World For You

World For You
BAB 10


__ADS_3

Arbian dan juga Randi kembali ke kantor setelah bertemu Dani. Arbian duduk di kurisnya dan mengambil beberapa berkas yang perlu tanda tangannya.


drtt...drttt...


Melirik ponswl Arbian menemukan nama ibunya di ponsel dan langsung mengangkat.


"Hallo sayang, kamu di mana?"


"Aku masih di kantor mah, kenapa?" Jawab Arbian meskipun tangannya masih sibuk membolak-balik kertas.


"Kamu bisa kan pulang? papa ngajak makan malam,"


Arbian tidak menjawab, warna matanya berubah dan itu di sadari oleh Sandra, sang ibu walau tidak bisa melihat wajahnya.


"Nak, lupakan masa lalu, mama gak minta kamu untuk maafin papa, cuma mama mau kamu hilangkan dendam di hati biar kamu merasa damai," Nasihat Andra pada putra sulungnya.


Arbian menghela nafas, seketika semangat kerjanya menurun dan Arbian memijit alisnya.


"Aku gak bisa janji ma, kerjaan aku banyak,"


"Baiklah jaga kesehatan ya sayang,"


Arbian menyandarkan tubuhnya di kursi seraya memejamkan matanya. Tidak ada yang ingin ia lakukan sekarang bahkan untuk melanjutkan pekerjaan.


tokk..tokkk..


Arbian menyuruh masuk dan muncul Randi dengan membawa beberapa map.


Randi menaruh map itu di meja dan memperhatikan muka tak enak atasannya.


"Lo--,"


Arbian menatap Randi untuk menyuruhnya melanjutkan perkataan.


"Lo gak galau karena perkataan pak Dani tadi kan?"


Arbian tanpa kata melempar pena di tangannya dan mengenai tepat di kepala Randi membuatnya mengaduh kesakitan.


"Kalo gak ada yang lain lo bisa keluar,"


Melihat muka serius Arbian tentu saja Randi langsung keluar ruangan dengan meringis.


Doni yang ingin masuk ke ruangan Arbian melihat Randi yang memegang kepala dan segera tahu apa yang terjadi.


"Kamu gak ada jeranya ran," komentar Doni seraya melewati Randi dan mengetuk pintu sebelum masuk.


Randi mendengus dan membenarkan bajunya agar terlihat rapi sebelum dengan tenang berjalan seraya memasang wajah datar agar banyak yang segan padanya.

__ADS_1


*


Pagi hari Fietta kembali ke kampus untuk menemui dosen bimbingan, Fietta kini bertekad untuk cepat menyelesaikan kuliahnya.


Walaupun kepalanya sakit karena mengurus skripsi tetapi Fietta berharap agar secepatnya bisa lulus agar bisa terbebas dari tugas.


Beberapa jam kemudian Fietta dengan lesu berjalan keluar dari fakultasnya, ia membayangkan es krim saat ini, itu obat untuk mrngembalikkan semangatnya yang hilang.


Matanya tak sengaja melihat Carla yang sedang berbicara serius dengan Barga, entah apa yang di bicarakan keduanya sampai Barga terlihat marah.


Di lain sisi yang sedang di perhatikan Fietta, kini Carla mendengus kesal lantaran di tarik paksa oleh Barga.


"Jauhin cewek itu," Tegas Barga dengan mata tajam.


"Cewek yang mana sih ga? Fietta maksud lo?"


"Gak usah deket-deket sama dia car,"


"Kenapa? dia cuma mantan lo ga, gue mau berteman dengan siapapun itu hak gue,"


Barga mengehela nafas dengan keras kepala Carla.


"Bukannya selama ini lo gak pernah suka sama pacar ataupun mantan gue?" Heran Barga.


"Iya, itu berlaku untuk semua mantan dan pacar lo yang lain, tapi Fietta beda, dan gue beneran tulus mau berteman sama dia,"


"plis ga, jangan ngulang lagi sesuatu yang bikin gue benci sama lo, cukup sekali aja," lirih Carla.


"Gue cuma mau lo bahagia car, lo adek gue," ucap Barga karena mereka bersama sejak kecil membuat Barga menganggap sepupunya itu seperti adiknya.


Mata Carla menyinis dan itu terlihat oleh Barga.


"Tapi sekarang gue yang gak bahagia ga, seseorang yang gue sayang udah kecewa sama gue," Tangis Carla pecah merasakan hatinya kembali sakit mengingat seseorang yang selalu ada dan membuatnya bahagia harus pergi karena ketidakpercayaan Carla padanya.


