Wings & Dream

Wings & Dream
Pria Misterius (2)


__ADS_3

"Clara."


Pria itu tak lain adalah Chrys, Fae Light yang memiliki rambut pirang. Pria tampan yang selalu saja muncul di hadapanku secara tiba-tiba.


Aku tak dapat berkata-kata. Bagaimana bisa? Selama ini, pria bertudung itu tak lain adalah Chrys.


Terdengar suara tertawa kecil, lalu Chrys menggeleng-geleng. "Kenapa melihatku seperti itu?"


"K-Kau." Aku mengacak rambutku sendiri. Ini tidak mungkin. Seingatku, pria misterius ini sudah menyelamatkanku beberapa kali. Ia pernah menyelamatkanku saat aku berburu Krilie di dalam mimpiku. Dan waktu di ruang kegelapan, hanya ia satu-satunya yang menemaniku.


"Ini pasti bohongan." Aku berkali-kali menggumamkan kalimat itu. Chrys adalah pria yang berbahaya. Tidak mungkin ia adalah pria yang sama yang selama ini membuntutiku.


Saat Chrys kembali memanggil namaku, aku tersadar dan berkedip.


"Bagaimana caranya kau berada disini?!" Tanyaku setengah berteriak.


Ia mengerutkan dahinya. "Sejujurnya, itu yang mau aku tanyakan padamu."


"Lagi-lagi! Jangan berbohong! Kenapa aku selalu melihatmu dalam mimpiku?!"


Ia malah terlihat semakin kebingungan. "Mimpi?"


"Jangan buat aku semakin kebingungan!" Aku malah berjalan menjauhinya. Sekarang aku butuh waktu untuk berpikir.


"Clara!" Semakin ia meneriaki namaku, semakin cepat pula aku berjalan. Pada akhirnya, aku malah berlari.


Haha. Sekarang, kami seperti sedang bermain kejar-kejaran. Aku gak tahu harus kemana lagi. Aku hanya berharap bahwa aku bisa terbangun dari mimpiku secepatnya dan menghindarinya.


Samar-samar aku masih mendengar suara teriakannya dari belakangku. Aku terus berlari, sampai akhirnya memasuki area hutan terdekat dari desa.


"Hosh, hosh." Sambil berusaha untuk mengatur napasku, aku menyeka keringat dan bersandar pada batang pohon. Setelah itu, aku menoleh ke belakang.

__ADS_1


Aneh. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Chrys. Dimana dia sekarang?


"Huh, kenapa malah menunggu dia?" Aku sudah berpikiran konyol. Justru bagus dia tak lagi mencariku.


Akhirnya aku menghabiskan waktuku di dalam hutan. Aku mengingat tempat ini. Hutan ini tidak terlalu lebat, dan banyak sumber makanan dan arus sungai. Banyak burung dan hewan-hewan kecil lainnya yang tinggal disini, jadi area ini akan selalu aman.


Aku ingat sewaktu kecil. Aku memang suka sekali berkemah di tengah hutan bersama teman-temanku. Aku tersenyum saat menengadah untuk melihat pohon-pohon yang rindang. Bagaimana aku merindukan kesejukan ini dan bau aroma kayu.


Suara gemerisik semak-semak tiba-tiba terdengar. Aku langsung waspada dan menyipitkan mata. Ada apa?! Apakah Zeyn berhasil menemukanku? Atau jangan-jangan, Chrys?


Semak-semak itu berhenti bergoyang. Dan benar saja. Sebuah jejak kaki sepatu membekas di atas tanah. Jejak itu kembali muncul secara perlahan, semakin lama semakin mendekatiku.


Aku memiringkan senyuman dan menyilangkan tangan. "Chrys, jejak kakimu terlihat, tahu gak?"


"Apa?!" Akhirnya ia bersuara dan tak lagi bersembunyi dengan sihirnya. "Sial." Aku mendengar gumamannya.


Aku tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutku. "Dasar bodoh!"


Baru kali ini aku melihatnya memendam rasa malu. Akhirnya ia tidak lagi menyombongkan diri. "Huh. Inilah akibatnya kalau aku kelamaan ditahan."


Saat tawaku mereda dan aku kembali memfokuskan pandangan ke depan, mataku tanpa sengaja bertemu dengannya.


Jantungku serasa berhenti berdetak. Kenapa ia tiba-tiba terlihat begitu...


"Kau mau tertawa terus dan membangunkan seisi hutan?" Ia berjalan mendekatiku dan tiba-tiba sudah membopongku!


"Aah!! Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!" Aku meronta-ronta, berusaha untuk melepaskan diri darinya. Ia gila. Pria ini sudah gila.


"Diamlah," katanya jengkel. Aku bisa merasakan tangannya yang berotot pada pinggangku. Ia tiba-tiba membuka sayap kuningnya, dan sudah terbang ke atas langit.


Teriakanku yang sangat nyaring bercampur dengan air mata karena ketakutan. Chrys sama sekali tidak ada lembut-lembutnya. Ia bahkan tidak memegang tubuhku dengan erat dan seadanya saja. Akhirnya aku terpaksa melingkarkan lenganku pada lehernya.

__ADS_1


"Kau tak bisa kabur dariku, Clara!" teriaknya saat angin menerpa ke arah kami.


Masih sambil memejamkan mataku, aku membalasnya. "Kau sama saja dengan Zeyn! Bedanya, kau lebih kasar!"


"Oh ya?" Ia tiba-tiba berhenti mengepakkan sayapnya dan hanya melayang di atas langit.


Apa? Apa yang terjadi? Aku membuka kelopak mataku dengan perlahan, dan terbelalak saat melihat gumpalan awan putih yang hanya berada beberapa meter saja dariku.


"Chrys... kenapa kau berhen- Kyaaa!!!"


Aku terjatuh. Aku terjatuh dari atas langit. Pria gila itu melepaskanku begitu saja, membuat tubuhku tertarik kembali ke bumi, menuruti kehendak gravitasi.


Aku salah menafsirkannya. Pria itu bukan hanya gila, ia sudah tidak waras. Rambut ikalku beterbangan, sementara pahaku jadi terekspos karena rok yang sedang kukenakan terikut naik.


Tak sampai beberapa detik saat mataku sudah melihat tanah.


Sebentar lagi aku akan mati. Aku memejamkan mata, lalu mulai berdoa kepada Tuhan untuk mengampuni segala dosaku.


Tapi, aneh. Kenapa tubuhku tidak terhempas? Apa yang terjadi?


Dugaanku benar. Tangan Chrys sudah lebih dulu menahanku agar tidak terjatuh. Ia lagi-lagi tertawa keras saat menjumpai ekspresiku yang sudah ketakutan bukan main.


"Ini gak lucu!" Air mata terus saja mengalir keluar. Aku berkali-kali meninju dadanya. "Dasar orang gila! Aku benci kau!"


"Katamu aku orang yang kasar." Ia menyeringai. "Sudah berhasil kubuktikan, kan?"


Aku sengaja tak membalasnya dan memalingkan wajah. Bibir bawahku sampai berdarah karena aku menggigitnya terlalu keras.


Chrys mendengus. Ia lalu mengeluarkan cahaya, yang langsung menyelimuti tubuhku sekaligus menghangatkanku dari tiupan angin yang kencang.


"Pegangan, Clara."

__ADS_1


Saat aku hendak bertanya kemana lagi ia akan membawaku, ia sudah kembali membawa tubuhku ke atas langit.



__ADS_2