World For You

World For You
BAB 27


__ADS_3

Arbian mengemudikan mobilnya menuju apartemen, karena beberapa hari kemarin lembur Arbian tidak pulang ke apartemen selama 5 hari.


Sampai di basement apartemen Arbian keluar dari mobil dan memasuki apartemennya.


Saat sudah di depan pintu ponsel Arbian berbunyi dan melihat nama pamannya menghubungi.


"Halo paman," Sapanya.


"Yan nenek masuk rumah sakit,"


Mendengar perkataan paman Jeri Arbian langsung berbalik dan buru-buru masuk ke dalam lift.


"Kirim lokasi paman sekarang,"


Setelah itu Arbian berlari menuju mobilnya dan langsung mengendarai dengan kecepatan tinggi.


Selang beberapa menit Arbian sampai dan langsung lari mencari ruangan di mana neneknya di rawat.


Akhirnya ia menemukan ruangannya dan melihat keluarganya menunggu di depan pintu yang tertutup itu.


"Yan," Panggil Sandra dan memeluk putranya sembari menangis.


Arbian menoleh dan melihat Randi yang duduk di kursi panjang dengan kepala menunduk di temani Bella yang kini telah menjadi istri Randi walau mereka belum mengadakan pesta pernikahan dan ada paman Jeri yang memeluk erat istrinya.


Satu keluarga itu segera menoleh saat pintu ruangan terbuka. Jeri langsung mendekati dokter itu.


"Bagaimana kondisi ibu saya dok?"


"Mari ikut ke ruangan saya sekaligus untuk menebus obat," Ucap sang dokter dan paman Jeri pun mengikuti di belakangnya.


Sandra dan Anggita segera masuk saat pintu di buka oleh perawat sedangkan Arbian menghampiri Randi dan duduk di sebelahnya. Mereka sama-sama diam tanpa berbicara.


*


Fietta yang sedang makan malam bersama sang papa sesekali melirik ponselnya yang tidak ada pesan masuk ataupun panggilan telepon.


Dani terus memperhatikan kegelisahan anaknya yang masih sesekali melirik ponselnya.


Setelah selesai makan Fietta akan kembali ke kamar namun terhenti saat ada yang memanggilnya.


"Fietta,"


Fietta membalikkan badan dan melihat Dani berdiri menatapnya.


"Ikut papa," Ucap Dani dan berjalan menuju ruang kerjanya.


Fietta menahan rasa gelisahnya yang kini merasakan gugup juga kemudian memasuki ruang kerja Dani.


Fietta melihat kode Dani yang menyuruhnya duduk di sofa seberang Dani.


Melihat Fietta yang sudah duduk Dani kemudian memandang serius putrinya.


"Berapa lama kalian pacaran?" Tanya Dani to the point.


Fietta menahan gugup dan memberanikan diri menatap mata papanya yang tajam itu.


"Satu bulan, papa gak boleh jodohin aku sama yang lain karena aku punya pacar sekarang," Ucap Fietta berani.


Dani mengernyitkan dahi mendengar perkataan anaknya.

__ADS_1


"Jodohin apa? siapa yang di jodohin?" Tanya Dani tidak mengerti.


"Aku dengar dari asisten papa kalau papa ngerencanain perjodohan dengan pemilik perusahaan Yunan's,"


Dani diam kemudian tatapannya semakin tajam.


"Kamu tidak tahu siapa pemilik perusahaan itu?"


Fietta menggeleng dan itu membuat Dani menahan emosinya.


"Kamu bisa masuk kamar sekarang," Ucap Dani dan berjalan menuju meja kerjanya.


Fietta berjalan menuju pintu dan sebelum keluar ia sempat melirik Dani yang sepertinya terlihat kesal.


Dalam hati Fietta berharap semoga papahnya membatalkan perjodohan itu walau sebenarnya Dani tidak pernah punya pikiran seperti itu.


Dani menelpon asistennya dan memarahinya karena membuat gosip yang tidak benar sampai terdengar oleh anaknya.


Fietta kembali ke kamarnya dan mengambil laptopnya, saat ini yang di fokuskan Fietta hanya menyelesaikan skripsinya.


*


Arbian terbangun saat mendengar suara bising di luar. Ia mengambil bajunya karena terbiasa tidur tanpa mengenakan baju dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum keluar kamar.


Nenek Dian yang melihat Arbian mendekat langsung tersenyum hangat dan Arbian mendekat ke arahnya sekedar mencium pipi neneknya yang sudah berkeriput itu.


"Nenek kenapa keluar?" Tanya Arbian karena dokter berkata Nenek Dian harus banyak-banyak istirahat.


"Kemarin darah tinggi nenek kumat, sekarang sudah baikan," Ucap nenek Dian menggenggam telapak tangan besar Arbian.


