Wings & Dream

Wings & Dream
Behind The Mask (2)


__ADS_3

"Waktu itu, saat aku menemukan mayat Dain yang tergeletak begitu saja, aku sempat memiliki firasat buruk." Sekarang Rio menjelaskan segala hal yang ia ketahui. "Aku sempat melihat bayangan. Pergerakan seseorang. Tapi waktu itu aku tidak begitu yakin."


Saat Sana tak merespons, Rio kembali bersuara. "Apa kau masih ingat saat Zeyn membela Clara? Ia berkata bahwa Clara jatuh tidur selama empat hari, jadi bukan dia pelakunya."


Aku menggigit bibir bawahku, memaksa diriku agar tidak bersuara.


"Tentu saja aku ingat," balas Sana. "Aku tak pernah sekalipun mencurigainya. Ia anak baik."


"Sama seperti kau tidak pernah sekalipun mencurigai Zeyn?" Rio tertawa tanpa rasa humor dan menggeleng-geleng.


"Zeyn adalah Ketua Ventus. Ia dikenal memiliki reputasi yang baik." Sana mencoba membela pria itu, tapi aku menangkap sedikit getaran pada suaranya. "Kenapa kau menuduh pria itu sebagai pelakunya? Pelaku atas dasar apa?"


Rio menatapnya tajam. "Apa lagi kalau bukan soal kasus pembunuhan adikku?"


"Kau yakin?" Tanya wanita itu. Sekarang tangannya bergetar. "Bagaimana kalau dugaanmu salah-"


"Aku tak mungkin salah," desis Rio. "Sana. Kau termasuk orang terdekat Zeyn. Bagaimana kalau kau menceritakan apa yang kau ketahui?"


Tanpa menyia-nyiakan waktu, Sana segera menceritakan segalanya. "Waktu itu aku baru saja kembali ke pondok ini. Setelah itu, aku mendengar suara keras dan aneh dari lorong.


Itu adalah Kei. Ia sedang menahan tubuh seseorang di atas lantai. Saat aku menghampirinya, itu adalah Jon. Pria itu dalam kondisi memilukan."


Rio menyentuh dagunya sendiri. "Jadi itu saat-saat dimana matanya menjadi buta."


"Ya," angguk Sana. "Meski tak berakibat fatal, tapi ia hanya seorang manusia, jadi perlu perawatan intensif."


Tak berakibat fatal? Ugh. Mungkin bagi kaum kalian, menjadi buta bukan apa-apa, pikirku sambil mengepalkan tangan.


"Dan di saat itu, apa kau melihat Zeyn dan Clora?" Tanya Rio lagi.


"Aku sempat mendengar suara Clora saat aku tengah memapah Jon. Tapi aku tidak begitu yakin soal Zeyn-"


Sana tiba-tiba terdiam. Aku mengerutkan dahi, dan terpaksa berjalan mendekatinya untuk melihat wajahnya lebih jelas.


Wanita itu sedang terbelalak.


"Kita butuh Clora. Sekarang." Rio tiba-tiba bangkit berdiri dari kasurnya, tapi Sana langsung mencegatnya.


"Kenapa?"


"Jangan!" Sana langsung menggeleng-geleng dengan cepat. "Ia sedang bersama Zeyn sekarang. Kalau kau memanggilnya kemari-"


"Terus bagaimana?!" Rio menghempaskan diri ke ranjang, mulai menyerah. "Andaikan aku memiliki kekuatan seorang Fae Light..."


Di saat itu, aku langsung memandang pedang yang ada di tanganku. Jantungku berdegup kencang, sementara aliran darahku terasa seperti terhambat.


"Aku akan membantu kalian," kataku dengan suara serak.


Tentu saja mereka langsung terkejut bukan main saat mendengar suaraku. Sana sempat berteriak, tapi kemudian ia menutup mulutnya sendiri.


"Clara?" Bisik Rio. "Apa itu kamu?"


"Ya." Aku segera meletakkan pedang panjang itu di atas ranjang, dan tak lama kemudian, tubuhku mulai terlihat.


Rio hanya melongo, sedangkan Sana menatapku seperti ia belum pernah melihatku sebelumnya. "Clara... Clara?!"


"Ya, ini aku," balasku lagi sambil memutar bola mata. "Jangan tatap aku seperti itu. Aku gak suka melihatnya."


Rio langsung menyentuh pedangku. "Oh, ternyata ini," katanya mulai tersadar. Ia mulai memainkan pedang milik Chrys, seperti seolah-olah iru adalah mainan terbarunya.


Sementara itu, Sana masih tak bisa menenangkan dirinya. "Clara... Tapi kau... Bagaimana-"


"Sudahlah." Aku kembali meraih pedang itu, dan rasa nyeri lagi-lagi menjalar ke lenganku. Tapi aku sudah mulai terbiasa terhadap hal ini. "Kalian tinggal disini. Aku akan 'menculik' Clora."

