
Jadi waktu itu, nyata?!
"Clara." Aku tak sadar sudah melamun sejak tadi. Aku berkedip dan tersadar saat melihat Zeyn di depanku. Ia menatapku penuh khawatir, kemudian duduk di seberangku.
"Jangan terlalu dipikirkan."
"Tapi bagaimana kalau itu benar?" Bisikku lirih. "Bagaimana kalau aku ini pembunuhnya?!"
"Apa kau masih ingat apa yang kau lakukan dalam mimpimu?"
Aku mencoba memutar otakku. Bagaikan lem perekat yang semakin lama tidak lengket, hanya tinggal tunggu waktu saja sebelum ingatanku benar-benar pudar.
"Rupanya kau melupakannya secara total, ya?"
"Sepertinya tidak," jawabku agak ragu. "Aku ingat. Mayat Dain di hadapanku, kemudian Rio yang sudah membenciku. Tak lama, aku sudah terbangun di dunia nyata."
"Begitu," Zeyn mengangguk. "Beristirahatlah, Clara. Aku akan menemuimu nanti." Kemudian ia berjalan ke arahku, dan mengecup keningku untuk sesaat.
Hatiku terasa pedih melihat perilakunya yang seperti itu. Aku tidak ingin ditinggal sendirian.
"Aku ingin ditemani..."
Zeyn tersenyum, kemudian membelai rambutku. "Tidurlah." Ia lalu menuntunku ke ranjangku.
Aku mencoba memejamkan mata, namun rasa kantuk tak kunjung datang. Aku sibuk memikirkan kejadian aneh yang telah menimpaku.
Zeyn pasti berpikir aku telah terlelap, maka ia melangkah pergi dari ruanganku.
Setelah bunyi gagang pintu terdengar, aku langsung bangkit duduk. Tak mungkin aku hanya akan tertidur setelah semua ini terjadi.
Aku harus mencari tahu kemampuan mimpiku seperti apa.
__ADS_1
Tapi ini sudah malam, pikirku. Apa aku harus mengendap menuju ruang kerja Zeyn? Disana kan, ada banyak buku. Mungkin aku bisa memperoleh informasi.
Tidak, tidak, ucap sisi baik diriku ini. Kau bisa mencari tahu kemampuanmu lewat mimpi. Yang harus kau lakukan sekarang adalah tertidur.
Enak aja! Batin sisi jahatku. Mau sampai kapan menderita seperti ini terus?! Clara berhak mengerti arti kemampuannya sendiri!
Aku menghela napas dan menggeleng-geleng kepala, mencoba untuk menjernihkan otak. Karena aku sudah menemukan Rio, artinya sekarang aku tak punya tujuan hidup lain selain menyelidiki arti kemampuanku.
Yep. Kali ini sisi jahatku menang.
Aku berjinjit dan memasang telingaku. Saat yakin lorong sudah tidak berpenghuni, aku membuka gagang pintu dan menggigit bibir bawahku saat bunyi derit pintu terdengar. Untungnya masih tidak ada siapa-siapa.
Suara detak jam dinding menemaniku saat aku menyusuri lorong. Karena tidak ada penerangan lampu, aku meraba dinding dan memicingkan mata. Aku tak boleh tertangkap, pikirku.
Aku menaiki tangga, sampai akhirnya menemukan pintu tempat kerja Zeyn. Sejauh ini aman, karena tidak ada siapa-siapa yang melihatku.
Tapi kalau Zeyn ternyata berada di ruang kerjanya?! Pikirku mulai panik. Dia mungkin saja sedang menyelidiki kasus pembunuhan sampai larut malam, apalagi Rio sudah memanaskan keadaan tadi.
Aku menoleh ke belakang dan tersadar bahwa aku sudah sampai sejauh ini. Tidak mungkin untuk berbalik badan dan melupakan semua rencana gila ini.
Aku menyentuh gagang pintu yang terasa dingin di telapak tanganku, lalu menekannya. Beberapa detik kemudian, aku sudah berada di tengah ruangan. Untungnya tak ada siapa-siapa disini.
