
Ucapan Fietta membuat Carla menoleh dan ikut sedih, walaupun wajah Fietta terlihat baik-baik saja Carla yakin Fietta rapuh.
"Lo anak yang kuat ta, mama lo pasti bangga," ucap Carla memeluk Fietta.
'Aku cuma berharap mama maafin aku' Lirih Fietta dalam hati di pelukan Carla.
"Yuk, jangan sedih mulu ta,"
Fietta akhirnya tersenyum dan mereka kembali berjalan menuju tempat menunggang kuda, sebenarnya temput kuda itu sengaja Dani bikin karena sejak kecil Fietta memang suka kuda, Dani bahkan sampai membeli tanah luas di belakang rumahnya untuk area berkuda.
"Wah ta perumahan sini tanahnya luas ya," Decakan kagum Carla saat melihat tanah lapang itu.
"Papa memang sengaja beli tanah ini sebelum di jadiin rumah sama pemiliknya,"
Keduanya menemui seorang pria paruh baya yang memang di pekerjakan di sana untuk mengurus beberapa kuda.
*
Di tempat lain, Arbian tampak datang ke kantor setelah makan siang dengan kliennya bersama Randi.
Saat keduanya di lift Arbian dapat merasakan jika sepupunya itu sedang gelisah tidak jelas sembari memperhatikan ponsel.
Arbian diam saja menunggu Randi sendiri yang cerita.
"Yan,"
Akhirnya Randi tidak kuat untuk tidak berbagi cerita pada Arbian.
Arbian menoleh menunggu kelanjutan dari Randi.
"Tolongin gue dong, pacar gue marah karena kemarin seharian gak hubungin dia," Remgek Randi pada Arbian.
"Kok gue?"
Mendengar perkataan Arbian seketika Randi melotot tak terima.
"Itu karena lo yan, kalo aja lo gak ngasih tugas banyak gue gak mungkin sibuk sampe lupa pegang ponsel seharian!" Kesalnya, kemarin Randi harus mengurus banyak berkas bahkan harus kesana kemari menemani Arbian rapat bersama karyawan maupun klien.
"Jadi salahin gua? waktu makan siang gua kasih waktu setengah jam,"
Baru Randi akan kembali mendebat tetapi terhenti saat pintu lift terbuka, Arbian keluar lebih dulu dan langsung masuk ke dalam ruangan.
Randi melihat pintu yang tertutup dengan kesal dan akhirnya meminta bantuan pada ibunya untuk mencoba menjelaskan pada calon istrinya itu.
*
Melihat tidak ada tanda-tanda Fietta dan Carla selesai akhirnya bi Ani menghampiri mereka dan melihat keduanya sudah beres bermain dan sedang duduk di bawah pohon sembari berbincang.
"Non Fietta, non Carla makanan udah siap dari tadi loh,"
Carla maupun Fietta menghentikan obrolan dan menoleh ke arah bi Ani yang berkacak pinggang.
Carla melihat jam di tangan dan sadar sudah jam 1 siang, mereka berhenti saat jam 12 kurang dan mengobrol sampe lupa waktu.
Akhirnya mereka kembali ke dalam dan mengganti pakaian, Carla yang memang sudah menyiapkan diri mengganti baju yang sudah ia bawa dari rumah.
Mereka makan siang dengan damai, sesekali Carla maupun bi Ani bercanda gurau sedangkan Fietta hanya tersenyum dan berbicara saat di tanya.
"Gimana kalau sore ini kita berenang?" Usul Carla menatap binar Fietta.
Berpikir sebentar akhirnya Fietta mengangguk, tidak buruk juga lagipula sudah lama Fietta tidak berenang.
__ADS_1
Selesai makan Carla menarik pemilik rumah menuju kolam renang dengan senang.
"tunggu car, kita harus salin,"
Carla menghentikan langkah dan menatap pakaian dirinya sendiri kemudian pakaian Fietta.
"Kita sekarang pakai kaos biasa ta sama celana pendek, ini juga bisa," Ucap Carla, Carla memang memakai celana pendek tetapi berbahan jeans.
"Celana kamu pasti bikin gak nyaman, pakai celana yang lebih ringan aja, ayok," Ucap Fietta menarik tangan Carla mdan membawanya ke kamar.
Fietta memilih celana pendek yang belum di pakainya sama sekali dan memberikan kepada Carla.
Saat Carla di kamar mandi Fietta mengecek ponsel dan melihat pesan dari Arbian.
Arbian: Fietta?
Fietta mengerutkan kening dan akhirnya membalas.
Fiettta:???
Arbian: Besok bisa temani saya beli sesuatu? saya traktir kamu sehabis itu,"
Fietta diam tidak membalas, hanya melihat. Besok Fietta masih akan ke kampus untuk menyelesaikan tugas, ia bahkan sudah memikirkan akan di perpustakaan sepanjang hari.
kriett...
Pintu kamar mandi terbuka dan muncul lah Carla yang sudah berganti celana. Melihat Fietta melamun Carla menepuk bahunya.
"Mikirin apa?"
Fietta terlonjak dan menoleh ke arah Carla.
"Oh, gakpapa kok, yuk turun," Fietta segera keluar dari kamar begitupun dengan Carla.
*
Drtt..drttt...
Melihat ponselnya bergetar Arbian refleks mengambilnya dan menegakkan tubuh tetapi setelah melihat bahwa pamannya yang memberi pesan Arbian kembali menyandarkan tubuhnya di kursi.
