
Latihan tidak berjalan dengan baik. Malahan, aku hampir mengacaukannya. Saat pedang Chrys mengarah padaku, aku malah mengayunkan pedangku tanpa arah, dengan tujuan untuk menyerangnya. Padahal, aku cukup menghindar dan menunduk.
"Lagi, Clara," kata Chrys kepadaku saat aku duduk di atas tanah rumput. Tubuhku pegal, dan rasanya tulangku sudah remuk. "Kau hanya berlatih selama kurang lebih 10 menit."
"Aku menyerah," balasku sambil mencoba untuk mengatur napas. Chrys mengangkat kedua alisnya saat mendengar perkataanku. "Sudah kubilang aku tak mahir."
"Maka inilah kesempatanmu." Chrys berjalan mendekatiku. Setiap langkah yang diambilnya, terdengar suara kresek pada rumput. Ia lalu mengulurkan tangannya dan menyeringai. "Ini juga kesempatan bagimu untuk berlatih dengan pria sepertiku."
Aku mengerutkan dahi karena kesal. "Aku bukan sepertimu, Chrys. Aku tak akan bisa melakukan ini."
Ia terdiam untuk sejenak, kemudian tersenyum licik. Entah kenapa aku mempunyai firasat buruk terhadapnya.
"Baiklah. Kau boleh beristirahat. Aku akan mencari makanan untuk kita." Setelah itu, ia pergi meninggalkanku begitu saja.
Aku menghela napas lega dan menyandarkan kepala pada batang pohon. Dahiku jadi berkeringat karena sinar matahari yang amat terik. Namun tubuhku sudah agak rileks. Mungkin karena suasana di hutan yang amat tenang, dan suara kicauan burung yang setia menemaniku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Aku bisa merasakan bayangan hitam yang tiba-tiba menghampiriku. Aku perlahan membuka mata dan menjerit. Rasanya seperti tubuhku akan ditelan oleh sulur-sulur kegelapan yang entah datang darimana.
Secepat kilat aku bangkit dari tanah dan berlari, melewati pepohonan rindang. Aku menoleh ke belakang, dan melihat bahwa bayangan itu masih saja mengejarku.
"Chrys!" Aku meneriaki nama pria itu. "Tolong aku! Tolong!"
Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Akhirnya terpaksa aku berlari seorang diri.
Aku melihat sebuah pohon yang amat besar, dan tanpa ancang-ancang, aku langsung melompat dan meraih dahan pohon tersebut. Tanpa takut terjatuh, aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk memanjatnya.
Suara gesekan yang amat nyaring terdengar, dan aku tersadar bahwa pedang yang diberikan oleh Chrys masih tergantung di pinggangku. Pedang itu malah menghambat pergerakanku.
Apa aku harus menjatuhkannya? Pikirku. Pedang ini hanya akan menambah beban, tapi ini bukan benda sembarangan.
"Kau bisa melindungi dirimu sendiri dengan pedang ini."
Aku ingat kata-kata yang pernah diucapkan Chrys kepadaku. Tapi yang menghampiriku sekarang bukanlah hewan buas ataupun Fae. Melainkan bayang-bayang kegelapan yang tak bisa kusentuh, dan hanya bisa kurasakan.
Hanya tinggal sedikit lagi sampai aku mencapai puncak pohon, namun sebelah kakiku malah ditarik, dan aku hampir terjatuh. Aku terkesiap dan melirik ke bawah. Rupanya yang menarik-narik tubuhku tidak lain adalah kegelapan itu sendiri.
__ADS_1
Apa-apaan ini?! Pergelangan kakiku tiba-tiba terasa kaku dan dingin. Aku mengerang, bisa merasakan otot-otot tanganku yang bekerja di luar batas kemampuanku. Bagaimana tidak? Aku susah payah mencengkeram dahan pohon agar tidak terjatuh ke bayangan mengerikan itu.
Pedang. Aku melirik pedang itu lagi di sisi pinggangku. Kalau bayangan saja bisa menyentuhku, artinya aku bisa menyentuhnya juga kan?
Maka aku menggigit bibir bawahku, dan buru-buru meraih pedang di pinggangku setelah salah satu cengkeramanku terlepas. Namun rupanya sebelah tanganku tak mampu lagi menahan berat tubuhku.
Bruukk!! Untungnya saat tubuhku terhempas ke tanah, tangan kananku sudah memegang pedang itu.
Bayangan ini tak memiliki wujud. Mungkin bisa dibilang mirip seperti kepulan asap yang biasa ditemukan saat kebakaran. Bedanya, warnanya hitam pekat dan siapapun yang berbaur dengannya akan terhalang total pandangan matanya.
