Wings & Dream

Wings & Dream
Ch.26 - My Hobby


__ADS_3

Maaf sudah hampir seminggu tidak update. Author sarankan baca 2 eps sebelumnya agar tidak lupa dengan alurnya 😁


...•••▪︎◇▪︎•••...



...•••▪︎◇▪︎•••...


Setelah Chrys membawaku masuk ke dalam rumahnya, aku langsung berlari ke arah toilet dan memuntahkan seluruh isi perutku. Sepertinya aku tidak akan bisa beradaptasi dan terbiasa setiap kali aku dibawa terbang oleh seorang Fae.


"Woah, pelan-pelan," kata Chrys sambil menyandarkan diri di dinding. Matanya terus mengamatiku seperti aku ini suatu hiburan baginya. "Kau habis diberi makan apa sama Fae Ventus itu?"


"Apa... maksudmu?" Kemudian, tenggorokanku tercekat dan aku lagi-lagi mengotori kloset. Dua menit kemudian, akhirnya rasa mualku hilang dan aku segera membersihkan semuanya.


"Hijau," kata Chrys sambil memoncongkan bibirnya saat ia mengintip warna muntahanku. "Jadi, biar aku tebak. Kau diberi makan rumput olehnya."


"Diam!" Dasar menyebalkan! Umpatku dalam hati. "Kau tidak tahu apa yang telah kulewati selama lima hari! Dan ini semua karenamu!"


"Aku?" Ia tertawa terbahak-bahak. "Jangan salahkan diriku mentang-mentang aku telat mengeluarkanmu dari rumah itu."


"Jangan bohong! Sejak kapan kau berniat untuk mengeluarkanku?!" Teriakku langsung di wajahnya. "Kau menipuku! Kau sengaja menyerahkanku langsung kepada bocah-bocah itu!"


Chrys malah menyeringai. "Menipu, ya?" Ia malah mendekatkan wajahnya ke wajahku. "Aku tidak menyangka kau sebodoh ini. Bukankah kau bilang sendiri bahwa aku ini orang jahat?"


Aku hanya melongo, tak mampu berkata-kata. Ucapannya ada benar juga. Kenapa sejak awal aku malah berpikiran bahwa ia akan menyelamatkanku? Seharusnya aku berpikir logis, bahwa pria macam dia tidak akan pernah melakukan itu.


Karena dilanda oleh rasa malu, aku tidak mengatakan apa-apa lagi dan memejamkan mata.


"Sedang apa kau?" Tanya Chrys kebingungan. Namun kucoba untuk tidak menghiraukannya. Aku hampir lupa kalau aku ini sedang berada di dalam mimpi. Akan kulakukan apa saja agar segera terbangun ke dunia nyata. Lama-lama aku bisa gila kalau terus bertemu dengan Chrys.


Namun, tidak terjadi apa-apa. Tidak ada cahaya yang menarikku ke dunia nyata. Tidak ada suatu keajaiban. Yang ada hanyalah suara napas Chrys yang bisa kurasakan saking dekatnya dengan wajahku.


"Apa manusia memang suka tidur sambil berdiri?"


Aku mengepalkan tangan dan mencoba untuk tidak mendengarkan godaannya.


Ini aneh. Jelas-jelas aku sedang bermimpi. Seharusnya aku sudah terbangun di dunia nyata, kembali menjadi tahanan Zeyn.


Terdengar suara tawa kecil dari Chrys, kemudian aku bisa mendengar langkah kakinya yang telah menjauhiku. "Kau tidak percaya bahwa aku sudah mengeluarkanmu dan membebaskanmu dari Zeyn?"


Apa itu kenyataan? Aku benci diriku sendiri karena sempat meragukan hal itu. Tapi bagaimana caranya? Apa aku sudah berada di dunia nyata? Jadi yang tadi itu bukan lagi mimpi?


"Kau pasti sedang bertanya-tanya dalam hatimu. Kau tak bisa membedakan dunia mimpi dengan kenyataan."


Aku akhirnya membuka mata, dan mendapati Chrys yang sedang menatapku.


"Ya," jawabku. "Apa kau mempunyai penjelasan terkait hal ini?"

__ADS_1


"Aku tidak bisa memberikanmu jawaban pasti, tapi aku tidak sedang berbohong. Aku memang selalu melihatmu di tempat yang berbeda, tanpa alasan yang jelas."


Kali ini, aku percaya dengannya, karena mimik mukanya yang sedang serius. "Kalau begitu, apa artinya aku bisa berpindah tempat lewat mimpiku?"


Chrys mengangkat kedua bahunya. "Sepertinya iya."


Aku teringat dengan temanku, Rio. Bagaimana ia sempat meneriakiku, mengatakan bahwa aku juga berada di sana saat kematian Dain. Mungkin pernyataan itu benar. Aku bisa berpindah tempat lewat mimpiku.


Semua ini terasa semakin jelas setelah beberapa jam. Ini memanglah dunia nyata. Buktinya aku masih berada disini.


Karena aku sibuk berpikir, aku tidak lagi membentak dan mencoba kabur dari rumah Chrys. Aku bahkan tak memprotes saat kami makan siang bersama, yang tentu saja membuatnya terkejut bukan main.


"Jadi, setelah ini kau akan melakukan apa?" Tanya Chrys sambil melahap sesendok serbuk manik-manik yang terlihat aneh. Aku sama sekali tidak merasa penasaran dengan hal itu.


"Apa maksudmu?"


