
Karena Kei lupa membawa perlengkapan tenda, mereka terpaksa bersinggah di dalam gua. Gua ini sebenarnya buatan para Fae, yang memang bertujuan sebagai tempat pelindung kalau-kalau cuaca di taman ini tidak terkendali.
Gua ini hanya dilengkapi peralatan seadanya, seperti alas tidur yang sudah usang, serta cangkul dan pisau kecil untuk mengambil bunga. Fae seperti dirinya hanya membutuhkan serbuk bunga atau cairan madu sebagai makanan, sama seperti burung dan serangga lainnya. Mereka juga tidak mudah lapar dan memiliki kemampuan bertahan hidup yang lebih memungkinkan dibanding manusia.
Manusia seperti Clara.
"Menurutmu, dia akan bermimpi apa?" Tanya Rio di sebelahnya. Sekarang mereka berempat sudah berada di dalam gua, berlindung dari cuaca tak menentu ini. Sebenarnya angin ini tidak ada apa-apanya untuk Fae Ventus seperti dirinya, dan juga untuk Fae Fire seperti Rio dan Dain karena mereka bisa menghangatkan tubuh mereka sendiri.
Masalahnya disini adalah Clara. Gadis itu sudah terlelap dalam balutan jubah Zeyn dan selimut yang sudah disediakan di dalam gua.
"Tidak tahu. Kuharap ia tidak bertemu dengan Chrys," balas Kei.
Dain tiba-tiba bangkit berdiri dan berjalan ke mulut gua. "Aku akan memberitahu kalian jikalau cuaca membaik. Di saat itu, kita sudah harus membangunkan Clara."
Setelah Dain menghilang dari pandangan, Rio melanjutkan ucapannya. "Menurutmu, Clara itu orangnya seperti apa?"
"Maksudmu?"
"Maksudku, dari sudut pandangmu sebagai seorang Fae. Gadis itu cuma manusia, usianya mungkin baru belasan tahun."
"Beda dengan kita yang sudah hampir setengah abad ya?"
"Kalau aku sih, masih tergolong muda," kata Rio sambil tertawa. Kei menggeleng-geleng tak percaya. "Kadang aku iri bagaimana kau dapat tertawa begitu saja. Itu kan, salah satu rahasia agar tetap awet muda."
"Oh ya? Jadi aku harus selalu tersenyum agar tetap terlihat muda?" Rio mengangkat ujung bibirnya. Seketika jantung Kei berpacu. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke tanah.
Rio mendesah. "Kasihan sekali dia."
Kei masih tidak menatap wajahnya. "Maksudmu, Clara?"
"Iya."
"Kenapa memangnya? Apa kau juga khawatir dengan kondisinya, sama seperti Zeyn?"
Rio memutar-mutar belati miliknya, menatap kosong ke arah Clara yang sedang tertidur pulas. "Mungkin. Aku lebih khawatir karena ia hanya seorang manusia kecil, tapi sudah menghancurkan hidupnya karena bertemu dengan Fae seperti kita."
__ADS_1
"Dramatis sekali ucapanmu."
"Itu benar. Lihat saja kondisinya. Seharusnya ia masih berada di dunia manusia, menjalani kehidupan rumah tangga dengan calon suami dan sebagainya."
"Kau pikir sesimpel itu?"
"Ya, itu yang kuketahui tentang manusia. Hidup mereka sesimpel itu. Beda dengan kita," jelas Rio kepadanya.
"Aku tahu," gumam Kei. Itulah mengapa aku iri dengannya.
Mereka saling berbagi keheningan, menikmati suara napas Clara yang stabil, serta angin sepoi yang lolos masuk ke dalam gua. Akhirnya Rio kembali berbicara untuk mengurangi rasa canggung.
"Tentang apa yang kamu jelaskan kepadaku dan Dain waktu itu."
"Ha?"
"Kemampuan Clara. Sebenarnya bagaimana kejadiannya?"
