
"Kemana sih, wanita penyembuh itu?!" Clora bahkan sudah mencarinya sampai ke luar pondoknya, namun wanita itu masih tak tampak. Wajar, sebagai seorang Fae Healer, ia dibutuhkan diantara orang-orang sakit.
Sana, wanita dengan rambut pirangnya yang panjang, adalah seorang Healer yang saat ini bekerja bersama Zeyn. Ia akan menghabiskan sebagian besar waktunya di dekat Zeyn. Bisa dibilang, ia bertugas sebagai pelindungnya, jadi Ketua Ventus itu tak perlu merasa khawatir jika dirinya bertemu bahaya atau memiliki luka berat.
Mungkin ia sedang bersama Zeyn sekarang, pikir Clora. Tapi dimana mereka? Aku tak melihat Zeyn sejak suara teriakan Jon mengganggu pembicaraan kami.
Clora menelan ludah, dan kembali mengingat pembicaraannya dengan Zeyn. Sampai sekarang, ia belum bisa mengonfirmasi jika pria itu memang benar menaruh perasaan terhadapnya. Karena saat mereka bertemu dengan Clara untuk yang pertama kalinya, pria itu malah semakin tertarik dengannya. Pernah beberapa kali pria itu mengusirnya hanya untuk mencuri waktu dengan gadis manusia itu.
Suara teriakan kembali membuyarkan pikiran Clora. Ia langsung berlari ke arah ruangan tempat Clara dirawat.
Saat ia membuka pintu, ia sudah melihat Zeyn di samping ranjangnya. Gadis itu masih menutup mata, namun ia mengeluarkan suara teriakan dari tenggorokannya.
"Kenapa dia?" Tanya Clora, meskipun ia tak terlalu peduli dengan kesehatan mentalnya. Gadis itu memang suka sekali berteriak saat menggunakan kemampuannya dalam bermimpi. Ini membuatnya jadi teringat dengan malam pertama ia bertemu dengannya. Saat gadis ini masih sangat kecil dan muda, di desanya yang bernama Desa Norlata.
Zeyn masih tidak menjawab pertanyaannya. Ia hanya menyentuh kening gadis itu yang sangat pucat, kemudian memejamkan matanya. Afeksi ini membuat Clora iri sekaligus cemburu.
"Zeyn, jangan terlalu panik," katanya berusaha menenangkannya. "Ia akan segera terbangun. Tak apa."
__ADS_1
Pria itu membuka matanya, dan menoleh ke arahnya. Barulah Clora melihat penampilannya dengan jelas. Wajahnya tampak kusut. Rambutnya teracak dan kantung hitam menghiasi matanya. Mungkin tadi saat Jon membuat kegaduhan, pria ini malah mengunjungi Clara.
"Rio," bisik Clara dalam mimpinya. "Rio, ini hanyalah mimpi."
Clora tak dapat membaca ekspresi Zeyn. Namun ia tahu, kalau pria itu sampai memasang wajah datar, artinya ia tidak tahu harus bersikap seperti apa.
"Zeyn, akan kucoba untuk membangunkannya." Clora tidak tahu kenapa ia mengajukan diri. Yang pasti ia tak tahan melihat kondisi Zeyn saat ini. Dan gadis manusia itu sudah cukup tersiksa hingga saat ini, jadi sebisa mungkin ia ingin menolongnya. Biar begitu, Clara adalah teman Kei, dan Clora sendiri adalah teman Kei juga kan?
Splash! Ia menuangkan air dingin dari gelas minumannya. Zeyn langsung terbelalak. "Air dingin?"
"Biar tidak kepanasan," jelas Clora. "Kau tak lihat keringat di lehernya? Mungkin mimpinya selalu diawali dan diakhiri di tempat pemandian air panas."
"Jadi, Zeyn..." Ia hendak menanyakannya soal pembicaraan mereka yang sempat tertunda. "Aku mau mengaku sesuatu-"
Clara terkesiap dan sudah membuka matanya. Lagi-lagi diganggu, pikir Clora kesal.
***
__ADS_1
Aku baru saja selesai menjelaskan kepada Clora dan Zeyn terkait dengan isi mimpiku. Aku tidak tahu kenapa aku bisa mengingatnya sekarang, walau hanya samar-samar dan tidak begitu jelas.
Aku mengingat saat aku bertemu dan berbicara dengan pria misterius itu. Agar memperjelas semuanya, aku juga menambahkan bahwa aku pernah melihat pria misterius itu di majalah koran.
"Waktu itu, aku pikir aku gila," kataku saat mereka menatapku seperti aku ini sudah kehilangan akal. "Tapi aku mengenalinya. Bentuk tubuhnya, dan cara berdirinya. Entah siapa pria misterius itu, tapi aku yakin dia biang keladinya di balik kehancuran desa tempat kelahiranku."
Mereka terdiam, saling bertukar pandangan.
"Kenapa reaksi kalian malah seperti itu?" Aku menggoyangkan tanganku untuk mendapat perhatian mereka kembali. "Apa kalian mengenalnya? Dan bagaimana dengan visi masa depan yang baru saja kulihat?"
Zeyn menatapku sambil tersenyum. Dipeganglah tanganku yang ternyata sudah bergetar. "Terima kasih atas kerjasamanya, Clara. Aku memercayaimu. Dan sekarang, kita harus memperingati Dain tentang hal ini."
"Syukurlah," aku mendesah lega, merasa beban di pundakku berkurang karena pria ini ternyata tidak menganggapku gila. "Ayo kalau begitu." Aku sudah bangkit dari kasur, walau tubuhku sedikit terhuyung karena sudah dua hari aku tidak menggunakan kakiku untuk berjalan.
"Biar kubantu." Zeyn sudah melingkarkan lenganku di lehernya. Aku dapat melirik Clora yang mengerutkan dahinya.
"Sudah dua hari. Bagaimana kalau ditunda dulu rencana kalian untuk menemukan Dain, dan beri Clara sedikit waktu istirahat?" Kata Clora sambil menghalangi jalan kita. "Kau butuh asupan makanan."
__ADS_1
Aku mendengus. "Clora. Aku tidak tahu kapan visi itu bisa terjadi. Kita harus segera memperingati hal ini kepada Dain... dan juga Rio." Perutku melilit saat menyebut nama itu. Aku jadi teringat betapa bencinya ia saat aku menjelaskan kepadanya bahwa semua ini hanyalah mimpi.
Semoga visi yang kulihat tidak nyata, dan semoga aku masih bisa berteman dengan Rio, karena aku tidak ingin melepaskan mereka begitu saja.