
Pria itu duduk termenung di rumahnya sendiri. Yah, bisa dibilang ini adalah ruangan sempit yang tidak pantas dikatakan sebagai rumah. Selain mempunyai atmosfer menyeramkan dan gelap, ruangan ini sudah seperti khusus tahanan saja.
Ia mendesah, sesekali menepuk-nepuk tangannya sendiri di pahanya. Ia berusaha melupakan semua kejadian yang baru saja dialaminya. Mungkin gadis tadi masih belum terbiasa dengannya, atau bisa jadi karena pemandangan isi rumahnya yang semakin menguatkan kesan bahwa ia ini seorang penjahat.
"Hah," ia mengacak rambutnya sendiri karena frustrasi. Mungkin 'penjahat' adalah kata yang cocok untuk mendeskripsikan dirinya. Ia memang kejam, dan tidak pernah berpikir dua kali setiap kali ia membunuh seseorang.
Penjahat. Pembunuh. Tahanan. Semua kata itu merupakan bagian dari dirinya, yang tak akan pernah terpisahkan. Rumah ini adalah salah satu buktinya, bukti bahwa ia pernah disiksa dan ditahan disini.
Pria itu kembali memandangi jendela. Sebenarnya baru kali ini ia memasang jendela untuk melihat dunia luar. Sungguh ironis saat seorang Fae Light tidak menyukai sinar matahari. Baginya, terang dunia merupakan ketakutan terbesarnya, karena bisa melenyapkan kegelapan dalam dirinya kapan saja.
Pikirannya lagi-lagi terusik. Gadis itu kembali menghantuinya. Rasanya aneh tidak melihat lagi tubuh kecilnya yang berbaring lemah di atas ranjangnya sendiri. Ia baru pertama mengundang seseorang masuk ke dalam rumah ini, seorang manusia pula.
Sebenarnya kenapa ia rela melepaskan manusia itu? Gadis itu masih berhutang banyak penjelasan.
Kenapa ia bertemu dengannya lagi tiga hari yang lalu itu masih menjadi pertanyaan. Tidak. Sebelum ini mereka memang tanpa sengaja bertemu kembali. Rasanya Chrys seperti dituntun dan diarahkan oleh energi tak kasat mata.
Tapi sekarang, ia sudah melepasnya kan? Ia tak akan bertemu dengan gadis yang bernama Clara itu lagi. Lagipula ia tak memiliki urusan lagi dengannya. Saat awal pertemuan mereka, Chrys sempat keliru karena mengira gadis itu adalah pembunuh para Fae. Namun setelah kemunculan Zeyn, ia semakin diyakini bahwa Clara bukanlah pembunuhnya.
__ADS_1
Tidak, pikirnya. Waktu itu bukan pertemuan pertamaku dengan Clara.
Chrys melirik kolong tempat tidurnya, kemudian ia sudah meraba-raba lantai. Ketika ujung jarinya sudah menyentuh sesuatu yang keras, barulah ia berhenti dan segera menarik keluar benda itu.
Sebuah buku tebal berjudul Pangeran dan Putri Fae.
"Hehe," Chrys tertawa geli saat mulai membaca paragraf pertama. Sudah bertahun-tahun ia menyimpan buku ini, dan selama itu pula dirinya dibuat terhibur oleh isi cerita dongeng ini. Tentang bagaimana sepasang Fae hidup bahagia setelah Sang Pangeran menyatakan cintanya di tengah hutan pada musim semi.
Ya, berkat buku inilah, dirinya bertahan hidup di tempat mengerikan ini. Meskipun sekarang ia tidak berstatus lagi sebagai seorang tahanan, namun masa-masa itu masih terus terulang dalam pikirannya.
"Tangkap dia! Sekarang!" Terdengar suara teriakan para penjaga dari belakang. Namun, Chrys masih fokus memperhatikan jalan. Ia merentangkan sayapnya, dan akhirnya terpaksa menggunakannya. Alasannya simpel, agar ia dapat melaju lebih cepat.
Aku tak boleh tertangkap, pikirnya dalam hati. Ia sampai kehilangan arah, dan hampir menabrak batang pohon.
Syuuutt!! Terdengar panah yang sedang melesat. Chrys langsung memiringkan tubuhnya, kemudian menukik ke bawah.
Sial, umpatnya dalam hati. Aku bisa saja menggunakan sihirku dan menyembunyikan diriku sendiri, namun tubuhku sedang tak kuat.
__ADS_1
Ia masih ingat bagaimana ia kabur dari Kelas Tahanan. Ia sudah merencanakan pelarian ini selama berminggu-minggu. Hal apa saja yang dibutuhkannya agar bisa lolos dari penjara. Namun karena ia diperlakukan tak adil dan disiksa terus menerus, mana sihirnya melemah dan saat ini sayapnya adalah satu-satunya harapannya.
"Jangan harap kau bisa kabur, Chrys!" Teriak para penjaga lagi. Chrys harus segera menemukan tempat bersembunyi. Ia rela bertaruh nyawa mereka akan langsung membunuhnya begitu tertangkap.
Matanya tiba-tiba menangkap atap bangunan. Dari kejauhan, ia bisa melihat beberapa pondok kecil. Itu pasti desa manusia, batinnya.
Apa aku harus bersembunyi disana? Tapi bagaimana kalau mereka menghancurkan tempat itu? Mereka tak pernah peduli dengan kaum manusia.
"Aaarghh!!" Karena pikirannya teralihkan, salah satu busur berhasil melukai sayapnya. Tubuhnya jatuh ke tanah. Terpaksa Chrys terseok-seok, berlari sekuat tenaga menuju desa itu.
"Dia ada disana!" Sang Ketua lagi-lagi memerintahkan anak buahnya untuk segera menangkapnya.
Sial! Tak ada cara lain selain bersembunyi diantara para manusia!
Untungnya ia sampai di dalam wilayah desa. Karena ini malam hari, dan badai salju sedang menerjang, tak satupun yang dapat mengenalnya sebagai seorang Fae.
"Ya ampun!" Seorang wanita tua melihatnya berdarah-darah. "Permisi, pak! Apa kau baik-baik saja?!"
__ADS_1