Chrys sudah bangkit dari kursi dan duduk di ranjangnya. Gubuk tempat tinggalnya ini memang sempit bukan main, jadi tak ada ruang makan atau dinding pembatas antar ruangan, kecuali untuk kamar mandi tentu saja.


"Maksudku seperti hobimu. Apa yang biasanya kau lakukan di waktu luangmu?" Tanyanya lagi.


Di waktu luang? Apa yang biasanya suka kulakukan? Aku memiliki rak buku sendiri di dalam kamarku di apartemen lamaku, jadi tentu saja hal yang akan kulakukan selain bekerja sebagai penulis adalah membaca buku.


"Menulis dan membaca buku," jawabku singkat.


"Oh." Wajah Chrys tampak kecewa.


"Kenapa? Sangat membosankan, ya?"


Aku langsung menggelengkan kepalaku.


Chrys mendecakkan lidahnya, dan menatapku penuh iba. "Kasihan sekali. Kalau aku jadi dirimu, mungkin aku akan bosan menunggu ajal."


"Memangnya kenapa?" Pipiku mulai memanas. "Memangnya apa yang bisa kulakukan lagi?"


Pria itu langsung bangkit dari ranjang dan tidak lagi bermalas-malasan. "Melakukan hal yang berbahaya."


Apa? Belum sempat aku menyuarakan pikiranku, Chrys sudah mengeluarkan sesuatu dari kolong ranjangnya, kemudian mengeluarkan dua bilah pedang.


Aku terkesiap dan refleks memundurkan langkahku. "Kau sungguh ingin membunuhku sekarang?"


Salah satu pedang tiba-tiba dilemparkan ke arahku. Aku berteriak dan menutup wajahku dengan telapak tanganku.


"Seharusnya kau menangkapnya," kata Chrys dengan nada tidak senang. Terdengar suara langkah kaki, kemudian ia meraih pedang yang tadi terjatuh di lantai.


"Berlatihlah denganku."


"Kau gila?! Aku tidak akan pernah menyentuh barang berbahaya seperti itu!"

__ADS_1


"Maka dari itu, aku beri kamu kesempatan sekarang." Chrys menarik paksa tanganku, kemudian meletakkan pedang panjang itu di tanganku.


"Tidak, Chrys." Aku tetap menolak dan bergeleng-geleng. "Aku tidak akan pernah menggunakan benda itu."


"Tapi ini kesempatan bagimu." Ia masih tetap mendesakku. "Anggap saja latihan ini untuk mempersiapkan dirimu jikalau kau bertemu bahaya."


"Aku tidak sepertimu, yang akan selalu bertemu bahaya dan menjadi target semua orang," balasku tak mau kalah.


"Makasih pujiannya."


"Lebih baik aku membaca buku." Aku berjalan menjauhinya dan melirik kesana sini, namun tidak melihat apapun yang cocok dideskripsikan sebagai buku.


"Kau pikir aku akan menyimpan benda membosankan itu di rumahku?" Chrys melempar jauh pedangnya begitu saja, kemudian mendesah.


"Baiklah. Lagipula, aku juga tak ada kerjaan," gumamnya, lalu tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku.


"Hei! Apa yang kau-"


Ia menghempaskan tubuhku ke ranjangnya begitu saja.


"C-Chrys." Tubuhku mulai bergetar karena ketakutan atas perilakunya yang dadakan itu. Aku segera memeluk tubuhku, berusaha untuk melindungi diriku sendiri. "Maafkan aku atas segala kesalahanku, jadi jangan lakukan i-"


Ia malah berjongkok dan kembali mengeluarkan sesuatu dari kolong ranjangnya.


Sebuah buku familiar, buku favoritku sejak kecil.


"Aku bukan Dewa, jadi jangan mengaku dosa di hadapanku." Ia lalu duduk disampingku dan mulai membuka buku itu.


Rasanya seperti seluruh ketakutanku diserap dan hilang begitu saja. Aku langsung menghampirinya dan duduk disampingnya, seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


"Buku ini. Darimana kau mendapatkannya?"


Aku tidak menjumpai senyumnya yang seperti biasa. Masih sambil meraba sampul buku itu, Chrys membuka mulutnya. "Aku hanya mendapatkannya dari suatu tempat."


Setelah itu, aku tidak terlalu mengingat apa yang telah terjadi. Kami membaca buku bersama. Bersama. Aku dan Chrys. Tentu aku tak pernah menyangka akan melakukan ini dengan seorang lelaki berbahaya, yang bisa mengancam keselamatan nyawaku kapan saja.


"Dan mereka akhirnya hidup berbahagia selamanya." Chrys membaca kalimat terakhir buku itu sambil mengerutkan dahi. "Huh. Buku ini lebih membosankan dibanding perkiraanku."


Aku mengangkat kepalaku dan tersadar bahwa matahari sudah terbenam. Tapi mataku sudah mengantuk berat.


"Chrys," gumamku. "Aku mengantuk."


Tunggu. Apa aku baru saja berbaring di sampingnya? Apa yang telah kulakukan? Sungguh tak tahu etika! Batinku.


Untungnya pria itu tak mengatakan apa-apa lagi. Ia mengeluarkan sihirnya pada telapak tangannya, dan seketika muncullah bintang-bintang gemerlapan di dinding ruangan yang bercat hitam itu.


Aku memejamkan mata, dan memosisikan kepalaku di atas bantal yang empuk. Tanpa memikirkan keberadaan Chrys, aku sudah bersantai di atas ranjangnya.

__ADS_1


"Chrys, kenapa kau menyelamatkanku?" Gumamku, namun aku tidak sempat mendengar jawabannya karena sudah jatuh tertidur.



__ADS_2