia masih tidak melihat apa-apa kecuali kabut abu yang seperti katarak di matanya.


"Buruk sekali artinya," bisik Kei. "Aku turut bersedih."


Jon bergeming. Di dalam otaknya, ia masih menelan semua informasi yang bagaikan hantaman dadakan baginya. Sekarang ia sudah buta. Buta, artinya tak bisa melihat. Buta, artinya ia harus memakai tongkat untuk berjalan seperti kakeknya yang sekarang sudah sangat tua. Padahal ia baru berumur 20 tahun, namun Tuhan telah memberikannya cobaan yang begitu berat.


Seumur hidup, Jon tak pernah menangis, kecuali saat ia terlahir ke dunia ini tentu saja. Kalaupun bersedih, ia masih bisa menahan emosinya dan tak akan mengeluarkan air mata. Biar bagaimanapun, ia adalah seorang pria kuat yang tak mudah tumbang.


"Jon..." gumam Kei dengan pelan. Gadis itu benar-benar merasa bersalah. "Dengarkan aku, Jon."


Jon tidak berkata apa-apa. Semuanya percuma. Mau seberapa keras dirinya memberontak, mau seberapa keras dirinya berusaha, pada akhirnya ia sudah mengalami konsekuensinya. Dan ia baru menyadari, bahwa sejak awal memanglah kesalahannya.


Clara hanya berusaha untuk menolongnya pada saat itu. Saat itu di apartemen, ia tak bisa mengingat dengan jelas karena kepalanya tiba-tiba kepentok oleh benda tajam dan keras, dan ia jatuh pingsan. Saat ia terbangun, matanya sudah dalam kondisi terikat dan perutnya sudah ditikam.


Saat itu, sebenarnya ia sudah sadar, namun ia tak dapat mengeluarkan suara. Ia masih mengingat saat Clara memeluk kepalanya sambil terisak, membisikkan namanya berulang kali, benar-benar merasa terpukul karena gadis itu mengira ia telah tiada, padahal ia hanya tidak bisa mengeluarkan suara.


Siapa yang tega melakukan itu padaku? Batinnya dalam hati. Siapa yang sengaja melukaiku dan memancing Clara agar ia mengikuti ketiga Fae ini ke wilayah mereka?


"Jon?" Kei lagi-lagi memanggilnya. "Apa kau baik-baik saja?"

__ADS_1


Jon masih tidak membalas gadis itu. Karena ia tidak tahu, siapa sebenarnya yang harus dipercayai olehnya.


Saat ia disembuhkan oleh wanita penyembuh itu, ia mendapat penjelasan darinya, bahwa yang telah melukainya adalah Fae jahat bernama Chrys.


"Chrys? Si...apa dia?" Tanya Jon yang masih terbaring di atas kasur waktu itu. Ia masih belum pulih total, jadi tak memiliki banyak energi untuk sekedar berbicara.


"Fae jahat. Ia adalah seorang Fae Light. Sihirnya termasuk berbahaya, karena ia berbakat dan bisa memanipulasi cahaya."


"Kenapa berbahaya?"


Jon dapat mendengar suara desahan. Waktu itu ia masih setengah sadar dan belum berani membuka mata, jadi ia tak tahu bahwa wanita itu sebenarnya adalah seorang Fae.


Ia pun baru mengingat percakapan samar itu sekarang.


"Setiap orang, baik manusia, Fae, ataupun monster, membutuhkan cahaya untuk melihat. Namun seorang Fae Light mampu membelokkan cahaya, dan membuat suatu benda tak terlihat."


Jon terdiam. Pada saat itu, kepalanya sudah berdenyut, dan ia tahu hanya tersisa sedikit waktu sebelum ia kembali dalam tidurnya. Berdasarkan penjelasan suara wanita itu, Chrys pasti adalah seseorang yang sangat kuat, pikirnya waktu itu, masih setengah sadar bahwa yang dipikirkannya itu bukan manusia.


"Aku tidak berada di sana saat kejadian, jadi aku tak begitu mengerti," lanjut suara wanita itu lagi. "Kata Zeyn, yang menemukan dan menyelamatkanmu adalah Zeyn dan teman-temannya. Untungnya Chrys sudah berhasil ditangani oleh mereka."


Zeyn? Siapa dia? Ia hendak membuka mulut, namun tubuhnya menolak untuk melakukan itu.


Kegelapan segera menariknya kembali. Kini, bahkan sampai sekarang, satu pertanyaan itu terus berputar dalam otaknya.


"Jadi mereka berhasil membasmi Chrys? Kalau begitu, kenapa mereka sangat takut kepadanya, dan selalu berusaha untuk menghindarinya?"

__ADS_1


__ADS_2