
Terlewat dua bulan sejak pesta pernikahan Randi dan Bella. Fietta telah menyelesaikan skripsinya dan juga sidang.
Fietta kini banyak menghabiskan waktu di rumah selagi menunggu waktunya wisuda, sesekali ia bertemu dengan Carla dan saling berdoa semoga bisa wisuda bersama-sama.
"Non Etta, ada mas Bian," Ucap bi Ani dengan menengok ke dalam kamar dari luar pintu.
Fietta segera bangun dari tidurnya dan dengan cepat merapihkan bajunya sebelum akhirnya turun.
Sampai di bawah Fietta bisa melihat Arbian yang duduk tenang dengan memakai kaus hitam dan celana panjang hitam.
Merasa ada yang datang Arbian menoleh dan tersenyum melihat Fietta. Ia kemudian memberikan gerakan tangan agar wanita itu mendekat.
Saat Fietta sudah berdiri di depannya Arbian segera menarik pinggang Fietta membuat wanita itu secara spontan duduk di pangkuan Arbian.
Fietta jelas terkejut dan tubuhnya kaku, lalu ia menoleh ke samping dan menemukan senyum miringnya.
Karena kesal dengan ulah pria itu Fietta memukul-mukul lengan Arbian.
"Biii.. lepasin! ada orang loh masa kamu gak malu," Ucap Fietta di sela pukulannya.
Arbian tersenyum dan tidak menangkis pukulan dari pacarnya itu justru ia memeluk tubuh samping Fietta dan meletakkan dagunya di bahunya.
Fietta yang lelah akhirnya membiarkan saja, sebenarnya mereka tidak bertemu selama tiga hari kemarin karena Arbian harus keluar kota untuk pekerjaan.
"Aku kangen," Gumam Arbian di dekat telinga Fietta.
Fietta menunduk malu mendengar bisikan itu dan Arbian menyadari itu sehingga ia tertawa kecil.
Akhirnya Arvian sedikit melonggarkan pelukannya membuat Fietta segera turun dari pangkuan pria itu dan duduk tepat di sampingnya.
Arbian kini hanya diam saja, ia memiringkan badan dan tangannya ia sanggah untuk kepala seraya memandang Fietta dalam diam.
Fietta berusaha untuk bersikap biasa walau kini tatapan Arbian seakan menusuk wajahnya.
"Stop Arbian!"
Karena semakin kesal Fietta menimpuk wajah Arbian dengan bantal sofa di sampingnya. Arbian tertawa dan mengambil bantal yang mengenai wajahnya itu kemudian menaruhnya di sofa seberang.
"Yuk keluar," Ajak Arbian kemudian berdiri membuat Fietta segera mendongak.
"Mau kemana?" Tanya Fietta heran.
"Kamu mau kemana?" Tanya Arbian balik.
"Kok balik tanya?" Fietta mencoba untuk tidak mendengus.
"Kamu bisa pilih tempat apa saja,"
Fietta akhirnya diam, ia memutar otak mencari tempat mana yang akan ia kunjungi.
"Pantai," Ucapnya spontan saat mengingat tempat yang pernah ia kunjungi bersama Carla.
"Oke," Jawab Arbian tenang.
__ADS_1
Fietta segera antusias dan berlari meninggalkan Arbian menuju kamar untuk berganti pakaian.
Setelah selesai Fietta segera menghampiri Arbian yang masih menunggunya.
"Yuk," Ajak Fietta di samping Arbian.
Arbian menoleh ke samping dan memperhatikan penampilan Fietta yang tadinya kaos oblong menjadi dress pantai selutut.
"Pakaian kamu kenapa di ganti?"
Fietta memperhatikan penampilannya dan tersenyum.
"Bagus gak? ini baju yang aku beli bareng Carla waktu ke pantai," Ucap Fietta dengan senang.
Arbian tampak tidak suka karena baju itu hanya bertali tipis memperlihatkan bahu Fietta yang putih.
"Kalau gitu kamu pakai sweater," Ucap Arbian lagi dengan mendorong pelan tubuh Fietta agar kembali ke kamar.
"Bi jangan aneh-aneh deh, ini siang masa aku pakai sweater," Ucap Fietta kesal.
"Pantai itu banyak angin sayang, gak akan panas,"
Fietta cemberut namun tetap menuruni perkataan Arbian, setelah kembali lagi Fietta tampak menenteng sweater pink dengan langkah malas.
