
Sekarang aku sedang berada di atas ranjang. Terdengar suara pintu yang dikunci. Tak lama, Zeyn mendekatiku dan mengecek suhu tubuhku.
"Kau kurang sehat." Ia pergi ke toilet, kemudian sudah balik dengan seember air hangat. Aku hanya terdiam sambil menatap kosong lantai.
"Clara. Tatap aku." Ia mengangkat daguku. Aku berganti pandangan ke wajahnya. Wajah tampan, sekaligus wajah orang asing yang tidak kukenal.
"Apa sebenarnya maumu, Zeyn?"
Ia mengangkat ujung bibirnya. "Tentu saja, kamu. Aku tak ingin melepasmu. Kau milikku."
"Hanya itu?" Tanyaku sambil menaikkan alis. "Jadi tadi kau marah karena aku-"
"Karena kau ingin lepas dariku." Ia menghela napas, kemudian membelai rambutku dengan halus. Sudah tidak ada lagi pria kasar yang tadi sempat menyerangku. Yang ada pria yang bersikap lembut terhadap wanita.
"Apa kau punya penyakit berkepribadian ganda?"
Ia membelalak. Aku sudah menarik napas, sudah siap mendapat tamparan atau apapun darinya. Namun ia hanya tertawa.
"Mungkin. Aku tidak tahu. Atau bisa saja aku jadi gila karenamu."
Mungkin perempuan akan tergila-gila dan jatuh cinta pada omongannya barusan. Namun aku tak lagi merasakan apa-apa. Rasanya pria yang dulu sempat kucintai itu hanyalah bayangan.
"Maafkan aku, Clara," katanya sambil menghela napas. "Aku tak bermaksud untuk menyerangmu tadi."
"Dan juga Jon," desisku. "Jangan melupakan dia."
"Ya ya, pria itu," katanya tidak peduli. Ia mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat. Kemudian, ia mengelap wajahku dengan lembut.
"Apa kau terluka tadi?"
Jadi sekarang ia pura-pura mengkhawatirkanku? Siapa yang tadi dengan sendirinya menyerangku?
"Gak," aku memaksakan sebuah senyuman. Sekarang aku tak boleh memercayainya dengan mudah. Mungkin omongannya tidak sepenuhnya salah. Terlihat sangat jelas ia tidak mau aku pergi dari pondok ini. Ia ingin aku berada di dekatnya.
Zeyn mencium keningku. "Panggil aku kalau butuh sesuatu." Setelah itu, ia pergi meninggalkan ruangan, namun ia mengunciku dari luar.
__ADS_1
Haha. Kenapa aku malah teringat dengan Jon? Kenapa aku selalu mendapat pacar yang posesif terhadap diriku?
Apa aku terlalu cantik dan menggoda? Aku menatap pantulan diriku di cermin. Rambut coklat keriting, serta pipi yang tirus.
"Jangan terlalu pede, deh," sebuah suara terdengar olehku.
Aku mematung. Kali ini aku benar-benar yakin siapa pemilik suara ini. Beda dengan malam kemarin, suara ini terdengar jelas.
"Chrys?" Jantungku malah berdegup dengan kencang. Kenapa aku malah berharap itu dia?
"Iya, ini aku. Si ganteng." Dari sudut ruangan, sesosok pria muncul dari bayang-bayang kegelapan. Ia masih tampak sama, bedanya ia terlihat lebih tampan. Sayap kuningnya terlihat pas dengan rambut pirangnya.
Ia tersenyum saat sudah berada di hadapanku. "Apa kau merindukanku?" Aku mematung saat wajah tampannya mendekatiku, lalu ia mencium bibirku dengan penuh gairah.
Tubuhku rasanya tidak bereaksi dengan normal. Kenapa aku malah hanyut dalam sentuhannya? Rasanya seperti aku menikmatinya.
"Tentu saja tidak," balasku sambil memalingkan muka. Ia hanya tertawa kecil dan mengacakkan rambutku. "Huh, lihat dirimu ini. Sudah tak mandi berapa lama?"
Aku mengerutkan dahi.
"Kau tidur di tempat yang seperti ini?" Ia sudah kembali berdiri di hadapanku. "Tempat ini sesak."
"Aku tahu," kataku sambil mendesah. "Aku tak melihatmu masuk kemari. Kenapa kau bisa ada disini?"
Ia terkejut mendengar ucapanku. Lalu, senyum nakal kembali menghiasi wajahnya. "Tak kusangka. Jadi kau tak mengusirku lagi?"
"Apa gunanya? Dan sekarang karena keisenganmu, kita terjebak di kamar ini selamanya," balasku.
"Aku kan, cuma mau melihatmu." Ia tiba-tiba menarik lenganku, kemudian menghempaskan tubuhku di atas ranjang.
"Apa yang kau-"
Mulutnya lagi-lagi mendarat di bibirku. Saat aku hendak mendorongnya, ia malah menahan kedua pergelangan tanganku.
"Sebentar saja," bisiknya di mulutku. Tubuhnya terasa semakin berat, karena ia menekan tubuhku ke ranjang.
__ADS_1
"Kau-"
Pintu tiba-tiba terbuka. Zeyn langsung menjatuhkan piring di tangannya. "Chrys..."
Chrys tersenyum, dan mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Aku baru paham maksudnya. Ia sengaja ingin memperlihatkan adegan ini di depan Zeyn. Mungkin ia sudah mendengar langkah kaki Zeyn dari kejauhan.
"Euh, bisakah kau keluar sebentar, Zeyn?" Kata Chrys, masih tidak melepaskanku. "Kau tak lihat aku sedang ada urusan bersama kekasihku?"
"Bagaimana bisa kau ada disini!" Zeyn hendak menyerangnya dengan sihirnya.
"Awas!" Aku membalikkan tubuh Chrys. Alhasil, angin menghantam punggungku dengan keras.
Chrys membelalakkan matanya. Sekarang aku merintih kesakitan, dengan kepala yang terkubur di dadanya.
Aku bisa merasakan tubuhnya yang menegang. "Awas kau, Zeyn."
Secepat kilat, ia sudah berada di hadapan Zeyn. Kemudian, aku dapat mendengar suara sesak napas milik Zeyn.
"Kau boleh bermacam-macam denganku." Aku mendengar suara Chrys yang berat. "Tapi kau tidak boleh sedikitpun melukai Clara."
Aku ingin membalikkan badan, namun rasa sakit di punggungku tak tertahankan. Ini seperti berada di ambang kematian. Seluruh tulang punggungku rasanya mau retak.
Sial, pikirku. Untung cuma aku yang kena. Bisa-bisa Chrys terlukai oleh sihir Zeyn.
Tunggu. Kenapa aku jadi peduli dengan Chrys? Aku tak dapat berpikir jernih, karena rasa sakit yang kali ini sampai menarikku ke kegelapan.
Aku pingsan.
.
.
.
Akhirnya Chrys muncul lagi 😆Gimana guys? Pilih Clara-Zeyn atau Clara-Chrys?
__ADS_1
Moga-moga besok bisa update yah guys. See you on next eps~