Wings & Dream

Wings & Dream
Bahaya (2)


__ADS_3

Meskipun mataku masih terpejam dan aku sedang terbaring lemah di atas lantai yang dingin, aku bisa menebak kira-kira aku sedang dibawa kemana.


Tubuhku lagi-lagi terayun dan aku terombang-ambing. Aku bisa mendengar suara celoteh anak-anak yang sedang menahanku. Telinga kiriku menangkap suara itu lagi - suara aliran air yang ternyata asalnya tepat di bawah telingaku.


Aku sedang berada di atas sebuah perahu kayu. Sebuah kain melilit di kepala, menutupi seluruh pandanganku.


"Sudah bangun, manusia?" Bisik bocah lelaki itu di telingaku. "Atau harus kupanggil...gadis kecil?"


"Dasar bocah sialan-"


Bugh! Perutku langsung terasa mual saat ditendang oleh sepatunya. "Jangan sok-sokan! Kau hanya makhluk rendahan!"


"Kemana kalian membawaku?!" Tanyaku berulang kali. Namun tentu saja mereka tak menjawab pertanyaanku itu. Mereka malah sibuk bermain kartu.


Aku kembali berteriak dan meronta-ronta. "Lepaskan aku! Kalian hanya anak kecil yang tak tahu apa-apa!"


"Apa katamu?" Tanya laki-laki tadi lagi. Sepertinya ia yang paling berkuasa, karena aku juga sempat mendengar perintahnya yang ditujukan ke teman-temannya.


"Tidurkan dia lagi. Aku benci mendengar ocehannya."


"Siap, kak." Suara papan kayu yang nyaring terdengar, kemudian belakang kepalaku sudah dihantam oleh sesuatu yang amat keras.


Kupingku berdenging, dan aku kembali tertidur.


***


Uh, dimana ini? Aku kembali tersadar, namun tak bisa melihat apa-apa selain kegelapan.


Apa aku sedang bermimpi? Atau aku sudah terbangun kembali di atas perahu?


"Kau ini benar-benar." Terdengar suara berat itu lagi. "Kau tidak harus menjerumuskan diri ke dalam bahaya untuk menarik perhatianku, tahu."

__ADS_1


"Chrys," bisikku pada kegelapan. "Kenapa kau bisa disini?"


"Aku kecewa," terdengar suara decakan lidahnya. "Itu yang kau tanyakan kepadaku? Aku lebih berharap pertanyaan seperti, apa kau merindukanku? Apa kau sedang menyelamatkanku?"


Aku menggerutu kesal. Bisa-bisanya pria ini bercanda saat aku sedang terjebak bersama bocah-bocah nakal.


"Sudahlah. Menyerahlah dan kembalilah padaku."


"Kau berkata persis seperti Zeyn."


Aku bisa mendengar suara dengusannya. "Jangan samakan aku dengannya. Itu seperti menyamakan lalat dengan elang."


"Dan kau elangnya?"


Walau aku tak dapat melihat wajahnya langsung, aku bisa merasakan senyumnya yang tertuju padaku. "Beruntunglah yang menemukanmu duluan adalah aku."


Setelah itu, cahaya yang amat menyilaukan segera membuatku tersadar. Aku terkesiap dan mengerjapkan mata, mencoba beradaptasi dengan lingkungan sekitar.


Tidak. Aku terbelalak dan menggeleng-geleng. "Kumohon. Jangan lakukan i-"


Kepalaku kembali dipukul oleh batangan kayu yang keras. Sial! Aku pingsan lagi!


Dan kali ini, aku kembali berada di ruang kegelapan tak berujung.


"Kau lagi?"


"Cih!" Aku sengaja menyemburkan ludah. "Jangan pura-pura, Chrys! Sebenarnya ini tempat apa?! Bocah sial tadi sudah membuka kain pada mataku, jadi ini pasti dunia mimpiku!"


Aneh. Kenapa aku tetap tak bisa melihatnya? Apa ia sedang menggunakan sihirnya dan menyerap semua cahaya agar aku tak bisa melihat apa-apa?


Terdengar suara tawanya yang biasa. "Meskipun sudah berkali-kali aku mengunjungimu dalam mimpi, baru kali ini aku merasa terhibur dengan ekspresi wajahmu."

__ADS_1


Aku menganga tak percaya. "Jadi... selama ini... adalah kau?"


Belum sempat aku mendengar jawaban darinya, aku kembali ditarik ke dunia nyata.


"Stop!" Aku langsung menggulingkan tubuhku, tepat saat mereka ingin mencederaiku dengan kayu yang sama.


Kedua gadis pesuruh itu terbelalak, dan langsung mengejarku. Aku memaksakan diriku untuk bangkit meski kaki ini bergetar dan aku hampir terjatuh.


"Kyaaa!!" Perahu kecil ini miring sebelah. "Berhenti disana! Manusia gila!"


"Tidak akan!" Aku melirik tumpukan tong kayu yang mungkin adalah muatan perahu ini, dan menjatuhkannya ke lantai.


"Berhenti!" Lelaki itu kembali mengeluarkan pisau kecilnya. Di ujung belati masih ada cairan hitam beracun itu. "Kau akan membunuh kita semua!"


"Memangnya aku peduli?" Tanganku masih menumpahkan tong-tong itu. Akibatnya tutupannya lepas dan cairan hitam keluar, mengotori lautan yang semula berwarna biru.


"Whoaa!!" Anak-anak itu merentangkan tangannya, tidak ingin terjatuh ke air laut. Bocah itu menatapku penuh amarah, kemudian kembali memerintahkan kedua temannya.


"Kalian! Ambil alih kemudi!" Kedua gadis yang juga bersayap hitam itu langsung menurut dan mengayunkan sampan perahu.


"Katakan dulu kemana kalian membawaku!"


"Buat apa aku menurutimu?" Bocah itu menyeringai, dan itu membuatku bergidik. Diliriklah pisau dalam genggamannya.


Oh tidak. Dia mau melemparnya ke arahku.


"Hiyaaa!" Pisau itu terlempar di udara, dan aku refleks memalingkan wajah dan memejamkan mata.


Jantungku seperti mau meledak, dan aku masih memejamkan mata dengan erat. Tapi tubuhku tidak terkena lemparan pisau.


Ada apa ini? Aku perlahan membuka mata, dan terbelalak saat melihat pisau itu yang hanya melayang tepat di depan dadaku.

__ADS_1


__ADS_2