Kei menaruh lututnya ke dada. "Aku kurang paham. Hanya Zeyn dan Clora yang melihat gadis itu menggunakan kemampuannya, sekali saat ia masih sangat muda."
Kei menatap Clara. Sekarang gadis itu menggeliut, dan bergumam dalam tidurnya. Entah mimpi apa yang sedang dialaminya sekarang. "Yang kutahu, ia bisa melihat masa depan. Namun, kuyakin pasti ada hal lebih dari itu, yang bahkan Zeyn tidak ketahui."
"Seperti apa?"
Kei terdiam, mencoba menjernihkan pikirannya. "Tidak tahu. Aku hanya mempunyai firasat, bahwa ada arti dibalik semua ini. Sesuatu yang bahkan Clara tidak mengetahuinya."
***
Ah. Tempat ini lagi. Rasanya familiar.
Aku dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi. Kaki telanjangku menginjak salju yang empuk. Karena ini dalam mimpi, mungkin aku tak merasa kedinginan.
Selang beberapa detik, barulah aku tersadar dimana tempat ini. Ini jelas-jelas Taman Musim Dingin.
"Kenapa aku bermimpi ke tempat ini?" Aku mengingat jalan ini. Ini jalan yang kutempuh bersama teman-temanku. Dan disinilah Zeyn berpisah dengan kami.
__ADS_1
Suara gemerisik semak-semak tiba-tiba terdengar dari arah kiri. Aku menoleh dan menghela napas lega karena ternyata itu hanyalah angin yang berembus.
"Hmmm." Aku memiliki ide. Bagaimana kalau aku menuju gua tempat kami beristirahat? Sepertinya aku masih memiliki banyak waktu sebelum terbangun dari mimpi.
Aku terus berjalan, kali ini dengan langkah yang cepat. Jantungku berdegup kencang, mungkin karena aku gugup apa yang akan kutemui nantinya.
Suara dedaunan yang bergesek lagi-lagi terdengar. Kali ini aku yakin sekali ini bukan angin.
Sesuatu menyebabkan semak-semak itu bergoyang.
"Hihi."
"Si-siapa disana?!" Aku menoleh dan samar-samar melihat suatu pergerakan. Dengan perasaan gugup, aku melangkah mendekati semak-semak itu, dan langsung membelah dedaunan dengan kedua tanganku.
"Kami disini."
Aku terkesiap dan jatuh tersungkur ke tanah. Tepat saat aku menoleh ke arah belakang, aku melihat makhluk-makhluk kecil bersayap.
Mereka sangat kecil, tinggi tubuh mereka mungkin hanya seruas jariku. Sayap mereka memantulkan cahaya matahari, sedangkan rambut lurus mereka yang berwarna putih keperakan terlihat indah dan berbaur dengan lingkungan sekitar.
"Manusia." Bisik mereka.
Aku menatap mereka tanpa berkedip. Mereka terlihat seperti peri-peri kecil yang biasa kutemui di cerita dongeng kanak-kanak. Yang membuatku terpana adalah sayap mereka. Rasanya seperti aku harus mencabuti sayap mereka, kemudian menyimpannya untukku sendiri-
"Jangan coba-coba melakukan itu!" Desis salah satu diantara mereka. Aku terbelalak dan bangkit dari tanah bersalju. "Kalian bisa... membaca pikiranku?!"
"Tentu saja, bodoh. Ini kan, cuma mimpi." Mereka menyeringai, dan seketika aku tidak lagi melihat peri-peri kecil yang cantik.
Gigi taring tiba-tiba keluar dari mulut mereka. Bola mata mereka berubah menjadi hitam.
"Karena ini cuma mimpi, tak usah takut kepada kami."
Aku menutup telingaku. Namun itu sia-sia karena suara mereka terngiang-ngiang dalam pikiranku.
"Jangan takut! Kemarilah! Jangan takut kepada kami!"
__ADS_1