Wings & Dream

Wings & Dream
Ch.20 - Rio


__ADS_3

Kami tidak saling berbicara saat Zeyn akhirnya mengantarkanku pulang. Aku masih tertegun dengan apa yang dilakukan olehnya tadi. Selain kesucianku, ia juga berhasil mencuri hatiku.


Jadi, apakah sekarang, ia menjadi kekasihku? Aku menoleh kepada pria itu, yang ternyata sedang memperhatikanku. Saat tersadar aku sedang memergokinya, ia berkedip sebentar, dan tersenyum.


Tidak mungkin, pikirku lagi. Aku? Dengan seorang Fae? Haha...


"Sedang memikirkan apa?" Aku memalingkan wajah, pura-pura memperhatikan jalan. Bahkan sekarang aku tidak lagi menjerit saat ia membawaku dengan sayapnya.


"Tidak. Bukan apa-apa."


"Yang tadi, bisa kau rahasiakan saja?" Tanyanya tiba-tiba.


"Ra...hasia?" Apa dia malu sudah melakukan itu denganku? Atau dia semata-mata ingin menghormati perasaan Clora karena tahu gadis itu menyukainya?


Aku teringat setelah aku terbangun. Kei menceritakan semuanya kepadaku. Bagaimana Clora dan Zeyn berbicara empat mata. Ia menduga Clora sedang mengaku perasaannya terhadapnya.


Apa itu sukses? Rasanya aku ingin menanyakannya, namun mulut ini tidak mau terbuka. Akhirnya aku tidak mengeluarkan suara sampai memasuki pondok.


"Clara!" Ternyata di depan pintu masuk sudah ada Kei. Ia terbelalak saat melihat tanganku yang menggandeng tangan Zeyn.


Aku langsung melepasnya, begitu juga dengan Zeyn.


"Eum, Zeyn..."


"Sudahkah kau mencari mereka, Kei?" Zeyn malah mengalihkan pembicaraan. Gadis itu mengangguk, sementara aku hanya terdiam seperti orang bodoh karena tak mengerti maksud ucapannya.


"Apa maksudmu?" Tanyaku penasaran saat kami sudah memasuki rumah.


"Rio dan Dain," jawab Kei dengan wajah agak murung. "Sejak kau menceritakan visimu padaku, aku juga jadi khawatir."


Aku meremas tangannya. "Jadi... apa kau sudah menemukan mereka?"


Kei terdiam, lalu menatap Zeyn. Pria itu juga memberinya ekspresi penasaran.


"Aku sudah menemukan Rio... tapi..."


Tapi apa? Aku hendak menanyainya, namun tiba-tiba sebuah cahaya merah memenuhi seisi ruangan. Saat aku berkedip, tahu-tahu tubuhku sudah terpental ke belakang.


Bugh! Aku menabrak dinding. Punggungku jadi sakit, dan aku meringis kesakitan. Saat aku menggunakan siku untuk bangkit duduk, aku sudah melihat kaki seseorang di hadapanku.

__ADS_1


"Kau!" Rupanya itu Rio. Tapi, ada yang aneh. Api amarah terpancar dari matanya, sedangkan di tangannya terdapat cahaya merah yang sangat terang. Itu pasti sihirnya sebagai seorang Fae Fire.


Warna cahaya lain tertangkap dari sudut mataku. Aku bisa melihat Zeyn yang merentangkan tangannya, lalu sihirnya sudah menyerang tubuh Rio.


"Apa-apaan Rio! Kenapa kau melakukan itu?!" Kei sudah berlari ke arahku, tanpa memperdulikan temannya sedikitpun. "Apa kau baik-baik saja, Clara?"


"Ya," balasku sambil mengangguk. Padahal sebenarnya punggungku masih terasa nyeri.


"Ugh!" Aku menoleh ke sumber suara, dan bisa melihat Zeyn yang sibuk menyiksa Rio dengan sihirnya. Astaga, pikirku panik. Aku lupa dua Fae itu saling bermusuhan.


"Zeyn, hentikan!" Teriakku sambil menggunakan bantuan dinding untuk berdiri. "Jangan siksa dia!"


Namun Zeyn masih tidak memperdulikanku. Ia tetap menggunakan sihirnya, yang membuat tangan Rio berusaha menggapai lehernya sendiri.


Ia sedang menarik angin serta oksigen, yang menghambat pergerakannya di tenggorokan Rio.


"U-ugh!" Mata Rio terbelalak, pupil matanya membesar. Aku bisa melihat lehernya yang memerah, serta otot-ototnya yang menegang.