Dan bayangan ini bisa membuat tubuhku mati beku, kalau bukan karena aku yang menghunuskan pedang ini dan menerbangkan asap tersebut.
Suara desisan, mirip seperti api yang dipercik air, terdengar di gendang telingaku. Tapi aku masih menghunuskan pedangku sekuat tenaga.
Untuk sesaat, asap itu terbelah dan hampir melepaskanku. Tapi tak lama kemudian, ia kembali menyatu, lalu menyiksaku dengan cara masuk melalui pori-pori kulitku.
Aku berteriak saat bayangan itu merasukiku. Rasanya seperti air yang dituangkan ke dalam wadah yang sudah terisi penuh. Bayangan itu bertambah besar, memaksakan diri untuk terus memasuki tubuhku.
Tapi aku tak akan berhenti memainkan pedangku, karena menyerah sama saja dengan memberikan diri seutuhnya kepada bayangan aneh itu.
Syuutt!! Tanpa sadar aku melompat dan menancapkan pedang itu di tanah. Seketika bayangan itu terserap ke tanah, sampai akhirnya menghilang tak berbekas.
Plok! Plok! Suara tepuk tangan terdengar. Aku menoleh, mengakibatkan rambutku menampar wajahku. Tapi rasanya aku mendapat tamparan telak yang lebih menyakitkan saat melihat Chrys.
"Bagus. Jauh dibanding ekspektasiku. Tarianmu hebat sekali." Chrys berkali-kali memujiku, tapi aku tak dapat mendengar sisanya.
Aku mengerang dan mencabut pedang itu dari tanah, kemudian menghunuskannya langsung ke leher Chrys.
Pria itu terbelalak dan menunduk tepat waktu. Aku kembali mengayunkan pedangku, tapi tangannya langsung menahan bilah pedang itu.
"Clara." Sekarang tangannya jadi berdarah akibat ulahku. Tapi aku tak peduli. Aku tahu bayangan yang tadi itu ulahnya.
"Kenapa kau melakukan itu?!" Teriakku murka. "Kau kan bisa membunuhku dengan cara lain! Tak perlu repot-repot mengontrol bayangan yang tadi!"
Ia masih menggenggam erat bilah pedang itu. Darah di tangannya mulai menetes, tapi pandangannya terpusat di wajahku.
__ADS_1
"Aku harus melakukan itu, agar kau menggunakan pedang itu."
Aku berkedip, kemudian melepaskan pedang itu dari tanganku.
"Kau gila," gumamku sambil memeluk diri sendiri. Bulu kudukku masih naik dan tubuhku seketika menggigil. "Kau tahu apa akibatnya?! Aku bisa mati-"
"Tapi nyatanya tidak," potongnya. "Dan berkat itu, kemampuanmu mulai meningkat."
Aku membuka mulut, tapi tak bisa mengeluarkan suara dari tenggorokanku.
Perkataannya memang tak salah. Sepertinya pria itu mempunyai cara unik untuk mendidik muridnya.
Sekarang kami berjalan pulang, kembali ke rumah. Tak terasa aku sudah menghabiskan waktu seharian di tengah hutan bersama Chrys. Setelah kejadian tadi, Chrys kembali membujukku untuk berlatih. Bedanya aku menurut, dan tidak lagi menolak.
"Rasanya aku ingin memamerkan kepada semua orang," kata Chrys. "Bahwa aku sudah berhasil mendidik seorang anak manusia berlatih bela diri."
"Jangan sebut aku anak," protesku.
"Memangnya ada sebutan lain untukmu? Kau lebih suka dipanggil nenek?"
"Clara," balasku. "Panggil aku dengan nama asli saja."
Ia terdiam. Kuanggap itu sebagai sebuah persetujuan.
Aku melirik tangan kirinya yang sempat menahan bilah pedangku. Meski sudah dibalut oleh kain, aku masih bisa melihat darah miliknya yang mulai merembes dan menetes.
"Chrys. Tanganmu-"
"Tak apa." Ia tersenyum lemah. Rasa panik mulai menjalariku. Kenapa wajahnya tiba-tiba terlihat pucat? Pasti bukan gara-gara luka di telapak tangannya.
"Clara..." Chrys tiba-tiba terhuyung. Aku langsung memegangi pundaknya.
"Chrys!" Sekarang, aku benar-benar panik. "Chrys! Sadarlah!"
Pria itu jatuh berlutut. Sebelum tubuhnya benar-benar terhempas ke tanah, aku sudah melingkarkan lengannya di pundakku, kemudian menyeret tubuhnya sekuat tenaga.
__ADS_1