Wings & Dream

Wings & Dream
Ch.25 - Pria Misterius


__ADS_3

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku ditahan. Kedua tanganku diikat ke belakang, dan rantai besi menahan pergelangan kakiku serta perutku.


"Haha." Aku menertawakan nasibku sendiri. Sekarang aku sudah seperti hewan piaraan. Dan lebih lucunya lagi, yang menahanku tidak lain adalah anak-anak muda yang bahkan jauh lebih muda dariku.


Aku ditahan di tempat yang sangat gelap dan berbau.


"Eukh!" Aku kembali menarik tali yang menahanku. Namun percuma. Yang ada malah bekas tanda merah di pergelangan tanganku yang semakin terlihat.


Aku mendesah, kemudian menyandarkan kepala pada dinding. Aku memiliki seribu satu pertanyaan dalam benakku. Aku tidak tahu dimana aku berada sekarang karena saat aku terbangun, aku sudah berada di sini dalam keadaan terikat.


Dan Chrys. Kenapa tadi aku sempat membuka hati untuknya? Seharusnya aku tahu, bahwa ia bukanlah seseorang yang bisa dipercayai. Ia yang telah melukaiku dan Jon sebelumnya. Ia juga terkenal dan ditakuti karena berbahaya.


Aku membuka mata yang semula kupejamkan. Sejujurnya, aku tidak tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya di masa lalu sehingga ditahan di penjara. Tapi aku sudah termakan oleh perkataan Zeyn dan teman-temannya.


"Zeyn," bisikku marah. Ternyata pria itu menipuku selama ini. Ia tidak sebaik yang kukira, dan kentara sekali ia menyukaiku karena kekuatan yang kumiliki.


Pintu ruangan terbuka, dan masuklah seseorang. Aku menyipitkan mataku dan melihat sesosok yang familiar.


"Halo, Clara," sapa Zeyn. "Akhirnya bertemu kau lagi."


Tunggu. Kenapa ia bisa ada disini? Apa jangan-jangan bocah-bocah yang tadi sedang menjalani perintahnya untuk menangkapku?


"Kau menggunakan anak-anak tadi demi menangkapku?!" Hardikku padanya.


"Lebih tepatnya, membawakanmu kembali kepadaku." Ia berlutut di hadapanku. Kini tak ada lagi senyumnya yang seperti biasa. Pria ini perlahan-lahan telah menampakkan jati dirinya yang sebenarnya.

__ADS_1


Aku memalingkan wajah saat ia hendak menyentuh daguku. "Aku tak ingin disentuh. Cepat jelaskan kenapa kau menginginkanku."


"Huft," desahnya. "Kalau itu kan, kau sudah tahu. Memang benar, Clara. Aku membutuhkan kemampuanmu. Tapi aku juga benar menyukaimu."


"Omong kosong," balasku sambil tertawa kecil. "Trims sudah menyukaiku. Maaf kalau aku tak bisa membalas perasaanmu."


Pria itu terdiam. Dalam hati aku bangga telah sukses membuatnya tak bisa berkata-kata.


"Aku terpaksa mengikatmu dan mengurungmu disini, agar kau tak kabur lagi dariku."


"Oke," balasku dengan cepat. "Apa yang kau inginkan dariku? Apa aku perlu tidur lagi dan membaca masa depan? Kalau begitu, tinggalkan aku karena aku mulai mengantuk dan lelah saat melihat wajahmu."


Zeyn berdiri, dan berbalik badan. "Tenang saja, Clara. Kau bisa bebas setelah kasus pembunuhan ini ditutup." Lalu, ia menutup pintu dan terdengar suara kunci.


Aku ingin pulang ke dunia manusia, dimana otakku bisa berpikir lebih leluasa. Aku sudah rindu dengan Jon dan Stef. Aku rindu Nenek. Aku rindu apartemenku.


Dan yang paling penting, aku rindu menulis cerita dan membaca buku.


Sudah berapa lama aku terlepas dari kehidupanku sebagai seorang manusia normal? Bagaimana kabar teman-temanku disana? Tentunya jauh lebih baik dibanding nasibku sekarang.


Akhirnya aku memaksakan diri untuk tertidur. Kali ini, aku berharap aku akan memimpikan suatu hal normal. Aku berharap bisa bertemu dengan Nenek atau siapapun yang pastinya adalah manusia.


Aku sudah memasuki alam mimpi. Kali ini aku berada di sebuah tempat. Tempat yang sudah lama sekali tak kukunjungi.


Desa Norlata.

__ADS_1


Pondok-pondok tampak begitu kecil, dan karena tempat ini sudah hancur karena suatu bencana, terpaksa wilayah ini ditutup dan tidak boleh lagi dimasuki oleh siapapun.


Aku berjalan di atas rongsokan kayu dan benda-benda yang berserakan lainnya. Terdapat papan besar dan juga garis kuning tanda kepolisian.


Sudah berapa lama tempat ini hancur?


Semakin lama aku menghabiskan waktu di tempat ini, semakin sedih perasaan hatiku. Aku mengingat tempat yang kupijaki sekarang. Dulunya, ini adalah rumah lamaku yang sekarang tinggal tanah saja.


Aku termenung dan terus menatap kosong ke arah tanah. Nenek, apa kau bahagia diatas sana? Sepertinya akan lebih mudah untuk memercayai bahwa kau sudah tiada. Dengan begitu, kau tidak harus lagi mengkhawatirkan cucumu yang sekarang bernasib buruk di tangan Fae.


Saat aku berbalik badan, aku terbelalak karena melihat pria itu. Pria misterius bertudung yang bisa muncul kapan saja dan dimana saja.


Kali ini ia berdiri tepat di hadapanku. Ia tidak lagi menghilang, ia tidak lagi pergi meninggalkanku.


Jantungku berdegup kencang. Meski aku tak bisa melihat wajahnya, aku seperti mengenali bentuk tubuhnya yang familiar.


Pria itu seperti sedang menatapku, kemudian perlahan-lahan ia membuka tudungnya.


Apa-apaan? Kenapa ia tiba-tiba sekali menunjukkan wajahnya di hadapanku?


Tak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari siapa pria tersebut. Pria yang sepertinya merupakan satu-satunya orang yang dapat memahami kemampuanku sepenuhnya, sekaligus pria yang telah membuntutiku.


"Clara."


__ADS_1


__ADS_2