"Lepaskan dia!" Kei menghantam Zeyn dengan anginnya. Pria itu teralihkan sebentar, sedangkan aku langsung mengambil kesempatan itu dan menghampiri Rio yang terkapar di lantai.


"Rio! Kau baik-baik saja?" Aku menggerakkan tubuhnya, namun pria itu tak memiliki energi untuk sekedar berbicara.


Wanita itu sudah berlari ke arahku, lalu membopongnya. Rio hendak menepis tangan wanita itu, namun Sana tetap memaksa. Ia menyelimuti tubuhnya dengan cahaya putih yang langsung menyembuhkan Rio dengan instan.


"Kenapa kau menyerang Clara?!" Hardik Zeyn di belakangku. Aku menatap lelaki berambut hitam itu. Pria bersayap merah yang selalu tampak ceria. Pria itu kini membalas tatapanku dengan amarah dan dendam tersembunyi.


"Kalian sungguh tak tahu?!" Rio malah balas berteriak. "Kakakku! Dain! Dia... dia sudah dibunuh." Ia mulai mengecilkan suaranya, dan bergumam berkali-kali seperti orang kerasukan.


Semua orang tak bisa berkata apa-apa. Aku tak berani mengangkat kepala, karena aku tahu pandangan semua orang kini tertuju kepadaku.


Visiku... benar-benar nyata?! Dan itu telah terjadi?!


"Rio." Kei menghampirinya dan mulai menenangkannya. "Ceritakan kepada kami secara detil."


"Aku gak tahu," ia menggeleng-geleng. "Empat hari yang lalu. Dain... dia... mati terbunuh."


"Bagaimana caranya terbunuh?" Zeyn sudah berjongkok disampingnya. Rio langsung meludahinya. "Aku tak ingin menjelaskan ini kepada kau."


"Tapi kau harus melakukan itu," balas Zeyn tak mau kalah. "Kau tahu aku salah satu yang bertanggung jawab atas kasus pembunuhan di wilayah Fae akhir-akhir ini."

__ADS_1


Rio melototinya, sembari menegangkan rahangnya.


"Apakah sayapnya terpotong?" Bisikku, yang langsung menyita perhatian semua orang. Rio tiba-tiba menjerit geram. Untungnya Zeyn cepat-cepat menahan tangannya agar tidak lagi menyerangku.


"Kau! Pembohong!" Teriak Rio kepadaku. "Jangan berpura-pura! Kau sudah berada di sana saat kejadian, Clara! Kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri!"


"Aku-" Aku menggelengkan kepalaku. "Mana mungkin!"


"Oh ya?!" Rio menyeringai. "Sekarang kau pura-pura lupa? Atau jangan-jangan habis ini kau mengaku memiliki amnesia?"


"Kau!" Zeyn kembali menciptakan angin, yang langsung menampar pipi Rio. "Bersikap kasar dengannya, aku tak segan-segan membunuhmu."


Rio mengabaikan ancaman Zeyn. Dadanya sudah naik-turun dengan cepat. "Aku gak melihat pelakunya. Saat aku tiba disana, Dain sudah tak bernyawa di hadapanku." Kepalanya lalu tertunduk. "Seharusnya aku tak meninggalkannya. Seharusnya aku tak-"


"Rio," Kei kembali menenangkannya. "Siapa orang yang juga berada disana selain kamu?"


Ia kemudian melirikku.


Tidak. Tidak mungkin. Aku mulai panik. Jelas-jelas waktu itu hanya mimpi-


"Clara?" Kei menoleh kepadaku. Ia kemudian sudah bangkit berdiri dari lantai. "Kau...?"


"Rio, apa maksudmu? Empat hari yang lalu, Clara masih berada di rumah ini," jelas Zeyn.


"Kalau begitu, siapa yang kulihat? Hantu?" Rio tertawa tanpa rasa humor. "Tak bisa kupercaya. Aku pikir kau baik hati, Clara."


"Tidak," bisikku lirih. "Itu hanya mimpi-"


"Lagi-lagi!" Rio mulai memberontak. Zeyn kemudian terpaksa mengunci mulutnya dengan sihirnya. Ia lalu mengangguk ke arah Sana. Wanita itu yang sedari tadi tidak mengucapkan apa-apa langsung mengerti maksud Zeyn. Selang beberapa saat, Rio sudah terlelap berkat sihir putihnya.


Namun aku masih mematung, tidak percaya apa yang baru saja kudengar. Jadi waktu itu... nyata?!


.


.


.


Mulai terkuak nih kemampuan Clara guys 😄 Sampai jumpa lagi di eps selanjutnya~

__ADS_1


__ADS_2