
Saat aku terbangun, ruangan menjadi lebih gelap dibanding sebelumnya, karena tidak ada lagi bintang di dinding yang menerangi ruangan. Aku mengucek mata dan tersadar bahwa bulan telah menampakkan diri di luar jendela.
"Ugh." Aku bangkit duduk dan menggaruk kepalaku. Setelah nyawaku terkumpul, aku baru tersadar bahwa tidurku yang barusan cukup nyenyak.
Syukurlah aku tidak bermimpi apa-apa, batinku. Ya, aku mulai membenci dunia mimpi setelah semua yang sudah kualami. Karena itu adalah penyebab masalah hidupku, sekaligus hal yang membedakanku dari manusia biasa.
Aku tidak menginginkan kemampuan itu, dan berharap bahwa suatu saat aku bisa menghancurkannya.
Aku melihat sesosok yang sedang tertidur di atas meja. Chrys ternyata tidak membangunkanku dan membiarkanku tertidur di ranjangnya.
Ia masih terlelap, pikirku sambil berjinjit. Pantas saja cahaya bintang menjadi redup, karena sang pencipta sedang beristirahat.
Aku hendak mengambil buku yang berada di dekatnya, saat tiba-tiba kepalanya mendongak. Secepat kilat, pergelangan tanganku dicengkeram olehnya dan ditahan ke belakang punggung. Setelah itu, jidatku dibentur ke meja. Cahaya kuning miliknya merebak ke seluruh ruangan.
"Clara?" Setelah tersadar atas perbuatannya, Chrys perlahan melepaskanku. "Kupikir yang tadi itu orang lain."
"Ugh!" Aku meringis kesakitan dan mengusap wajahku. "Apa ini sudah menjadi kebiasaanmu?"
"Ya," balasnya sambil menggelengkan kepala. "Aku masih belum terbiasa dengan kehadiran orang lain di rumahku."
"Memangnya kau tidak memiliki teman?"
__ADS_1
"Teman? Apa itu teman?" Ia langsung menyambar handuk yang tergantung di dinding, kemudian menatapku. "Aku tidak butuh teman." Setelah itu, ia pergi ke kamar mandi dan mengunci pintu.
Karena aku tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya aku berbaring di ranjangnya lagi. Sambil menarik selimut dan berpose seperti janin dalam kandungan, aku mencoba berpikir.
Pria itu memang tinggal sendirian. Aku belum pernah melihatnya bersama Fae lainnya. Beda dengan ketiga Fae Ventus yang dulunya adalah temanku. Mereka bahkan memiliki kelompok, dengan Ketuanya yaitu Zeyn. Sedangkan untuk Chrys, aku belum pernah melihatnya berbaur dengan Fae lain.
Aku ingat saat diriku ditahan di perahu. Ketiga anak yang menangkapku langsung merasa ketakutan saat Chrys muncul. Tampaknya semua orang disini membenci dirinya.
"Kau gak mandi?"
Aku terkesiap dan langsung bangkit duduk. Namun aku tidak melihatnya.
"Aku sedang berganti baju, wajar aku membuat diriku tak terlihat," katanya lagi. "Cepat mandi. Aku ingin mengajakmu keluar."
Terdengar suara tawa yang pelan, kemudian Chrys kembali berbicara. "Tak ada batasan waktu untuk pergi keluar, kan?"
Setelah aku selesai membersihkan diri, aku mendapati Chrys yang sudah berganti baju. Ia mengenakan sarung tangan kulit, sementara pedang miliknya tergantung di pinggangnya.
Oh, tidak. Apa ia ingin mengajakku untuk berlatih lagi?
"Malam hari adalah waktu yang tepat untuk berlatih," katanya kepadaku saat kami sudah berada di luar. Angin malam berhembus kencang, membuat rambut coklatku beterbangan. Untungnya aku memakai hoodie tebal, jadi tubuhku tidak akan menggigil.
__ADS_1
Aku bisa merasakan tatapannya ke arahku. "Jangan kebiasaan menundukkan kepala."
Aku langsung menaikkan kepalaku. Ucapan Chrys memang benar. Semenjak Kei menyuruhku untuk menyembunyikan diri, aku jadi punya kebiasaan untuk menyembunyikan wajah di balik tudung jaketku.
"Tenang saja. Daerah ini jarang dilalui oleh para Fae, jadi kau akan aman-aman saja," kata Chrys lagi.
"Kata siapa? Bagaimana dengan bocah-bocah yang kutemui beberapa hari sebelumnya?"
"Mereka hanya kebetulan lewat. Daerah hutan ini sebenarnya terlarang bagi para Fae."
Aku menoleh kepadanya, memperhatikan ujung rambutnya yang beterbangan. Ia tampak larut dalam pikirannya dan terlalu fokus membawa jalan. Tapi sepertinya ia tahu aku sedang menatapnya.
"Jadi kau sengaja tinggal disini," gumamku, melepas pandangan dari wajahnya. "Apa ini karena semua orang membencimu?"
"Membenciku?" Semburnya sambil tertawa tanpa rasa humor. "Ya. Bahkan mereka tak segan membunuhku kalau aku bertemu dengan mereka."
Kenapa aku jadi merasa kasihan dengannya? Seharusnya aku tidak berpikiran seperti itu. Pasti ada alasannya semua orang membenci dirinya.
"Sudah sampai." Chrys menghentikan langkahnya. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling dan tersadar bahwa ini area hutan yang tidak ditumbuhi pohon, alias tempat terbuka.
"Biasa aku berlatih disini." Ia melemparkan pedang ke arahku. Kali ini aku berhasil menangkapnya.
__ADS_1
"Bagus," katanya lagi sambil menyeringai. "Mari kita mulai latihannya."