Haha, kau sungguh gila Clara, kata sisi baikku alias sisi warasku. Kalau sampai tertangkap, siap-siap saja bakal ada angin topan.
Aku mengabaikan suara-suara hatiku dan mulai meng-scan rak buku. Setidaknya aku perlu mengambil beberapa buku yang mungkin bisa menjelaskan semuanya.
"Mimpi, mimpi, mimpi," gumamku sambil terus mencari buku yang berjudul mimpi atau sejenisnya. Aku mulai berkeringat, sementara kelopak mataku terasa semakin berat.
Setelah beberapa menit, aku mulai menyerah. Hampir semua buku berkaitan dengan Faeries. Tidak ada satupun yang tentang teori-teori mimpi. Mungkin Zeyn tidak suka membaca buku fiktif tentang teori.
Sebuah buku terjatuh di hadapanku. Saat aku mendekatinya, aku terkesiap dan buru-buru menutup mulut. Remembrances of dreams. Alias kenangan akan mimpi.
__ADS_1
Syut! Aku seperti mendengar sebuah suara di belakangku. Aku buru-buru menoleh. Jantungku mulai berpacu. Namun, tidak ada siapa-siapa.
"Aku pasti salah dengar." Tapi memori tentang Chrys tiba-tiba muncul di pikiranku.
Sial, kenapa aku jadi memikirkan dia?!
Akhirnya aku terus berjalan, sampai akhirnya kembali memasuki kamarku. Aku sempat menghela napas lega karena ternyata berhasil mengendap di rumah ini.
Aku mengunci pintu kamar untuk berjaga-jaga jikalau ada yang memasuki kamarku. Lalu, aku menatap buku bersampul merah muda ini.
Penasaran, aku segera membuka isinya. Halaman pertama hanya memuat foto-foto serta gambar lukisan mimpi yang dialami orang-orang. Kemudian ada penjelasan arti mimpi, cara bermimpi, dan sebagainya.
"Kalau ini mah, aku sudah tahu," gumamku pelan. Aku sengaja membalikkan halaman dengan cepat, mulai merasa bosan.
"Hal 100."
Aku terbelalak dan mengangkat kepalaku dari buku. Aku jelas-jelas mendengar suara itu. Itu lebih seperti bisikan angin daripada suara seseorang.
"Chrys?" Tanpa sadar, aku membisikkan namanya. "Apa itu kamu?"
Tidak ada jawaban. Akhirnya aku menuruti suara itu dan membuka halaman 100. Di sana, terpampanglah tulisan-tulisan kecil berparagraf. Terpaksa aku meletakkan buku di bawah cahaya lampu meja, dan mulai membacanya.
Setelah membacanya, barulah aku mulai mengerti. Ternyata memang ada orang seperti diriku ini. Sangat jarang memang, namun memang ada yang memiliki kemampuan bermimpi aneh sepertiku. Ada yang hanya sekedar mengetahui bahwa ia sedang bermimpi. Itu dinamakan Lucid Dream. Ada yang mengaku bisa berkomunikasi lewat mimpi. Ada juga mengaku isi mimpinya sebagai penglihatan masa depan.
Tak ada kasus sepertiku. Lebih tepatnya, semua kasus yang dijelaskan disini adalah keahlianku. Aku dapat melakukan semuanya, sementara manusia-manusia ini hanya dapat melakukan salah satunya.
"Sebenarnya aku ini apa?" Bisikku tanpa sadar. Saat aku hendak mencari tahu lebih lanjut lagi, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari luar.
Shit, umpatku dalam hati. Aku buru-buru menyembunyikan buku itu. Benar saja. Sekarang gagang pintuku sudah berusaha dibuka dari luar.
__ADS_1
"Clara?" Suara Zeyn terdengar dari luar. "Apa kau sedang berganti baju?"
"Y...ya!" Aku melihat ke arah jendela. Ternyata matahari sudah menerangi dunia. Sudah berapa lama aku membaca buku?!