
Keesokan paginya, aku sama sekali tidak bersemangat bangun pagi. Suasana saat sarapan pun makin memperburuk mood-ku. Clora yang seperti biasa pura-pura tidak menyadari keberadaanku, ditambah dengan kehadiran Zeyn serta tatapan matanya yang terus mengawasiku.
Pengawal. Mulai hari ini, aku akan terus dibuntuti seperti anjing yang dikekang tali oleh majikannya. Aku menggeleng pasrah dan lanjut memakan sayur tak berasa di hadapanku ini.
"Masih ada sisa makanan," kata Kei sambil menyodorkannya kepadaku. "Kurasa kau saja yang memakannya, Clara."
"Oh, tidak apa-apa." Aku mengangkat tangan dan menolaknya. "Aku sudah kenyang."
"Jangan bohong. Dari tadi kau kelihatan lesu," ucap Zeyn pelan. Aku lanjut mengunyah makananku. "Aku kurang tidur kemarin."
"Aku sudah selesai makan." Clora tiba-tiba bangkit dari kursi dan menjentikkan jarinya. Kotoran makanan tiba-tiba melayang dan langsung terjatuh dan berpindah tempat ke tong sampah. Aku langsung merasa iri terhadap kemampuannya. Andai aku bisa melakukan itu dan menjentikkan jari setiap kali ingin membersihkan rumah, mungkin setiap hari aku bisa bermalas-malasan di ranjang.
Zeyn menegangkan rahangnya. "Inilah sebabnya kau tak boleh mengajaknya berburu, Kei," katanya sambil menekankan kalimat itu. Gadis itu menelan ludah dan mengangguk. "Maafkan aku. Kesalahan itu tak akan kuulangi."
"Jadi, kurasa aku perlu mengetahuinya sekarang," Zeyn menopangkan dagunya di atas tangannya. "Apakah kamu menggunakan kemampuanmu lagi, Clara?"
"Ya," jawabku tanpa ragu.
Zeyn tersenyum puas. "Dan hasilnya?"
"Aku buru-buru mengingat isi mimpiku begitu aku terbangun. Ternyata aku sempat menemui Chrys."
Pupil mata Zeyn menjadi gelap. Bagaikan badai ditengah teriknya matahari, ekspresinya langsung berubah. "Dan...?"
"Dia selain bisa berbicara, juga sempat berkomunikasi dengannya." Kei membantuku menjawab. "Mungkin dia bukan hanya mendapat visi untuk melihat sesuatu, melainkan dapat ikut merasakannya."
Bulu kudukku merinding. Mungkin Kei terlalu melebih-lebihkan kemampuanku.
"Jadi, dia bisa berkomunikasi juga?" Gumam Zeyn tanpa melihatku. Ia sibuk menatap piring makannya, tapi aku tahu pikirannya sedang melayang. "Bagaimana dengan sentuhan? Apakah kau bisa melakukan itu juga?"
"Ya."
"Dan kau sadar penuh dalam mimpimu?"
__ADS_1
"Y-ya." Aku tak tahu darimana ia mengetahui hal itu. Mungkin ia hanya menebak-nebak. "Tapi, jangan berharap terlalu tinggi." Aku coba mencuri pandangannya. "Kelemahannya adalah, begitu aku terbangun, aku tak dapat mengingat isi mimpinya."
"Jadi bisa dibilang, percuma," sahut Kei. Dalam hati aku setuju. Mungkin berkat alasan itu, sekarang Zeyn dapat menimbang-nimbang untuk melepaskanku. Biar bagaimanapun, Jon sudah sembuh dan kami bisa kembali ke-
Aku mematung. Aku hampir lupa dengan temanku itu. Padahal kemarin ia ingin mengajakku pulang, namun aku sudah mengacaukan keadaan dan sekarang ia pasti sudah membenciku.
Dadaku menjadi sesak. Entah apa yang harus kulakukan sekarang. Kalaupun Jon sudah bisa pulang ke dunia manusia, aku tahu aku tidak bisa melakukannya, karena sekarang situasiku sedang gawat. Karena aku sendiri sudah mengonfirmasi kemampuanku, itu artinya rumornya benar.
Aku melirik Kei. Gadis itu sudah membocorkan rahasiaku kepada dua temannya. Ia mungkin saja mempercayai mereka, namun aku masih belum mengenal mereka. Bagaimana jika mereka malah membocorkannya dan semakin banyak Fae jahat seperti Chrys akan mengincarku? Bagaimana jika mereka melakukan trik yang sama, yaitu melacakku lewat mimpiku? Aku bahkan tidak tahu apakah hal itu bisa dilakukan oleh mereka.
Zeyn lagi-lagi tahu apa yang kupikirkan. "Jangan terlalu dipikirkan, Clara. Aku yang akan menjagamu. Kamu akan baik-baik saja asal aku berada di sisimu." Dengan itu, ia tersenyum, membuat wajahnya semakin bersinar. Rambut coklatnya yang beterbangan membuatku terpana.
