Wings & Dream

Wings & Dream
Ch.12 - Perasaan Clora


__ADS_3

Aku masih merasakan tubuh Krilie dalam genggaman tangan kiriku. Aku sadar penuh, tapi tak yakin dimana aku berada sekarang.


Untuk sesaat, aku merasakan dua tangan besar yang sedang menggendongku. Aku berkedip dan samar-samar bisa melihat wajah Zeyn, namun itu segera tergantikan oleh cahaya kuning yang membutakan mataku. Saat aku berkedip, aku tidak lagi melihat Zeyn, melainkan sosok seorang pria yang familiar.


Pria misterius yang waktu itu.


Namun aku tak dapat melihat lebih jelas wajahnya, karena aku sudah ditelan oleh kegelapan tak berujung.


***


"Ini sudah lewat dua hari," gumam Kei. Ia sekarang berada di ruang kerja Zeyn. Bahkan untuk sekedar mengunjungi Clara saja, Zeyn sudah melarangnya dan memberinya tatapan maut.


"Bersabarlah. Clara akan segera tersadar." Zeyn kembali tenggelam ke dalam dunianya, yaitu membaca buku. Pria itu memang suka menghabiskan sebagian besar waktunya disini, dipenuhi oleh buku-buku usang. Bau khas kertas halaman buku sudah menjadi santapannya setiap hari.


"Aku jadi teringat dengan Clara," katanya setelah duduk di dekatnya. "Ia pernah bercerita kepadaku tentang mimpinya menjadi seorang penulis."


"Jadi ia juga suka baca buku?" Tanya Zeyn, masih menatap isi buku yang dibacanya itu.


Kei mengangguk. "Zeyn, tentang waktu itu..."


"Aku tak mau membahasnya lagi, Kei." Zeyn menutup sampul bukunya dan bangkit berdiri. "Sebenarnya aku tidak ingin memaafkanmu, dan juga teman-temanmu, karena sudah menjerumuskan Clara ke dalam bahaya."


"Tapi itu bukan gara-gara kita! Aku tidak tahu apa yang dialaminya dalam mimpi-"


"Kalau kau tidak memahami Clara, jangan dekati dia!" Teriaknya sambil melotot geram.


Kei menganga. Ia belum pernah melihat pria ini marah besar sebelumnya. Pria yang selalu bersikap manis kepada perempuan, dan sukses meluluhkan hati perempuan, sekarang sedang menatapnya penuh kebencian.


Apa ia sudah melakukan kesalahan besar sampai membuatnya menjadi seperti ini?


"Aku... maaf, Zeyn-"


"Keluar dari ruangan ini. Sekarang," katanya sambil memalingkan wajah. Akhir-akhir ini, wajahnya terlihat lesu dan kurang segar. Pria ini butuh semangat.

__ADS_1


Tanpa berkata apa-apa lagi, Kei menurutinya dan meninggalkannya. Ia lalu berpikir, apa yang akan membuat suasana hatinya membaik. Selain Clara, masih ada satu orang yang kemungkinan membuatnya kembali ceria.


***


Jon masih menunggu di depan kamar gadis pemarah itu. Padahal seharusnya ia menjenguk Clara. Temannya itu sejak dua hari lalu sampai digendong pulang. Ia pulang dalam keadaan pingsan dan tak sadarkan diri.


Tapi Jon tak merasa khawatir. Ia sudah tak peduli lagi dengan kondisi temannya itu, asal ia masih bernapas. Mungkin ia mengalami kecelakaan kecil. Lagipula, ia pergi untuk berburu suatu monster berwujud peri kecil.


Jon tertawa tanpa rasa humor. Buat apa ia memikirkan monster dan segala macam hal aneh yang ditemuinya disini? Lagipula ini sudah berhari-hari ia tinggal di sini, ditemani oleh makhluk aneh. Bahkan ia sudah tak merasa takut setiap kali berpapasan dengan Fae bergaun putih itu. Wanita penyembuh yang bernama Sana.


Sekarang, ia malah sudah terikat dengan Clora. Gadis itu sudah tidak lagi menangis, namun harga diri lah yang membuatnya tega mengurung diri terus-terusan di dalam kamarnya.


Ini sudah yang ke seratus kalinya Jon menggedor pintunya.


"Clora! Kau belum mati, kan?"


"Diam! Aku sudah muak denganmu!"


"Setidaknya keluar. Aku mau melihatmu sebentar."


"Mungkin. Tapi aku mau mengecek kondisimu-"


"Bukannya seharusnya kau bersama teman manusiamu itu?! Lagipula kau kan menyayanginya!"


Jon menghela napas. Dirinya sudah mulai tak sabaran. "Mau sampai kapan kau mengurung dirimu disana? Apakah karena harga diri? Takut merasa dipermalukan?"


Clora terdiam. Mungkin Jon sudah melewati batas. Maka ia berganti topik.


"Zeyn sudah kembali. Kau ingin melihatnya, kan?"


"Buat apa aku melihatnya? Aku benci dengannya."


"Ukh!" Jon menjambak rambutnya sendiri. Sejak kapan ia merasa frustasi hanya karena gadis ini? Baru saja ia ingin menggedor pintu saat gadis lainnya sudah menghampirinya.

__ADS_1


"Dia masih di dalam ya?" Tanya Fae yang bernama Kei itu. Jon mengangguk dengan letih. "Biar aku saja. Kau bisa beristirahat di kamarmu."


Jon berjalan menjauhi pintu kamar, namun rasanya ia ingin melihat, apakah Kei sukses membawanya keluar. Akhirnya ia mengintip di balik dinding.


***


"Clora," Kei menempelkan bibirnya di lubang kunci pintu. "Heiii, keluarrr...."


"Berisik, Kei! Kalau kau masih menggodaku, aku akan sumpel mulutmu dengan sampah-"


"Clora, Zeyn membutuhkanmu."


Kei memahami hubungan temannya itu dengan Zeyn. Walau ia sudah berusaha menyembunyikannya, Clora tetaplah menunjukkan perasaannya secara terang-terangan. Terbukti setiap kali Clora berbicara dengan Zeyn, gadis itu pasti akan menunduk dengan muka merahnya. Atau saat Zeyn dibuat tertawa oleh Clara, ia pasti mengepal tangannya sendiri karena tak tahan melihat interaksi mereka.


"Jangan bilang ia masih mengenang gadis manusia itu," sahutnya di balik pintu.


"Bukan mengenang, Clora. Gadis itu masih belum meninggal-"


"Kuharap demikian."


Kei menggigit bibir bawahnya. "Clora, jangan pikir aku tidak mengetahui perasaanmu yang sesungguhnya terhadap Zeyn."


"Apa maksudmu?!" Teriaknya, lalu terdengar suara hentakkan kaki. Tak lama, pintu sudah dibuka dan Kei bisa melihat dengan jelas penampilan wajahnya yang kusut sehabis menangis.


"Maksudku, kau menyukainya."


"Kata siapa?! Omong kosong!" Clora melototinya. "Memangnya aku terlihat seperti sedang cemburu?!"


"Kalau bukan cemburu, aku tidak tahu apa yang sedang kau rasakan."


Bagaikan singa galak yang telah dijinakkan, Clora malah terbelalak dan tak dapat mengucapkan sepatah kata pun.


"Begini, Clora. Kalau kau tulus dengannya, setidaknya coba hibur dia. Meskipun penyebab kesedihannya itu adalah gadis manusia itu."

__ADS_1


Clora tampak menimbang-nimbang ucapannya.


"Atau ini adalah kesempatan bagimu, Clora. Untuk menyatakan cintamu."


__ADS_2