
Karena Sana tak bisa melakukan apa-apa lagi, wanita itu terpaksa menghentikan proses penyembuhannya dan melepaskan Chrys begitu saja.
"Maafkan aku, Clara." Ia terus meminta maaf kepadaku, sedangkan aku hanya terdiam, tidak tahu harus membalas apa.
Apakah ini rasanya ditinggalkan selamanya oleh seseorang yang kau sayangi? Mungkin sayang adalah kata yang kurang tepat untuk mendeskripsikan perasaanku terhadap Chrys. Peduli. Aku cukup peduli terhadapnya, meskipun aku hanya pernah bertemu dengannya beberapa kali.
Waktu terus berjalan, dan sudah bermenit-menit pula aku masih terduduk lantai yang dingin ini, tanpa menggerakkan tubuhku sedikitpun.
Tiada hal yang mampu menggoyahkanku, bahkan saat Sana menggerakkan bahuku berulang kali dan terus mengatakan sesuatu kepadaku. Aku tidak dapat mendengarnya. Mungkin ia hanya mencoba untuk menyemangatiku atau terus memohon maaf karena tak mampu menyelamatkan Chrys.
Bagaikan patung yang terus bersemedi, aku bahkan tak mengeluarkan air mata atau berkedip. Sepertinya aku sudah tak lagi memegang kendali atas tubuhku sendiri.
Aku tidak tahu harus merasakan apa sekarang. Kedukaan karena telah kehilangan seseorang yang kukenal? Atau malah kesukacitaan karena akhirnya pria paling berbahaya bagi kaum Fae telah tiada?
Atau bisakah aku merasakan keduanya?
Tidak, tidak. Chrys belum mati dan masih bernapas. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai maut perlahan merampas kehidupannya dan membawanya pergi ke suatu tempat yang pastinya sangat jauh dari sini.
"Clara!"
Plaakk!!
__ADS_1
Saat pipiku ditampar, aku langsung tersentak dan berkedip. Aku tidak tahu sejak kapan Clora sudah terbebas dari ikatan tali yang membelenggu tangannya. Perempuan itu menatapku murka sesudah menamparku.
"Apa kau tak mendengarkan kami?!"
Aku hanya terdiam, sambil mengusap pipiku yang mulai terasa nyeri.
"Atau kau sudah menyerah dengan Chrys?"
Itu sukses membuat darahku mendidih. "Tentu saja tidak!" Bentakku.
"Kata Sana, masih ada kesempatan untuk menyelamatkan Chrys," kata Clora. "Layak untuk dicoba," lanjutnya lagi saat aku terbelalak.
"Masih ingat ucapanku mengenai Fae Light? Bahwa seseorang harus mentrasfer kehangatan kepadanya?" Sana mengulurkan tangannya kepadaku. "Aku seorang Fae Healer. Clora seorang Fae Ventus. Kami tak bisa melakukan apa-apa untuk Chrys."
"Tapi kamu mungkin bisa," lanjut Clora lagi. "Kau manusia, Clara. Kau adalah makhluk hidup yang memiliki kehangatan tubuh. Mungkin..." Clora tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi karena aku sudah bangkit berdiri.
"Peluk aku."
Aku baru mengerti maksud ucapannya. Ternyata Chrys sedang tak bercanda pada saat itu.
"Peluk aku."
__ADS_1
Aku menatap pria yang masih memejamkan mata di atas ranjang. Tanpa berpikir panjang, tubuhku sudah berada di sampingnya, dengan sebelah lengan yang melingkar pada dada bidangnya.
Kemudian aku memejamkan mata.
Awalnya aku tak merasakan apa-apa kecuali fakta bahwa tubuhku menggigil. Aku ini hanya manusia, apa aku bisa menyelamatkan Chrys yang sudah hampir mati? Apa aku bisa berbagi kehangatan tubuhku dengannya?
Tiba-tiba sebuah memori terlintas di kepalaku. Memori saat aku bertemu kembali dengan Chrys di toilet apartemenku. Ia sempat memelukku, menekanku ke dinding, dan di saat itulah aku dapat menghirup aroma tubuhnya untuk yang pertama kali.
Bau pohon pinus. Aroma tubuh familiar yang bisa kucium lagi sekarang.
Perlahan, perutnya mulai naik-turun, dan aku bisa merasakan napasnya dari lubang hidungnya. Aku terus memejamkan mata, terus fokus pada apa yang sedang kulakukan sekarang.
Aku ingin menyelamatkan Chrys. Tak peduli siapa identitas dirinya. Yang kutahu ia adalah pria yang sudah berkali-kali menyelamatkan nyawaku.
Tanpa dia, mungkin aku akan terjebak di alam mimpiku selama-lamanya. Tanpa dia, mungkin aku sudah mati diserbu oleh Krilie yang saat itu ingin menyerangku. Dan tanpa dia yang muncul tiba-tiba di rumah Clora, aku tidak tahu nasib hidupku sekarang. Mungkin aku akan kembali menjadi tahanan Zeyn, atau lebih parahnya lagi, dibunuh di tempat.
Aku mendengar suara bisikan. Awalnya kupikir itu adalah suara para perempuan yang masih setia mengawasiku. Tapi setelah aku memfokuskan pendengaranku, aku tersadar bahwa itu adalah suara berat milik seorang pria.
Sebuah lengan membalas pelukanku. Kemudian, bagaikan magnet yang seharusnya bersatu, kepalaku sudah tenggelam dalam bahu Chrys.
"Clara," bisiknya pada telingaku.
__ADS_1