Paman Jeri: "Nak ikut makan malam di rumah ya, ada yang ingin paman diskusikan,"
Arbian: "oke paman,"
Arbian melihat lagi ruang obrolannya dengan Fietta kemudian berdecak kesal.
Malam menjelang Arbian melajukan mobilnya menuju rumah Jeri, pamannya. Di sepanjang jalan pikirannya terus terarah ke Fietta, apakah wanita itu sengaja tidak membalas pesannya? memikirkan itu Arbian entah mengapa kesal.
Sampai di perkarangan rumah mewah Arbian keluar dari mobilnya dan menuju pintu utama di mana terdapat wanita paruh baya yang kini tersenyum manis.
Arbian tidak bisa menahan senyumannya saat melihat sambutan wanita itu, bahkan kini tangan wanita itu terbuka lebar, Arbian segera berjalan cepat dan segera memeluk erat.
"Mama kangen sama bian, jahat banget gak temuin mama beberapa minggu ini," Keluh wanita itu memeluk erat putra tunggalnya.
"Maaf ma, Arbian belum bisa pulang,"
Sandra menghela nafas pelan, putranya sangat keras kepala seperti suaminya. Jika Arbian tahu dirinya di samakan dengan papanya tentu saja Arbian pasti tidak akan terima.
"Yuk masuk semua sudah menunggu kamu,"
Sandra menggandeng tangan putranya memasuki rumah Jeri, kakak kandungnya.
__ADS_1
Di ruang tamu beberapa orang menoleh kearah Arbian yang baru datang dan saling menyapa.
"Hallo yan, apa kabar?" Sapa Randi dengan wajah tengil.
"Kamu gak ada tobatnya ya Randi," Komentar Sandra menggelengkan kepala melihat tingkah Randi yang sedari dulu selalu usil.
"Mirip siapa coba kalau bukan dari daddynya," Ucap Anggita melirik Jeri, sang suami.
Beberapa orang tertawa mendengar itu, bahkan Arbian kini tersenyum tipis melihat kebersamaan keluarganya.
Arbian menatap Randi dan Bella yang duduk berdua, sepertinya mereka sudah baikan terlihat dari tangan mereka yang bertautan, di seberang kursi terdapat Paman Jeri dan tante Anggita yang kini memangku gadis kecilnya, di kursi tunggal terdapat neneknya yang sudah tua namun masih terlihat sehat, Arbian sangat menyayangi keluarga ibunya, tidak ada saling menyakiti maupun iri di keluarga mereka.
"Karena semua sudah lengkap, mari ke ruang makan, nenek sudah lapar," Ucap sang nenek hendak berdiri, Arbian dan Randi spontan langsung mendekat dan memegang lengan wanita tua itu.
"Refleks kalian masih sangat bagus," tawa nenek menatap bergantian Randi dan Arbian.
Semua anggota tersenyum dan berjalan perlahan menuju ruang makan.
Di meja sudah terdapat banyak lauk, Seluruh anggota keluarga tampak duduk di bangku masing-masing.
Keluarga itu tampak saling membuka obrolan dan menceritakan hari-hari mereka.
"Bagaimana Bella? apa kamu menyesal menerima lamaran cucuku?" Tanya nenek Dian pada Bella yang sedari tadi diam hanya menyimak.
Mendengar pertanyaan itu Bella tampak gugup, ia masih belum terbiasa bersikap santai pada nenek Dian.
"Ti-tidak nek, kami akan me-menikah," Ucapnya terbata, Bella menahan senyumnya agar tidak kentara gugup walau akhirnya suaranya tidak bisa bekerja sama.
Randi menunduk dengan bahu bergetar, jelas sekali pria itu menahan tawa melihat wajah Bella kini pucat.
dugh..
"Awsh," ringis Randi saat ada yang menendang kakinya di bawah meja.
"Kenapa ran?"
Randi cepat menggeleng menjawab pertanyaan Anggita, ibunya. Matanya kini menatap tajam Arbian di seberangnya yang memasang wajah tenang seraya menyantap makanan.
"Bagus kalau begitu, nenek sebenarnya tidak menyangka ada yang menyukai salah satu dari dua cucu nenek ini,"
Arbian dan Randi kompak menoleh dan nenek Dian kembali tertawa.
"Cucu nenek punya sifat yang berbeda, satu dengan wajah dinginnya dan satu lagi dengan tingkah usilnya, nenek rasa dua manusia ini akan susah mencari pasangan,"
"Nek, cowok seperti Randi yang banyak di sukai karena humoris, ya kan sayang?" ucapnya dengan bangga seraya mencoel dagu Bella.
Anggita merinding melihat putranya tidak tahu malu seperti itu. Astaga ia jadi mengingat-ingat kembali ngidam apa dirinya saat hamil dulu.
"Dan Bian? kamu juga sama?" kini tatapan nenek Dian mengarah ke Arbian yang masih diam.
Randi seperti mendapat lampu hijau di atas kepalanya.
"Nek, Arbian lagi deketin cewek,"
Ucapan Randi membuat seluruh anggota keluarga terkejut, Arbian yang mereka kenal tidak pernah meladeni para wanita yang mendekatinya tetapi sekarang Arbian mendekati wanita?.
"Tutup mulut bau lo," Ucap Arbian dingin.
Randi menyengir seraya memamerkan dua jari kepada Arbian, tanda damai.
"Bener Arbian?" Tanya sang nenek penasaran.
__ADS_1
Arbian diam saja tidak menjawab, Sandra menatap putranya yang tidak berbicara, ia jelas sangat tahu karakter Arbian yang tidak akan menyanggah jika benar dan tidak akan berbicara jika ia ragu.