Di kejauhan Fietta melihat Carla menangis dan Barga yang terlihat putus asa dan raut khawatir.


Kini Fietta berjalan menjauh dan menelepon supir agar menjemputnya.


Beberapa menit mobil yang di tunggu datang dan ia masuk ke dalam.


Di dalam mobil Fietta memejamkan mata, merilekskan diri sejenak, matanya terbuka saat keinginannya tadi belum terpenuhi.


"Pak berhenti di supermarket ya," Ucap Fietta dan mendapat anggukan dari supirnya.


Tak selang beberapa lama mobil itu berhenti di sebuah supermarket, Fietta segera turun dan memasuki tempat itu.


matanya mencari di sekeliling dan menemukan kotak besar di pojok ruangan, es krim.

__ADS_1


Di hadapan banyaknya varian es krim Fietta tampak menimbang-nimbang membeli berapa banyak.


"Takut uangnya kurang dek? perlu saya beliin sekalian supermarketnya?"


Suara seseorang mengejutkan Fietta dan membalik badan melihat Arbian yang kini menaikkan salah satu alisnya.


"Kamu ngagetin!" Seru Fietta menahan jeritannya karena malu banyak orang.


Arbian tidak bisa menyembunyikan senyumnya dan itu terlihat oleh Fietta.


"Eh,,berhenti gerak, jangan senyum,"Tunjuk Fietta mengarahkan tangannya ke wajah Arbian yang kini memundurkan mukanya dan semakin melebarkan senyumnya.


"Ihhh kamu jangan ketawaaaa," Kesal Fietta tetapi di mata Arbian gadis itu terlihat imut saat bertingkah manja seperti itu.


Banyak yang memperhatikan interaksi keduanya dan berpikir pasangan itu sangat manis, banyak juga yang terfokus pada senyuman Arbian yang membuat wanita mana saja akan meleleh begitupun dengan Fietta, namun pertahanan diri Fietta sangat kuat jadi tak terlihat.


"Saya akan traktir kamu es krim sebagai bayaran atas kekesalan kamu,"


Mendengar itu wajah cemberut Fietta kini terganti dengan wajah penuh selidik.


"Beneran?" Tanyanya memastikan.


"Iya, kamu bisa ambil apa saja di sini,"


"Oke," jawab Fietta santai dan mulai mengambil dua keranjang dan memasukkan banyak es krim serta cemilan lain, semua itu tidak luput dari perhatian Arbian yang berdiri si dekat kasir masih memperhatikan Fietta.


Beberapa menit kemudian Fietta menyeret dua keranjang itu ke kasir karena tidak kuat, tampak kedua keranjang sudah penuh bahkan hampir berjatuhan.


Fietta melihat Arbian yang menatapnya tanpa ekspresi seraya melipat tangan di depan dada, postur itu seperti seorang ayah yang memarahi petri kecilnya.


"Hehehe, kamu ikhlas kan?" Tanya Fietta dengan canggung, sepertinya Fietta berlebihan tetapi setelah di pikirkan lagi tidak mungkin kan pria ini akan bangkrut dengan makanan seperti ini.


"Apa gak ada barang berguna yang kamu ambil?" ucap Arbian menghela nafas melihat banyaknya makanan ringan dan juga es krim.


"Hah? engga kok aku juga beli lulur, obat nyamuk, sama sabun cuci piring buat bi Ani," Ucapnya memperhatikan dua isi keranjang.


Selanjutnya tangan Arbian menggantikan Fietta memegang keranjang dan meletakkan di depan kasir agar di hitung bersama dengan miliknya 10 mie instan.


Fietta melirik mie itu dan kembali menatap Arbian dengan muka tenangnya.


Fietta menarik pelan ujung jas yang di kenakan Arbian membuat pria itu menoleh.


"Aku lupa nama kamu," Cicit Fietta, ia ingat dulu pernah berkenalan dengan pria ini namun Fietta melupakannya.


Arbian sedikit terkejut, wanita ini memang sesuatu, Arbian kini tidak percaya wanita itu berumur 21 tahun. Ia menurunkan sedikit badannya dan mendekat ke arah Fietta.


"Catat ini baik-baik, Arbian, itu nama saya," bisiknya membuat Fietta merinding mendengar suara pria itu.

__ADS_1


__ADS_2