__ADS_1


***


Belum sampai beberapa menit, aku sudah menyesali perbuatanku. Pasalnya, mata suciku telah ternodai oleh pemandangan di depan.


"Zeyn..." Terdengar suara lirihan Clora. Aku buru-buru menutup mata, kemudian memalingkan wajah. Kurasa aku tak perlu menjelaskan apa yang sedang mereka lakukan.


Inikah nasib hidupku sekarang? Kenapa aku mengajukan diri untuk membantu mereka tadi? Tujuan awalku kemari kan, untuk 'menculik' Sana, bukan gadis pemarah itu.


Sambil berjinjit dan menahan napas, aku terus melangkah masuk. Aku mengenali tempat ini. Ini adalah ruang kerja Zeyn, tempat yang sama yang pernah kumasuki secara diam-diam. Waktu itu aku ingin menyelidiki lebih lanjut mengenai kemampuan bermimpiku, tapi tak mendapatkan apa-apa.


"Aku mencintaimu, Clora." Setelah itu, terdengar suara tawa cekikikan dari gadis itu. Tak biasanya ia mengeluarkan suara tawa di depan orang-orang.


Eugh. Sudah, sudah! Otot-otot tubuhku menegang. Andaikan ada bara api disini. Pasti aku sudah menggunakannya untuk membakar telingaku.


Mereka tak menyadari kehadiranku, bahkan saat aku berdiri dengan jarak beberapa meter dari meja kerja Zeyn. Perlahan aku membuka mata, dan hendak menarik baju Clora saat tanganku tiba-tiba ditahan oleh seseorang.


Aku menoleh dan terbelalak. Chrys?! Sedang apa ia di dalam sini?! Kenapa aku baru melihatnya?!


Ekspresi wajahnya juga seolah-olah menanyakan hal yang sama. Ia jelas tak menyangka akan menemukanku di dalam sini.


Chrys menarik tubuhku dengan paksa, menjauhi dua Fae yang sibuk melakukan urusan mereka.


"Apa yang sedang kau lakukan?!" Bisiknya padaku. Sekarang kami telah berdiri di ambang pintu masuk.


Aku melototinya. "Bukan urusanmu. Seharusnya aku yang bertanya. Kupikir kamu masih terbaring lemah di ranjang."


Chrys tak menghiraukan ucapanku. Ia kembali menarik pergelangan tanganku, tapi aku buru-buru menepisnya.


"Clara, ini berbahaya. Lebih baik kau-"


"Tidak, Chrys. Aku harus melakukan ini."


"Melakukan apa?" Sekarang ia menekan kedua bahuku dengan keras. Aku terdiam, tidak ingin memberitahunya.


"Siapa disana?!" Zeyn melepaskan tubuh kecil Clora, kemudian menoleh ke arah pintu. Tapi bola matanya masih sibuk mencari keberadaan kami.


Chrys memberikanku tatapan tajam penuh peringatan, kemudian berjalan mendekati Zeyn.


"Ini aku, Zeyn."


"Chrys?!" Clora membenarkan bajunya, kemudian membuka kepalan tangannya. Terlihat jelas sekali bahwa ia telah bersiap siaga.


Cahaya milik Chrys merebak ke seluruh ruangan, dan aku tahu apa artinya. Tubuhnya yang sekarang pasti sudah nampak dengan jelas.


"Sudah kuduga," Zeyn tertawa. "Siapa lagi kalau bukan kamu?"


"Dan siapa lagi yang harus kulawan selain kamu, Zeyn?" Secepat kilat, Chrys langsung melempar tinjunya ke perut pria itu, menyebabkan dirinya melayang dan hampir menabrak dinding.


Zeyn menyentuh bibirnya sendiri, dan tertawa saat melihat darah yang mulai mengalir keluar dari mulutnya. Ia lalu mengunci pandangan ke arah Chrys, dan senyumnya sirna.


"Akan kubunuh kau."


Sihir angin milik Zeyn dan sihir cahaya milik Chrys saling bertubrukan, menciptakan suara menggema yang amat dahsyat. Bagaikan angin topan, semua buku yang semula terpampang rapi di rak buku langsung beterbangan dan berjatuhan ke lantai.


Aku langsung melindungi diri dari bola-bola cahaya yang memantul ke segala arah. Berkat pelatihanku dengan Chrys waktu itu, aku jadi bisa bergerak luwes dan cepat.


Sambil melindungi kepala dari hantaman angin, aku merapatkan diri ke dinding. Dari kejauhan aku dapat melihat Clora. Gadis itu juga sedang melindungi diri. Dan raut wajahnya...


Apa ia sedang ketakutan?


Boom!! Kini rak buku kayu terjatuh, membuat tanah bergetar seketika. Debu-debu halus mulai bermunculan, menyebabkan diriku terbatuk.


Saat aku membuka mata lagi, aku melihat Chrys yang kini sedang terbaring di atas lantai. Sementara Zeyn di atasnya sibuk meninju pipinya berulang kali tanpa rasa ampun.

