Wings & Dream

Wings & Dream
Ch.24 - Kembali


__ADS_3

Sementara itu di wilayah manusia...


Suara klakson mobil mengejutkan Kei, dan sihir abu miliknya itu langsung tak terkendali.


"Woah, tenang!" Pria disebelahnya itu langsung menenangkannya, walau ia tak melihat langsung karena ia buta. "Itu hanya suara mobil yang lewat."


"Suara apa?" Kei masih bersiap siaga. Gadis itu menoleh kesana kemari, wajahnya terlihat tegang.


"Mobil. Bukan apa-apa," jawab Jon sambil terkekeh. "Setahuku kau tertarik dengan kehidupan manusia. Seharusnya kau tahu kehidupan kami itu seperti apa."


"Yahh, kau tak salah." Sekarang Kei sudah kembali memapah tubuhnya. Tak sampai sehari, mereka sudah berhasil kembali ke kota Ratterdam. Kota ini masih terlihat sama dan jelas oleh Kei, namun berbeda untuk Jon karena kondisinya sekarang.


Kei melirik pria manusia disampingnya itu. "Siap untuk pulang?"


Dan hanya dibalas oleh keheningan.


"Seharusnya kau bersemangat. Kau dari dulu ingin sekali pulang kembali ke wilayah asalmu, kan?"


Jon hanya mengangkat bahunya. "Ya. Tapi sekarang tidak lagi."


Kei tiba-tiba merasa bersalah terhadap manusia yang satu ini. Pria ini memang sudah benar-benar sial. Selain buta, ia juga kehilangan temannya yang mungkin saja bisa untuk selamanya.


"Jon, sebenarnya aku-"


"Tak perlu meminta maaf." Jon buru-buru mengangkat tangannya. "Aku bisa merasakan auramu dari sini, tahu. Kau sedang menatapku penuh penyesalan."

__ADS_1


"Tapi aku harus meminta maaf. Aku juga bersalah karena sudah membawa kalian ke wilayah kami."


"Huh," balas Jon. "Iya, ini salahmu. Tapi aku masih lebih kesal dengan pria sombong itu."


"Mungkin waktu itu ia hanya kehilangan kendali atas emosinya. Tak biasanya ia seperti itu. Biasanya ia lembut dan penyabar." Kei berusaha membela Ketua Ventus itu.


"Aku tak memahamimu," balas Jon. "Jelas-jelas ia sudah menyerangmu dan juga Clara. Ia bukan lagi pria yang kau kenal. Zeyn itu mirip seperti-"


"Jon?" Belum sempat Jon melanjutkan perkataannya, seseorang sudah memanggilnya.


"Stef?" Bisiknya.


***


Stef tak percaya apa yang baru saja dilihatnya. Dari kejauhan, ia sempat berpikir berulang kali bahwa pria yang sedang dipapah itu adalah Jon. Lagipula penampilannya terlihat berbeda. Baju yang dikenakannya sama sekali bukan gayanya, ditambah dengan gadis Fae itu yang pernah menculiknya, sekarang malah sibuk mengobrol dengannya hingga tak memperhatikan jalan.


"Stef?" Saat pria itu memanggil namanya dan menoleh, ia bisa melihat dengan jelas wajahnya yang semula tertunduk. Matanya sedang terbuka, memperlihatkan warna bola matanya yang baru.


Pantas saja ia menggunakan bantuan untuk sekedar berjalan.


"Apa yang terjadi padamu?!" Stef langsung menarik tubuh temannya itu jauh-jauh dari gadis Fae itu. Meski ia mengenakan tudung untuk menutupi identitasnya, Stef sudah kenal betul siapa dia.


Untungnya Oswald segera menyusulnya. Sekarang mereka sedang berada di depan kantor kepolisian, jadi akan sangat mudah bagi mereka untuk menangkap gadis Fae ini.


Oswald tampak sama terkejutnya saat Jon tiba-tiba muncul kembali.

__ADS_1


"Tangkap dia!" Tak perlu basa-basi, ia langsung menyuruh orang untuk menangkap gadis misterius bertudung itu.


"Apa-apaan?! Aku yang sudah membawanya kesini loh!" Kei berusaha membela dirinya. Meskipun kedua tangannya sekarang sudah ditahan, sebenarnya ia bisa dengn mudah kabur dengan sihirnya. Tapi tentu saja ide itu gila, memakai sihirnya di tengah para manusia.


"Stef, tak apa. Kau boleh memercayainya," kata Jon.


"Kau yakin?! Dia ini orang yang sudah membawamu pergi dan menghilang selama berminggu-minggu!"


"Bukan dia," balas Jon dengan nada serius. "Ini semua ulah Zeyn. Bukan ulahnya."


"Aku tak mau mendengar pembelaanmu, Jon!" Sekarang Kei sudah dibawa masuk ke gedung kepolisian. Gadis itu hanya terdiam, tidak melawan.


"Dan kenapa kau hanya sendiri? Dimana Clara?"


"Sesuatu...terjadi," jawab Jon dengan ragu. "Ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Zeyn demi membawaku pulang kesini."


"Apa?!" Stef memegangi dahinya yang mulai pusing. "Bagaimana keadaannya? Buat apa ia ditahan disana?!"


Jon tidak membalasnya, yang membuatnya semakin khawatir.


"Aku tidak tahu," akhirnya ia membuka suara. "Stef. Setelah kupikirkan baik-baik, ini semua salahku."


"Sekarang bukan saatnya untuk menyalahkan diri," balas Stef. "Kita harus bekerjasama untuk membawa pulang Clara kemba-"


"Tidak, Stef." Jon menggeleng-geleng. Raut wajah pria buta itu tiba-tiba berubah. Entah apa yang tiba-tiba diingatnya. "Aku bukan menyalahkan diri, karena itu memang salahku. Waktu itu... seseorang sengaja melukaiku agar bisa memancing Clara untuk pergi ke wilayah Fae."

__ADS_1


"Dan siapa orangnya? Apa kau sudah mengingatnya?"


"Ya," bisiknya dengan yakin. "Waktu itu, Zeyn lah yang melukaiku. Aku tidak begitu mengingat percakapannya dengan Clara, tapi aku ingat ia sengaja menuduh Chrys."


__ADS_2