
Ratterdam, 2008
Suasana ruangan kantor ini terasa mencekam. Itu karena semua orang yang terdiam dan tidak tahu mau berkata apa saat seorang gadis selesai menjelaskan semuanya.
"Apa kalian semua mendengarku?" Tanya Stef. "Mereka memiliki bentuk fisik aneh, dan juga memiliki sayap. Mereka juga dapat mengeluarkan sihir dan pastinya berbahaya."
"Eum..." Seseorang mengangkat tangan. "Apakah itu semacam... penyihir bohongan?"
"Mana ada hal semacam itu," kilah yang lain.
"Stef, kamu yakin sudah melihat dengan benar?" Tanya sang Ketua yang tidak lain adalah Oswald. Gadis itu mengangguk, meski sebenarnya ia mulai ragu bahwa orang-orang berseragam ini dapat mengerti perkataannya.
"Kalian tidak berada disana saat kejadian," lanjut Stef. "Tapi aku yakin. Awalnya aku juga tidak percaya, sama seperti kalian."
"Nona," seseorang hendak mengatakan sesuatu lagi. "Berdasarkan penjelasanmu... jadi menurutmu apa solusinya?"
Syukurlah, katanya dalam hati. Mereka mulai percaya kepadaku.
"Kita coba cari, apakah makhluk ini memang benar nyata," jawab Stef. "Maksudku, apakah mereka pernah muncul di tengah-tengah manusia sebelumnya."
Stef melihat beberapa orang yang berbisik. Mereka tampak sedang menimbang-nimbang ucapannya. Sementara Oswald mengusap wajahnya. Hal yang dilakukan saat seseorang sedang merasa frustasi.
"Stef... aku selalu percaya padamu," katanya kepadanya. "Jadi yang ini bukan bohongan, kan? Kau sungguh-sungguh melihat mereka?"
"Ya, Oswald."
"Baiklah. Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Sementara itu, kau bisa tetap tenang di dalam apartemenmu."
"Apa? Setidaknya, aku harus melakukan sesuatu."
"Kau sudah melakukan banyak hal untuk kedua temanmu."
"Tapi itu masih belum cukup!"
"Kau sudah terlihat letih. Pernahkah kau bercermin?"
"Tentu saja," gumam Stef sambil mengerutkan keningnya. "Mungkin akhir-akhir ini aku jadi kurang sehat."
"Itulah sebabnya, kau perlu berdiam diri."
Stef terdiam.
"Ini pekerjaanku," lanjut Oswald lagi. "Dan juga orang-orang ini."
Akhirnya Stef meninggalkan kantor dengan berat hati. Saat ia sudah berada di luar gedung, pikirannya tetap dipenuhi oleh bayangan kedua temannya. Jon, yang dengan malangnya terperangkap diantara dua perempuan aneh. Suara teriakannya masih menggema di telinganya. Dan Clara, temannya yang kembali untuk Jon.
Pertemuan terakhirnya dengan Clara tidak berjalan dengan lancar. Gadis itu sudah salah paham terhadap hubungan dirinya dengan Jon.
Stef berjalan menuju kompleks rumahnya, terus merenungkan kejadian masa lalu. Ia sudah mengaku kepada Clara bahwa ia menyukai Jon.
Itu memang benar. Dulu, ia pernah menjadi kekasihnya. Namun, akibat suatu masalah, hubungan mereka menjadi kandas.
Beberapa tahun yang lalu...
__ADS_1
"Siang, Stef!" Sapa seseorang tiba-tiba. Stef menengadah dan melihat Oswald. Pria berkulit agak gelap, dan tubuh kekar. Sekarang ia sudah mengenakan seragam resmi polisi.
"Os-oswald?!" Tanpa sadar, Stef langsung berlari kearah temannya, dan memeluknya.
"Sudah lama aku tidak melihatmu!"
"Haha." Oswald balas memeluknya. "Terakhir kali aku melihatmu masih dalam seragam sekolah. Kau sekarang bekerja disini ya, Stef?"
"Ya." Stef melepas pelukannya. "Tapi kenapa kau tiba-tiba datang ke kantorku?"
"Tentu saja untuk menemuimu." Oswald mengangkat tangannya. Terlihat plastik yang diisi oleh minuman dan makanan kecil. Pasti dari supermarket terdekat.
"Jam istirahatmu, kan?" Katanya sambil menyengir.
"Kau memang sahabatku," kata Stef sambil balas tersenyum. Mereka hendak berjalan keluar gedung ketika tiba-tiba matanya menangkap sesuatu.
Clara. Gadis itu sedang tertidur di atas meja. Rambut coklatnya terurai bebas. Clara adalah gadis baru disini. Ia baru mengenalnya beberapa bulan yang lalu, sejak ia menjadi pendatang baru di kota ini.
"Siapa dia?" Tanya Oswald di belakangnya.
"Temanku juga," kata Stef dengan bangga. "Bagaimana kalau kita ajak dia?" Sontak Oswald langsung mengangguk.
Stef hendak membangunkan Clara ketika seseorang sudah menghampirinya duluan. Jon sudah disana terlebih dahulu.