Akhirnya keluarga besar itu sarapan seperti biasa dansaling bercanda gurau.


"Nanti malam ajak pacar kamu kesini, nenek udah lama gak ketemu," Ucap Nenek Dian pada Arbian yang kemudian mengangguk.


"Iya, nanti Arbian ajak ke sini," Ujar Arbian dan menyusul Randi memasuki mobil untuk ke perusahaan.


*


Fietta lari pagi mengelilingi taman di dekat perumahannya dan berhenti saat melihat tukang bubur ayam yang membuatnya teringat sosok Arbian.


Fietta tersenyum kemudian mendekati pedagang itu untuk sarapan. Saat bubur ayam itu sudah ada di hadapannya Fietta memfotonya dan mengirim gambar itu pada Arbian dengan emot tertawa.


Ia kemudian menyimpan ponselnya di dalam saku dan mulai memakan.


Arbian yang baru sampai ruangan mengambil ponsel di kantung celana saat mendengar notif pesan.


Melihat nama pacarnya tanpa sadar Arbian tersenyum dan membuka pesan itu, ia tertawa dan segera menelpon, di dering ke tiga akhirnya Fietta mengangkat.


"Halo?"


"Kamu di mana?" Tanya Arbian menyembunyikan senyumnya dan duduk di sofa ruang kerjanya.


"Aku lari pagi, kamu udah sarapan?"


"Udah, dan nenek nanyain kamu,"


Hening seketika di seberang sana membuat Arbian tertawa.


"Kamu ketawa?"

__ADS_1


Arbian menghentikan tawanya yang sering ia lakukan, padahal dulu untuk membuat Arbian tertawa Randi selalu kehabisan cara.


"Malam ini aku jemput kamu,"


"Gak perlu, aku boleh ke kantor kamu?"


Arbian terdiam mendengar permintaan tiba-tiba Fietta.


"Gak boleh?"


"Kenapa gak boleh? aku malah senang kamu datang, perlu aku jemput?"


"Engga usah, aku sekalian bawain makan siang nanti, ya sudah aku tutup ya," ucap Fietta hendak menutup telponnya tetapi terhenti saat Arbian mengatakan sesuatu.


"I love you," Ucao Arbian dengan lembut dan tidak ada suara lain setelah itu sampai panggilannya di putuskan secara sepihak oleh Fietta.


Arbian tersenyum geli kemudian berjalan menuju mejanya untuk kembali bekerja.


*


Siang harinya Fietta menyiapkan bekal dengan senyum yang tidak luntur dari wajahnya dan itu menjadi pusat perhatian bi Ani yang memandang nonanya heran.


"Non Etta," Panggil bi Ani membuat Fietta menoleh dan menghentikan senyumnya.


"Kenapa bi?"


"Dari tadi senyam senyum, itu bekal buat siapa?"


Fietta melihat bekal itu kemudian tersenyum pada bi Ani.


"Arbian," Ucapnya dengan malu.


Bi Ani menggelengkan kepala, Fietta jika sudah menyukai seseorang akan seperti ini, belajar masak dan membuatkan bekal seperti beberapa tahun lalu.


Selesai dengan bekal Fietta kembali ke kamar dan mengambil tasnya kemudian menenteng tas kecil berisi bekal memasuki mobil.


Sampai di depan perusahaan Arbian Fietta masuk dan mendekati resepsionis.


"Ada yang bisa kami bantu?" Tanya wanita itu dengan ramah.


"Saya ingin bertemu Arbian,"


Wanita itu memandang Fietta ragu karena selama ini jika ada wanita yang mencari Arbian, Arbian akan menyuruh Randi mengusirnya.


"Maaf, apakah sudah membuat janji sebelumnya," Tanya wanita itu mempertahankan kesopanannya agar tidak salah nanti.


Fietta diam sebentar kemudian mengangguk, ia memang sudah bilang kepada Arbian tadi.


"Ruangan pak Arbian ada di lantai paling atas, mari saya antar,"


Saat wanita itu akan menghantar Fietta, ia segera menolak dan memilih pergi sendiri menuju pintu lift.


Saat akan masuk Fietta berpapasan dengan Randi yang baru ingin keluar dari dalam lift dan keduanya sama-sama terkejut.


"Lo nyari Arbian?" Tanya Randi dan Fietta mengangguk.


"Pantes tuh anak gue ajak makan siang gak mau," gumam Randi namun dapat di dengar oleh Fietta membuat wanita itu tersenyum.


"Naik aja ke lantai atas, dia di ruangannya," Ucap Randi kemudian pergi dari sana dan Fietta pun masuk ke dalam menuju ruangan Arbian.

__ADS_1


__ADS_2