***
"Sudah kubilang apa. Kau gagal." Clora membanting pintu dengan keras, kemudian menatap manusia yang ada di depannya dengan tatapan merendahkan.
Manusia itu terlihat menyedihkan. Penampilannya semakin acak-acakan, dan rambut kusutnya sedari tadi diremas. Dari kantung matanya yang terlihat, Clora tahu Jon pasti tidak bisa tidur semalam.
Lebih tepatnya, kejadian semalam juga membuatnya tidak bisa tidur. Zeyn jelas sudah menaruh perhatian yang berlebih pada gadis manusia kecil itu, padahal ia tidak cantik sama sekali. Tinggi manusia lebih rendah, dan postur tubuh mereka kadang tidak tegak, ditambah lagi dengan bintik di wajah mereka.
"Bagaimana ini? Aku lagi-lagi kelepasan." Pria itu masih bergumam tak jelas, namun Clora masih dapat mendengar suaranya, berkat telinga Faenya.
"Jadi benar kata gadis itu? Kau menyerangnya dan hampir membunuhnya?"
"Aku hampir membunuhnya?!" Barulah pria itu menatapnya dengan bola mata hitamnya. "Aku tidak tahu. Aku pikir aku hanya..."
"Mencekiknya sampai mati," Clora menutup kalimatnya. "Hebat sekali dirimu. Tidak menghormati kaum perempuan."
Jon menguburkan kepalanya dan menekuk lututnya. Clora berjalan mendekatinya, dan berlutut di hadapannya. "Memangnya kau tak mau pulang sendiri?"
"Sendiri?" Jon mengangkat kepalanya. Dari dekat, ia bisa melihat dengan jelas. Rasa letih yang terpancar dari matanya. "Tidak. Aku mau mengajak Clara."
"Begitu ya? Aku ragu ia akan menerimamu lagi setelah kejadian semalam."
__ADS_1
Clora tersenyum puas saat melihat pria itu yang tak bisa berkata-kata. Memang, ia adalah gadis yang menyeramkan. Ia mampu membuat para pria berlutut di hadapannya tak berkutik.
Ia langsung merasa jengkel karena pria lemah itu masih menatap wajahnya. Ia mengenali tatapan itu, tatapan yang terpukau dengan kecantikan wajahnya. Clora buru-buru bangkit berdiri, namun tangannya ditahan.
"Kamu...aku belum tahu siapa namamu," bisiknya. Clora memutar bola matanya. "Memangnya penting ya, Jon?" Pria itu lagi-lagi membisu, merasa terkejut karena ia sudah mengetahui namanya lebih dulu.
"Jangan terkejut, manusia."
"Siapa namamu?" Tanyanya lagi, masih menahan pergelangan tangannya tanpa rasa takut. Mungkin akhirnya pria ini sudah terbiasa melihat Fae.
"Clora." Ia menghitung sampai sepuluh, dan benar saja. Tangannya akhirnya dilepas. "Nah, kau istirahatlah. Kau butuh tenaga dan energi kalau mau keluar dari sini."
"Mungkin benar," bisiknya. Ia lalu merangkak ke arah tempat tidurnya. Seprai kasurnya sampai terlihat berantakan karena tidak dibersihkan selama berhari-hari.
"Kau tahu, dulunya ini kamar milikku?" Tanyanya tiba-tiba. Jon menggeleng-geleng. "Memangnya kenapa kamu tidak tidur disini lagi?"
Clora mendengus tak percaya. "Dari sekian banyaknya pertanyaan yang dapat kau lontarkan, kau memilih untuk bertanya pertanyaan semacam itu?!"
Jon mengerutkan dahinya. "Memangnya aku tak boleh bertanya hal itu?"
"Gak!" Balasnya setengah berteriak. "Itu hal pribadi!"
"Tapi kau yang mengungkit masalah kamar ini lebih dulu," katanya, masih menatapnya penuh kebingungan. Clora menggeleng-geleng. "Aku gila sudah coba berbicara dengan manusia."
"Apa katamu?"
"Tidur sana!" Tanpa menoleh ke arahnya lagi, Clora sudah menutup pintu kamar keras-keras.
"Woa, Clora! Ada apa?" Tanya Kei dari kejauhan. Temannya itu langsung menghampirinya. Tak lama, ia sudah tertawa.
"Kenapa sih?" Tanya Clora heran. Kei masih tetap tertawa terbahak-bahak. "Tidak. Mukamu itu seperti..."
"Seperti apa?!" Tanyanya kesal. "Aku tak ingin bercanda sekarang, Kei. Aku sudah lelah menghadapi manusia itu."
__ADS_1
"Haha!" Lagi-lagi ia tertawa sampai menahan perutnya. "Lagipula siapa yang menyuruhmu untuk memasuki ruangannya?"
"Aku..." Clora bisa merasakan pipinya yang semakin panas karena malu. "Ugh!"