__ADS_1


"Chrys!" Teriakku, kemudian mengeluarkan pedangku.


Sraatt!! Aku menghunuskan pedangku ke tubuh Zeyn. Karena sedikit ragu, luka yang kuciptakan tidak begitu dalam, dan hanya mengalihkan perhatiannya untuk sesaat.


Darah mulai mengucur dari ujung pedangku. Tanganku tiba-tiba bergetar, aku tak kuasa melihat cairan merah yang tercipta akibat ulahku sendiri.


"Clara..." Chrys yang semula berbaring di lantai langsung menggunakan kesempatan itu untuk mendorong tubuh Zeyn, kemudian menyerangnya sekali lagi dengan sihirnya.


"Zeyn!!" Sekarang, Clora sudah berlari dari seberang ruangan ke arah pria itu. Pria yang sekarang babak belur, dengan bajunya yang tersobek, memperlihatkan luka vertikal akibat hunusan pedangku.


"Clara." Chrys menghampiriku, tidak peduli dengan luka pada wajah serta tubuhnya. "Tidak apa-apa."


Aku jatuh berlutut dan melempar pedang itu jauh-jauh. Setelah itu, aku menarik-narik rambutku sendiri dan mulai terisak.


"Clara." Chrys langsung menarikku dalam dekapannya. Setelah itu, ia menepuk-nepuk punggungku.


"Sshhh, tidak apa-apa." Chrys memelukku semakin erat, dan membelai rambutku. "Itu bukan salahmu."


Dadaku menjadi sesak. Bayangan diriku yang sedang menghunuskan pedang ke tubuh Zeyn masih terngiang-ngiang di pikiranku.


"Apa yang telah kulakukan?" Bisikku lirih. "Aku bisa saja membunuhnya... Aku-"


Terdengar suara erangan dari belakang, dan aku melihat Zeyn yang kini sudah bangkit berdiri. Ia merentangkan tangannya dan hendak menyerang kami dengan sihirnya.


"Chrys!" Teriakku untuk memperingatinya. Aku mendorong tubuhnya, hendak melindunginya, tapi ia tetap bersikeras untuk membelakangi Zeyn dan tahu-tahu tubuhku menjadi sesak karena ia memelukku terlalu erat.


Zeyn berulang kali menghantam punggung Chrys dengan sihirnya, sementara aku hanya menjerit ketakutan. Aku bisa melihat ekspresi Chrys dari dekat. Bagaimana caranya ia masih bisa tersenyum di saat seperti ini?


Braakk!! Pintu ruangan dibuka, dan aku tahu siapa yang masuk. Cahaya merah dan putih kini turut bergabung, menyilaukan mataku seketika.


"Clara!" Teriak Rio. Sekarang ia sedang mengunci tubuh Zeyn pada dinding. "Apa kau baik-baik saja?"


Tenggorokanku terasa tercekat, dan aku tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


"Dengar! Bawa Clora bersama kalian! Aku akan mengurus pria ini!" Teriak Rio lagi. Aku melirik ke arah kanan dan melihat Sana yang juga sibuk melawan Clora. Untungnya gadis pemarah itu sudah terkuras energinya, jadi Sana dengan mudahnya menumbangkannya. Tak sampai semenit, ia telah berhasil mengikat tangan Clora ke belakang dan membelenggunya.


"Ayo, Clara," kata Sana, masih sambil menahan Clora dengan sebelah tangannya.


"Tidak." Aku menggeleng pasrah, kemudian menatap Chrys yang masih memelukku sampai sekarang.


Aku tak pernah melihat raut wajahnya yang seperti ini. Lemah. Tak berdaya. Kata-kata itu tidak pantas digunakan untuk menggambarkan betapa kuatnya dirinya yang sebelumnya.


Perlahan pelukan Chrys melonggar, dan pria itu terkulai lemas di pangkuanku. Namun aku buru-buru memegangi kepalanya sebelum membentur permukaan keras lantai.


"Cepat pergi!"


Buukk!! Duaarr!!


Pertarungan sengit antara Rio dan Zeyn masih belum berakhir. Masih sambil menatap Zeyn, pria itu kembali berteriak. "Sana! Bawa mereka pergi dari sini!"


"Ayo, Clara!" Sana susah payah menggunakan sebelah tangannya dan menyentuh pundak Chrys. Seketika cahaya putih miliknya menyelimuti tubuh pria malang itu, dan lukanya mulai menutup kembali.


Tapi ia masih tak sadarkan diri.


"Bagaimana denganmu, Rio?!" Tanya Sana. "Aku tak bisa meninggalkanmu-"


"Tak apa." Untuk sesaat aku menangkap senyuman dari wajah Rio sebelum pria itu memutar badannya dan kembali menyerang Zeyn.


"Sejak dulu inilah keinginanku. Bertarung sampai mati dengan pria ini."



Hari ini isi epsnya lbh panjang dibanding biasanya... 🤣Semoga enjoy ya

__ADS_1


__ADS_2