"Hei!" Clara langsung bangkit berdiri, dan terbelalak saat melihat Jon. "Dasar!"
Jon tertawa bahagia melihat wajah Clara yang penuh amarah. Kemudian ia sudah memeluknya karena gemas.
Ia tak menyadari Jon yang sudah melihat ke arahnya.
"Ayo, Oswald." Stef tak mengerti kenapa, tapi ia ingin segera pergi dari sini. Saat mereka sedang berjalan, tanpa sengaja Stef terjatuh karena lantai yang licin. Alhasil, payung milik Clara yang disandarkan pada dinding jadi rusak dan patah.
"Aduh!"
"Stef!" Oswald buru-buru membantunya berdiri. Stef langsung menunduk, merasa malu karena dirinya begitu ceroboh. Ia sibuk memikirkan hal lain sehingga tidak memperhatikan jalan.
"Hati-hati." Jon sudah berada di belakangnya. Stef menoleh, dan penampilan Jon yang tampan langsung membuatnya salah tingkah.
Mata Jon melirik tangan Oswald yang sedang memegang lengan Stef. "Siapa kau?"
"Anu, Jon..."
"Aku tidak tanya kau, Stef," katanya lagi dengan nada datar. "Siapa dia dan apa hubungan kalian?"
Stef menelan ludah. Jon ini sudah menjadi kekasihnya sejak ia bekerja di kantor ini. Wajar saja ia bertanya macam-macam.
"Jangan salah paham, Jon. Dia hanya-"
"Apa itu milik Clara?" Jon tak memperdulikannya dan hanya mengangkat payung yang kini sudah patah. "Kau merusaknya?"
"Bukan begitu!" Stef sudah panik dan kewalahan, padahal ini bukan salahnya. "Tadi aku terjatuh!"
"Terjatuh? Atau sengaja karena iri melihatku memeluknya tadi?"
__ADS_1
Stef menganga. Oswald tahu-tahu sudah menarik kerah kekasihnya itu. Dalam hitungan detik, mereka mulai berkelahi.
"Jon! Oswald! Hentikan!" Ia berusaha melerainya, namun mereka masih tidak menghentikan pertarungan mereka. Untungnya petugas keamanan langsung muncul dan menyeret Oswald.
"Memalukan," kata salah seorang. "Pak Oswald, kau adalah salah satu bagian dari kami. Teganya bapak membuat keributan disini?"
"Ini tidak bisa diterima!" Oswald terus memprotes, namun pria itu sudah dibawa oleh dua petugas keamanan, sementara Jon hanya terduduk di lantai dengan babak belur.
Stef langsung menghampirinya, namun Jon menepis tangannya. "Kau masih hutang penjelasan kepadaku."
"Apa yang mau dijelaskan? Aku sudah berkata dengan jujur."
"Oh ya?" Jon sudah berdiri, dan menatapnya penuh amarah. "Kau harus mengganti payung milik Clara!"
"Apa?!" Stef mulai merasa amarahnya yang meluap. "Aku tidak sengaja! Lagipula ini salahmu! Kau sudah membuatku berpikiran macam-macam!"
Mereka terus beradu mulut, tidak menyadari bahwa banyak mata yang sedang menonton. Untung saja waktu itu Clara datang dan melerai mereka, kalau tidak Jon sudah memukul Stef.
***
Stef berkedip, lalu menggeleng-geleng. Sebenarnya itu kejadian yang sangat memalukan. Jon tak harus memarahinya, karena itu memang bukan salahnya.
"Bad mood?" Oswald sudah menghampirinya, lalu menyodorkan secangkir kopi hangat.
"Trims."
"Apa ini tentang kedua temanmu?"
"Bukan. Eum, iya."
"Kau bisa cerita kepadaku."
"..."
Oswald mendesah. "Aku ingin membantumu, Stef. Aku juga ingin menemukan mereka."
"Aku tahu," ujar Stef. "Tanpa mereka, rasanya hidup ini hampa."
"Tapi kau masih ada aku."
Stef menoleh. "Haa...tentu saja. Aku kan, sudah mengenalmu sejak kau masih memakai celana bayi."
"Sshhh!! Jangan keras-keras!"
"Hahaha," Stef memegangi perutnya yang tiba-tiba merasa sakit. "Aku masih menyimpan foto lamamu, saat kumismu masih belum nampak."
"Aku juga," katanya sambil tertawa.
Mereka kemudian menghabiskan sore hari di luar gedung. Namun Stef masih tak bisa melupakan Jon. Pria yang baru dikenalnya beberapa tahun yang lalu, saat ia mulai bekerja di kantor ini.
Mungkinkah seseorang bisa terpancing amarahnya segitu mudahnya? Jon memiliki sifat emosional yang aneh dan tidak stabil. Kadang kala ia bisa menjadi baik, kadang kala ia benar-benar seperti orang asing.
Mungkinkah dia pernah ada trauma? Pikir Stef. Atau jangan-jangan, dia berkepribadian ganda?
__ADS_1