Arbian tersenyum dan mengacak rambut Fietta dengan gemas.
Keduanya berjalan beriringan menuju mobil dan seperti biasa Arbian akan membukakan pintu untuk Fietta dan baru lah ia ikut naik.
Hampir setengah jam perjalanan Fietta dan Arbian sampai di pantai yang sama saat Fietta dan Carla pergi.
Arbian hanya mengikuti di belakang Fietta tanpa banyak bicara, ia memperhatikan sekeliling. Sebenarnya Arbian juga jarang main ke pantai jika bukan karena ajakan Dhea, sepupu kecilnya atau karena keluarganya ingin piknik.
"Bi, fotoin aku," Ucap Fietta mendekati Arbian dan memberikan ponselnya.
Arbian menerima ponsel itu tanpa bicara dan mengarahkannya ke depan di mana kini Fietta berdiri menghadapnya.
Fietta tidak banyak bergaya saat berfoto hanya tersenyum lebar, menunjukkan dua jari dan mengangkat tangan dengan kepala mendongak ke atas.
Arbian tanpa sadar ikut tersenyum melihat bagaimana Fietta tersenyum lebar di foto.
"Gimana? bagus gak?" Tanya Fietta mendekat pada Arbian.
Arbian tidak menjawab dan langsung mengarahkan hasil fotonya pada Fietta.
"Wah bagus, kamu hebat," Ucap Fietta menatap kagum pada Arbian.
"Kamunya yang cantik,"
Perkataan Arbian sebenarnya terdengar sederhana apalagi kini Arbian memasang wajah tanpa ekspresi saat mengatakan itu namun tetap saja Fietta menjadi salah tingkah.
Puas berfoto dan berjalan di pinggir laut Arbian memgajak Fietta untuk makan di sekitar sana.
Fietta kembali antusias saat sudah duduk di salah satu resto, ia memesan kepiting, udang, dan banyak makanan laut.
__ADS_1
"Yang pedas," Pesan Fietta dengan senyum.
"Jangan pedas mba," Ucap Arbian membuat Fietta dan juga karyawan resto itu memandang ke arahnya.
"Biii," Fietta hampir saja merengek.
"Jangan terlalu pedas," Ucap Arbian tidak memperdulikan tatapan Fietta.
Setelah karyawan resto itu pergi Fietta mendengus kesal dan memalingkan wajah.
"Perut kamu nanti sakit," Ucap Arbian akhirnya.
"Aku jarang makan pedas bi, tapi ini kurang enak kalo gak pedas,"
Arbian tetap menggeleng dan Fietta memilih diam.
Saat makanan itu akhirnya datang Fietta mencoba memghilangkan rasa kesalnya dan mulai melahap apa yang ada di depannya.
Arbian hanya memperhatikan dengan sesekali ia meminum teh angetnya.
"Kamu gak mau?" Tanya Fietta di sela makannya karena hanya melihat Arbian yang diam.
Arbian menggeleng dan Fietta kembali melanjutkan makannya dengan tenang.
Setelah menghabiskan semuanya Fietta merasa perutnya kenyang sampai tidak kuat untuk berjalan.
Arbian yang mendengar itu segera berjonhkok membuat Fietta mengernyit.
"Apa ini?"
"Naik," Ucap Arbian masih di posisi yang sama.
Fietta segera tersenyum dan naik dengan cepat di punggung pria itu.
Merasa di perhatikan sekitar Fiettaerasa malu dan menyembunyikan wajahnya di bahu lebar Arbian.
Sampai di mobil keduanya naik dan me uju ke arah rumah.
Dalam mobil Fietta mendengarkan musik dan sesekali bersenandung.
Drtt...drtttt...
Arbian melohat ponselnya dan menemukan nama ibunya tertera.
"Halo mah?" Sapa Arbian setelah tersambung.
Hening beberapa detik sebelum suara seseorang yang asing di telinganya terdengar.
"Apakah anda kerabat dari pemilik ponsel ini,"
Degg..
Mobil itu berhenti seketika, untungnya tidak ada kendaraan lain di belakang mereka.
__ADS_1
Arbian merasa sekujur tubuhnya kaku dan Fietta yang berada di sampingnya mengetahui itu.
Ingatannya kembali pada beberapa tahun yang lalu dan merasa kejadian ini hampir mirip dengan yang lalu.